
27 Februari, 15.00 WIB
Sejak pagi hanya ada kegiatan yang biasa dilakukan. Bercengkrama dengan keluarga, makan obat, meladeni orang-orang yang menengok, dan masih banyak lagi. Tapi, tak ada kabar dari si kembar, Jutong, maupun Pak Burhan. Mereka sepertinya sibuk menggantikan tugas Bunga untuk beberapa saat.
Setelah tengah hari datang, Bunga sempat menutup matanya untuk beristirahat. Tapi ternyata ia malah kebablasan UwU.
Barulah ketiga pukul tiga mulai datang, Bunga harus terjaga dari tidur nyamannya. Ia langsung membuka matanya. Perlahan, berusaha mengenali berbagai bayangan di sekitarnya. Setelah bisa focus, ia mulai mencari keberadaan keluarganya. Tidak ada. Mereka sepertinya tengah pergi ke rumah untuk mengambil beberapa barang. Dan hanya ada Dimas yang menemaninya di sana.
Tunggu, Dimas?
“WAAAAAAHHH>O
Bunga mengangkat tubuhnya. Ia lalu menjauhi Dimas yang tengah menelungkup di sampingnya sejak siang di mana Bunga mulai terlelap. SEJAK SIANG. Namun, dengan teriakan Bunga yang sempat membuat beberapa ekor burung terkejut, tidak membuat Dimas terbangun. Rambutnya acak-acakan. Bahkan bisa dikatakan kalau bajunya itu sangat lusuh. Entah dari mana ia, seharian menghilang dan kembali dengan keadaan yang mengkhawatirkan. Apa dia kelelahan?
Bunga pun mulai bisa mengatur detak jantungnya. Ia lalu mulai membuka selimutnya dan turun dari ranjang. Ia mendekati wajah Dimas, untuk memastikan bahwa ia tertidur pulas. Dan benar saja, Dimas masih berada di alam mimpi.
Tanpa sadar Bunga tersenyum kecil. Ia lalu menyingkirkan rambut yang sempat menghalangi wajah manis Dimas. Setelah ia bisa melihat keseluruhan wajah Dimas, Bunga pun mengambil selimutnya. Ia menutupi punggung Dimas dengan selimutnya itu. Sekali lagi ia tersenyum.
Ketika ia sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan, ia langsung menggelengkan kepalanya. Ia pun mulai berjalan menuju kamar mandi.
“Aku pakein selimut karena dia kelihatan kayak anak yang baru dibuang. Bukan aku suka sama dia. Bukan! Apalagi cinta, ih o~o,”ujarnya.
Rumah Sakit, Kamar Bunga, 07.22 WIB
Bunga tengah mengeringkan rambutnya dengan sebelah tangan. Tangan yang satunya masih setia diperban. Walaupun ia tidak menggunakan penyangga atau apa pun, namun sebenarnya luka itu masih sangat basah. Baru saja beberapa hari.
Ia pun duduk di samping kepala Dimas. Dengan masih memegang handuk, Bunga menatap Dimas dengan aneh. Ia tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Yang ia tunjukkan hanya pipinya yang tiba-tiba memerah. Ia berkali-kali mengalihkan pandangan namun Dimas seolah memagnetinya agar terus memandang ke arahnya.
Bunga pun kembali menggelengakan kepalanya. Ia pun menghembuskan nafasnya lalu beranjak dari ranjang.
“Mau ke mana -.-?”
Bunga terkejut. Tiba-tiba saja tangannya di genggam dengan lembut. Setelah melihat kea rah Dimas yang menatap Bunga dengan senyuman manis, Bunga langsung merah padam. Ia sulit mengatur nafasnya. Bukan karena ekspresi Dimas yang lucu saja, tapi tangannya yang tengah digenggam juga. Saking terkejutnya ia hingga handuk yang ia pegang langsung ditarik gaya gravitasi.
“Kamu, kenapa sih? Sakit? Demam 0.0?”tanya Dimas yang khawatir ketika melihat wajah Bunga tiba-tiba memerah.
Tanpa aba-aba, ia lalu mengangkat tubuhnya untuk menghadap kea rah Bunga. Ia tempelkan telapak tangannya ke kening Bunga. Dan Bunga hanya bisa menatapnya dengan heran.
