
Setelah perbincangan itu, Bunga langsung pamit. Ia lalu mencium punggung tangan Ibu Dimas.
Mereka lalu berjalan menjauh dari rumah Dimas. Dengan langkah gontai tentunya.
"Lalu, bagaimana ini -.-,"ujar Pak Burhan.
Tak ada yang mau menjawab pertanyaan sulit itu. Apalagi Bunga. Wajah beningnya sudah mulai memerah. Matanya bahkan berkaca-kaca.
Jutong dan Pak Burhan yang menyadari hal itu langsung bertukar tatapan. Mereka bingung harus melakukan apa.
"Bunga -.-,"ujar Jutong tanpa aba-aba.
Bunga lalu menatap Jutong. Ia tidak menampakkan senyuman sama sekali.
"Are you OK -.-?"tanyanya.
Bunga pun mengangguk.
"Maaf, tapi aku harus pergi duluan -.-,"ujarnya. Ia lalu memperlebar langkahnya.
Setelah itu ia berlari meninggalkan ke empat pria yang tengah bersamanya. Dalam hitungan detik saja dia sudah menghilang dari hadapan mereka. Bukan hanya karena larinya cepat, namun arah larinya yang tidak menentu cukup memusingkan keempat pria itu.
"Bunga ~0~!" teriak Pak Burhan bersamaan dengan bunyi guntur yang datang. "Cuacanya seolah tahu dan merasakan apa yang dialami Bunga. Tolong lindungi ia -.-," lanjut Pak Burhan.
***
Entah pukul berapa, entah ke arah mana ia pergi, seorang wanita tengah berjalan, tak ditemani. Kedinginan dan sendiri. Ia terlihat memeluk kedua tangannya dengan telapak tangan. Wajahnya basah, sendu. Mata dan hidungnya yang sembab seolah mewakili awan. Air matanya terseret air hujan. Walaupun seharusnya bunga mekar ketika disiram air, namun Bunga yang ini tidak.
Lampu-lampu jalan sudah menerangi jalanan. Bulan yang terhalang awan hitam terkadang muncul. Dan di saat itu bunga masih berjalan di bawah rintik hujan. Pikirannya kosong dan tubuhnya basah kuyup.
Di tengah jalanan yang sepi di dekat jembatan, Bunga berhenti sejenak. Ia menatap ke langit, berusaha mengenali rintik hujan. Ia memejamkan matanya, membiarkan air menyerbu pipinya. Hingga sesuatu berhasil melindungi wajah manis Bunga. Ia terkejut. Apa yang menutupinya?
Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Bunga lalu membuka matanya. Dihadapannya terpampang sebuah payung merah. Bunga mengerutkan alisnya. Ia lalu membalikkan tubuhnya.
GREPP!!!
Orang yang ada di hadapannya, yang memberi perlindungan dari hujan, tiba-tiba memeluknya. Bunga sempat terkejut, namun ketika angin malam menerpa harum pria itu, ia langsung merasa tenang. Ia bahkan membalas pelukannya. Air mata Bunga lagi-lagi tumpah di sana. Ia sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi.
"Cengeng ^-^,"ujar pria itu. "Ngapain malam-malam meluk hujan? Padahal, aku lebih hangat, kan ^-^?"
Bunga tak menjawab. Ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik dada pria itu.
"Aku sulit kalau kamu nggak adaToT," bisiknya membuat pria itu tersenyum. "Bilang, kamu bukan DJ, kan TnT?"
Pria itu, Dimas, mengubah ekspresinya. Tangan kirinya semakin erat memeluk Bunga. "Semua orang itu gak harus kamu percayai. Gak ada orang yang gak jahat. Dan kamu, kamu gak harus percaya aku. Kalau kamu kecewa, maaf. Berarti aku sama dengan makhluk sialan yang lain. Jujur, aku mencintaimu. Dan itu membuatku harus jauh darimu. Mungkin aku berpotensi melukaimu. Maka dari itu aku hanya bisa menatapmu dari jauh, bertemu dengan diam, dan mencintaimu tanpa jenuh -.-,"
Bunga mengerutkan alisnya kembali. Ia hanya bisa diam ketika Dimas menurunkan payung merah itu. Lalu, ia membuka jaketnya untuk dipakaikan pada Bunga, menyelimutinya dari angin malam. Dimas tersenyum. Ia lalu mengusap rambut bunga dengan lembut.
19.00, 28 Februari, Perusahaan V.
Walaupun udara dingin, gelap gulita, dan tidak adanya respon, namun para warga itu masih setia di sana.
Iya, entah Darimana asalnya, berita mengenai DJ adalah salah satu anggota perusahaan-perusahaan negara yang dijadikan tempat penyelesaian masalah menyebar luas di masyarakat marah besar. mereka seolah dihianati titik rasa khawatir mendorong mereka untuk melakukan hal yang tidak rasional.
belasan polisi berjaga dalam rintik hujan titik puluhan bahkan ratusan karyawan memejamkan mata, berharap tidak terjadi kekerasan. dan di kantor yang paling dilindungi telah ada 5 orang pria yang tengah berargumen.
