
Kali ini hanya si kembar dan Jutong yang akan menyelesaikan beberapa bagian kasus. Selain Bunga tengah dalam masa penyembuhan, Dimas juga tiba-tiba saja menghilang tidak ada kabar. Bahkan ibu dan ayahnya selalu berbelit-belit ketika hendak memberitahu keberadaan Dimas saat ini. Keadaan ini cukup untuk membuat kasus DJ semakin sulit dipecahkan.
Di hadapan sebuah meja, terbentuk lengkungan di setiap kening empat pria pintar. Pak Burhan, Jutong, Hari, dan Hira, mereka masih menatapi kertas yang baru saja dibawa dari markas DJ. Mungkin kertas itu tidak berisi banyak kalimat. Bahkan bisa dikatakan kalimat yang tertera di sana sangat mudah dibaca. Akan tetapi, kasusnya lain. Kalimat di kertas itu adalah satu-satunya petunjuk yang memerlupenghayatan popenuh karena hanya lima huruf saja yang bisa membuka brankas. Ya, hanya lima digit huruf yang bisa dimasukkan ke dalam kunci brankas yang modern itu.
“Puspa. Apa mungkin motor -.-?”tanya Jutong.
“Lho kok motor? Ngaco amat lu -.-,”balas Pak Burhan dengan lantangnya sehingga membuat anak kembar itu sempat tertawa kecil.
Jutong lalu memperbaiki posisi duduknya. Ia menghadap kea rah Pak Burhan, tepat ke hadapannya.
“Begini. Puspa itu kan sulit di cari apa artinya. Kalau begitu mungkin saja plesetan. Puspa, vespa. Karena vespa adalah motor, jadi itu mungkin kodenya ^.^!”
Ketika melihat Jutong yang begitu bersemangat, Pak Burhan hanya bisa mengerutkan alisnya. Mungkin memang benar, bisa jadi. Oleh karena itu, ia segera menganggukkan kepalanya dan mulai menekan layar pada brankas. Ia mengetikkan ‘motor’ di dalamnya. Keringat basah sempat mengucur di kening karena tegang. Namun setelah layar itu menampilkan gambar silang, Pak Burhan langsung menyeka keringatnya.
"Bukan -.-,”ujarnya lemas.
Jutong pun kembali mengerutkan alisnya. Ia sempat memutar bola matanya untuk sekedar berpikir.
Keheningan memenuhi ruangan itu. Tak ada solusi. Tak ada informasi. Semua pemikiran mereka yang sudah dibuat sedemikian rupa, tak bisa membuka brankas. DJ memang manusia cerdas. Walaupun sudah banyak kemungkinan yang empat orang cerdas itu pikirkan, namun DJ tidak mudah ditebak.
Rasa menyerah mungkin pernah hinggap untuk beberapa saat. Namun setelahnya semangat membara berhasil memanipulasi kepala mereka. Dengan segera mereka mulai mengobrak-abrik setiap kalimat dalam surat kecil itu. Dan itu, cukup menguras tenaga.
“Mungkin kita harus berhenti sejenak di sini -.-,”ujar Pak Burhan setelah hampir setengah jam mereka habiskan hanya untuk mencari kode tersembunyi dalam kalimat itu.
Tak ada yang menolak. Semua setuju dan patuh. Mereka sama-sama merasa lelah. Maka dari itu, semua orang ditugaskan untuk beristirahat hari ini. Barulah jika ada informasi lanjutan maka mereka akan melanjutkan kasus yang sulit ini.
Hari dan Hira pulang ke rumah mereka, melanjutkan bermain game online atau membuka internet. Jutong dan Pak Burhan kembali ke tugas mereka masing-masing baik di perusahaan maupun di kepolisian. Dimas, entah kemana dia menghilang, yang pasti dia tengah ikut menghapuskan keringat untuk sementara waktu. Dan Bunga? Bagaimana dengannya? Ia masih belum bisa pulang ke rumah. Tak apa, ia pikir. Berada di rumah sakit pun asalkan ia bisa melupakan kasus untuk sementara waktu sudah sangat cukup baginya.
