
Hari tengah duduk menunduk di hadapan dua mantan detektif hebat itu. Ia tak berani untuk menunjukkan wajahnya pada mereka karena ia memang merasa bersalah.
“Hari, sekali lagi aku ingin tanya. Apa kamu ada sangkut pautnya dengan DJ -.-?”ujar Dimas. Ia nampak sangat kesal.
Lagi-lagi Hari hanya berdiam. Entah apa yang ada di pikirannya namun yang pasti adalah hal itu telah membuatnya tak dapat mengeluarkan kata-kata.
“Bicara atau aku buat mulutmu tak bisa bicara lagi-.-?”ujar Bunga. Ia mulai menggenggam kerah baju Hari. Walaupun tidak erat sama sekali namun itu cukup membuat tangan Hari bergetar hebat.
“BUKAN, sungguhT.T!”teriak Hari.
“Lalu, kenapa kamu mengikuti kami? Selain itu, kamu yang dihipnotis pertama, berarti kamu ada sangkut pautnya, kan -.-?”
“AKU, mengikuti kalian karena penasaran. Kalian sangat mirip dengan Bunga dan asistennya. Aku ingin mendapatkan bukti kalau kalian adalah Bunga dan Dimas. Tapi, tapi aku tidak tahu bukti apa yang harus aku tunjukkan T.T,”
Dimas dan Bunga saling berpandangan. Mereka sedikit terkejut karena identitas mereka tiba-tiba dikenali.
“Kamu pikir kami orang sehebat itu? Lagi pula, apa kita memang mirip dengan kedua orang yang jenius itu^.^?”tanya Dimas. Ia mulai melepas emosinya.
Hari mengangguk namun kepalanya masih menunduk.
“Aku melihat bola mata dan bentuk wajah kalian sama ketika menginterogasiku. Bunga yang garang dan Bella yang pemarah itu mirip. Dan Dimas, nama kalian memang sama. Gerak-gerik kalian mirip. Bahkan, nada kalian berbicara tidak ada bedanyaT.T.”ujar Hari.
Dimas dan Bunga semakin terkejut. Mengapa Hari bisa tahu sedalam itu? Bahkan, baik Bunga maupun Dimas sudah mengubah sifat, gaya bahasa, dan bahkan cara berjalan, cara berbicara agar berbeda dengan kehidupan di sekolah. Tapi, mengapa anak ini, anak yang jarang berpapasan dengan Bunga dan Dimas, anak yang jarang keluar kelas, dan anak yang kurang popular walau kemampuannya hebat ini bisa menebak dengan mudahnya?
Bunga berpikir keras. Walaupun mereka sudah dikeluarkan dari perusahaan, namun tetap saja identitasnya maupun Dimas tidak boleh diketahui. Hal itu akan membuat banyak masalah nantinya. Lalu, apakah dia harus berbohong pada Hari?
“Aku tahu, kok, kalian dikeluarkan dari perusahaan. Berita itu sudah tersebar luas. Yang tangguh, ya ^.^,”ujar Hari. Barulah ia berani mengangkat kepalanya ketika memberikan semangat.
Dimas dan Bunga memandang Hari dengan haru. Mereka mendapatkan dukungan lagi dari orang yang bukan pegawai Perusahaan V. Hal ini tentu sangat menyenangkan. Itu berarti orang-orang tidak memandang Bunga dan Dimas sebagai detektif yang tidak becus setelah dikeluarkan oleh perusahaan.
Tanpa disadari, Bunga dan Dimas langsung tersenyum ke arah Hari. Mereka lalu sedikit mengangguk. Tentu hal itu membuat Hari menjadi bahagia. Ia pun tertawa terbahak-bahak.
“Tuh, kan. Berarti kalian ini memang Bunga dan Asisten Dimas. Kalau bukan, kalian gak mungkin berterimakasih. Senyuman kalian itu rasa terimakasih kalian padaku, kan? Anggukan kalian yang sangat sedikit itu sebagai tanda bahwa kalian memang merasa disemangati olehku, kan? Ayo, Bunga dan Asisten Dimas, kalian ngaku aja ^o^.”goda Hari.
