
23.20 WIB, Perusahaan V
Waktu sudah berlalu dengan begitu cepat. Tak terasa, rencana yang telah mereka buat matang-matang kini dilaksanakan juga.
Di jam itu, semua orang sudah mulai memerankan bagiannya. Dua buah mobil pemadam kebakaran di sembunyikan di dekat lokasi. Bahkan, tim beta sudah sampai di pulau kecil itu. Tinggal menunggu waktunya datang maka mereka akan bebas dari teror DJ.
Karena harus bekerja sejak pagi, Bunga hanya bisa menguap di sebuah kursi di depan komputer. Banyak sekali komputer yang menyala dan memutar rekaman suara. Baik suara ketikan, suara kebisingan, maupun musik kecil, semua terdengar jelas.
Keadaan perusahaan yang cukup berisik berhasil membuat tempat itu seolah-olah tengah dihuni banyak orang. Padahal, hanya ada satu orang remaja pemberani yang ada di sana.
Sambil menunggu, Bunga sesekali membuka internet yang menyangkut informasinya dan Dimas. Di sana, banyak tanggapan positif bermunculan. Banyak pula foto mereka berdua. Foto dua remaja jenius yang sempat menggemparkan dunia detektif karena kepintaran mereka. Di sana nampak Dimas dan Bunga tengah tersenyum manis. Dan itu membuat Bunga memunculkan senyumannya.
"Kenangan lama ^_^, " ujar Bunga sambil menarik nafas panjang. Ia pun melanjutkan aktivitasnya di media maya.
TENG!! TENG!! TENG!!
Terdengar suara bel dari jam di tengah perusahaan yang selalu mengejutkan Bunga. Bel itu bersuara setiap tengah malam tiba. Selain untuk memberitahukan waktu, bel itu juga digunakan sebagai perintah pada para detektif yang masih belum tidur walau sudah larut malam.
Dan kali ini, Bunga bukan hanya terkejut. Namun Bunga juga merasa gelisah. Seberani dan serela apapun seseorang dalam mengorbankan nyawanya, pastilah tidak akan sesantai itu. Sama halnya dengan Bunga. Ia mulai memaksakan mulutnya untuk tersenyum walau ia tahu ledakan akan terjadi kapan saja.
00.01 WIB, Luar Perusahaan V.
Seseorang terdengar tengah menghubungi Pak Burhan. Dan tentu saja Pak Burhan menanggapinya. Ia mengangkat telepon dan berhasil mendapatkan informasi dari tim beta. Ia pun menatap Jutong dan mengangguk.
"Tim Beta bilang, launching berhasil dibatalkan. Semua anggota DJ berhasil dilumpuhkan dan tidak ada yang tersisa di pulau itu -.-," ujar beliau.
Jutong pun mengangguk. Ia sempat menatap kearah bangunan megah itu untuk beberapa saat sebelum kemudian membuka mulutnya.
"Apa DJ ditemukan di sana?" Tanyanya tak karuan.
Pak Burhan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Tim beta sudah menggeledah pulau kecil itu. Bahkan, tim sudah dikerahkan. Namun tak ada tanda-tanda DJ. Sepertinya dia akan hadir di sini, pada saat pengeboman-.-. "Ujarnya lemas lalu mulai menatap ke dalam Perusahaan V.
"Pasrahkan saja."lanjutnya.
00.04 WIB
Masih belum ada tanda-tanda akan kehadiran DJ atau komplotannya. Oleh karena itu, beberapa anggota tim mulai beranjak dari posisinya karena perintah dari Pak Burhan. Mereka mulai berkamuflase dengan kegelapan malam dan berkeliling untuk mencari keberadaan komplotan itu.
Beberapa polisi mulai bergerak. Mereka berjalan sambil membungkukan tubuh mereka. Kaki mereka dilangkahkan dengan hati-hati. Mata mereka dipasang untuk melihat sekecil apapun gerak-gerik yang ada. Hati mereka selalu was-was barangkali DJ datang tiba-tiba. Siapa yang tahu dari mana arah DJ datang?
SELATAN-UTARA
Di bagian selatan menuju utara perusahaan tersebut beberapa orang sudah berjaga-jaga. Mereka mengecek setiap sudut yang mencurigakan. Pada awal kedatangan mereka sudah ada sesuatu yang bergerak di dekat semak-semak. Dan dengan persenjataan yang ada serta kesiapan diri, mereka pun mulai mendekati sumber gerakan itu.