Walaupun begitu, semua orang yang terlibat kasus itu tidak bisa benar-benar beristirahat. Bukan karena mereka masih merasa lelah atau ada pekerjaan lain, melainkan karena kasus ini sangat sulit dipecahkan. Bahkan kode itu terngiang-ngiang di kepala mereka, di pikiran mereka, dan di setiap kegiatan yang mereka lakukan.
Rumah Sakit, 19.00 WIB
Malam ini keluarga Bunga tengah menginap di rumah sakit, di kamar VIP Bunga. Untunglah ia memiliki hak untuk masuk ke ruangan mahal dan luas itu. Cukup dengan kasur tipis yang ayahnya bawa sudah bisa membuat suasana kamar itu menjadi lebih harmonis, bagaikan rumah sendiri.
Hal yang sangat disyukuri oleh Bunga adalah saat-saat seperti ini, di mana ia bisa mengobrol dengan keluarga. Ia bisa menukar cerita dengan adik dan kakaknya, atau bahkan bercanda dengan ibu dan ayah. Ia merasa menjadi seorang anak, bukan seorang pekerja yang mendapatkan gaji besar. Tawanya sampai terbahak-bahak sejak tadi. Padahal lelucon yang didengarkan tidak semenarik itu.
“Sebenarnya kakak merasa malu karena tidak bisa membantu sebanyak Bunga di keluarga kita. Kakak hanya bisa berusaha memberikan kebahagiaan sebagai pengganti bantuan yang kurang. Kakak tahu, keluarga kita sudah mengalami perubahan yang cukup besar. Dan sayangnya kakak tidak masuk dalam usaha merubah keadaan itu ToT,”ujar kakak Bunga.
__ADS_1
Bunga pun menatap kakak satu-satunya itu. Seorang wanita yang berjuang sejak Bunga masih duduk di bangku SMP di mana ia belum menjadi anggota detektif secara resmi. Seorang wanita yang selalu ingin melihat senyuman di wajah ibu dan ayah. Seorang wanita yang bertaruh waktu dan keringat hanya untuk mengubah keadaan keluarga yang seba kekurangan. Dia lah yang mengawali perubahan ini. Dia yang berhasil membuat ayah sempat beristirahat dari mencari nafkah. Dan Bunga sangat menyayanginya.
Tanpa banyak berpikir, Bunga lalu memeluk kakak perempuannya. Ia menggenggam tangan wanita itu dengan kehangatan, menampilkan senyuman di balik punggung sang kakak.
“Gak usah malu kak. Kakak yang membantu ayah menanam biji dalam keluarga kita. Aku hanya sebatas menyiram biji itu sehingga bisa menjadi pohon yang kaya akan buah. Saat ini, ayah dan kakak berhak untuk menikmati buah yang sempat kalian tanam. Begitu pun ibu dan adik yang membuat semuanya menjadi mungkin ^.^,”ujar Bunga. Ia menghentikan kata-katanya untuk sekedar mendengar tangisan sang kakak.
Ibu, ayah, dan adik Bunga hanya menatap dengan senyuman. Mereka ikut terharu karena baru menyadari bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.
“Terimakasih, kak, sudah memulai semua ini. Ayah tau, kakak banyak berkorban untuk membantunya sehingga beliau sangat menyayangi kakak. Ibu, adik, dan aku juga. Kami sangat bersyukur ada sosok kakak dalam kehidupan kami. Iya, kan ^.^?”lanjut Bunga sambil menatap orang tersayangnya yang duduk manis di hadapannya.
Dibalik punggung Bunga, kakaknya tersenyum kecil. Ia merasa bahagia karena ternyata ia cukup membantu.
Ibu, ayah, dan adik Bunga tersenyum dan menganggukkan kepala mereka. Lalu, dengan serempak mereka ikut memeluk kakak. Terasa hangat dan harmonis.
“Kami sangat berterimakasih padamu ^.^,”ujar ibu Bunga.
“Kakak baik ^-^,”timpal adik. Mereka pun kembali tersenyum.
Hal seperti ini adalah suatu kebahagiaan bagi Bunga. Entah sudah berapa tahun ia lupa akan hal ini. Hal yang membuatnya berpikir bahwa dunia bukan hanya berisi lembaran kertas dan perintah.
