Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Sebentar Lagi DJ Akan Kena!


__ADS_3

25 Februari, 07.00 WIB


Hari ini masih cerah. Tidak seperti biasanya keempat detektif itu tidak ada yang terlihat batang hidungnya.


Hari dan Hira masih asyik dengan game mereka karena kali ini Wi-fi dengan bebas dapat digunakan sesuka hati. Dimas, dia nampaknya masih ingin banyak mengobrol dengan ayahnya karena ia baru saja menyuguhnya secangkir teh hangat ke hadapan ayahnya. Sedangkan Bunga, dia hanya bias melamun di sofa yang ada di ruang tengah, menyaksikan kakak, adik, dan ayahnya tengah bercanda.


Ibu Bunga dating menghampiri dengan lima gelas air the hangat. Di suhu yang cukup dingin ini memang enak jika meminum air the hangat. Dengan rasa bahagia mereka lalu mengambil gelas mereka masing-masing dan meneguknya, membuat Bunga sedikit tersenyum.


“Ayo, nak. Ambil tehnya, nanti keburu dingin gak nikmat ^.^,”ujar ibu Bunga.


“Iya, si adek jangan ngelamun terus, ah ^0^,”timpal kakaknya. Ayah dan adik Bunga hanya ikut mengangguk.


Bunga lalu turun dari sofanya. Ia mengambil gelas yang berisi the dari baki. Sebelum meneguknya, ia Nampak menghela nafas panjang. Barulah setelah itu, ia meminumnya dengan tenang.


“Aku merasa senang. Akhirnya bisa meminum teh buatan ibu. Berbeda dengan teh yang disajikan di perusahaan yang hanya dibuat secara instan ToT,”ujar Bunga. Ia lalu meneguk air di dalam gelasnya dengan sekali tegukan membuat kedua saudara dan ayahnya terkejut bukan main.


“Bu, aku mau lagi ^o^!”teriak Bunga. Ibu Bunga pun hanya bisa tersenyum. Keharmonisan yang jarang sekali Bunga alami.


Rumah Bunga, 09.00 WIB


Terdengar handphone Bunga bordering dengan cukup kencang. Ia segera berlari menuju sumber suara. Setelah menemukan handphone nya yang sempat masuk ke dalam sela-sela kasur, Bunga lalu menatap layar handphone. Ada panggilan dari sebuah nomer yang tak dikenal. Sebenarnya Bung a merasa sangat malas untuk mengangkatnya karena mungkin saja itu hanya iseng. Tapi, entah mengapa dirinya seolah-olah harus menggeser gambar hijau.


Bunga lalu menempelkan spiker handphone nya ke dekat telinga. Ia menarik nafas panjang berharap ini bukanlah sebuah kejahilan.


“Halo -.-,”ujar Bunga.


“Halo, nak Bunga, ya?”terdengar sebuah suara menyambut dengan begitu sopannya. Bunga sempat terkejut dan bertanya-tanya, siapa yang menelponnya. Akan tetapi ternyata beliau adalah pemilik toko emas yang pernah didatanginya.


“Kenapa pak 6.6?”Tanya Bunga. Ia mulai merasa khawatir dari nada bicara pria ini.


“Begini nak. DJ ternyata menjual emas-emas yang mahal juga. Bukan masalah itu yang membuat saya tersinggung tapi banyak pembeli saya yang jadi ragu akan produk saya karena DJ bilang kalau barang saya barang bekas dan palsu semua. Oleh karena itu, saya coba cari identitas anak tak tahu diri itu. Saya sudah dapatkan link untuk pesan emas di tokonya dia. Apakah nak detektif bisa membantu saya? Saya merasa tidak tenang kalau berjuaan seperti ini ToT,”ujar pemilik toko perhiasan.


Bunga masih belum menjawab ucapan dari pak pemilik toko perhiasan itu. Ia tengah memikirkan sesuatu, bagaimana sebaiknya kalau mau menangkap DJ secara terang-terangan?


“Kalau begitu, saya minta linknya pak. Mohon dikirim ke saya hari ini juga. Terimakasih infonya, pak ^.^.”


“Iya, saya akan langsung kirim. Mohon bantuannya dan jangan mudah menyerah. Saya yakin orang ini akan ditemukan dengan cepat ^.^,”


Bunga pun menganggukkan kepalanya. Ia lalu menutup telepon dan memasukkanya ke dalam saku celana. Setelah itu ia bersiap untuk melanjutkan pencarian.


Pakaian yang rapi, barang-barang yang lengkap membuat anggota keluarga Bunga curiga. Bunga pasti akan pergi untuk menyelesaikan kasus.


“Mau kemana, Bel 0.0?”Tanya sang ayah. Ia Nampak sangat berharap Bunga akan menjawab, “tidak kemana-mana”.


“Aku ada tugas. Bukan tugas, kewajiban. Aku mau mencari markas pelaku. Aku mohon doanya agar nanti aku mudah dalam mencari pelaku itu ^.^,”timpal Bunga.