Seorang polisi yang yang bertubuh tinggi berjalan paling depan. Ia mengendap-endap menuju ke rerumputan tersebut. Tiga jari pria itu diangkat. Semakin dekat ia ke sumber gerakan, semakin banyak jari yang dilipat. Dan kali ini tinggal satu jari yang tengah diangkat. Beberapa orang yang ada di belakang pria itu langsung siap siaga.
GREPPP!!!
Para polisi itu sudah bisa menangkap tiga orang komplotan DJ yang tengah menyiapkan bom. Untung saja mereka bisa bergerak cepat. Walaupun bomnya sudah disetel dan sudah siap untuk meledak dalam waktu satu menit, namun pria bertubuh tinggi itu bisa mengatasi hal itu. Ia penjinak bom ternyata. Sehingga dengan hitungan detik saja, bom itu sudah bisa berhenti menghitung mundur.
Rekannya yang telah memborgol komplotan DJ langsung mengangguk dan mengangkat jempol mereka. Pria itu pun mulai mengambil walkie talkie agar terhubung dengan Pak Burhan.
"Pak, di sini telah ditangani -.-,"ujarnya santai.
UTARA-SELATAN
Kepolisian yang bertugas di bagian ini langsung berkeliling dari arah utara ke selatan. Awalnya tidak ada hal-hal mencurigakan. Namun, tiba-tiba saja terlihat sesuatu bersinar dari balik sebuah pohon ketika mereka melakukan perjalanan menuju Utara kembali. Sama halnya dengan tim selatan utara, tim ini langsung bersiap. Mereka mulai mendekati sumber cahaya itu dengan sangat hati-hati.
Ketika tubuh mereka sudah semakin dekat dengan sumber cahaya, mereka dapat melihat tiga orang pria tengah mengotak-atik sebuah bom dengan hanya penerangan dari senter. Bom itu sudah mulai menghitung mundur. Dan untuk mengurangi terjadinya kerusuhan, tanpa aba-aba mereka langsung menangkap ketiga orang itu.
Mereka sempat sadar akan kehadiran para polisi. Oleh karena itu, mereka Langsung beranjak dan membiarkan bom itu meledak. Namun ternyata persiapan kepolisian lebih matang dari mereka. Seorang penjinak bom langsung menghampiri bom itu dan berhasil menghentikan hitungan mundur nya.
Tidak perlu banyak drama, para polisi yang menjadi rekan penjinak bom itu langsung memborgol tiga orang yang sempat melarikan diri. Mereka sudah bisa ditangani dalam waktu yang cukup singkat.
Setelah itu sang penjinak bom mengambil walkie talkie dari tasnya. Ia menghubungi Pak Burhan dan menginformasikan apa yang telah mereka lakukan. Tak butuh waktu lama, rencana DJ untuk mengebom Perusahaan V sudah berhasil dibatalkan. Beberapa orang sempat bersorak karena mereka berhasil menjalankan misi dengan lancar. Begitu pun Pak Burhan dan Jutong. Mereka sempat bersyukur karena akhirnya mereka bisa menghalau rencana DJ itu.
Setelah itu, Pak Burhan menghubungi semua rekannya. Ia meminta mereka untuk berkumpul di pintu depan perusahaan kecuali beberapa orang yang dipercayakan. Mereka diperintahkan untuk kembali mengecek keadaan di sekitar Perusahaan V.
Enam orang dengan seragam yang sama berjalan dengan tangan di belakang dan kepala yang menunduk. Merekalah yang telah diperintahkan DJ untuk memasang bom di sekitar perusahaan. Dan ternyata mereka adalah anggota yang tersisa dari keseluruhan komplotan tersebut.
Pak Burhan lalu mendekati mereka. Dengan gerakan yang cukup tegas, dua orang penjinak bom yang menjadi pemimpin dari masing-masing regu langsung mendorong orang-orang itu. Mereka menyerahkan anggota DJ yang akhirnya tertangkap pada Pak Burhan.
__ADS_1
"Semua bom sudah dijinakkan. Sudah tidak ada anggota lain yang berkeliaran di sekitar Perusahaan V -.-,"ujar salah satu dari mereka.
Pak Burhan lalu mengangguk. Ia tersenyum dan mulai menatap salah satu anggota DJ itu.
