Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Kasusnya Jadi Lebih Rumit. Dasar gabut!


__ADS_3

SMA 1, 09.00 WIB


KASUS ZOMBIE YANG TIBA-TIBA MENYERANG


Pak Burhan terlihat sedang berkumpul bersama Dimas dan Bunga. Mereka saling melemparkan argument mereka mengenai kejadian yang terjadi.


Selagi ketiga orang jenius itu merundingkan kasus yang sangat tidak biasa, beberapa anggota lainnya berusaha membersihkan make up yang ada pada zombie itu. Selain untuk mengetahui identitasnya, pembersihan itu untuk mempermudah pencarian luka yang mungkin saja ada sebelum dia di dandani. Yang menyulitkan adalah, bukan hanya di wajah, namun make up itu pun ada di leher, kaki, dan bahkan sebagian perut.


“Ada satu hal yang aku yakini ~_~,”ujar Bunga kemudian. Pak Burhan dan Dimas hanya membalasnya dengan alis yang mengerut dan kepala yang diangkat bersamaan. “Aku yakin kalau dia bukan hanya dipaksa memakan zat yang menghilangkan kesadarannya, tapi juga ada pengaruh alam bawah sadar. Aku perjelas, hipnotis //_- .”


Tidak ada yang berani mengeluarkan opininya setelah Bunga mengucapkan kalimat mengejutkan itu. Memang sulit dicari apa yang menyebabkan hal itu terjadi karena pria itu masih tidak sadarkan diri. Selain itu, kejadian tadi terlalu mendadak. Tidak ada kejadian aneh sebelumnya yang menyebabkan hal ini bisa terjadi.


Dimas nampak celingukan. Dia selalu melirik ke arah sebuah koridor yang jauh di belakangnya, tempat gudang hantu yang terkenal itu berada. Mereka masih sulit untuk mengetahui kronologi kejadiannya.


“Kalau aku yakini, seperti katamu tadi, ada hal yang sangat berharga di gudang hantu itu ~_~.”ujar Dimas kemudian.


“Tunggu, kalau memang begitu. Bunga, berarti kau sudah faham, kan, apa yang terjadi setelah mendengar bantuan dari Dimas ~o~?”tanya Pak Burhan.


Bunga menganggukkan kepalanya. Ia nampak sedikit tersenyum.


“Singkatnya, pria itu dipengaruhi, dipaksa memakan obat narkotik atau psikotropik yang membuatnya sempoyongan, dan mendandaninya. Kebanyakan orang melakukan hal yang benar-benar ia ingat ketika sebelum mabuk. Coba saja lihat orang mabuk. Mereka membicarakan hal yang memang benar-benar nyambung, pernah mereka alami ^-^,”ujar Bunga.


“Kalau begitu, aku akan memanggil beberapa anggota lainnya untuk memasang garis polisi di sekitar darah gagak itu dan gudang hantu. Kalian tunggu di sini. Jangan pergi dengan tergesa-gesa^O^!”ujar Pak Burhan sambil melangkahkan kakinya.


Dimas dan Bunga hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan pria kekar itu. Mereka berdiri di tempat mereka berada dan tidak berpindah sedikit pun.


Bunga merasa bosan karena selalu saja tindakannya tidak boleh terburu-buru. Terkadang hatinya merasa sedih kalau ia bekerja di bawah perintah orang lain. Bukan Pak Burhan, bukan. Tapi orang-orang yang menganggap pekerjaannya mudah dan tidak berpikir kalau Bunga juga perlu istirahat.


Setiap kali merasa sedih, Bunga selalu menundukkan kepalanya, memejamkannya sesaat dan memikirkan ibu, ayah, kakak, juga adiknya yang tinggal terpisah darinya. Itu membuatnya merasa lebih tenang. Sedih, memang. Ketika hidup yang kita jalani dipandang enak orang lain, namun sebenarnya tidak, sering membuat hidup yang dijalani itu terasa lebih berat. Orang-orang yang mengerjakan apa yang mereka mau selalu tidak bersyukur, menganggap remeh pekerjaan orang terkenal dan terpandang. Kalian tidak tahu kehidupanku jika tidak menjalaninya, itu adalah kalimat yang selalu Bunga katakan setiap kali ia teringat keluarga.


