Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Penjelasan


__ADS_3

Ruang Interogasi, 08.00 WIB


Ruangan ini hening. Belum ada yang mau bicara sejak dua puluh menit berlalu. Seorang pria dengan borgol di kedua tangannya hanya bisa terdiam di kursinya. Ia nampak memperhatikan beberapa orang berlalu lalang di balik sebuah pintu yang pasti tengah di jaga oleh beberapa petugas. Pria itu menghela nafas.


Barulah ketika tepat pukul delapan pagi, pintu itu dibuka dengan sedikit kasar. Di baliknya nampak seorang pria berwibawa dengan mata yang terlihat sedikit sembab, atau mungkin kurang tidur. Ia berjalan dengan diiringi oleh dua pria gagah yang langsung membiarkannya masuk seorang diri.


Pria berborgol itu tidak menyambut kehadiran Pak Burhan dengan baik. Buktinya ia bahkan tidak berdiri atau membenahi posisi duduknya sama sekali. Dia terlalu santai, atau mungkin menantang. Namun, bagi orang yang sombong, pastilah ia tidak menampakkan raut muka seperti itu. Raut muka sedih, menyesal dan lain sebagainya yang sengaja ia sembunyikan dengan sikap arogan.


Pak Burhan, pria yang tadi sempat dikawal, duduk di hadapan pria berborgol. Ia lalu membenahi duduknya. Setelah posisinya bisa dikatakan berwibawa, pantas untuk disegani, ia mulai memasukkan jari-jari tangan kanannya ke sela-sela jari kirinya. Ia lalu menarik nafas panjang kemudian menatap pria itu dengan serius.


“Jadi -.-,”ujar Pak Burhan memulai pembicaraan. “Siapa yang mau memberikan pertanyaan yang menyangkut masalah kemarin duluan -.-?"


Pria itu lalu mengangkat sebelah alisnya. Ia lalu tersenyum, bahkan sempat tertawa kecil. Tubuhnya yang sedikit bergoyang langsung diangkat dan duduk dengan tegak.


“Kalau boleh, aku duluan deh ^.^,”balas pria tersenyum.


Pak Burhan lalu membuka telapak tangannya dan menyodorkannya pada pria di hadapannya sebagai isyarat bahwa beliau memperbolehkan permintaannya. Ia lalu mengangguk, kemudian menyilangkan tangannya kembali.


Pria itu menarik nafas panjang, mempersiapkan diri untuk mengungkapkan pernyataan yang mungkin saja menyakitkan.


“Jadi, sejak kapan kalian tahu kalau aku-lah DJ -.-?”


Pak Burhan megangkat kedua bahunya sambil menggeleng kecil.


“Bukan aku atau yang lain yang tahu kau-lah DJ. Aku hanya tahu beberapa hari ke belakang. Yang tahu, adalah Bunga. Ia yang punya rencana ini, yang meyakinkanku bahwa seorang Dika Jutong adalah penjahat yang kita cari -.-,”


Jutong terhenyak. Ia merasakan dadanya sedikit menyempit. Nafasnya mulai terengah. Ia berusaha menahan air mata yang membuat tenggorokannya tak nyaman.


“Lalu, kalau begitu. Kenapa kau yang datang? Kenapa tidak dia yang datang -.-?”


Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, pintu ruang interogasi diketuk dengan pelan. Jutong dan Pak Burhan langsung memalingkan wajah mereka ke sumber suara. Sekejap mereka saling bertukar pandang. Siapa yang mau membuang tenaganya untuk mengetuk ruang interogasi?


Pak Burhan lalu bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkahkan kakinya ke pintu yang masih diketuk. Tanpa ragu, ia membukanya. Membuat pintu itu menunjukkan siapa yang menjadi pelakunya.


Di sana berdiri seorang wanita berambut hitam pekat dan berkilau. Rambutnya masih diikat satu. Matanya nampak lebih indah dari sebelumnya karena mungkin ia sempat membersihkannya. Senyuman di bibirnya begitu indah dan bercahaya. Sepertinya ia baru saja melap bibirnya dengan lipgloss sehingga nampak semakin cantik.


“Pagi, pak ^0^!”ujar Bunga bersemangat.