"Sudah saya bilang, pak. keluarnya bunga dan Dimas akan menyebabkan banyak masalah. "ujar Pak Burhan. Direktur hanya bisa diam.
__ADS_1
" Maaf, bukan maksud saya melebihi, namun Bapak sebagai seorang direktur tidak patut melakukan hal keji itu. Seolah bapak kurang berpendidikan. "ujar Hira. Lagi-lagi direktur hanya bisa diam.
Tidak ada yang melanjutkan ucapan mereka setelah melihat respon dari direktur. Pria ini seolah-olah tengah berada di dunia lain, melamun dan tidak mendengarkan ucapan orang-orang di dekatnya. Entah apa yang tengah ia pikirkan, yang pasti hal itu tidak jauh dari insiden yang tengah terjadi saat ini.
"KALAU BUKAN DIREKTUR, SIAPA LAGI?! PASTI DIREKTUR ITU DJ ~O~!"teriak seorang pria dari balik pagar yang menjulang tinggi.
Keempat pria yang tengah bersama direktur hanya bisa menghela nafas mereka. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan jika mengingat keadaan di luar yang sangat rusuh.
"Kalau sudah begini, mau bagaimana -.-?"ujar Pak Burhan.
"Baik! Aku salah! Aku memang mengeluarkan Bunga karena ingin Ara berada di rayon itu! Aku ingin anakku terkenal seperti Bunga! Aku, tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, Burhan ToT,"ujar direktur. Semua unek-uneknya keluar saat itu.
Pak Burhan tersenyum. Ia menatap sahabat lamanya itu.
"Tak apa. Perbaiki sedikit-sedikit. Semua akan membaik asalkan kau bertindak dengan konfirmasi dari pikiranmu ^.^,"balas Pak Burhan.
Direktur mengangguk. Ia lalu memegang dagunya untuk beberapa saat, menatap keempat pria yang menatapnya tajam. Hatinya tak bisa tenang. Bahkan, jantungnya terus berdegup kencang.
Tak lama kemudian, ia menganggukkan kepalanya. Satu gerakan berhasil membuat keempat pria di hadapannya bisa tersenyum lega.
"Baiklah -.-,"ujarnya pasrah. "Aku akan meminta bantuan Bunga. Berapa pun yang dia mau, aku bayar! Tapi, aku tidak bilang dia akan kembali bekerja di sini. Aku, tidak mau anakku kembali rewel *.*,"ujarnya.
Pak Burhan lalu tersenyum. Ia menepuk pundak direktur seolah memberikan semangat.
Setelah itu, mereka mulai berunding untuk menemukan cara agar Bunga bisa dihubungi. Sejak ia kabur tadi, tak ada kabar atau hal lainnya. Bahkan handphone mati, tidak dapat dihubungi.
Untuk mengurangi penghamburan waktu, Hari dan Hira mulai bergegas. Mereka hendak pergi ke rumah Bunga, memastikan Bunga ada di sana.
Mereka pun beranjak. Langkah besae mereka berhasil meninggalkan kantor yang dijaga orang para pria bertubuh kekar. Mereka kembali berlari menuju pintu keluar yang penuh akan manusia. Tidak mungkin. Tidak mungkin jika mereka berhasil melewati kerumunan orang marah itu.
"Kita lewat belakang ~.~!"ujar Hira. Kembarannya hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah Hira.
19.33 WIB, Rumah Bunga.
TOK! TOK! TOK!
Terdengar suara pintu diketuk dengan perlahan. Di bawah rintik hujan, suara itu tidak terdengar begitu jelas sehingga ketukan pintu harus diiringi suara panggilan yang ditujukan pada pemilik rumah.
Barulah setelah terdengar suara seseorang memanggil, ibu Bunga beranjak. Ia membuka tirai jendela dan melihat siapa tamu yang datang malam-malam begini. Ketika mengetahui bahwa ada dua anak yang tengah berdiri di hadapan pintu, ibu Bunga langsung membukakan pintu, mempersilahkan mereka untuk masuk.
Seolah tengah menjamu anaknya yang
"Kalian ini hujan hujan malah keliaran. Minum dulu teh hangatnya, nanti kedinginan ^.^,"ujar ibu Bunga. Ya, beliau memang seorang ibu yang sangat baik.
Hari dan Hira hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala. Mereka lalu mengambil gelas di hadapan mereka dan meneguknya. Sekali teguk langsung habis. Hal itu membuat ibu Bunga langsung tersenyum.
"Kenapa? Kalian mau cari Bunga ^.^?"tanya beliau.
Hari dan Hira mengangguk.
"Iya, bu. Tadi siang Bunga tiba-tuba kabur. Kami jadi khawatir. Semoga Bunga ada di rumah -.-,"ujar Hira.
Ibu Bunga kembali menampakkan senyumannya.
