Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
DJ Datang Terang-Terangan, Akan Kami Tangkap!


__ADS_3

Pak Burhan mulai memasuki ruangan yang ber-abu itu dengan hati-hati. Di tangannya terlihat sebuah botol bening dengan air yang sedikit berbusa di dalamnya. Bunga yang terlihat menunggu kedatangan pria berkumis itu langsung menyambutnya dengan gembira.


“Kamu yang bener, Bunga? Masa ini make up juga -.-?”tanya Pak Burhan.


Bunga langsung menganggukkan kepalanya.


“Beneran pak. Makanya, bakal ada sebagian make up yang gak aku buang. Make up-nya tahan air jadi aku minta micellar water. Aku mau cari merek dari make up ini ^o^,”ujar Bunga.


“Emang apa ngaruhnya, sih -_-?”tanya Pak Burhan. Ia nampak acuh tak acuh.


Bunga memutar bola matanya membuat Dimas tiba-tiba tersenyum manis.


“Pak, kalau misalnya kita tahu mereknya dan kita dapatkan toko yang menjual merek itu lalu kita tanyakan siapa yang suka borong, dia pasti memberitahu kita, pak. Kalau belinya banyak, gak mungkin make up kayak gini tuh dikit, berarti diborong, kan? Dan gak mungkin juga kalau gak diantarkan -.-,”terang Bunga.


Pak Burhan menganggukkan kepalanya. Ia lalu mengusap kepala Bunga.


Bunga lalu membalikkan tubuhnya. Ia sempat menelan ludah sebelum melakukan apa yang ia niatkan. Dengan keteguhan hati, Bunga lalu kembali menghampiri Puri. Ia tersenyum menatap wanita yang malang itu. Setelah itu, ia mengambil tangan Puri. Ia membalikkan tubuhnya sehingga wajah gosong yang mengerikan itu cukup membuat ketiga keempat pria yang tengah bersamanya segera memalingkan wajah.


Tanpa ada yang menghalangi, Bunga langsung mengambil botol dari tangan Pak Burhan. Ia lalu meminta kapas pada Dimas. Dengan cepat, ia menumpahkan beberapa tetes cairan dari dalam botol ke kapas. Setelah itu, ia lalu mengusapkan kapas yang basah itu ke pipi Puri.


Sungguh mengejutkan! Wajah Puri yang awalnya sangat gosong tiba-tiba menjadi putih. Semua yang ada di sana langsung mengeluarkan suara mereka. Ya, mereka sangat terkejut.


Setelah kapas itu penuh dengan warna coklat, Bunga lalu memasukkannya ke dalam plastis klip. Ia lalu memasukkannya ke dalam saku mantelnya. Setelah itu, ia mengusap tangan Puri.


“Kamu gak bersihin semuanya, Bunga o.o?”tanya Dimas yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bunga.


“Kamu pikir aku yang harus bersihin seluruh tubuhnya yang penuh make up anti air itu? Aku waktu pertama siram pakai air dan luduh itu cuma bagian tertentu, gak semua! Kamu kira aku harus lap badan Puri pakai kapas dan micellar water yang cuma seuprit ini?! Maaf Puri, tapi aku gak bisa lakuin itu karena make up-nya terlalu banyak ~O~!”ujar Bunga. Lagi-lagi Dimas kena semprot Bunga.


“Maaf, Cintaku Puspa Flower Kembang. Aku gak maksud kayak gitu T.T,”balas Dimas.


Si kembar yang sejak tadi hanya memperhatikan itu langsung mengerutkan alis mereka.


“Puspa itu apaan o.o?”ujar mereka.


“Puspa, flower, atau kembang itu artinya Bunga ^-^,”ujar Dimas. Hari dan Hira pun membulatkan mulut mereka dan mengangguk. Bahkan, Pak Burhan pun ikut mengangguk.


Bunga kembali menatap Puri yang malang. Ia sedikit berkaca-kaca melihat keadaan wanita itu. Bunga hanya bisa menghembuskan nafasnya. Ia lalu menyimpan gulungan kasa di bagian belakang kepala Puri yang berdarah. Dengan membungkukkan tubuhnya, ia bisa melihat wajah Puri yang seakan-akan tersenyum padanya.


“Sama-sama TuT,”bisik Bunga.