Bunga dan Dimas lalu mulai tersadar. Mereka sangat terkejut karena baru saja melakukan hal bodoh yang secara tidak langsung mengatakan ‘ya, kami dua detektif’ pada Hari. Namun, tak kehabisan akal. Bunga dan Dimas langsung mengalihkan pandangan Hari mengenai identitas mereka.
“Kena tipu ^O^!”teriak Bunga. Dimas ikut tertawa bersama Bunga.
“Jadi, tadi kami pura-pura aja, hahahaahah ^O^.”timpal Dimas. Mereka pun melakukan tos supaya terlihat lebih natural.
“Kalian apaan, sih? Tarik Bunga ke tempat panas buat lihat aku. Lirik-lirik kaca buat lihat aku. Memangnya aku gak perhatiin hal itu //_-?”ujar Hari kembali mengejutkan kedua mantan detektif hebat itu. Ya, entah sudah berapa kali mereka terkejut karena ucapan anak ini. “Udahlah. Aku gak bakal bocorin hal ini. Aku seorang pria sejati, kalau janji ditepati, kalau rahasia dikunci. Kalian cukup percaya sama aku dan ^O^……”
“Dan apa -.-?!”teriak Dimas dan Bunga bersamaan.
“Dan tanda tangani celana aku dong! Aku penggemar berat kalian ^O^!”
Dimas dan Bunga pun tertawa. Dengan kedua mata mereka, mereka kembali berbicara melalui pikiran. Tak masalah jika orang ini tahu akan identitas mereka. Hari memang bisa dipercaya. Kenapa begitu? Karena dia seorang ketua murid. Ketua murid yang dipilih langsung oleh wali kelas. Dan beliau tidak mungkin memilih sembarang orang, kan?
Dimas lalu merogoh saku tasnya. Di sana sudah tersedia sebuah spidol hitam. Bukan takut harus menandatangani penggemar tiba-tiba, tentu bukan. Namun, kelas Dimas miskin spidol. Hanya ia yang harus siap sedia memberikan spidol pada guru karena dia merupakan orang yang dipercaya di kelasnya. Dipercaya uangnya.
Tanpa ragu Hari lalu menyodorkan sebuah celana panjang berwarna putih polos. Dimas langsung saja menandatangani celana itu, memberikan spidol pada Bunga untuk membiarkannya menggambar tanda tangannya di bagian lain dari celana.
__ADS_1
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Hari lalu memeluk celananya. Ia bahkan sempat menciumnya beberapa kali, membuat Dimas dan Bunga harus bergidik jijik. Hari langsung tersenyum lebar. Ia mengucapkan banyak terimakasih pada Bunga dan Dimas.
“Kalau begitu, sesudah ini kalian mau ke mana ^.^?”tanya Hari. Ia tengah merapikan seragamnya dan memasukkan celananya.
“Kami, ya, pulang saja. Mau ke mana lagi. Atau mungkin nongkrong sebentar ^-^,”balas Dimas ramah.
“Rumah kalian sekarang di mana^O^?”
“Kebetulan rumahku dan rumah Dimas tidak terlalu jauh. Kami tinggal seberang taman, Jalan Karpet^.^.”
Hari lalu membuka mulutnya lebar-lebar.
“Rumah aku dan kembaranku di sana, lho^O^!”teriaknya. Dimas dan Bunga pun tertawa karena begitu banyaknya kekocakan pada diri Hari.
“Kalau begitu pulang bareng boleh^-^ ?”pintanya lagi.
“Boleh^o^.”jawab Bunga dan Dimas serentak membuat Hari meloncat kegirangan.
***
Dimas sudah bersiap untuk menggoes sepedanya. Bunga sudah berdiri di belakang Dimas. Dan satu hal lagi. Hari pun sudah siap untuk berangkat. Bagaimana dengan kembarannya?
"Ah biarin aja. Hira itu lagi disuruh sama Bu TU. Lagian dia bawa sepeda sendiri. Jadi, ayo kita jalan-jalan^o^!"ujar Hari.
Mereka mulai menggoes sepeda mereka. Di perjalanan, bukan hanya Dimas dan Bunga saja yang mengobrol, namun Hari juga. Ternyata ia memang cukup bawel.
