Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Today


__ADS_3

Lagi dan lagi. Orang-orang yang ada di ruangan itu hanya bisa diam. Tapi, mereka tidak benar-benar diam. Diamnya mereka itu berarti otak yang biasanya tengah beristirahat harus bekerja dua kali lipat.


Setelah itu, Bunga yang notabenenya tidak mau diam dalam waktu lama, langsung membuka handphonenya. Ia memang suka membuat orang lain bingung. Sehingga dalam hitungan detik saja, timbul pertanyaan mengenai apa yang tengah dilakukan Bunga.


"Kamu mau ngapain buka hp -.-?"tanya Hari. Ia memang suka ikut campur.


Bunga memandang anak itu dengan senyuman penuh arti. Ia lalu menunjukkam layar hpnya.


"Aku lagi nyari data yang berhubungan dengan kasus ini ^.^,"ujarnya.


"Kamu poto semua kertasnya 0.0?"tanya Hira. Akhirnya ia ikut keluar dari lamunan.


Bunga menganggukkan kepalanya.


"Aduh kamu ini ~.~,"ujar Pak Burhan. Ekspresinya seperti hendak marah.


"Ya, maaf, pak. Aku gak ijin. Tapi kalau kayak gini kan jadi lebih mudah ToT, "ujar Bunga. Ia mencoba menyelamatkan diri.


Pak Burhan lalu menggelengkan kepalanya.


" Ya, udah. Saya minta o.o,"


Bunga lalu menyipitkan matanya.


"Buka hp bapak. Saya kirim -.-,"


Pak Burhan pun tertawa kecil.


***


Keempat pria itu kini mempunyai foto setiap kertas dari brankas. Dengan teliti, mereka mencari petunjuk mengenai kapan dilaksanakannya peledakan atau launching proyek itu. Setiap kertas yang ada di foto di perbesar dan dilihat perbarisnya.


Namun, mencari hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perasaan mereka sudah gundah dan tidak nyaman. Bahkan, Bunga sudah selonjoran di sofa. Matanya seolah sudah lelah walau ia masih tetap bertahan mencari tanggal itu.


Keadaan di ruang tamu sudah berantakan. Dua buah teko kosong tengah memenuhi meja. Sofa sudah kusut. Bahkan posisi duduk mereka sudah tidak menentu. Apalagi anak kembar itu. Kaki mereka sudah ada di atas sofa dan kepala mereka ada dibawahnya.


Bunga pun sama seperti itu. Ia terlihat lebih malas dari sebelumnya Entah mengapa. Jarinya tidak henti bergerak di layar handphone. Ia terlihat santai, seolah merasa sesuatu tidak akan terjadi.


Namun, tiba-tiba suatu informasi terpintas di pikirannya. Sesuatu yang membuatnya terkejut. Sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang. Sesuatu yang membuatnya langsung beranjak dari sofa empuk itu.


"Kenapa, Bunga-.-?"tanya Pak Burhan yang pertama melihat tingkah aneh Bunga.


"Sekarang tanggal berapa 0.0?"tanyanya.


"29 Februari. Memangnya kenapa -.-?"


Bunga lalu mulai memasang wajah serius. Sikapnya itu bagai magnet bagi Jutong, Hari, dan Hira karena mereka langsung beranjak dari posisi mereka.


"Kenapa sih? Ada apa -.-?"tanya Jutong.


Bunga pun menarik nafas panjang. Setelah itu ia mulai gelisah.


"Begini-.-,"ujarnya tak karuan. "Aku tiba-tiba ingat pada Puri. Dan aku ingat nomor kamarnya, no. 12. Nomor kosannya, 005, yang satu angkanya copot satu. Dan itu membuatku ingat akan 30.2.12 yang pernah ku dengar sebelumnya. Apa mungkin ~.~...."


Dengan kalimat yang menggantung, belum selesai diucapkan, sudah cukup membuat orang-orang pintar itu faham apa maksud Bunga. Mereka lalu mulai sibuk membuka handphone mereka, memanggil beberapa orang penting untuk segera berkumpul.


"Kamu siap-siap aja dulu. Biar kami yang telepon semua petugas 0.0,"ujar Pak Burhan.