Malam itu, mereka semua tidur di kasur yang tipis, teringat akan masa lalu. Namun, busa ini berhasil memberikan kenyamanan di sepanjang malam hingga mereka terlelap.
Pak Burhan turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Setelah itu ia mulai berjalan memasuki gedung yang masih aktif itu dengan langkahnya yang cepat dan lebar. Ia nampak menarik koper yang cukup besar dan sepertinya berat. Ia juga membawa beberapa lembar kertas di tangan kanannya. Wajahnya nampak santai walau sebenarnya jantungnya berdegup kencang.
Beberapa karyawan, detektif, bahkan penjaga sempat menyapa Pak Burhan. Namun, entah masalah apa yang membuatnya lambat membalas sapaan mereka. Orang-orang pun hanya bisa menghela nafas setiap kali melihat kelakuan Pak Burhan seperti itu.
“Ada masalah yang pelakunya orang terdekat lagi sepertinya -.-,”begitu bisik beberapa orang yang tadi menyapa Pak Burhan. Ya, beliau memiliki ekspresi khas pada beberapa kasus.
Pak Burhan lalu berjalan menuju Lift. Ia menaikkan kopernya dan berjalan masih dengan tegang. Setelah ia masuk, pintu lift tertutup. Ia pun ikut menutup matanya, berusaha menutupi mata yang berkaca-kaca.
Pintu lift terbuka ketika sudah melewati beberapa lantai. Pak Burhan lalu keluar dari sana dengan langkah yang lebih santai. Tentu saja hal itu ia lakukan karena ia harus menghapus air mata yang sempat menetes ke wajahnya tadi. Selain itu, langkahnya juga mulai melemas ketika ia kembali mengingat pencerahannya dalam kasus DJ ini.
Pak Burhan kali ini sudah berada di hadapan sebuah pintu. Pintu yang selalu tertutup rapat walau dihuni atau tidak. Ya, itulah adalah pintu kamar Jutong yang jarang sekali dikunjungi orang-orang. Selain Jutong suka keluar kamar, ia tidak suka diganggu jika tengah seorang diri kecuali keadaan darurat.
“Ini aku, Burhan. Kedatanganku lebih dari darurat ToT,”ujar Pak Burhan. Ia mendekatkan wajahnya pada sebuah lubang yang dipasang benda seperti kaca.
Jutong yang tengah asyik mengurusi laptopnya langsung beranjak setelah mendengar kata darurat. Ia pun berjalan menuju pintu kamarnya dan membuka dengan sedikit rasa tegang. Ketika pintu itu dibuka nampak sesosok pria gagah. Wajahnya mengekspresikan kesedihan, begitu pun gerak tubuhnya. Ia nampak pasrah dan menyesal, atau bahkan kecewa. Entahlah.
__ADS_1
“Kenapa gak telepon, pak? Kan, ini sudah malam. Lagi pula masih ada hari esok, lho ^.^,”ujar Jutong. Ia pun mempersilahkan Pak Burhan untuk memasuki kamarnya yang rapi.
Pak Burhan belum sanggup menjawab ucapan Jutong. Ia hanya berjalan dengan lesu sambil menarik koper yang sejak tadi ia bawa. Ia pun mulai menaruh tubuhnya di atas sebuah sofa. Ia terdiam di sana, menunggu Jutong menghampirinya dan bertanya.
Bagai berusaha mengabulkan harapan Pak Burhan, Jutong lalu berjalan dan duduk di samping Pak Burhan. Ia menatap pria itu dengan penuh heran dan rasa penasaran.
“Jadi, ada apa -.-?”tanya Jutong. Nadanya mulai serius.
Pak Burhan menghela nafas. Mulutnya masih belum mau terbuka semenjak ia menginjakkan kakinya di kamar itu. Kemudian, untuk menjawab semua pertanyaan Jutong, Pak Burhan mulai menaruh koper yang ia bawa di atas pahanya. Ia lalu mengambil sleting dan membuka koper itu. Tanpa banyak bertele-tele, Pak Burhan mengambil sebuah barang berbentuk kubus dari dalam koper. Barang yang berhasil membuat alis Jutong semakin mengerut.