Berlarut-larut dalam kesedihan membuatnya sulit memecahkan sebuah kasus. Oleh karena itu, ia segera membuka matanya. Dan seolah-olah memperingatkan Bunga, seekor burung gagak mengepakkan sayapnya yang sobek. Untunglah Bunga menunduk. Kalau tidak, dia akan lupa begitu saja pada burung-burung gagak itu.


Dengan segera ia jongkok. Ia lalu mengambil sarung tangan dari mantelnya. Walaupun tidak dingin, tapi mantel ini sudah jadi ciri khas dan memang tidak terlalu tebal. Terasa beberapa pasang sarung tangan higienis tersimpan rapi di sakunya. Namun ia hanya butuh satu pasang untuk setiap kasus.


Dengan hati-hati, Bunga mengangkat burung gagak yang kesakitan itu. Ia menatap ke arah Dimas.


“Bawa kamera. Kita perlu bukti, deh, kayaknya -.-.”

__ADS_1


Dimas mengangguk. Ia segera berlari ke arah para anggota polisi dan agent lainnya yang tengah membahas hal ini. Ketika menghampiri mobil, ia melihat Jutong yang tengah berjalan santai. Ya, dia bagian dari detektif. Ia biasanya hanya datang untuk membantu Bunga. Dulu, Jutonglah yang melakukan pekerjaan Bunga. Namun, ketika Bunga hadir, dia mendapatkan pangkat yang lebih tinggi dan bekerja dengan hanya mengontrol saja. Dan gajinya, banyak 7.7.


Dimas sedikit geram ketika melihat Jutong baru muncul setelah hampir setengah jam. Ia lalu menghampiri Jutong dengan wajah yang tidak bersahabat.


“Tong ~O~!”teriak Dimas. Jutong pun melirik ke arahnya lalu melambaikan tangan yang disertai dengan senyuman. “Lo kenapa baru datang, sih ~>~?”


Jutong tersenyum sambil menutup matanya. Ia lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Habis nongkrong di WC. Gara-gara makan dua geprek level lima di warungnya Mak Icih, Jutong jadi diare >~<.”balas Jutong.


Dimas mengembungkan mulutnya untuk menahan tawa. Dan Jutong langsung menyambut tingkangnya itu dengan ekspresi konyol di mana matanya melotot dan ujung bibirnya terangkat. Ia lalu menggoyangkan kepala Dimas seperti tengah mengaduk dodol.


Dimas mengaduh. Ia sedikit tertawa ketika melihat Jutong malu.


“Tong, aku mau ambil kamera ^-^.”ujar Dimas menampakkan wajah manisnya. Ia tahu, Jutong tidak akan meminjam kamera kantor dengan begitu mudah setelah Dimas berhasil memecahkan lensa dua kamera sebelumnya.


Jutong hanya mengerutkan dahinya. Ia lalu menggelengkan kepalanya.


“Gak! Nanti diancurin lagi kayak waktu itu >3<.”ujar Jutong.


Dimas cemberut. Ia lalu menggoda Jutong terus menerus agar mau meminjamkan kamera itu padanya. Dimas bersikeras untuk meminjam dan Jutong bersikeras untuk melindungi kamera. Hingga sebuah suara membuat semua orang yang ada di sana menutup telingan mereka. Walaupun suara itu hanya mengucapkan satu kalimat saja, namun berhasi membuat semua orang bergidik.


“Gara-gara Jutong, nih, ah! Lihat, bebeb aku jadi ngambek>0


Jutong tertawa terbahak-bahak.