“Bunga ^_^,”ujar Pak Burhan. Bunga pun langsung membalikkan tubuhnya. “Apa kita perlu autopsy ^o^?”


Bunga langsung menggelengkan kepalanya.


“Tidak usah, pak. Kami sudah tahu penyebab kematiannya. Aku minta saja tolong bawa jenazahnya, dimandikan dengan sangat bersih, lalu disemayamkan ^-^.”ujar Bunga.


“Permintaanmu akan kami kabulkan ^-^,”balas Pak Burhan. Mereka pun saling menatap dan tersenyum.


***


“Beri jalan ^O^!’ujar seorang pria yang menggotong mayat Puri dengan sebuah plastik tebal berwarna jingga.


Bunga, Dimas, Hari, dan Hira yang memang menghalangi jalan langsung berpindah. Mereka member jalan pada Puri yang mungkin tengah tenang sekarang.


Garis polisi masih dipasang. Beberapa teman dan kerabat Puri datang dengan tangis. Akan tetapi, mereka masih belum bisa melewati garis polisi sebelum make up pada tubuh Puri dibersihkan. Oleh karena itu, Puri langsung dibawa ke sebuah tenda yang disusul oleh beberapa perempuan bermasker. Tenda itu sangat tertutup. Tidak ada yang boleh ikut campur.

__ADS_1


Bunga memandang tenda biru itu. Ia masih sedikit berkaca-kaca. Berkali-kali ia menghembuskan nafasnya lemas.


“Kamu kenapa Bunga o.o?”tanya Dimas.


Bunga bangun dari lamunannya. Ia lalu menatap Dimas.


“Aku hanya merasa gagal sebagai seorang pelindung. Wanita cantik itu harus mendapatkan perlakuan yang sadis dan menurutku, dia sama dengan yang lain. Dipaksa bekerja dengan DJ T-T.”


“Tapi, kamu tidak harus terus berlarut-larut dalam kesedihan. Kamu tahu? Dia bukan orang yang kamu kenal. Dan aku yakin, ini adalah jalan terbaik baginya agar bisa terlepas dari DJ ^-^,” balas Dimas sambil mengusap air mata yang tiba-tiba hadir di wajah Bunga.


“Aku tahu, aku tidak mengenalnya. Tapi, dia memberiku pencerahan bahwa mungkin kita tidak harus terlalu percaya pada orang yang memang sudah dekat dengan kita. Bukan berarti mereka dekat, mereka akan senantiasa menjaga kita. Dan Puri, menurutku dia korban dari rasa percaya berlebih -_-,”


Dimas mengangguk. Ia lalu mengacak rambut Bunga.


“Udah, Bunga. Aku gak bisa lihat kamu nangis. Kamu harus bahagia karena Puri malah tenang sekarang ^-^,”


Bunga tersenyum. Ia lalu menggenggam tangan Dimas dan mengucapkan terimakasih.


Sebuah benda yang menyangga Puri tengah di dorong oleh perempuan-perempuan bermasker tadi. Puri, sudah sangat bersih. Kulitnya sangat bening dan bercahaya. Wajahnya begitu manis. Bahkan, rambutnya yang sedikit terbakar nampak tidak mengurangi kecantikannya. Wajahnya terlihat tenang. Dan hal itu membuat Bunga tersenyum kecil.


Beberapa orang yang sejak tadi menangis, langsung masuk ke dalam kawasan yang diberi garis polisi setelah Pak Burhan memperbolehkan mereka. Dengan serempak, mereka menangis. Air mata tumpah di sana membuat orang-orang yang tengah menonton ikut berkaca-kaca. Nama Puri dipanggil bekali-kali. Namun, tak ada respon dari Puri.


Pak Burhan langsung mendekati Bunga. Ia nampak ikut bersedih.


“Bunga, Dimas, Hari, dan Hira, kalian ikut ke pemakaman. Sebentar lagi jenazah akan dimakamkan di dekat rumah orang tuanya. Tidak jauh, hanya butuh waktu lima belas menit katanya -,-.”ujar Pak Burhan.


Keempat orang itu lalu menganggukkan kepala mereka. Setelah itu, Pak Burhan tersenyum dan kembali ke kerumunan di mana keluarga Puri masih menangis di sana.