Namun, bukannya menyemangati, semua anggota keluarga Bunga hanya terpaku. Mereka membis seolah tak tahu apa yan gharus dilakukan.


“Kamu tidak bisa sehari saja istirahat di rumah T.T?”Tanya ayah Bunga. “Kalau cari uang, biar ayah. Ayah sudah maju dalam bisnis ayah. Kita juga sudah berkecukupan sekarang. Janganlah kamu paksakan diri, nak. Ayah masih sanggup membiayai dan mencari uang lebih Y.Y,”ujar ayahnya Bunga.


Mendengar hal itu, Bunga langsung terperanjat. Ia terkejut karena ayahnya tersinggung dengan ucapannya. Ia lalu tersenyum dan menghampiri keempat orang tercintanya.


“Yah, bu, kak, dek, aku melakukan hal ini karena aku masih seorang detektif. Kasus ini tidak akan selesai kalau aku tidak bertindak cepat. Lagi pula aku tidak bekerja karena uang. Aku tulus bekerja. Aku janji, setelah kasus ini aku akan lebih focus dalam kehidupanku sebagai orang biasa. Aku akan memikirkan kulaihku dan tidak dengan hal lain ^-^,”balas Bunga.

__ADS_1


Kalimat itu merupakan balasan yang sangat berkesan di hati keluarganya, terutama sang ayah. Ia memang masih merasa tak enak, namun mendengar anaknya tulus, sedikit beban dalam punggungnya bisa berkurang.


Kantor Polisi, 09. 45 WIB


Keempat detektif sudah siap berkumpul. Mereka langsung datang ke kantor polisi setelah Bunga menginformasikan mengenai link yang sangat mencurigakan itu. Untunglah respon dari pihak kepolisian sangat cepat. Mereka bersedia membantu dengan meminjamkan handphone yang sering mereka gunakan bersama.


Kali ini Bunga yang memesan. Ia berpura-pura menjadi seorang pembeli yang akan membeli bergram-gram berlian. Masalah uang? Tak masalah. Mereka ini bukan orang bodoh. Mereka sudah merencanakan hal ini matang-matang.


Setelah berhasil mengisi daftar diri dengan semua kepalsuan, keempat detektif itu lalu menuggu konfirmasi lebih lanjut. Mereka memang menyarankan untuk langsung saja bertemu hari ini. Walaupun memang hal itu agak sulit, namun dengan berpura-pura memberika uang lebih, mereka yakin bahwa pelaku itu akan langsung setuju.


Dan benar saja. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, tiba-tiba terdapat balasan dari pihak DJ. Dia menyetujui hal itu.


“Usulkan saja hari ini. Semakin cepat semakin baik -.-,”ujar Dimas. Bunga pun menganggukkan kepalanya. Ia langsung saja mengetikkan usulan tersebut.


Lagi dan lagi respon dari DJ sangat cepat. Mereka segera menyetujui hal tersebut. Rencana pun akan segera terlaksana.


Resto Ooo, 10.15 WIB


Keempat detektif itu tengah berkumpul di bagian belakang resto. Mereka telah bersiap untuk mengikuti orang itu.


Tak lama setelah kedatangan mereka ke resto itu, seorang pria dengan tubuh yang ideal datang. Ia memiliki tato headset di tangan kanannya sehingga memudahkan keempat anak cerdas itu untuk mengetahui kalau mereka salah satu anggota DJ. Selain itu, ia juga membawa sebuah tas yang diyakini berisi berlian.


“Cepat batalin pesenannya >.


Dari kejauhan, terlihat pria itu tengah mengetik di handphone nya. Alisnya sempat mengerut. Ternyata pria itu sempat marah. Ia berkata bahwa dia akan terus menerus meminta uang untuk membayar perhiasan-perhiasan itu. Dengan segera Bunga mengeluarkan jurus rayuannya. Ia merangkai kata sehingga akhirnya pria itu setuju untuk pindah hari.


Keempat detektif itu saling memandang satu sama lain. Mereka tersenyum karena bahagia. Melihat pria itu keluar dari pintu resto membuat mereka semakin bersemangat untuk menjalankan rencana. Namun, tiab-tiba saja pria itu diam di sana. Para detektif sempat heran. Apa yang pria itu hendak lakukan?


KKRIIINGGG!!!


Masih dengan gugup, Bunga langsung mengecilkan volume handphone. Jantung keempat remaja itu berdegup kencang.


“Gawat >.


“Apaan ~O~?”Tanya ketiga temannya.


“Lihat di kaca itu! Pria itu langsung mendekat. Kita kabur >.


Ketiga remaja itu langsung panik. Mereka menatap ke arah kaca yang memantulkan bayangan pria itu. Mereka semakin panic karenanya.


“Kita harus kabur kemana? Di belakang kita gak ada tempat untuk kabur. Tong sampah ini, siapa yang nyimpen di sini coba>.!”ujar Hira.


“Siapa di sana -.-?”ujar pria itu.