“Kamu gak panas. Tapi kok wajahnya merah gitu 0.0?”
“Merah apanya? Wajah aku gak merah tahu! Lagi pula kalau wajah aku merah bukan karena aku suka sama kamu, ya >O
Dimas pun sempat terkejut. Ia berusaha menahan tawanya dan hanya menatap Bunga dengan kerutan di alisnya.
“Aku gak bilang kamu suka sama aku, kan? Jangan-jangan ^o^,”
“Gak! Aku gak cinta sama kamu >O
Lagi-lagi Dimas menahan tawanya. Ia lalu menatap wajah Bunga yang cemberut. Wajah bahagianya langsung berubah ketika itu. Di hadapannya terlihat Bunga yang menampakkan ekspresi lucu. Bahkan, Dimas sampai merasa gemas. Dan pipinya ikut memerah.
“Udahlah >~<,”ujar Dimas. Ia lalu menutup wajahnya yang memerah.
“Udah apanya? Kamu tiba-tiba gak ada! Ninggalin aku gitu aja! Aku tuh takut kamu kenapa-kenapa! Kamu juga gak ngabarin aku seharian penuh. Kamu pikir aku bisa tahan >O!”
“Oh, kamu kangen sama aku, ya ^O^,”
“Ih, apaan? Gara-gara kamu gak ada kami jadi ribet tahu, gak >O<.”
__ADS_1
“Terus, kenapa waktu aku datang malah diomelin? Aku capek tahu, kemarin lari-lari. Harus manjat-manjat tembok, pula -.-,”balas Dimas. Ia lalu menampakkan wajah lelahnya.
“Ya, makanya kamu harus terus sama aku biar gak capek >O
“Kalau gitu, aku gak akan capek lagi. Makanya aku mau tiduran bentar -.-,”
Dimas pun langsung melemaskan kepalanya hingga mendarat tepat di bahu Bunga. Bunga yang merasa terkejut kembali mengubah warna pipinya menjadi merah. Bagaimana tidak. Dimas tidak berperilaku seperti biasanya. Walaupun memang dia orangnya iseng, jahil, dan romantic, tapi sampai menggenggam tangan dan menimpakkan kelapanya itu cukup mengejutkan. Ia begitu dekat dengan Bunga sampai Bunga bisa mencium rambutnya yang masih menyimpan harum Shampoo.
“Kamu ini kenapa sih? Aneh banget deh kelakuannya >O
Namun tiba-tiba saja Dimas memeluk Bunga. Ia memeluk perempuan cantik itu dengan sangat erat. Bahkan membuat Bunga semakin terkejut.
“Kamu mau ngapain tadi -.-?”tanya Dimas begitu entengnya.
“Ya, kamu pikir aku ngapain? Mau mindahin kamu, lah. Aku agak canggung kalau kayak gini. Kamu kayak habis dapet duit milyaran tahu, gak? Kelakuannya jadi aneh banget >O
Dimas lalu menyembunyikan wajahnya di balik bahu Bunga yang cukup kecil. Ia menutup matanya untuk beberapa saat dan sempat menahan air mata.
“Jangan gerak dulu. Aku nyaman kayak gini. Bisa bertahan seperti ini untuk beberapa saat -.-?”
Bunga lalu menghembuskan nafasnya. Entah apa yang terjadi pada Dimas, ia tidak tahu. Namun, mungkin hanya dia seorang yang bisa membuat rasa gelisah Dimas berkurang. Hanya dia. Jadi, mau bagaimana pun ia harus menemani pria ini.
“Iya, aku gak akan gerak. Tapi kalau tiba-tiba kakiku jadi bengkak aku bakal salahin kamu -.-,”
Dimas lalu sedikit tertawa. Ia semakin erat memeluk tubuh Bunga.
“Aku gak akan selama itu, kok. Cuma buat beberapa saat aja. Aku, kangen banget sama kamu -.-,”
“Ye, ditinggalin sehari aja udah kangen. Emang kamu kenapa sih >O”
Mendengar pertanyaan yang sulit dibalas itu membuat air mata Dimas akhirnya keluar juga. Ia lalu menutup matanya walau air mata memaksa keluar dari sana.