__ADS_1


Bunga lalu mengangguk. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju lantai atas, di mana kamarnya berada. Tangga yang tidak bersalah diinjak dengan sangat kuat. Bukan hanya jantungnya yang bergerak dengan cepat, kakinya juga. Ia menaiki tangga dengan gesit dan sedikit bergetar. Setelah sampai di kamarnya, ia mulai mengambil jaket dengan tergesa-gesa lalu berjalan menuju sang ibu.


Ibu Bunga yang sedikit terkejut melihat orang-orang di rumahnya sibuk, langsung menyambut Bunga. Ia memegang lengan anaknya dengan agak resah.


"Kenapa tergesa-gesa, nak? Ada apa ini -.-?"tanyanya khawatir.


Bunga lalu menarik nafas panjang. Ia berusaha keras untuk menutupi keringat di sekujur tubuhnya.


"Ibu, hari ini Bunga berangkat dan akan pulang agak lama. Entah mungkin Bunga pulang atau tidak Bunga belum tahu. Tolong kasih tahu ayah, adek, sama kakak ya bu. Bilangin sama mereka kalau Bunga sayang mereka ^.^,"ujar Bunga.


"Kamu ini kenapa sih Bunga? Bikin ibu merinding aja -.-,"balas sang ibu yang memang panik saat ini.


"Hari ini Bunga dan tim sudah menemukan apa yang akan terjadi ke depannya. DJ sudah siap melakukan pengeboman di Perusahaan V. Biar bagaimana pun dia sulit dicegah, bu karena kami tidak tahu di mana dia sekarang. Kami hanya bisa menunggu dan berjaga di sekitar perusahaan -.-,"


"Iya, ibu faham. Tapi kenapa buru-buru -.-?"


"Pengebomannya akan dilakukan tanggal 30 bulan Februari jam 12 lebih 5 malam ini -.-,"


"Astagfirullah. Lalu, kamu mau ikut? Bukannya kamu mau diam saja di rumah dan memantau, nak -.-?"


Bunga lalu tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya.


"Ada yang harus Bunga lakukan. Bunga sudah putuskan, harus ada yang menjadi umpan. Dan orangnya itu adalah anak ibu ini^.^,"


Ibu Bunga pun membelai wajah Bunga. Beliau lalu memeluk anak perempuannya itu. Ia telah berjuang banyak bagi keluarga, sang pekerja keras, sama seperti ayahnya.


"Hati-hati. Pulangkan dirimu pada ibu. Ibu percaya sama kamu kalau kamu pasti bisa keluar dari bahaya itu TuT, "


12.22 WIB, Mobil. Perjalanan Menuju Perusahaan


Jok yang seharusnya ada di sana sudah disingkirkan entah kemana. Kini tinggal karpet kosong mengisi mobil mewah itu. Di atasnya tengah duduk Hari, Hira, Jutong, dan Bunga. Sedangkan Pak Burhan tengah menyetir dengan jantung yang berdegup kencang.


Hari dan Hira yang juga bingung langsung mengangguk setuju. Pandangan mereka tertuju pada Bunga yang tengah duduk dengan manis.


Bunga lalu memutar bola matanya. Ia sempat menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Aku yakin saja. Karena aku melihat sepintas di sebuah kertas, penulisan 30.2.12 itu bukan yang seperti kita pikirkan. Bukan mirip tanggal atau apa, bukan. Tapi penulisannya seperti ini. Tiga puluh, titik, lalu spasi. Dua, titik, dua belas. Ada jarak antara angka tiga puluh dengan dua sehingga kalau dipikir-pikir orang ini kreatif dan misterius -.-, "


"Ah, aku masih gak faham ToT!"teriak Hari dan Hira bersamaan. Bunga pun tersenyum kecil.


"30. 2.12. Begitu penulisannya. Itu seolah bermaksud, di nomor tiga puluh ada soal 2.12. Titik itu bermakna kali. Dan dua dikalikan dua belas hasilnya dua puluh empat di mana itu berarti malam-.-,"ujar Bunga.


Ketiga pria yang ada di hadapannya mengangguk dengan kuat.