Setelah benda itu berada di tangannya, ia menurunkan koper dan menaruh benda itu di atas pahanya, menggantikan posisi koper itu. Tanpa ragu, ia membuka benda itu, menampilkan apa yang disembunyikan di dalamnya dan berhasil membuat Jutong sempat terperanjat.
“Bagaimana >~<,”ujar Jutong. Ia nampak sangat terkejut. “Baa.. bagaimana bisa brankas DJ dibuka dengan mudah >~”lanjutnya gelagapan.
Selagi Jutong asyik dengan banyaknya pertanyaan, diam-diam Pak Burhan kembali meneteskan air matanya. Ia bahkan sempat mengeluarkan beberapa rintihan karenanya.
“Pak -.-…..,”ujar Jutong. Ia menatap Pak Burhan dengan sedikit rasa terharu.
“Oke, saya ceritakan semuanya TnT,”balas Pak Burhan akhirnya mengeluarkan suara beratnya.
Jutong mengangguk. Ia memosisikan dirinya senyaman mungkin.
“Setelah kalian pulang dan aku menyuruh agar kalian istirahat, aku mulai mengambil kertas yang sejak tadi kita perhatikan. Aku mulai iseng mencari kata perkata di internet. Setiap kata, mencari makna semuanya. Aku tahu aku terlalu terjerumus dalam rasa penasaran hingga membuatku tidak sadar bahwa sebaiknya aku tidak tahu saja ToT,”
Jutong masih belum memahami apa yang dimaksud pria itu. Ia hanya bisa mendengarkan dengan seksama.
“Ketika aku mencari kata puspa, aku begitu bahagia karena tahu artinya. Puspa itu Bunga. Dan aku menghitung perhurufnya, ternyata pas. Tanpa pikir panjang, aku segera memasukkannya dengan hati-hati. Dengan memohon-mohon bahkan. Dan aku sempat meloncat kegirangan ketika brankas itu akhirnya bisa dibuka,
“Aku masih belum sadar. Aku terlalu focus pada isi brankas yang begitu banyak informasi. Baik mengenai anggota dari DJ, siapa saja yang sempat dibunuh oleh komplotan itu, orang-orang yang diincar karena sempat ingin keluar dari DJ, mengenai gedung yang dibangun di tempat lain dan masih banyak lagi. Aku bahagia, aku senang. Aku pun langsung mengambil handphoneku. Di sana aku sadar,
“Ketika aku hendak menghubungi kalian, aku sadar akan suatu hal. Aku langsung membatu. Aku terkejut. Untuk memastikan pemikiranku itu, aku mengobrak-abrik semua dokumen di sana. Aku berharap agar pemikiranku itu salah. Tapi ternyata benar ToT,”
Jutong semakin penasaran. Ia mulai membuka sedikit demi sedikit dokumen yang berada di dalam brankas. Ia masih bingung dengan apa yang dimaksud Pak Burhan.
“Pak, aku mohon. Jangan berputar-putar. Aku tidak faham. Bisa beritahu aku apa intinya -.-?”
“Di kertas itu tertulis. Dia yang aku cinta. Dia puspa. Puspa itu, Bunga. Menurutmu, siapa yang menyukai Bunga di perusahaan kita ToT?”ujar Pak Burhan. Ia sempat menaikkan nada bicaranya.
__ADS_1
Jantung Jutong langsung berdegup dengan begitu kencang. Ia langsung panic dan merebut brankas dari tangan Pak Burhan. Ia mencari sesuatu di dalam brankas itu. Bahkan, sampai mengacak-acaknya. Setelah ia menemukan apa yang ia harapkan tidak pernah ada di sana, ia langsung menjatuhkan lututnya ke lantai. Menangis sejadi-jadinya sambail menggenggam sebuah foto.
“Dimas, si*lan kau! Dimas Jaya, itu maksud bapak? DJ adalah Dimas? Orang itu, pantas saja menghilang. DIMAAAASSSSS ~O~!!!!”teriak Jutong.