Bunga lalu tersenyum. Ia mulai menggerakkan tangannya untuk meraih kepala Dimas yang jauh tinggi di atasnya. Ia menepuk kepala Dimas dengan susah payah. Barulah setelah itu, ia mengusap punggung Dimas dengan lembut.
“Gak usah minta maaf, kamu gak punya salah apa-apa kok. Lagi pula aku pasti akan maafin kamu asalkan kamu gak niat ninggalin aku ^.^,”
Dimas kembali tersentak. Malah itu yang ia khawatirkan. Mungkin saja ia akan meninggalkan Bunga untuk beberapa saat. Mungkin saja ia akan semakin jauh dengan Bunga. Dan mungkin saja ia akan semakin rindu dengan Bunga.
Bunga mulai kehilangan pipi merah dan jantung yang berdegup kuat. Kali ini jantungnya sudah lebih tenang. Ia juga sudah bisa tersenyum karena akhirnya bisa kembali bertemu dengan Dimas. Memang benar, seharian tidak bertemu itu membuat rasa rindunya yang selalu dipendam jadi meluap-luap.
“Mungkin -.-,”ujar Dimas tiba-tiba. “Mungkin aku bukanlah kuncup yang baik bagi mahkota Bunga. Mungkin aku hanya pengecut yang mudah kabur bagai belut. Mungkin pula aku hanya seorang yang tak becus melindungi dan mengurus. Aku manusia yang payah, karena membuatmu terus lelah. Aku tidak percaya, ternyata aku orang yang seperti itu adanya. Aku pula tak bisa biarkan kita bersama, karena mungkin diri ini malah akan menyakiti nantinya ToT,”
Sebuah kalimat puitis yang keluar dari mulut Dimas hanya dianggap sebagai candaan oleh Bunga. Ia kagum dengan pengucapan pria itu. Sungguh, dia memang hebat dalam merangkai kata. Karena itu lah Bunga tidak terlalu mendalami makna dari ucapan Dimas.
“Ya udah. Biar kamu gak sedih, jalan-jalan mau, gak? Aku lagi libur soalnya. Asal jangan ketahuan sama anggota kepolisian atau detektif yang lainnya aja. Aku Cuma ngerasa bosan, ya. Bukan karena mau jalan-jalan dan bergandengan tangan sama orang kayak kamu -.-,”ujar Bunga.
Anak ini memang polos dan selalu mengatakan ‘tidak’ pada apa yang dia harapkan terjadi. Hal itu cukup untuk membuat Dimas lagi-lagi mengeluarkan tawa kecilnya, meninggalkan kesedihannya. Ia pun melepaskan pelukannya dan mulai menghadap ke wajah Bunga. Hal yang kembali membuat pipi Bunga memerah terjadi. Dimas langsung menggenggam tangan Bunga dengan begitu hangat.
“Ayo ^-^,”ujarnya santai.
Pameran, 16.09 WIB
Dimas masih menggandeng tangan Bunga walau mereka sudah sampai di pameran. Dan Bunga sudah tidak perduli lagi. Berkali-kali ia berusaha melepaskan genggaman tangan Dimas, berkali-kali pula Dimas mempererat gandengan tangan mereka. Sungguh orang yang sulit ditebak.
Berbagai wahana berhasil mereka naiki. Bahkan, makanan-makanan yang kelihatannya enak padahal rasanya biasa saja sudah mereka coba hampir satu persatu. Ya, biar bagaimana pun kedua anak itu adalah detektif kaya. Tak perduli berapa uang yang mereka keluarkan. Toh, akan kembali melebihi jumlah itu.
Dimas sangat berperilaku aneh hari ini. Ketika Bunga menaiki komidi putar, ia bahkan ingin berada di sampingnya. Ketika Bunga menaiki kora-kora, Dimas menggenggam tangannya. Bahkan, ketika bianglala mereka naik, Dimas ingin berada di samping Bunga, bukan di hadapannya. Walaupun bersikap seolah-olah tak hirau, namun sebenarnya Bunga sadar bahwa Dimas hendak menyampaikan pesan tersembunyi padanya.
