
“Hanya ada satu korban jiwa dalam kebakaran. Yang luka kecil hanya dua orang. Korban jiwa bernama Puri, 19 tahun, dan berjenis kelamin perempuan.
“Menurut keterangan dari warga sekitar, ini adalah tempat kosnya. Dia masuk kos sudah sejak kelas tiga SMP, karena masalah keluarga. Kamarnya ada di lantai dua nomor 12 ^.^.”ujar Brian, asisten Ara yang saat ini tengah tersenyum manis.
“Terimakasih Brian ^-^,”ujar Bunga.
Brian menganggukkan kepalanya membuat kacamata bulatnya sedikit bergoyang.
Pada kasus kali ini Bunga dan Dimas bekerja dengan tim baru. Tidak disertai perintah, tanpa peralatan, dan tanpa perlindungan. Akan tetapi, mereka percaya pada Pak Burhan yang selalu mendukung mereka.
Kali ini Bunga ditunjuk sebagai pengatur. Ia yang akan mengatur semua rencana di bawah ijin Dimas. Oleh karena itu, dengan penuh pertimbangan Bunga telah memberi tugas pada teman-temannya.
Dimas mendapat tugas yang sama yaitu mencari informasi. Dia orang yang selalu memberikan informasi secara detail dan factual. Maka Bunga percaya padanya. Bunga pun menjadikan Hari sebagai pencari informasi juga. Dia bisa banyak membantu Dimas dalam kasus ini seperti menelpon sanak saudara dan lain sebagainya. Ia cerdas dan teliti sehingga mudah untuk melihat kejujuran dari nara sumber nanti.
Sedangkan Hira, Bunga memang belum tahu bagaimana sistem kerjanya, akan tetapi ia menempatkan Hira bersamanya. Apalagi kalau bukan orang yang menyelidiki kasus secara langsung. Menurut Hari, Hira cekatan. Dia bergerak cepat dan kreatif. Apa pun yang tidak kita bayangkan bisa menjadi nyata oleh anak ajaib itu. Namun, Hira memang agak sulit untuk memahami sesuatu yang agak rumit.
Tugas pun mulai dilaksanakan.
Kos Putri Jalan Karpet no. 005, Jalan Karpet, 10.12 WIB.
Kasus Kebakaran dengan Satu Korban Jiwa.
BUNGA DAN HIRA:
Bunga sudah berada di dalam ruangan yang masih steril setelah kebakaran. Belum ada siapa pun yang masuk ke sini setelah kebakaran sehingga akan memudahkan Bunga dan Hira untuk mendapatkan bukti dan menyelidiki kronologi kejadian.
“Hira, kamu coba poto beberapa bukti yang kuat, hal-hal yang aneh, atau mungkin sesuatu yang disangka sebagai penyebab kebakaran -.-.”ujar Bunga. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku mantel lalu melihat sekitar.
“Fotonya pakai apa 0.0?”
“Pakai pengki itu tuh -.-.”ujar Bunga menunjuk sebuah pengki yang sudah tidak berbentuk. Hira pun mulai kebingungan. “Ya, pakai kamera, lah ~0~!”
“Kameranya mana 0.0?” tanya Hira lagi. Ia sepertinya sangat kebingungan.
“Kamu ini, aduh! Kenapa minta kamera sama aku?! Kita, kan, gak dikasih Hira! Pakai handphone kamu aja ~o~!”
Hira pun mengangguk. Ia lalu tersenyum ke arah Bunga yang tengah mengerutkan alisnya. Setelah itu, ia mulai merogoh sakunya untuk mengambil benda balok tipis di sana. Sebuah handphone yang terbaru dan canggih ia keluarkan. Setelah membuka kamera, Hira pun mengangkat jempolnya dan mulai melangkah dengan hati-hati.
Bunga berjalan menuju sebuah tubuh yang tengah telungkup tak jauh dari jendela. Dari kejauhan terlihat bajunya sudah sobek di mana-mana. Rambutnya terpotong tak karuan. Penampilannya acak-acakan dan mengerikan.