Pak Burhan lalu tersenyum. Ia lalu mulai menarik telinga kanan anak perempuan itu.


“Kebiasaan, telat terus! Mau sampai kapan jadi anak malas -.-?!”ujar beliau.


“Adu duh! Sakit pak! Iya deh, maaf maaf >.<,”balas Bunga. Pak Burhan pun melepaskan jewerannya.


Pak Burhan lalu berkacak pinggang. Ia menatap Bunga dengan tatapan lurus. Sedangkan Bunga yang baru saja kena semprot masih harus mengusap telinganya. Tempat itu mulai memerah.


“Kamu dandanan dulu -.-?”

__ADS_1


“Ih, apaan pak. Enggak kok -.-,”


“Terus itu, bibir kamu sampai bersinar-sinar itu kenapa -.-?”


Bunga lalu mengerutkan alisnya. Ia melap bibirnya yang nampak bercahaya itu. Setelah sebuah cairan lengkep menempel di telunjuknya, ia pun mulai meneliti. Setelah mengingat apa yang baru saja ia lakukan, ia mengangguk.


“Aku, baru makan gorengan -.-.” balasnya polos.


Pak Burhan lalu menarik nafas panjang. Ia sudah malas untuk menasehati anak itu. Sudah tahu ia suka marah-marah. Sering makan gorengan akan membuat tenggorokannya berlendir nanti. Bagaimana kalau sampai ia serak seperti kejadian beberapa tahun lalu, di mana ketika ia meledakkan amarahnya, tidak nampak ketegasan sedikit pun. Karena suaranya lebih mirip bebek merengek.


“Ya udah. Gak akan mempan juga kalau dimarahi jangan makan gorengan banyak-banyak. Masuk -.-,”


Bunga pun tertawa kecil.


Ruangan yang sempat hening ini dimasuki oleh anak perempuan berkucir satu dengan begitu pasti. Semenjak kakinya melangkah dan tubuhnya memasuki ruangan ini secara keseluruhan, ia tidak menampakkan senyuman sedikit pun. Matanya menatap Jutong dengan tatapan penuh arti, lalu duduk di hadapannya.


Kedua orang yang tengah berhadapan ini tengah saling menatap. Mereka bahkan tidak mengedipkan mata mereka sedikit pun. Namun, pastilah dalam hati mereka ada banyak pertanyaan yang sulit dilontarkan.


Pak Burhan mengambil kursi dan duduk di sebelah Bunga. Ia nampak duduk dengan tegak dan berwibawa.


“Hai -.-,”ujar Bunga. Ia memulai pembicaraan dengan suara serak, hampir mau menangis.


“Hai. Masih cantik aja ^0^.”balas Jutong. Bunga hanya bisa tersenyum kecut.


Setelah kalimat itu, tidak ada yang mau mengeluarkan kalimat atau bahkan sebuah kata saja. Mereka nampak masih mengumpulkan keyakinan akan kejadian yang berlalu dengan cepat, seolah hanyalah sebuah mimpi belaka.


“Aku bingung harus bilang apa -.-,”ujar Bunga. Ia lalu menyimpan kedua tangannya di meja yang ada di hadapannya. “Biasanya aku tidak seperti ini -.-,”


Jutong lalu menampakkan senyumannya. Ia mengenggam tangan Bunga lalu melebarkan senyumannya.


“Sedikit-sedikit saja. Toh, aku tidak akan melawan -.-,”balasnya.


Bunga tersenyum. Ia seperti merasakan Jutong yang dulu ada di sini. Ia pun memulai pembicaraan.


“Tadi kau bertanya sejak kapan kami tahu kalau kau-lah DJ -.-?” Jutong lalu mengangguk sambil melepaskan genggaman tangannya. Ia lalu memangku dagu dengan kedua tangannya.


“Aku pribadi tahu sejak awal. Sejak kejadian zombie di sekolah. Kalau Dimas dan Pak Burhan aku beritahu beberapa waktu kemudian. Kalau tidak salah berbarengan dengan si kembar -.-,”


“Kenapa kamu bisa tahu? Kenapa kamu gak tangkap aku langsung -.-?”