__ADS_1
Sudah malam. Tak terasa sudah dua jam mereka bermain tanpa henti. Dimas tidak lupa kalau keadaan Bunga masih belum pulih sehingga ia siap sedia membawa obat untuknya.
“Untung aku bawa obatnya. Aku selalu perhatian sama kamu. Makanya aku cocok jadi suami yang baik ^O^,”ujar Dimas sambil memberikan sebuah tablet pada Bunga.
Bunga menerimanya. Ia pun mulai meminum obatnya, menghela nafas untuk beberapa saat, baru mulai membalas ucapan Dimas.
“Yaa kali. Kamu tuh bukan suami yang baik, tapi seorang kakek yang baik^o^,”
Dimas pun hanya tersenyum mendengar ucapan Bunga. Ia lalu mengacak rambut Bunga dengan gemas. Dan karena sudah terbiasa, Bunga hanya bisa memajukan mulutnya sambil menatap Dimas dengan sungguh imut. Hal itu malah membuat Dimas semakin mengacak rambutnya gemas.
“Aku beruntung banget tahu gak bisa ngacak rambut anak lucu kayak kamu. Kamu harusnya bersyukur karena bisa dimanja sama cowok keren kayak aku ^o^,”
Bunga hanya bisa tersenyum ketus.
“Terserah kakek deh. Aku sih Cuma bisa berbakti sama kakek ^.^,”
Dimas pun kembali mengacak rambut Bunga.
Kali ini mereka tengah duduk di sebuah bangku. Hiruk pikuknya orang-orang bagaikan tayangan yang menghibur mereka. Banyak sekali orang yang tertawa bahagia di sana. Hal itu membuat Bunga tersenyum lepas.
“Kamu kenapa sih mendem? Kalau mau nangis ya nangis aja. Aku bakal dengerin curhatan kamu, kok ^.^,”ujar Bunga.
“Ternyata kamu memang sadar ^-^,”ujar Dimas. Bunga pun tersenyum kecil. “Tapi, ini masalah yang harus kamu cari sendiri jawabannya. Bukan langsung dari mulut aku, Bel -.-,”
“Kalau gak mau kasih tahu, gak apa-apa. Tapi, aku Cuma merasa tersinggung aja -.-,”
“Jangan gitu. Aku sayang sama kamu dan aku gak mungkin menutupinya -.-,”
“Bohong besar. Terus kenapa kamu males banget cerita sama aku -.-,”
Dimas lalu menghembuskan nafasnya lemas. Ia tidak boleh terbawa emosi.
Tiba-tiba saja Dimas mengangkat tubuhnya. Ia lalu mengambil tangan Bunga dan mencium punggung tangannya.
“Udah malam. Kamu harus pulang. Kamu jalan duluan keluar pameran -.-,”
Bunga menelan ludahnya. Ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang buruk.
“Bareng aja. Kan kita..^-^,”
“MAAF! Tapi aku gak bisa. Kamu harus jalan duluan -.-,”
Bunga pun langsung menarik nafas panjang. Ia lalu mengusap pipi Dimas sebelum ia melangkahkan kakinya menuju jalan raya.
“Jangan berbalik, bagaimana pun keadaannya -.-,”
Bunga mengangguk. Ia lalu berjalan tanpa peduli apakah Dimas mengikutinya atau tidak. Ia bersyukur karena ia bisa mengeluarkan air matanya tanpa harus disaksikan oleh Dimas. Bunga terus berjalan sepanjang air matanya mengalir. Ia terus melangkahkan kakinya hingga sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapannya.
Jutong menampilkan wajahnya. Ia lalu tersenyum pada Bunga dan keluar dari mobil.
“Jutong, pasti gak ada Dimas di belakang aku, kan -.-?”tanya Bunga lemas.
Mendengar suaranya yang parau, Jutong tahu, Bunga tenagh patah hati. Ia lalu menaruh tangannya di bahu Bunga.
“Dia gak ada. Dia yang nyuruh aku ke tempat ini. Dan mungkin dia gak akan pernah lagi muncul dalam hidup kita -.-.”
“Kenapa begitu >.”
__ADS_1
“Karena dia adalah DJ, Bunga. Pak Burhan pun tahu hal itu -.-,”
Di sana, air mata Bunga semakin deras mengalir.