Di persimpangan, Dimas membelokkan sepedanya menjauhi lajur menuju rumah. Mereka akan pergi ke taman saja kali ini. Mendapatkan penyegaran setelah bertahun-tahun berada di dalam perusahaan adalah hal yang sangat menyenangkan. Lagi pula apa salahnya mereka bermain selagi nilai ketiga anak itu tinggi.
Dimas menunggu Bunga turun dari sepeda. Sedangkan Hari langsung memarkirkan sepedanya. Barulah setelah Bunga aman Dimas mulai menyimpan sepedanya dengan baik.
Ketiga orang itu menyandarkan tubuh mereka di kursi taman. Mereka nampak tenang ketika memejamkan mata bersamaan.
"Ngomong-ngomong, kamu masuk ketiga lho, Hari -.-,"ujar Dimas. Ia membuka matanya sekejap untuk menatap Hari.
Bunga hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Dimas.
Ya, memang benar. Hari lebih pintar di akademiknya dari pada Hira. Ia selalu menjadi peringkat satu di kelasnya tapi tak pernah menjadi peringkat satu dalam satu sekolah. Ya, entah mengapa ia selalu mendapatkan peringkat ketiga. Pertama Dimas, kedua Bunga, dan ketiga Hari. Itulah yang selalu terjadi. Beberapa orang memanggil mereka tiga paten.
"Aku berasa paling pintar kalau jadi peringkat tiga. Soalnya aku gak akan mungkin kalau nyusul kalian. Mungkin aja sih kalau misalnya kalian pindah sekolah :v,"ujar Hari.
Suasana panas tiba-tiba terasa. Hari pun segera membuka matanya. Ia melirik ke arah rasa panas itu berasal. Di sana terlihat dua orang tengah menatap Hari dengan tatapan yang seram.
"Oke, oke. Aku gak bakal nyusul kalian -.-,"ujar Hari. Barulah setelah mendengar kalimat yang melegakan itu, Dimas dan Bunga bisa tenang.
"Keluar dari perusahaan terkadang buat aku bosan-.-,"ujar Bunga tiba-tiba. "Terkadang aku terbiasa sibuk. Sekarang karena banyak waktu luang aku jadi bingung harus apa. Memang gak baik sih, tapi aku pingin banget beraksi T.T,"
Dimas dan Hari lalu menepuk pundak Bunga. Mereka memberi Bunga semangat. Dan GGGRRRUUUEEEEDEEEKKK!!!! Tiba-tiba saja terdengar sebuah suara benturan.
Ketiga orang yang baru saja bersantai itu terperanjat. Mereka langsung berdiri dan mencari sumber suara.
"TAS SAYA, TAS SAYAA TOT!!!!"teriak seorang wanita dengan histeris.
__ADS_1
Bunga melemparkan senyumannya pada Dimas. Mereka lalu saling tertawa dan berlari menuju sepeda Dimas. Hari yang kebingungan hanya bisa mengikuti langkah mereka yaitu menggoes sepeda menuju tempat sebuah motor yang sempat melambat karena membentur hiasan di pinggir jalan.
Sepeda Dimas dan Hari sudah ada di jalan raya saat ini. Entah bagaimana cara mereka menggoes sepeda, yang pasti saat ini mereka sudah berada tiga meter di belakang sepeda motor yang membawa sebuah tas besar. Motor jadul itu tidak melaju dengan cepat karena harus mengangkut seorang pria yang sangat gemuk. Belum lagi supirnya pun gemuk :v.
Ketika sudah mengunci target, Bunga lalu membuka tas Dimas. Ia mengeluarkan bola besi pemberian perusahaan yang memang serba guna. Bunga menyipitkan matanya saat mengangkat bola itu. Ia lalu melempar bola besi itu tepat ke ban belakang motor di hadapan mereka. Alhasil, motor itu oleng. Namun, mereka masih sanggup melaju.
"JANGAN IKOET TJAMPURS KELEN BOTJAH~O~!!"teriak pria gemuk yang memegang tas itu.
Bunga, Dimas, dan Hari sempat terkejut. Apa-apaan pria ini? Kenapa bahasanya sungguh, ah! Tidak enak di dengar apalagi dihayati.