“Ya, mungkin karena aku masih menyimpan keraguan. Dan untuk mengetahui dari mana aku sadar bahwa itu kakakku Jutong adalah, saat kamu melambaikan tangan ke CCTV sekolah. Kamu pikir kacamata hitam dengan frame biru itu bisa menutup matamu seutuhnya? Ternyata tidak. Cahaya yang menerpanya cukup untuk memberikan bayangan matamu. Di sana, aku kenal wajah itu. Aku juga bilang, kan, kalau aku tahu DJ? Bahkan di hadapanmu. Kamu ingat -.-?”


Jutong lalu menganggukkan kepalanya. Ia menatap ke arah langit-langit untuk beberapa saat, lalu kembali memperhatikan Bunga.


“Dengar. Aku hanya ingin menjadi pendengar saat ini. Aku hanya belum bisa menerima kalau ternyata ketika aku berusaha mengecohmu, kamu malah mengecoh balik. Ceritakan saja semuanya -.-,” ujar Jutong.


Bunga lalu memandang kea rah Pak Burhan, meminnta persetujuan darinya. Setelah melihat pria itu mengangguk, Bunga kembali menatap kea rah Jutong.

__ADS_1


“Dari sana aku penasaran. Apa yang akan seorang Jutong lakukan? Apakah berbahaya? Atau di luar nalar? Aku mulai memendam pertanyaan itu seorang diri. Belum berani mengatakannya pada siapa pun.


“Aku semakin yakin kalau itu adalah kamu ketika hanya kamu yang bertanya, ‘siapa DJ itu’. Di sana aku semakin bersemangat untuk melawan taktik seorang senior detektifku sendiri. Itu sih yang buat aku membiarkan kamu masih keliaran.


“Kemudian, kamu membuat kode yang menunjukkan Halloween Express. Kamu tahu, kan, keluargaku akan ke sini. Jadi dengan hati yang beku kamu berani celakakan kereta itu dengan orang yang kamu suruh. Dan, kamu juga tahu kalau aku akan memecahkannya dalam waktu singkat. Ayolah, kamu Cuma mau lihat aku resah, kan -.-?”


Bunga lalu menghela nafas. Ia menghentikan kata-katanya karena ia merasa emosi dalam dirinya mulai meluap. Jutong yang ternyata merasa bersalah, langsung menepuk punggung tangan wanita itu dua kali.


Pak Burhan yang sadar akan isi hati Bunga, langsung memasuki pembicaraan. Ia tidak mau kalau Bunga sampai meledak-ledak.


“Aku akan ikut bercerita -.-,”ujar beliau.


“Silahkan -.-,”balas Jutong dengan pasrah.


Pak Burhan lalu menghela nafasnya, menepuk punggung Bunga dengan lembut, lalu memandang Jutong.


“Aku sadar ternyata masih ada rasa menyesal dalam dirimu. Aku lihat ketika kamu berusaha untuk menolong mereka di Halloween Express. Mungkin kamu kira hanya Dimas yang akan mengorbankan nyawanya demi calon mertuanya. Namun aku tahu, ternyata perkiraanmu salah. Ada kabar bahwa Bunga manjat kereta dan hal itu buat kamu gelisah. Sampai kamu mau turun ke TKP. Sampai kamu mengambil kertas yang sengaja kamu tinggalkan di sana. Lucu -.-,”


Jutong lalu menurunkan pandangannya. Ia menghela nafas dan mulai meregangkan tubuhnya.


“Bunga, lanjutkan. Aku masih harus berpikir -.-,”


Bunga lalu mengangguk. Nafasnya sudah mulai bisa diatur. Emosinya mulai redam.


“Lalu, hal lainnya yang meyakinkanku. Ketika aku bahas mengenai rencana DJ yang akan mengambil berlian di tanggal 12, di tengah segitiga di peta itu, aku sebenarnya sengaja ajak kamu. Kamu memang jago berlagak. Aku merelakan satu rencanaku dilihat olehmu. Dan sebenarnya itu adalah jebakan. Kamu memang berencana melakukannya di tanggal 12, kan? Tapi karena rencanamu telah dipecahkan olehku, kamu langsung panggil komplotanmu dan mengubah rencana. Seolah aku terlihat payah.


