Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Siap Bergerak


__ADS_3

25 Februari, Kantor Polisi, 11. 25 WIB


Pak Burhan dan keempat detektif tengah berada di sebuah ruangan yang khusus, tidak ada yang boleh masuk ke sana tanpa ijin. Kali ini, mereka tengah membahas rencana untuk menggrebek markas DJ. Pak Burhan Nampak sangat antusias karena kerja keras para remaja ini memang patut diacungi jempol.


“Jadi, dari sini kita berjaga. Ada dua pintu masuk, walaupun yang satu tertutup kayu. Sebagian berjaga di pagar kayu, sebagian di pintu masuk gang, dan sebagian ke dalam gedung tua untuk melihat dari arah atas. Tujuan kita adalah DJ. Pak Burhan dan dua anak buah bapak yang gesit juga kami berempat focus ke DJ. Yang lainnya, mereka harus melumpuhkan anggota DJ sebanyak-banyaknya. Ada tambahan ^.^?”ujar Bunga.


Keempat pria yang tengah bersamanya tengah memahami sebuah gambar yang dibuat dengan acak-acakan. Tulisannya tak ada yang bisa dibaca. Memang jelas, tapi bisakah tulisan ini diperbagus saja?


Tak lama Dimas lalu mengangkat tangannya. Ia menatap Bunga seperti seorang murid yang sulit faham akan pelajaran.


“Saranku, kita juga harus dibagi lagi karena tak mungkin kalau kita langsung menyerang bersamaan. Juga, yang masuk hanya aku, Bunga, dan salah satu dari kalian anak kembar. Satunya lagi bersama bapake dan anak buahnya. Menurutku itu akan membuat mereka bingung -.-,”


Bunga lalu menganggukkan kepalanya.


“Aku setuju kalau begitu ^.^.”balasnya. Dengan serentak yang lainnya ikut menganggukkan kepala.


“Kalau begitu, kita harus mengerahkan beberapa polisi untuk membantu. Tapi yang jadi masalah adalah, tidak semua polisi ada dan mau bekerja tanpa perintah. Mau tidak mau kita harus ijin ke walikota-.-,”ujar Pak Burhan.


“Bisa kita langsung telepon saja -.-?”Tanya Hari. Ia Nampak tidak sabaran.


“Biar aku coba -.-,”balas Pak Burhan.


Ia lalu mengeluarkan handphone miliknya. Dengan cepat ia memanggil walikota.


Menunggu adalah kata yang sangat menyebalkan untuk dilakukan. Kesabaran berlebih saja tidak cukup. Seperti halnya saat ini. Sudah hampi lima kali Pak Burhan menghubungi walikota, namun tak ada respon. Mereka tahu, beliau adalah orang sibuk. Tak mudah untuk sekadar menelpon dan bertanya hal seperti ini. Selain itu, lama kelamaan mereka juga merasa lapar -_-.


Pak Burhan lalu menggeelengkan kepalanya.


“Sepertinya dia sangat sibuk saat ini. Biar aku yang menemuinya -.-,”


Mendengar niat dari Pak Burhan, Dimas dan Bunga langsung menghalangi langkahnya. Mereka memang kompak dalam hal seperti ini.


“Kami ikut >.


“Oke, kalian ikut. Hari, Hira, mau ikut juga ^O^?”


Dengan serentak mereka menggelengkan kepala mereka.


“Kami mau makan saja >O


“Kalau begitu kami pergi dulu ^.^,”ujar Pak Burhan. Anak kembar itu lalu menganggukkan kepala mereka.


Setelah bersiap, ketiga orang yang disegani banyak orang itu berjalan dengan santai menuju mobil. Mereka lalu membuka pintu mobil dan memasukinya. Duduk dengan nyama adalah hal yang paling wajib sehingga mereka langsung meletakkan tubuh mereka senyaman mungkin. Barulah setelah itu mereka menggunakan sabuk pengaman dan mobil dinyalakan. Lajunya perlahan lalu kemudian mulai meninggalkan kantor polisi.