Bunga pun menggelengkan kepalanya. Ia harus fokus pada targetnya. Ia lalu mengambim sebuah benda persegi panjang, mengarahkannya pada bola besi yang sudah jauh tertinggal, dan bola itu menghampiri dengan sendirinya.
Setelah mendapatkan bolanya, Bunga kembali menyipitkan mata. Ia lalu melempar bola itu dan PUUUSSSS!!!!
Ban motor para pencuri itu meletus dan mereka mau tidak mau harus berguling di atas jalan raya yang penuh dengan hiruk pikuk manusia.
Dimas dan Hari hendak menghentikan sepeda mereka. Namun, tanpa disangka kedua pria itu langsung berdiri dan menarik motornya yang masih terseret. Dengan waktu yang sangat padat, kedua pria itu berhasil memarkirkan motor mereka di depan sebuah gang dan mengambil kuncinya lalu berlari memasuki sebuah gang.
Dimas geram. Ia langsung membelokkan sepedanya ke dalam gang. Mereka pun akhirnya harus berjuang lebih.
Gang itu sudah dimasuki oleh sepeda Dimas dan Hari. Ya, Hari masih mengikuti mereka. Dan kedua orang gemuk itu memang cekatan. Mereka berlari memasuki gang-gang yang sulit di masuki kendaraan. Tapi, bukan saatnya mereka lolos.
Pengejaran mereka tiba-tiba harus terhenti ketika sebuah tembok yang tinggi membatasi jalan mereka. Sepeda Dimas direm mendadak sehingga percikan air di hadapan mereka harus terciprat membasahi bagian bawah tembok.
Dimas dan Hari mengatur nafasnya dengan sedikit rasa kecewa. Ada empat buah tapak kaki yang hanya sampai setengah tembok terlihat masih basah.
Namun, setelah melihat jejak kaki itu, bukannya menjadi lebih kecewa, Bunga dan Dimas malah tersenyum. Mereka saling bertukar pikiran mengenai di mana dan sedang apa kedua pencuri itu sekarang.
Tiba-tiba saja Hari mendekati Bunga dan Dimas dengan perlahan. Ia mendekatkan mulutnya pada telinga kedua orang itu.
"Dimas, Bunga, aku sepertinya tidak yakin mereka telah melewati tembok itu. Selain tubuh mereka yang gemuk, jejak kaki itu juga gak sampai ke ujung. Dari postur tubuh mereka, mereka tidak akan bisa meloncat dari jarak terakhir jejak kaki. Aku juga yakin, sekarang mereka tengah berada di dalam tong itu. Lihat saja, genangan air itu agak memanjang ke arah sana^-^,"ujar Hari berhasil mengejutkan Bunga dan Dimas.
Hari bisa tahu hal semacam itu?
Dimas pun langsung turun dari sepedanya setelah menurunkan Bunga. Ia lalu menendang tong yang di maksud Hari. Benar saja. Sesuai dugaannya dan ungkapan Hari, kedua pencuri itu tengah berjongkok di belakang tong. Dimas lalu mencengkram bahu gemuk kedua pria itu dengan sangat erat.
"Ampun, kami kembalikan tasnya ~.~!"teriak pria yang lebih gemuk.
Bunga lalu merebut tas itu. Ia tersenyum dengan sangat lepas.
"Selamat datang di penjara^-^," ujarnya.
***
Beberapa orang polisi langsung menangani kedua pencuri itu. Mereka berterimakasih dan pada Dimas, Bunga, dan Hari. Begitu pun perempuan yang hampir saja kehilangan tasnya. Ia memberikan hadiah berupa dua pasang gelang yang indah, terbuat dari cangkang keong yang unik dan antik. Ketiga orang itu pun berterimakasih.
"Hari, kenapa kamu bisa tahu hal itu-.-?"tanya Bunga penasaran.
"Aku dan Hira suka detektif. Hira memang kurang di akademik tapi mereka bagus di teknologi. Dia juga lebih teliti dariku. Aku sering mengikuti jejak kalian dan mencari tahu cara memecahkan kasus kalian^-^."ujar Hari.
"Sepertinya kalau ada kasus, kita akan selesaikan bersama-sama, ya^-^ ,"ujar Dimas dan Bunga bersamaan. Hari pun kembali bawel.
__ADS_1