“Setelah itu, kamu mulai semakin membenci Dimas karena dia yang paling berperan dalam penghentian rencanamu. Kamu panggil Ara, bekerja sama dengannya, dan merayu dia agar memecat Dimas. Tapi, aku juga kena semprot. Aku ingat betul waktu kamu meluk aku dan bilang kalau itu adalah bukan hal yang kamu harapkan, aku semakin tertawa dalam hati. Kamu memang kurang bisa berkata bohong.


“Dari sana aku denger kalau kamu terus-terusan minta sama Ara buat balikin aku ke perusahaan. Pak Burhan sih yang bilang. Tapi Ara malah gak mau. Dia jadi keenakan sama rencana kamu. Dan dari sana aku mulai bergerak. Mumpung gak ada kamu, aku jadi lebih leluasa untuk mengungkapkan rencanaku. Dan selalu berhasil tuh, kalau DJ nya gak denger rencana aku.


“Kelanjutannya, masalah Puri. Aku ingat betul bagaimana kamu masuk ke kamar Puri dengan amarah. Yang aku herankan, kenapa kamu sampai rela membunuh wanita cantik itu? Ibunya bilang padaku untuk menemukanmu, mengatakan bagaimana perasaan Puri. Dan Puri sangat kecewa -.-,"


Jutong lalu memandang ke arah Bunga dengan tatapan tegang. Ia lalu menutup matanya, berusaha menutupi sesuatu. Namun, ternyata air mata yang ia tutupi tidak bisa bersembunyi. Airnya langsung menetes ke arah meja. Membuat Bunga memandang Pak Burhan dengan penuh tanya.


Pak Burhan mulai bertindak. Sebagai seorang partner, Jutong adalah pria yang tegar. Jarang Pak Burhan melihatnya menangis tersedu-sedu seperti sekarang. Dan dengan perasaan iba dan khawatir seperti biasa, Pak Burhan langsung menepuk tangan Jutong dengan lembut. Ia melakukannya secara spontan.


"Aku ToT... "Ujarnya masih dengan isakan tangis. "Bukan aku yang membuatnya meninggal. Aku malah masih cinta padanya. Dia mantan kekasihku -.-," balas Jutong.


Bunga terhenyak. Ia pun mulai memandang Jutong sebagai kakak seniornya, bukan seorang pelaku kejahatan yang sempat menggemparkan dunia detektif. Bukan DJ yang ia lihat di sana, tapi seorang pria yang merasa bersalah dan kecewa pada dirinya sendiri.


Bunga mulai mengikuti gerak Pak Burhan. Ia menggenggam tangan Jutong yang terguntai dengan borgol. Ia masih menangis histeris. Dan hati Bunga tersentuh karenanya. Membuat air matanya ikut mendobrak keluar untuk melihat kesedihan di mata lelaki itu.


"Aku, takut waktu itu. Dia bilang bakal bunuh diri karena aku lihat dia dengan pria lain. Padahal kalau aku tak apa. Toh, dia sudah jadi mantan pacar. Tapi dia tetap bersikeras untuk mengakhiri hidupnya. Dia berteriak akan menyusul ayahnya. Mungkin dia mabuk atau apa, aku tidak tahu. Yang pasti, dia tiba-tiba menarik tanganku terus, mundur terus hingga kepalanya terbentuk. Dari sana aku sempat menangis. Aku menutupi kematiannya dengan kebakaran, melumuri tubuhnya dengan make up hanya agar ia cepat ditemukan. Aku juga seorang manusia biasa. Ada rasa takut dalam hatiku hingga aku kabur. Aku juga menyesal tidak banyak mengobrol dengannya. Dan dia mirip sekali denganmu, tatanan wajahnya. Tidak kelakuannya -.-,"


Kalimat terakhir yang diucapkan Jutong membuat Bunga menghela nafas. Ya, Puri terlalu baik untuk dibandingkan dengan dirinya.


"Maaf aku kira kamu sengaja melakukannya -.-,"balas Bunga. Ia pun berhasil membuat Jutong mengangkat kepalanya dan menampakkan wajah sedih itu.

__ADS_1


__ADS_2