"Yang mana di antara kalian yang DJ -.-?"tanyanya.
Namun, keenam orang itu malah tertawa.
"DJ sudah ada di tempat aman. Kalian tidak akan bisa menemukannya 0.0,"ujar salah satu dari mereka.
Sekilas terlintas suatu hal di benak Pak Burhan. Dirinya seolah tengah tersambung dengan orang yang sekarang berada di pikirannya.
"Bunga -.-,"bisiknya lambat.
00.05 WIB, Perusahaan V.
Bunga tersenyum kecil. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Lagaknya kali ini sangat angkuh. Tentu saja, ia angkuh. Karena ia sekarang tengah berhadapan dengan seseorang yang bertubuh ideal. Seseorang yang menggunakan headset, kaca mata hitam, kupluk yang menyembunyikan rambutnya, dan celana pendek.
"Akhirnya kita bertemu ^.^,"ujar Bunga. Ia menatap ke arah orang yang disangka DJ yang tengah memegang bom.
DJ pun memiringkan kepalanya. Ia sedikit tersenyum. Ia terlihat tengah mengusap bom yang ia genggam.
Bunga lalu tertawa kecil. Ia sempat menatap kakinya ketika melangkah mendekati DJ. Tiga langkah besar yang sangat beresiko itu sempat membuat Bunga gelisah.
"Aku tahu tiga puluh detik lagi bom itu meledak. Aku tahu sebentar lagi kita mungkin akan berada dalam keadaan panas. Dan aku tahu, kau akan membuka topeng itu, Ara -.-,"ujar Bunga. Ia lalu mengangkat sebelah alisnya.
"Ya, gila sih -.-,"ujar DJ. Ia lalu membuka kacamata dan kupluknya.
Dari sana, terlihat dua tatapan mata kejam dan rambut yang terurai indah. Senyuman licik yang sudah biasa dilihat, tergambar di sana.
Ara lalu menyisir rambutnya dengan tangan. Ia sedikit menggelengkan kepalanya untuk membuat rambut benar-benar terurai.
"Aku ketahuan, ya ^.^?"ujarnya. Bunga hanya memutar bola matanya.
"Udah tahu ketahuan, malah nanya -.-,"balas Bunga.
20 detik
Namun, Bunga tak mau kalah. Ia kembali menendang bom yang berbahaya itu dengan lebih kencang.
"Aku gak bodoh. Aku juga jago lari ^.^,"
Ara yang awalnya bersikap santai kini mulai gelisah. Ia mulai sulit mengatur detak jantungnya karena bom itu menunjukkan angka yang semakin lama semakin kecil.
"Eh, lo yang harusnya kena bom ini ~0~!"teriak Ara. Ia kembali menendang bom itu.
Bunga hanya bisa tersenyum kecil sambil kembali menendang bom itu.
"Kamu ini kenapa sih, Ara? Lihat dong. Sebentar lagi bomnya meledak ^.^,"balas Bunga.
Ara pun semakin panik. Ia mulai resah dan kembali menendang bom itu. Namun kali ini ia mulai melangkahkan kakinya mendekati Bunga. Wajahnya yang yang ketakutan di dekatkan pada wajah Bunga.
"Gue, bakalan hidup. Dan lo bakalan mati di sini ~.~!"ujar Ara.
10....
Bunga lalu memonyongkan mulutnya.
"Oh, ya? Tapi kamu hidup diiringi PENURUNAN HARGA DIRI -.-,"
9....
"Lo, yang gak tahu diri ~.~!"
8....
"Di mana letak ketidak tahuan diri saya, wahai yang mulia -.-?"
7....
BRAKK!!!
Bunga didorong dengan kuat, membuatnya jatuh ke lantai.
__ADS_1
6....
"ORANG GAK BERGUNA, DI TEMPAT GAK BERGUNA ~.~!"
5....
Bunga membalas Ara dengan senyuman.
"Silahkan, bilang apa saja yang mau kau bilang. Toh, orang yang tidak waras memang suka melantur -.-,"
4....
"TERSERAH! LO MATI DAN GUA SELAMAT ITU YANG PENTING ~.~,"ujar Ara sambil berlari keluar dari perusahaan.
3...
Bunga lalu mengambil sebuah besi yang berbentuk seperti wajan. Ia lalu melemparkannya pada bom itu, membuatnya tertutup.
2....
Kali ini bom sudah di tutupi oleh sebuah besi. Dan besi itu, masih menempel pada Bunga.