Balai Kota, 11.40 WIB


Hal yang mereka syukuri saat ini adalah balai kota yang tak terlalu jauh. Mereka cukup melewati jalan raya dan sampailah. Setelah mobil mengentikan putaran rodanya, mereka baru membuka sabuk pengaman dan turun dari sana. Kecuali Pak Burhan. Ia harus mengunci mobil terlebih dahulu sebelum meninggalkannya.


Keadaan aman, mereka lalu mulai menghampiri kantor walikota.


Dari kejauhan terdengar beberapa orang tengah bergosip. Entah apa yang mereka bicarakan namun sepertinya menarik :v.


Pak Burhan lalu menghampiri seorang pria tua yang tengah memegang sapu dan membersihkan Balai Kota. Ia Nampak sangat rajin.


“Maaf, pak. Ini ada apa, ya ^.^?”Tanya Pak Burhan. Dimas dan Bunga tak banyak bicara. Mereka hanya mengikuti dari belakang.

__ADS_1


“Nak Burhan ^.^,”ujar pria tua itu. Ternyata Pak Burhan terkenal juga. “Ini, walikota katanya kecolongan. Tapi saya tidak tahu apa yang kecolongan -.-,”


Ketiga orang itu langsung terkejut. Bagaimana bisa walikota kecolongan? Bukan biasanya rumahnya mendapatkan penjagaan ketat?


“Saya tidak tahu. Katanya ada yang hipnotis semua penjaga -.-,”lanjut pria tua itu menjawab pertanyaan Dimas dan Bunga yang mereka katakan dalam hati.


Dengan seketika pikiran mereka mengarah ke satu orang. DJ. Dia pasti dalang dai semua ini kaena hanya komplotannya saja yang mudah menghipnotis.


Pak Burhan lalu mengucapka terimakasih pada pria tua itu. Ia kemudian mengajak kedua anak itu untuk langsung menemui walikota sehingga mereka berjalan menuju kantornya. Akan tetapi, tidak seperti biasanya pintu itu Nampak lebih sunyi. Tanpa ragu, Pak Burhan lalu bertanya pada satpam yang setia menunggu pintu itu agar tetap aman.


Di sisi lain, Bunga dan Dimas yang tidak mau ikut campur masalah orang dewasa hanya menunggu jauh di belakang. Mereka tidak mau dianggap kepo oleh orang-orang di Balai Kota.


“Bunga ^.^,”ujar Dimas. Otak jahilnya mulai menyala.


“Apaan -.-?”balas Bunga acuh tak acuh.


“Aku mirip kayak penjaga itu, kan^.^?”Tanya Dimas.


Bunga yang masih belum tahu maksud dan tujuan Dimas hanya bisa mengerutkan alisnya.


“Sama? Jakunan ^O^?”Tanya Bunga. Ia terlihat sok benar ketika menjawab hal itu.


Dengan entengnya Dimas menggelengkan kepala membuat Bunga kembali mengerutkan alisnya.


“Bukan itu. Yang benar ini ^.^,”ujar Dimas. Ia lalu mengubah posisinya sehingga dapat menghadap ke wajah Bunga. “Aku juga seorang penjaga yang selalu setia menungguimu walau kamu tidak ada di sana ^.^,”


Bunga hanya mendengus. Ia merasa sangat kebal dengan rayuan gombal dari Dimas.


“Tapi, penjaga itu dibayar. Kamu enggak : P,”balas Bunga.


“Aku akan tunggu kamu untuk bayar. Gak mahal kok. Cuma mau jadi pacarku aja udah melunasi semua bayaran aku ^.^,”


“Ya, kali, ah. Orang aku gak nyuruh kamu, ngapain harus aku bayar : P?”balas Bunga. Dimas pun langsung mengacak kepala Bunga karena geram. Ia sempat hendak mencubit pipinya namun langsung ditangkas oleh tangan gesit Bunga. “Serius dulu. Bercanda ada waktunya ^.^,”


Dimas pun mengangguk. Ia kembali terseyum.