Setelah Bunga mendekat, ia dapat melihat dengan jelas sosok Puri. Kulitnya sudah hitam terbakar. Ada beberapa bagian kulit yang terkelupas dan menampilkan daging merah mudanya. Apakah Puri berdarah? Pertanyaan itu sudah pasti tidak akan ada jika melihat keadaan Puri saat ini. Kaki-kakinya yang mungkin sebelumnya mulus, kini memerah dan lecet disertai darah.
“Kasihan sekali -_-.”ujarnya.
Bunga lalu jongkok agar bisa melihat keadaan Puri lebih detail. Di tangan kanannya terlihat sebuah bungkus korek api masih digenggam. Di tangan kirinya tergeletak sebuah botol kaca yang menyisakan beberapa tetes cairan. Bunga lalu mengambil rambut yang menutupi wajah Puri. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati karena tahu itu pasti akan sangat mengerikan.
Ketika rambut sudah dibuka, barulah terlihat wajah Puri. Wajahnya penuh dengan luka bakar, hitam di mana-mana. Hal itu mungkin akan membuat siapa saja merinding. Namun tidak bagi Bunga. Hal ini sudah biasa. Bisa dibilang luka pada wajah Puri ini tidak lebih parah dari kasus pembunuhan sebelumnya.
Bunga lalu mulai mengangkat tangan Puri.
“Hira -.-!”teriak Bunga. “Tolong ingat-ingat ini. Aku orangnya mudah lupa. Puri orangnya kidal karena bungkus korek api ada di tangan kanan. Besar kemungkinan ia menggesekkan batang korek dengan tangan kiri -.-.”
“Tapi tunggu ^.^!”teriak Hira. Ia pun berjalan menghampiri Bunga. Layar handphone miliknya diperlihatkan pada Bunga. “Kalau dia kidal, dari poto yang aku poto, dia menggenggam sebuah piala dengan tangan kanannya. Bukan itu saja, di poto yang lain Puri tengah memasak. Spatulanya di tangan kanan ~-~,”
__ADS_1
Bunga terkejut. Ia sempat menutup mulutnya setelah mendengar kata-kata Hira.
“Berarti -_-,”ujar Bunga. “Dia dibunuh -_-.”
DIMAS DAN HARI:
Sudah banyak informasi yang didapat oleh dua orang jenius itu. Banyak juga nara sumber terdekat yang mudah diwawancarai.
Namun, tak cukup sampai di situ. Dimas dan Hari masih tidak puas sehingga meminta pada ibu kos untuk mengantarkan mereka ke tempat rekaman CCTV bisa diputar ulang.
Sebuah ruangan yang kini sudah tidak rapi lagi tengah dimasuki oleh tiga orang itu. Mereka melangkah dengan sangat hati-hati karena beberapa kayu yang terbakar pasti akan jatuh tiba-tiba.
Ibu kos lalu menghampiri sebuah komputer yang anehnya masih menyala. Untung saja, ruangan itu tidak terbakar sepenuhnya. Listrik pun sepertinya masih bisa berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, ibu kos langsung saja duduk di sebuah kursi yang berada di belakang komputer.
Mouse yang kecil itu digerakkan ke sana ke mari, membuat cursor yang ada pada layar komputer menunjuk beberapa aplikasi. Barulah setelah beberapa tombol diklik, beberapa nama CCTV tampil di layar. Ibu kos langsung membuka CCTV yang ada di lantai 2. Dan langsung saja sebuah tampilan muncul.
“Kalian lihat-lihat saja dulu. Dan, tolong sekali, periksa dengan baik. Saya tidak mau kosan saya dianggap angker nanti T.T.”
“Baik, bu. Serahkan saja pada kami ^.^.”
Ibu kos pun tersenyum lega sebelum akhirnya beliau keluar dari ruangan yang berbahaya itu.
Dimas memundurkan waktu pada layar. Ia meneliti berbagai kejadian yang kemungkinan ada sangkut pautnya dengan kejadian saat ini.
“Coba hari kemarin -.-.”ujar Hari. Dimas pun mengangguk. Layar pun mulai memperlihatkan kejadian kemarin.
Di pagi hari, tidak ada kejadian apa pun. Puri yang ternyata sangat cantik itu keluar dari kamarnya dengan baju tidur. Dimas pun mempercepat video. Tidak ada yang aneh pada kejadian kemarin, hingga tiba-tiba Puri tengah berhadapan dengan seorang pria. Tunggu, bukannya pria tidak boleh masuk kemari?