Pak Burhan dan Brian terlihat berbicara dengan seorang wanita yang terlihat sangat sedih. Perempuan itu langsung menanggapinya dengan bahagia.


“Terutama wanita itu. Dia sampai melap wajah Puri yang penuh akan noda ^_^.”ujar Pak Burhan.


Perempuan itu tersenyum. Ia lalu mencium kening Puri.


“Maaf, nak. Ibu tidak bisa menjadi ibu yang selalu menemanimu TuT.”ujarnya. Setelah itu, ia lalu mulai mendekati keempat anak yang tengah berdiri menatap Puri dari kejauhan.


“Eh, kamu ngerasa gak ibu-ibu itu datang ke kita 0.0?”tanya Hira.


Hari mengangguk dengan pasti.


“Kayaknya iya 0.0,”balasnya.


Dan benar saja, perempuan itu langsung tersenyum pada Bunga. Ia memeluk Bunga dengan air mata. Bunga balas memeluk perempuan itu. Dari balik tubuh Bunga, perempuan itu nampak menggenggam tangan Dimas dan mengusap pipi Hari dan Hira bergantian.


“Kalian, anak yang hebat. Terimakasih telah menjadikan anakku lebih tenang. Semoga kalian sehat selalu. Tolong, temukan orang jahat itu. Beri tahu dia bagaimana perasaan Puri. Tolong TUT,”


Dimas berpandangan dengan Hari dan Hira. Mereka lalu tersenyum.


“Akan kami usahakan, buTvT,” balas keempat orang itu secara bersamaan.


***


Tumpukan tanah kini mulai terlihat. Bunga dan ketiga pria itu langsung duduk di hadapannya dan menutup mata mereka agar fokus ketika berdoa. Setelah selesai, mereka mengusap wajah mereka dengan kedua tangan.


Hari itu, langit bagaikan mengabu karena kepergian Puri. Beberapa orang datang dan pergi untuk mendoakan Puri. Ibu, kerabat, dan teman-teman Puri masih belum mau pergi dari tempat kembali Puri. Mereka masih menceritakan bagaimana sikap Puri yang baik, penuh perhatian, dan menyenangkan. Walaupun sesekali mereka tertawa karena teringat tingkah Puri, namun mereka masih rindu pada Puri.

__ADS_1


Beberapa anggota kepolisian masih ada yang berjaga di sana. Selain untuk mengamankan keadaan dan menjauhkan hal itu dari wartawan, mereka juga beristirahat. Kasus di waktu pagi memang paling rumit. Selain pasti akan selesai malam, mereka juga sulit beristirahat.


Keempat detektif yang masih belum mau melangkahkan diri mereka, ikut beristirahat bersama anggota kepolisian. Namun, bukan artinya mereka bisa tenang. Sekali pun diam, mereka masih harus memikirkan bagaimana agar DJ mendapatkan balasan yang setimpal.


“Eh -.-,”ujar Dimas tiba-tiba. “Aku kayaknya ada bisnis sama WC dulu : D ,”


Orang-orang yang berkumpul langsung tertawa.


“Tapi WC agak jauh dari sini ^0^,”ujar salah satu perempuan bermasker tadi.


“Tidak apa-apa. Tunjukkan saja jalannya. Aku butuh sekarang >~<.”


Orang-orang kembali tersenyum. Mereka tidak boleh tertawa terbahak-bahak di saat seperti ini. Perempuan itu lalu menunjukkan arah. Dimas mengangguk. Ia memandang ketiga sahabatnya dan meminta ijin dengan isyarat wajah yang mengkhawatirkan. Setelah melihat anggukan kepala, dia pun langsung berlari.


Suasana semakin sepi. Beberapa orang yang ada sejak tadi, mulai pulang. Mereka tidak bisa menemani Puri terus di sini.


Bunga menyandarkan punggungnya pada sebuah pohon. Ia menghirup oksigen sambil menghembuskan nafasnya.


“Santuy, ya ^0^?”ujar Hira.


Bunga tersenyum kecil.


“Di saat kayak gini tuh waktu istirahat aku ^.^,”balas Bunga. Si kembar pun tertawa.


Pohon yang cukup tinggi itu terlihat bahagia karena bisa melindungi ketiga anak yang kelelahan dari teriknya sinar matahari. Bisa dipastikan kalau Bunga, Hari, dan Hira banyak berterimakasih karena ketentraman sangat terasa.