“Lo nya aja kali yang nganggep dia bebeb. Si Bunga-nya mah cuma nganggep lo orang nyebelin Si Raja Gombal ; D,”ejek Jutong. “Bentar, gua ambilin kameranya  \)\-\( .”lanjut Jutong sambil menahan tawa.


Jutong mulai masuk ke dalam mobil. Ia membuka sebuah tas besar yang ada di jok paling belakang. Tak heran kalau ia membutuhkan waktu lama untuk mengambilnya.


“Tai, eh tapi, Tong. Walaupun mungkin gua sekarang kelihatan bertepuk sebelah tangan, kita gak tahu apa yang dirasakan Bunga. Gua tahu, suatu hari dia bakal terima gua apa adanya. Gua selalu nunjukin kesetiaan gua sama dia. Ingat, Tong, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Cinta tidak jatuh jauh dari jodohnya. Gua selalu memohon biar Bunga jadi jodoh gua. Walaupun gak jodoh, gua bakal paksa jodohnya biar mau digantiin sama gua U.U,”


Jutong menggelengkan kepalanya. Ia sudah tidak faham dengan Dimas yang sangat menginginkan cinta dari Bunga. Untuk melindungi telinganya dari kata-kata lebay Dimas, Jutong pun segera memberikan kamera yang telah ia temukan. Ia lalu mengusir Dimas dengan halus, tidak, dengan kasar lalu kembali ke mobil, menyelesaikan laporannya di laptop.


Dimas membuang nafas lemas. Ia yakin, Bunga mau dengannya.


Mulut yang cemberut, alis yang mengerut, dan mata yang menyipit membuat hati Dimas menjadi lebih segar. Wajah Bunga selalu lucu. Marah, sedih, senang, semuanya. Hal itu yang membuat Dimas betah bekerja, bersekolah, dan berdampingan dengannya di pelaminan nanti.

__ADS_1


“Lama banget, dah 9o9,”ujar Bunga sedikit menengadah untuk menatap Dimas yang lebih tinggi darinya.


Dimas menyubit pipi Bunga yang dibalas dengan cubitan di perut. Dimas hanya tertawa setiap kali Bunga marah padanya. Tanpa mau membuat Bunga lebih murka, Dimas langsung memoto burung gagak yang ada di tangan Bunga. Setelah itu, gagak melakukan beberapa gaya. Membuka sayapnya lebar-lebar, memperlihatkan punggung berdarahnya, dan mendekatkan paruhnya pada kamera agar terlihat seksi.


“Seksi apaan, dah. Dia menderita gitu kamu bilang seksi? Kamu, kan, sehat Dim --_--,”ujar Bunga. Dimas hanya cengengesan.


Pemasangan garis polisi dan pemotretan beberapa bukti masih dilakukan. Bunga dan Dimas belum bisa pergi ke gudang hantu itu. Akhirnya mereka meneliti burung gagak itu untuk mengisi waktu luang.


Pertama, mereka meneliti sayap yang mengeluarkan darah hingga membasahi punggungnya. Karena burung itu terlihat masih berusaha untuk hidup, Dimas membasuh lukanya dengan air lalu meneteskan obat merah. Terjadi respon kesakitan dari gagak itu. Bunga lalu menenangkannya dan mulai memperhatikan keseluruhan tubuh gagak. Memang benar, nampak sayatan dari bagian tengah sayap burung itu. Kalau tidak disayat, robek dengan alami bukan dengan benda tajam, tidak akan serapi ini. Selain itu, jika alami maka akan dimulai dari pinggir, bukan langsung sobek di tengah. Kemungkinan bulu pada sayap juga tidak akan ikut robek.


Ketika Bunga tengah meneliti gagak itu lebih lanjut, Dimas menemukan sesuatu yang mengejutkan. Sesuatu yang tidak akan mudah disadari jika kita tidak sadar. : )


Dimas merogoh sakunya. Ia terlihat tengah mencari sesuatu. Bunga tidak menghiraukannya. Walaupun ia sempat menengok sedikit, namun akhirnya ia tidak perduli. Barulah setelah menemukan barang yang dimaksud, Dimas menepuk bahu Bunga. Ia lalu memperlihatkan barang itu pada Bunga.