"Tentang lebih lima itu, bagaimana -.-?"ujar Pak Burhan mulai memasuki pembicaraan.


Bunga sempat tersenyum. Dan senyumannya itu sungguh menakutkan.


"Pada kejadian kebakaran di kost Puri, aku sempat menemukan kertas yang kosong. Aku sengaja tidak bilang pada kalian karena takut aku dikira bodoh. Padahal sebenarnya, kertas itu dicetak tanpa tinta sehingga titik-titik lubangnya sulit di baca. Tapi untunglah, aku bisa gunakan penghapus bor untuk melihat apa yang ditulis. Dan di sana aku baca bahwa Puri adalah kunci semuanya. Apa pun yang Puri mau, pasti dikabulkan. Dan tempat Puri tinggal menjadi patokan di laksanakannya proyek itu karena dianggap Puri membawa toki -.-,"


Pak Burhan lalu tersenyum kecil. Ia menatap Bunga dari kaca spion dan mengangkat jempolnya.


"Lagi pula, kalau siang pasti sudah terjadi kerusuhan saat ini -.-,"balas Bunga dengan santai.


Rencana selanjutnya kembali dibahas. Sudah ditentukan bahwa mereka akan fokus di Perusahaan V, tapi tetap akan ada yanh dikirim ke pulau itu. Walau memang terjadi sedikit perubahan.


Kali ini, Bunga akan menjadi umpan. Ia akan berada di Perusahaan V seorang diri, sambil menunggu DJ datang. Semua berpikir dengan adanya Bunga maka pengeboman bisa diminimalisir dan DJ akan mudah tertangkap.

__ADS_1


Ketika beraksi nanti Bunga akan di beri baju anti peluru. Ia juga akan memegang satu buah senjata, pisau kecil, untuk melindungi dirinya nanti. Siapa yang jami kalau DJ itu tidak akan menyakiti Bunga? Tidak ada.


Setelah semua bahasan itu disetujui dan yakin akan berhasil, mereka lalu berpegangan tangan. Mereka percaya pada diri mereka dan rekan-rekan yang bekerja sama. Semua ini akam cepat berakhir. Masalah besar ini akan segera hilang. Walau hasilnya tidak bisa diterawang.


Tak terasa, bangunan tinggi dan mewah yang hendak mereka lindungi itu sudah ada di depan mata. Pak Burhan lalu memarkirkan mobil. Dengan aba-aba dari seorang satpam, beliau berhasil menyimpan mobil dengan pas. Barulah setelah mobil benar-benar berhenti, orang-orang yang ada di dalamnya langsung mempersiapkan diri. Mereka pun membuka pintu mobil dan keluar dari sana.


Tanpa harus banyak komando, kelima orang itu langsung berjajar. Bunga berada di tengah. Di sebelah kirinya ada anak kembar dan di sebelah kanannya tengah berjalan dua orang berwibawa. Mereka memang sungguh menawan.


Kantor direktur bukan tujuan mereka saat ini. Jika mengingat apa yang telah terjadi, direktur tidak akan memarahi kelima orang itu, apalagi Bunga jika memang ingin melakukan suatu hal. Oleh karena itu, tujuan kelima orang ini adalah mic. Ya, mic yang sempat digunakan Bunga dan Dimas ketika mengumumkan kepergian mereka dari perusahaan.


Setelah tempat itu sudah ada di hadapan mata mereka, Pak Burhan langsung menatap Bunga. Ia memberi isyarat kalau Bunga lah yang pantas memberikan informasi itu karena dia yang paling tahu tentang rencana ini.


Tanpa ragu Bunga mulai melangkah. Ia berdiri di hadapan mic dan menatap orang-orang yang tengah berlalu lalang. Sibuk mengerjakan tugas mereka.


Bunga pun mulai menarik nafas panjang. Ia siap memberikan informasi.


"Mohon perhatiannya sebentar -.-,"ujar Bunga halus, tanpa harus berteriak.


Semua orang langsung mendengar kalimat itu. Mereka pun mulai berhenti melakukan aktivitas mereka dan mendekatkan diri pada Bunga.