Tak lama setelah mereka selesai mengobrol, Pak Burhan datang menghampiri. Ia tidak menampakkan wajah gembira sama sekali. Pastilah beriat buruk akan segera mereka dengar.


“Begini -.-,”ujarnya. “Pak walikota tengah berada di rumahnya untuk mengurus hal ini. Sudah ada polisi yang membantu di daerah sekitar rumahnya. Kalau kita telepon, pasti tidak akan mudah diterima. Kalau kita menunggu, entah kapan ia akan ke balai. Makanya, saya usulkan agar kita langsung saja ke rumahnya sekalian menjenguk -.-.”


Dimas dan Bunga lalu mengangguk. Mereka pun kembali memosisikan diri dalam mobil, menggunakan sabuk pengaman, dan pergi menuju rumah walikota.


Rumah Walikota, 12.05 WIB


Tidak ada garis kuning yang terpampang, hanya banyak orang-orang yang berkerumun dan berteriak-teriak. Saking banyaknya kerumunan itu, mobil yang ditumpangi oleh Bunga, Dimas, dan Pak Burha tidak bisa masuk ke dalam rumah walikota. Dengan terpaksa mereka harus memarkirkan mobil di pinggir jalan dan berjalan menerobos kerumunan.


“Bagaimana jika orang itu membahaykan, pak ~O~!”teriak seorang pria.


Dapat dipastika kalau mereka tengah melakukan demonstrasi pada walikota. Hal itu dapat diketahui saat banyak orang-orang yang mengataakn hal serupa dengan pria itu. Mereka meminta bantuan perlindungan pada walikota yang sedang tertimpa musibah.


Tanpa mau berbasa-basi, Pak Burhan lalu menggenggam tangan Bunga. Ia menatap Dimas dengan serius.


“Dim, kamu pegang tangan Bunga dan jaga dia dari belakang. Katanya kamu satpam hatinya, kan ^.^,”ujar Pak Burhan. Hal itu berhasil membuat pipi Dimas memerah. Ternyata Pak Burhan dengar.


Setelah itu mereka lalu berpegangan erat. Kerumunan orang-orang itu sulit dilewati. Mereka langsung mendapatkan respon negative karena disangka menyelip. Akan tetapi, mereka berusaha menutup telinga mereka dan terus berjalan hingga akhirnya mereka sampai di hadapan gerbang.

__ADS_1


“Pak, kami mau ketemu Pak Wal ~O~!”teriak Pak Burhan pada salah seroang penjaga yang ada di sana.


“Oh, Pak Bur. Silahkan masuk, pak. Pak Wal ada di dalam ~O~,”teriaknya. Ya, keributan ini cukup membuat suara mereka tenggelam.


Gerbang yang sangat sulit dilewati itu dapat dimasuki dengan mudah jika bersama Pak Burhan. Buktinya kali ini mereka sudah bisa melewati seorang penjaga yang terlihat sudah akrab dengan Pak Burhan dengan begitu mudahnya.


Ketika sampai di dalam, ketiga orang yang baru datang itu dapat melihat walikota yang tengah kebingungan. Ia mengurut batang hidungnya dengan jari. Tugas berat yang ia harus laksanakan itu telah berhasil membuatnya kelelahan.


“Wal ^.^,”ujar Pak Burhan. Ia memang sudah sangat akrab dengan walikota.


“Eh, Bur. Silahkan duduk TvT,”ujar walikota. Ia lalu mengangkat tubuhnya dan mempersilahakn tamunya untuk duduk.


Tanpa basa-basi mereka bertgiga lalu duduk di sofa yang dipersilahkan oleh walikota. Mereka langsung duduk dengan nyaman karena sofa ini empuk sekali.


“Ada apa ^.^?”Tanya walikota sembari meletakkan tubuhnya pada kursi di hadapan Pak Burhan, Dimas, dan Bunga.


“Harusnya aku yang nanya itu. Ada apa -.-?”


Walikota lalu mengembalikan wajah sedihnya.