“Kamu mau cari emas? Pakai bawa-bawa senter segala. Ini siang, Dim //_-.”ujar Bunga. Namun bukan itu yang Dimas maksud.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Dimas langsung menyalakan senternya. Cahaya yang dihasilkan cukup menyilaukan mata Bunga untuk beberapa saat. Setelah itu, Dimas mengarahkan cahaya itu ke arah bulu burung yang tertutupi darah. Dari sana, Bunga ikut terkejut.


“Karena warna bulunya hitam, bekas darahnya jadi tidak terlihat. Tapi, tunggu. Oh, arah darahnya mengalir O.O?”ujar Bunga. Dan Dimas mengangguk dengan pasti.


“Kamu ingat, kan, bagaimana cowok itu pegang semua gagaknya? Kepalanya di bawah. Tapi yang ini, aneh. Selain darahnya kering, bekasnya juga bukan ke arah kepala, tapi ke arah kaki. Coba bayangkan. Itu berarti, gagak ini memang sudah disayat sejak lama. Orang yang menyayatnya pasti menegakkan tubuh gagak, sehingga darahnya mengalir ke kaki ~.~,”


Bunga mengangguk. Ia lalu mencari gagak yang lainnya. Dimas membantu. Mereka mengambil tiga gagak lainnya untuk di teliti kalau-kalau darahnya juga mengalir ke arah kaki. Akan tetapi, ternyata tidak. Tiga gagak yang lain, termasuk yang dilemparkan pada Selena, mempunyai bekas darah yang menuju ke kepala. Darah di lantai pasti dari tiga gagak ini. Dan lagi, sumber keluarnya darah berbeda dari gagak yang pertama. Ketiga gagak itu terlihat seperti dibunuh tanpa menggunakan alat.


Kasus ini menjadi kasus tingkat menengah ketika para anggota kepolisian dan detektif mengira ini kasus ringan.


Dimas membersihkan dan mengobati ketiga burung gagak yang ternyata masih sanggup hidup. Mereka nampak sangat kesakitan. Di samping itu, Bunga lebih terfokus pada Gagak Satu, nama gagak yang memiliki sayatan di tengah sayapnya. Bunga menekan beberapa bagian yang mencurigakan, membuka bulu-bulu Gagak Satu, dan mengelusnya dengan lembut. Dan ketika ia menekan sayapnya, terasa sesuatu yang mengganjal. Tipis, hampir tidak terasa. Bulunya memang tebal tapi kulitnya tidak. Walaupun benda tipis itu tertutupi oleh bulu, tapi Bunga dapat merasakannya.


Bunga meminjam senter dari Dimas. Ia membuka sayatan di sayap Gagak Satu dan meneranginya dengan senter. Dan suatu hal mengejutkan.


Bunga mengambil sebuah kertas yang diselipkan pada luka Gagak Satu. Sungguh kejam orang ini. Awalnya ia lihat hanya kertas biasa. Namun setelah ia balikkan alisnya mulai menyatu.


“Dim ^O^!”panggil Bunga. Dimas segera menghampiri. Ia melihat sebuah gambar piringan hitam. Sebuah lampu warna-warni berada di tengah. Apa pula ini? >0<


Setelah zombie, akan ada labu nyeremin. Makasih hasil tambangnya!-DJ


“WHAAATTTTTT?! IEU SI DJ MENI GABUT PISAN!!! DIPIKIR INI RIDDLE APA?! URANG GEUS TAMAT TTS NU INDUNG URANG, TEU NYAHO MANEH >O!”(Dimohon untuk tidak pernah meniru kata-kata kasar seperti itu, ya, temen-temen. Kalau yang gak tahu, komen aja mwehehehe: P)

__ADS_1


Dimas tertawa kecil. Lucu banget Bunga, ih, bisiknya >U<.


__ADS_2