"Terimakasih ^.^,"ujar Bunga lembut. Ia pun melanjutkan ucapannya.


"Mohon maaf saya telah mengganggu aktivitas kalian. Tapi saya, di sini ingin meminta bantuan dan partisipasinya dalam melakasankan rencana -.-,"


Bunga berhenti sejenak untuk sekadar menatap rekan-rekannya yang tersenyum seolah menyemangati.


Bunga pun melangkahkan kakinya. Ia menghindari mic yang membuat suaranya bergema. Ia takut jika rencana ini akan di dengar sampai keluar perusahaan.


"Di sini, sebagaimana yang kalian ketahui bahwa DJ akan melakukan pengeboman. Berita baiknya kami sudah tahu kapan pengeboman itu akan terjadi. Berita buruknya, pengeboman itu akan terjadi malam ini -.-,"


Seketika ruangan menjadi riuh. Kalimat Bunga yang tidak bertele-tele itu membuat beberapa orang ketakutan. Bagaimana tidak. Perusahaan ini, walau tidak diumumkan bekerja 24 jam, selalu beroperasi. Mereka yang yang memiliki masalah di rumahnya hanya bisa berlindung di sini. Dan berita pengeboman itu? Tidak heran jika mereka langsung panik.


Bunga menatap kerumunan orang yang sudah tidak bisa santai. Kebanyakan dari mereka langsung merencanakan untuk pulang dan meninggalkan perusahaan.


"Bagini -.-,"ujar Bunga berhasil membuat orang-orang terdiam. "Kalian tidak usah khawatir. Tidak akan ada yang jadi korban -.-,"


"Tapi, kalau perusahaan kosong, apa tidak akan terlalu mencolok bagi DJ ~.~?"tanya salah seorang wanita yang kelihatannya paling panik.


Bunga lalu tersenyum.


" Kalian cukup percaya padaku. Aku akan sendiri di sini. Membuat perusahaan ini bising seolah masih waktu kerja ^.^,"


"Tidak bisa ~o~, "teriak beberapa orang. "Kami ikut di sini saja ~o~,"


Kalimat itu berhasil mendapatkan persetujuan dari banyak pihak. Mereka tidal mau kehilangan seorang anak jenius yang sangat berharga.


"Kalau begitu caranya, aku sungguh kecewa -.-,"balas Bunga. "Itu berarti kalian tidak percaya padaku -.-,"


Semuanya kembali terdiam. Mereka pun tak bisa membantah ucapan Bunga.


"Percayakan pada Bunga. Kami akan menjaganya -.-,"ucap Pak Burhan.


Orang-orang yang tadinya protes langsung memandang satu sama lain. Mereka mulai bertukar pikiran. Memang, merelakan anak yang sangat berharga seperti Bunga sebagai korban, begitu berat. Tidak ada yang bisa menggantikan Bunga jika ia gagal dalam misi. Dan tidak ada yang tahu apakah misi itu akan berjalan lancar atau tidak.


Ketika keadaan tengah riuh seperti itu, beberapa mobil berhasil mengeluarkan suara yang cukup menggema. Suara itu mengalihkan pandangan orang-orang. Membuat beberapa dari mereka kebingungan dan sempat keheranan.


"Waktunya sudah datang -.-,"ujar Bunga. Ia lalu berjalan ke belakang mic, mendekatkan bibirnya dan tersenyum. "Hari ini semuanya boleh pulang. Kami akan mempersiapkan semuanya. Dan satu hal lagi, kami mohon pastisipasinya ^.^,"

__ADS_1


Author massage.


Halo semuanya. Terimakasih yang sudah membaca sampai detik ini. Ada kabar kabar nihh. Eps selanjutnya adalah eps terakhir dari penyelesaian kasus. Jadi eps 40 adalah puncaknya. Tapii nanti bakal ada eps tambahan kok. Makadari itu bantu aku dengan like setiap eps dan ajak temanmu agar aku bisa mencapai 2000 popularitas. Lebih juga gak apa apa v:. Oh, ya, jangan lupa tengok ig ku @lulu_rizkisal.ice ditunggu yaa terimakasihh


__ADS_2