Puri nampak membentak pria itu. Pria dengan tampilan keren dengan masker di wajah dan headset menggantung di punduknya. Lelaki itu pun nampak merayu agar Puri tidak marah. Tiba-tiba saja Puri mengeluarkan handphone-nya. Ia membuka kontak lalu kembali mengucapkan beberapa kalimat pada pria itu. Tampilan layar handphone Puri tidak begitu terlihat dari CCTV sehingga Dimas hanya bisa terus menontonnya.
Pria itu lalu membawa Puri masuk ke dalam kamarnya. Pintunya di tutup. Setelah itu, mereka berdua tidak keluar sampai tiba-tiba saja sesuatu meledak dari dalam kamar, membuat dua oran yang berada di samping kamar Puri segera keluar sambil berteriak.
Dimas dan Hari berpandangan. Jantung mereka berdegup sangat kencang.
“Jadi, dia dibunuh oleh pria itu >~<,”ujar Hari.
“Dan lagi, ini bukan kasus biasa -.-,”ujar Dimas.
“Maksud kamu apa ^.^?”
“Jadi, Puri ternyata ada sangkut pautnya dengan DJ. Pria itu adalah DJ. Aku tahu itu. selain dari penampilannya, di pintu depan kamar Puri terdapat stiker bulat bergambarkan DJ. Gambar yang sama dengan gambar yang pernah aku dan Bunga lihat pada kasus zombie di SMA 1 -.-,”
“Lalu, apa yang dia lakukan di SMA 1-.-?”tanya Hari.
“Dia mengambil berlian yang dicuri kepala sekolah di museum -.-,”
“Aku tidak habis pikir. Mengapa dia membunuh teman seanggotanya sendiri-.-?”ujar Hari.
Dimas lalu mengerutkan alisnya. Lama-lama, matannya terbuka lebar karena terkejut. Ia lalu menepuk keningnya.
“Gila ~o~!”teriaknya berhasil mengejutkan Hari. “Kenapa aku baru sadar?! Berarti, beberapa orang yang berhasil kami tangkap, yang berhubungan dengan kasus DJ adalah anggota yang sudah tidak berguna. Berarti, kepala sekolah juga merupakan anggota DJ. Dan wanita ini, pasti ada sangkut pautnya dengan manusia gila itu ~.~,”ujar Dimas. Ia pun segera menarik tangan Hari untuk menaiki tangga menuju lantai 2.
Lantai 2, 10.32 WIB
__ADS_1
Bunga masih menyelidiki apa yang terjadi. Ia lalu mengambil sebuah handphone yang sudah mati, tergeletak di samping botol kosong itu. Handphone itu rusak. Namun, Bunga masih tetap memasukkannya ke dalam plastik klip yang selalu siap sedia di dalam saku mantel.
“Bunga ^O^!”teriak Hira kepada Bunga. Dengan segera Bunga pun menghampiri Hira.
“Laptop ini masih menyala. Tapi, layarnya rusak. Kalau bisa, kita bawa dan perbaiki dulu untuk mendapatkan informasi lebih lanjut ^.^.”
Bunga mengangguk. Ia tersenyum dan membiarkan Hira membawa laptop itu.
“BUNGA~O~!”teriak Dimas. Ia kini sudah tiba di daun pintu kamar Puri.
“Bisa gak sih kalian gak usah seberisik itu?! Aku gak budge ~O~!”ujar Bunga nampak marah.
“Tapi ini penting ~O~!”ujar Hari.
“Puri itu di bunuh? Udah tahu! Tinggal cari tahu cara bunuh dia aja-.- !”
“Puri temannya DJ ~O~!”teriak Dimas. Ia lalu menunjuk sebuah stiker yang terpampang di pintu depan kamar. Tentu saja Bunga terkejut karena hal itu.
Bunga lalu menatap sekitar. Ia melihat beberapa bagian yang rusak, jatuh, maupun berantakan. Ia lalu menutup matanya, mencoba membayangkan apa yang terjadi. Akan tetapi, setelah mengetahui DJ, orang yang mungkin sudah ia ketahui siapa telah membunuh satu orang, membuat jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Ia tidak bisa fokus untuk membayangkan kronologi kejadian.