1....
"Cuma orang yang gak sadar diri, yang ngelakuin hal ini -.-,"ujar Bunga.
0...
BLAAARRRRRR!!!!!!
Sebuah suara ledakan terdengar dari dalam perusahaan. Memang, ledakan itu tidak begitu besar. Namun, berhasil untuk memporak porandakan lantai satu Perusahaan V.
"BUNGAA ~0~!"teriak Pak Burhan dan Jutong .
Pak Burhan mulai mengeluarkan air mata. Ia lalu berlari mendekati sumber ledakan. Namun BLARR!! Ledakan kembali terjadi, berhasil melemparkan beliau dan Ara menjauh dari bangunan.
Mendengar suara ledakan, kedua damkar langsung dikerahkan. Api yang bergejolak sagera di semprot dengan air yang kuat. Untunglah, beberapa menit saja api sudah mulai mengecil. Namun, pemadaman masih tetap dilakukan sampai api benar-benar reda.
Pak Burhan yang sempat terlempar, kini berusaha bangkit. Bajunya yang kotor melengkapi isi hatinya yang pilu. Ia terkejut, ledakan itu tidak seharusnya terjadi. Bagaimana keadaan Bunga di dalam? Apakah ia selamat?
Di samping itu, tim beta yang masih fokus pada tugas langsung memasang borgol di kedua tangan Ara. Ya, ia tidak akan sempat menyelamatkan diri dari kepolisian. Ia, lemah.
Pak Burhan lalu melihat sekilas ke arah anak tak tahu diri itu. Lalu ia menatap asap yang mengepul di udara. Ia lalu menundukkan kepalanya. Berusaha menahan tangis.
Jutong yang juga merasa sakit hati, berjalan mendekati Pak Burhan. Ia mengelus punggung pria itu dengan sangat lembut.
"Pak ToT,"ujarnya. Pak Burhan pun memalingkan wajah ke hadapan Jutong. "Bunga tidak gagal dalam misi ini. Ia bahkan berhasil. Mari, kita cari dia setelah apinya benar-benar padam ToT,"
Namun, GREPPP!!
Tangan kuat Pak Burhan langsung mencengkram kerah baju Jutong. Ia memang tidak menampakkan ekspresi marah. Namun, tangannya yang kuat berhasil mengeluarkan isi hatinya.
"Pak 0_0!"teriak Jutong yang mulai sesak nafas.
Pak Burhan tidak menjawab seruannya itu. Ia lalu memasukkan tangannya ke dalam saku baju Jutong. Di sana, ia mendapati handphone Jutong tengah bergetar. Sebuah panggilan masuk baru saja sampai. Tanpa ragu, Pak Burhan lalu mengangkat telepon itu.
"Bos DJ! Mohon maafkan kami! Pengiriman berlian itu berhasil di batalkan!"teriak seseorang dari seberang sana.
"Hai, DJ. Atau biar akrab aku panggil saja Dika Jutong,"timpal seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi. "Yup! Ini aku, Dimas. Pengiriman berlian ilegalmu sudah aku batalkan, loh. Dan, pengecohanmu semua batal,"
Jutong lalu terkejut. Ia hanya bisa melotot dan menatap Pak Burhan penuh arti.
"Pak -_-?!"tanyanya lagi.
Pak Burhan lalu menatapnya sangar.
"Kau pikir kami tidak tahu kalau kau lah DJ? Kau pikir kami tidak tahu rencanamu? Kau pikir, pengeboman dan launching proyek sebagai pengecoh itu tidak kami ketahui? Kau berhadapan dengan tim yang salah -.-,"balas Pak Burhan.
***Author massage
Hai semuaa. Jadi ini eps yang aku bilang terakhir itu. Ternyata kepanjangan ToT. Jadi aku buat eps lanjutannya. Di tunggu yaaa. Sepertinya gak bakal update dengan cepat karena aku bakal buat novel baru untuk lomba novel remaja judulnya JUST IT SHOULD BE. Tapi masing on going. (Ada pergantian judul)
Gimana akhir ceritanya DETEKTIF NGEGAS? Aku butuh saran dan tanggapan dari kalian. Terimakasih atas waktu yang kalian luangkan dan selamat menunggu eps selanjutnyaaa. Jangan lupa baca novel barukuu yaaa. Love you guys ^3***^
__ADS_1