“Anakku kehilangan laptop dan cincin. Dia tengah sendiri waktu itu dan ada yang datang ke rumah bilang bahwa mereka di suruh olehku untuk mengambil laptop. Ketika memberikannya anakku bolang dia tidak sadar. Mungkin dia dihipnotis -.-,”ujar walikota. Ia menghentikan kalimatnya sejenak untuk menarik nafas panjang. “Maksudku kalau mau uang bilang saja. Toh, kami juga akan memberi. Mengapa harus laptop anakku? Di sana banyak sekali file miliknya yang sangat berharga. Dan aku pun ingat satu orang yang suka menghipnotis. DJ dan komplotannya. Oleh karena itu warga sekitar langsung meminta agar penjagaan diperketat. Aku sudah sangat pusing mengurus satu penjahat ini-.-,”


“Memang itu yang akan kami bicarakan kali ini. Kami sudah menemukam markasnya. Dengan secepatnya akan kami datangi. Kalau din anti-nanti makan DJ pasti akan segera tahu. Oleh karena itu, kami ingin meminta ijin untuk mengerahkan anggota kepolisian agar membantu kami -.-,”ujar Pak Burhan.


Walikota tersenyum. Ia lalu menarik tangan Pak Burhan, Dimas, dan Bunga dengan haru. Wajah bahagia tiba-tiba hadir di sana membuat ketiga orang itu terheran-heran.


“Tentu aku ijinkan. Terimakasih banyak TuT.”ujarnya.


Pak Burhan lalu tersenyum dan mengangguk.


“Kami akan bergerak dan melakukan semua dengan sungguh-sungguh. Kami akan melaksanakan rencana semaksimal mungkin, sahabat lama ^.^,”balas Pak Burhan. Walikota lalu tersenyum.


Setelah itu mereka banyak membantu di sana. Menenangkan warga yang ketakutan memang cukup sulit. Mereka bahkan membutuh waktu berjam-jam untuk melakukan hal itu.


Kantor Polisi, 17.56 WIB


Pak Burhan, Dimas, dan Bunga sudah kembali ke kantor. Sesampainya di sana Pak Burhan langsung turun dari mobil dan mengumpulkan polisi pilihan yang dipercaya bisa bekerja dengan baik. Ia terlihat begitu bersemangat ketika membantu temannya. Hal itu membuat Dimas dan Bunga yang masih di dalam mobil tersenyum bangga.


Tak butuh waktu lama, kegesitan dari para polisi yang telah dilatih membuat mereka berhasil menggunakan waktu dengan baik. Mereka lalu merapikan barisan dan membiarkan Pak Burhan memberikan komando.


“Esok kita ada tugas. Saya akan bagi ke dalam tiga tim, seperti biasa. Untuk pembagian tim akan saya jelaskan di dalam. Intinya, kita akan menyergap markas DJ. Orang ini telah membuat keributan ~O~!”ujar Pak Burhan. Di saat seperti ini, ia terlihat begitu berwibawa.


“Semuanya bubar dan masuk ke aula ~O~!”perintahnya lagi.


Dengan serempak para anggota kepolisian itu memberikan hormat. Mereka langsung bergerak setelah melihat Pak Burhan menurunkan tangannya dari alis kanan.


Sebelum mengikuti anak buahnya, Pak Burhan mendekati Dimas dan Bunga yang sudah keluar dari mobil. Ia Nampak sedikit marah.


“Kalian, jelaskan rencana untuk besok. Maaf, diundur -.-,”


“Tidak apa-apa, pak. Bapake sudah bekerja keras ^-^,” balas mereka dengan serempak. Pak Burhan pun mengunci mobil dan mengajak dua anak itu menuju aula.


Aula 18.35WIB


Semua rencana sudah dipaparkan oleh keempat anak itu. Banyak sekali pertanyaan yang diajukan dan dapat dijawab dengan spontan dan jelas. Setelah itu, rencana mereka akan segera dilaksanakan.

__ADS_1


Dan semua rencana akan berlangsung besok hari. Selain sudah terlalu malam, mereka juga memerlukan cahaya karena gang ity sangat menakutkan. Akan tetapi, tak akan ada yang tak mungkin. Tunggulah, DJ.


__ADS_2