“Bunga, kamu gak apa-apa ~.~?”tanya Dimas mulai khawatir ketika melihat Bunga hampir terjatuh.
“Dim, aku gak bisa berpikir jernih. Jantung aku sepertinya berdegup sangat kencang. Aku terlalu terkejut. Semuanya kabur >~<,”ujar Bunga. Tubuhnya tiba-tiba menjadi lemas.
Dimas yang berada paling dekat dengan Bunga langsung menahan tubuhnya. Bunga sangat dingin. Mulutnya tiba-tiba saja menjadi pucat. Dimas segera membawa Bunga. Bahkan, Hari dan Hira mencoba membantu. Bunga pun dibawa keluar dari kamar.
Hira berlari menuruni tangga. Ia tiba-tiba kembali sambil membawa sebuah air mineral dalam bentuk gelas. Ia memberikannya pada Hari. Hari langsung saja menusukkan sedotan pada tutup air mineral itu dan memberikannya pada Dimas. Dengan segera, Dimas memberikannya pada Bunga.
“Kamu kenapa, Bunga >~”tanya Dimas. Bunga menggeleng. “Ya, sudah. Kamu istirahat dulu di sini. Tenangkan diri kamu, ya >~<.”
Ketiga orang itu lalu berdiri. Mereka membentuk sebuah lingkaran. Mereka saling berpandangan.
“Apa yang harus kita lakukan -_-?”tanya Hari. Ia sesekali melirik Bunga yang masih lemas.
“Mungkin kita harus menunda atau bekerja tanpa Bunga. Tapi, di antara aku dan dia hanya Bunga yang bisa membayangkan kronologi kejadian T.T,”ujar Dimas.
Tiba-tiba saja Hari dan Hira tersenyum.
“Hira bisa melakukan hal itu ^.^!”ujar mereka bersamaan. Dimas terkejut, lalu tersenyum. Tanpa harus memerintah, dengan anggukan saja, Hira langsung melihat beberapa penjuru rumah.
Hira mulai memasuki kamar itu. Ia melihat engsel pada kamar. Sedikit bengkok. Kemungkinan terjadi gebrakan. Di lantai terlihat sebuah gerat. Ada empat gerat yang hanya bisa dilihat dengan cahaya. Great itu lurus lalu belok ke arah sebuah lemari yang terbuka. Hira menghampiri lemari itu. Dilihatnya beberapa berkas yang sobek, terkena darah serta api, dan beberapa bagian hilang. Selain itu, ada juga abu kertas yang berserakan di bawah.
Barulah, Hira kembali menghampiri Dimas untuk memberikan laporannya.
“Bagaimana ^.^?”tanya Dimas tak sabar.
Hira lalu menutup matanya.
“Seorang pria seperti membuat Puri pingsan. Ia lalu masuk ke dalam kamar, menutup kamar dengan emosi -_-,” Dimas pun terkejut. Ia menatap Hari yang tersenyum. Hira memang jago ^.^. “Lalu Puri diseret. Sepertinya Puri tiba-tiba saja sadar, pria itu lalu mendorong Puri ke arah lemari hingga daerah kepala terbentur dan meninggal. Setelah itu, ia membuat rekaman dengan handphone Puri dan dari sana, bayanganku buntu -_-,”
Hira membuka matanya. Dimas lalu mengangguk.
“Tadi, aku hanya tahu caranya membunuh. Aku kira dia mati terbakar ternyata bukan. Korek apinya dinyalakan oleh DJ karena bekas gesekannya itu tertutupi oleh jari. Mana mungkin menyalakan melalui sela-sela jari? Selain itu, Puri tidak kidal tapi bungkus korek ada di tangan kanan. Dan, ia tidak menumpahkan spirtus atau minyak. Karena ketika aku lihat botol itu terkena cahaya matahari, cairan yang tersisa tidak menguap dengan cepat >.<,”ujar Bunga.
__ADS_1
“Dan karena caranya itu, aku semakin yakin kalau dia adalah DJ -.-,”lanjutnya.
“Siapa?”tanya ketiga pria itu. Bunga pun mengucapkan sebuah nama dan berhasil mengejutkan ketiga temannya. “APA, BAGAIMANA MUNGKIN DIA~O~?!”