"Bunga baru pulang beberapa menit yang lalu. Dia kedinginan, dianterin sama Dimas. Sekarang lagi minum coklat panas, ibu yang suruh. Kalau mau mengobrol boleh saja. Dia sedang di ruang belakang ^.^,"ujar ibu Bunga.
Hari dan Hira saling memandang satu sama lain. Mereka lalu mengangguk.
"Kami permisi ^.^,"ujar mereka bersamaan.
__ADS_1
Di balik jendela yang berembun, Bunga terlihat tengah termenung. Selimut hangat tengah melilitnya dengan begitu lembut. Di tangan kanannya yang keluar dari dalam selimut, terlihat sebuah cangkir berisi air coklat tengah mengebul. Malam ini, begitu dingin.
Hari dan Hira hanya bisa memasukkan kedua tangan mereka ke dalam saku jaket masing-masing. Dengan hembusan nafas lemas, mereka belum berani mengganggu.
Bunga masih melihat rintik hujan di luar sana. Dan hujan masih belum juga reda. Ia teringat akan Dimas. Apakah dia sudah sampai rumah? Entahlah.
Sebuah bayangan dua orang pria dengan wajah sama mengubah titik fokus Bunga. Ia pun menutup matanya sekejap untuk menghilangkan rasa sedihnya. Setelah itu ia membalikkan tubuhnya.
"Sini dong! Kenapa gak nyamperin coba ^0^?"ujar Bunga. Ia menunjukkan senyuman dari wajahnya.
Hari dan Hira tersenyum. Mereka lalu setengah berlari menghampiri Bunga.
"Kamu langsung ninggalin tadi ToT,"ujar Hira. Ia pun langsung melipat kakinya di hadapan Bunga.
Bunga terkekeh kecil. Hidungnya memerah karena kedinginan.
"Maaf deh. Lain kali aku bakalan pamit dulu ^o^,"balasnya.
Si kembar lalu tersenyum. Mereka merasa sedikit lega ketika melihat Bunga sudah membaik.
Hari dan Hira masih belum berani bertanya mengenai perasaan Bunga saat ini. Mereka takut bila Bunga merasa tersinggung. Akan tetapi, seolah faham akan apa yang hendak diucapkan anak kembar itu, Bunga langsung tersenyum dan membuka mulutnya.
"Tadi ketika aku berlari, aku menuju loteng yang biasa aku dan Dimas datangi. Aku terlalu tegang sehingga aku berlari tanpa berpikir. Namun, ketika aku sampai di sana, langit sudah menghitam. Aku juga tak menemukan dia. Dalam keadaan putus asa aku mencoba berbaur dengan hujan. Aku berjalan di bawah rintik hujan -.-,"ujar Bunga. Ia menghela nafas, sekedar untuk melihat kedua anak itu menunduk.
"Lalu ^.^?"tanya Hari. Ia terlihat penasaran.
Bunga tersenyum.
"Ketika aku pulang, Dimas ada. Dia nganterin aku sampai depan rumah, sama ibu lihat wajah dia. Setelah itu, baru ditinggal masuk sebentar, dia sudah hilang. Entahlah-.-,"
Hari dan Hira mengangguk. Mereka lalu mengusap punggung Bunga yang tertutup selimut dengan lembut.
Bunga kembali melebarkan senyumannya.
"Oh, iya. Bukan maksud kami untuk membuat keadaanmu semakin pusing, tapi tengah ada masalah di Perusahaan V -.-,"ujar Hari.
"Iya. Dan maaf kalau kamu sudah malas mendengar nama perusahaan itu -.-," sambung Hira.
"Kenapa aku harus malas? Coba ceritakan, masalahnya apa. Semoga aku bisa bantu ^.^,"ujar Bunga.
Hari dan Hira terkejut. Ia tidak menyangka kalai respon dari Bunga akan sebaik itu.
"Aku begini karena aku mengambil keuntungan. Kalau mereka aku tawari bantuan, aku jamin mereka akan memohon-mohon. Sesudah itu, aku akan pura-pura menolak dan mempertimbangkan nantinya ^.^,"
Anak kembar itu memalingkan wajah mereka. Mereka lalu menggaruk kepala mereka yang tidak gatal sama sekali.
"Psikopat -.-,"bisik mereka.
"Jadi ^.^?"
"Masyarakat sudah tau kalau DJ ternyata salah satu karyawan di Perusahaan V. Dan mereka menuduh direktur -.-,"ujar Hari.
"Mereka mendobrak gerbang, memaksa masuk untuk langsung memusnahkan direktur dan Ara. Ya, semua tau anak itu gak becus ngeberesin masalah -.-,"lanjut Hira.
Bunga lalu memutar lehernya. Ia kembali menatap rintik hujan yang sudah mulai mereda di luar jendela. Dari kaca jendela terlihat sedikit bayangan sebuah senyuman terpampang di wajah Bunga. Ia sepertinya telah mendapatkan celah untuk bertindak.
"Menarik ^.^,"ujarnya.
***Author massage*.
__ADS_1
Maaff telat update hehehe**