Pemakaman sudah benar-benar sepi. Bunga mulai mengantuk. Ia lalu menatap ke arah langit. Kepalanya sudah terasa berat karena mungkin otaknya sudah menyuruhnya untuk tertidur. Apalagi angin yang berhembus seolah mengusap-usap rambut Bunga, berusaha menidurkannya. Dan hal itu cukup membuat Bunga mulai tertidur.


Baru saja sebuah bayangan hadir, tiba-tiba pundak Bunga digoyang-goyang. Mata Bunga langsung saja membelalak. Ia terbangun lalu mencari pengganggu yang akan menjadi mangsanya kali ini. Hari yang tangannya masih menempel di pundak Bunga langsung mendapatkan tatapan tajam.


“Kalian bener-bener gak mau lihat aku tenang sebentar apa ~o~!”teriak Bunga.


Hari menutup kedua matanya ketika Bunga mulai mengaum. Ia lalu membiarkan Bunga menarik nafasnya. Hira tiba-tiba memegang punggung Hari. Mereka menatap Bunga dengan tampang yang mengkhawatirkan. Ketika melihat Bunga hendak membuka mulutnya, si kembar langsung menunjuk sesuatu. Hal itu membuat Bunga langsung memutar kepalanya.


Seseorang dengan jas dan celana tengah menunduk, menatap makam Puri dengan angkuh. Ia sempat memasukkan tangannya pada saku celana. Bukan malah mendoakan, pria itu terus menerus memandang makam Puri. Memang mungkin hal itu sungguh tidak ada spesialnya. Tapi, satu yang membuat Bunga langsung mendekati Pak Burhan adalah, pria itu menggunakan headset serta ada logo komplotan DJ di sepatunya.


Pak Burhan mendekatkan telinganya pada Bunga yang tiba-tiba saja menarik lengan bajunya.


“DJ hadir -.-,”bisik Bunga.


Seperti seorang polisi yang berpengalaman lainnya, Pak Burhan lalu memanggil anggotanya untuk bersiap. Mereka telah siaga dalam satu kali komando. Dan setelah bersiap, Bunga mengajak si kembar untuk ikut bersiap juga di bagian lain.


Anggota dari kepolisian nampak berjalan dengan santai agar tidak mengejutkan DJ. Mereka berjalan berpencar agar mudah ketika menangkap DJ. Seorang polisi sudah siap untuk menangkap DJ. Akan tetapi, tiba-tiba saja DJ memukul kepalanya. Ia menendang polisi yang mendekatinya dan berlari dengan cepat. Para polisi pun mulai mengejar.


Sesuai dugaan, DJ berjalan menuju gang di mana Hari, Hira, dan Bunga sudah bersiap di sana. Para polisi sempat meraih bajunya akan tetapi sobek. Gang yang hendak dimasuki DJ cukup kecil. Hal itu memang membuat DJ beruntung dan membuat beberapa polisi hanya bisa menghentikan langkah. Ketika seseorang hendak melemparkan tembakan, Pak Burhan langsung mengomandoi agar tidak membuat keributan. Mereka pun mulai berpencar, menunggu DJ keluar dari gang kecil.


DJ membalikkan pandangannya. Nafasnya terdengar begitu jelas di gang yang hening itu. Hari sempat hendak berteriak, namun Hira berhasil menutup mulut kembarannya itu. DJ mendengar suara Hari. Ia lalu mulai berjalan ke arah lain.


“Ganti rencana! DJ lari ke arah lain ~o~!”teriak Bunga.


Bunga dan si kembar mulai bergerak. Polisi pun kembali berpencar.


Dari arah yang berlawanan nampak DJ tengah berlari kembali ke gang awal. Ia hendak melarikan diri. Akan tetapi, ternyata polisi ada di sana. DJ mulai khawatir, ia lalu membalikkan tubuhnya dan melihat Bunga. Ia sempat menatap Bunga dengan agak lama dari balik maskernya. Ia baru memalingkan wajahnya ketika melihat beberapa paku menempel di tembok. Ia lalu menaiki paku itu dengan cepat.


Tak mau kalah, para polisi langsung berlari keluar. Akan tetapi, DJ telah menghilang tanpa jejak.

__ADS_1


__ADS_2