Hira lalu menutup mulutnya. Yang lain hanya bisa merapatkan tubuh mereka. Dari kaca, pria itu sangat cepat mendekat. Apa yang harus mereka lakukan?


“Siapa di sana? Keluar ~O~!”teriak pria itu. Ia lalu mempercepat langkahnya menuju belokan itu.


Dan betapa terkejutnya ia karena tidak menemukan siapa pun di sana.


“Aneh >~<,”ujar pria itu. Ia lalu berlari meninggalkan Resto Ooo.


Dari balik karung-karung sampah, muncul empat remaja yang jantungnya masih berdegup kencang.

__ADS_1


“Selamat ToT.”ujar keempat detektif itu. Mereka pun menarik nafas panjang untuk menenangkan jantungnya yang begitu terkejut tadi.


“Pria itu larinya sangat cepat. Apa kita bisa mengejarnya>o” Tanya Hari dengan nafasnya yang terengah-engah walaupun ia tidak banyak bergerak.


Dimas lalu menggelengkan kepalanya sebagai respon dari pertanyaan Hari.


“Kita tidak boleh kalah. Ayo kita bergerak >O


Tanpa perintah, tangan Dimas langsung terulur kea rah Bunga. Setelah Bunga menyambutnya dan menerima bantuan, Dimas lalu menarik tangan anak kembar itu. Mereka pun berdiri bersamaan. Saling memandang satu sama lain. Meneguhkan tekad.


Sudah hampir lima belas menit pria itu berjalan di trotoar, namun ia hanya memainkan handphone nya. Tidak ada gerak-gerik yang aneh darinya. Bahkan ia sama sekali tidak sadar bahwa ia tengah diikuti. Barulah setelah mereka melihat sebuah gang, pria itu masuk ke sana.


Tanpa pemikiran lebih, keempat detektif itu langsung mengikutinya. Pria itu sudah mau masuk ke dalam gang, begitu pun keempat remaja itu. Namun, dengan gerakan yang terlalu cepat, Bunga menahan langkah teman-temannya.


“Itu, kan, gang yang angker itu. Kita yakin mau masuk sana lagi >~”Tanya Bunga khawatir.


Dengan spontan, ketiga temannya langsung menghentikan langkah. Mereka baru sadar kalau prir itu menuju gedung tua.


“Tapi markasnya ada di belakang spanduk. Kalau kita lewat pagar, tidak mungkin karena kayu itu berbahaya kalau kena kulit. Banyak bagiannya yang tajam. Satu-satunya jalan ada melewati gang itu -.-,”balas Dimas.


Hari dan Hira langsung menghela nafas panjang. Mereka begitu terkejut mendengar hal itu. Masuk ke gang gila itu, ayolah! Lelucon apa ini?


Bunga lalu mulai memutar otaknya. Ia mengalihkan pandanganke arah pria itu. Terlihat bahwa pria itu langsung memasuki gang tanpa ragu.


“Pasti dia punya tiketnya -.-,”bisik Bunga. Ia lalu mengajak teman-temannya untuk maju.


Mereka menyembunyikan diri di tembok gedung tua. Untuk membuat mereka lebih aman, Bunga lalu mengambil handphone miliknya dan mengarahkan layarnya ke dalam gang. Bayangan yang tidak begitu jelas pun langsung terlihat.


Pria itu berjalan dengan begitu santai. Ia seperti tidak takut apa pun. Dan tak lama kemudian, beberapa orang yang menyeramkan langsung keluar dari ruko-ruko. Mereka menghampiri pria itu dan menutup cahaya dari depan. Pria itu akan terjebak!


Namun sesuatu yang ganjal terjadi.


Dari saku celananya ia mengeluarkan sebuah senter. Senter itu berbeda dengan senter seperti biasanya. Dia memiliki bayangan headset ketika dinyalakan. Dan setelah melihat cahaya itu, orang-orang yang tadi langsung bercanda gurau dengan pria itu. Mereka menyalakan lampu yang ada di depan toko, membersihkan tubuh mereka, dan mulai bercengkrama. Yang paling mengejutkan adalah, mereka membuka penghalang yang tadi menutup cahaya dari depan.


Keempat detektif yang menyaksikan hal itu langsung bertatapan. Mereka kembali berusaha mengatur detak jantung mereka. Tanpa harus mengeluarkan kata-kata, mereka sudah faham semua keadaan yang terjadi. Ternyata selama ini markas DJ ada di belakang gang. Mereka menakut-nakuti warga agar tidak memasuki gang itu sehingga markas mereka aman. Dan hanya satu jalan agar bisa menembus orang-orang menyeramkan itu. Senter DJ.


Kantor Polisi 11. 23 WIB


Bunga tengah berdiri, menunggu seorang polisi muda memberika barang yang ia inginkan.


“Apa senter ini ^.^?”tanyanya dengan begitu ramah.


Bunga lalu mengangguk. Ia kembali meminta sarung tangan agar bisa menyentuh benda itu dengan leluasa.


“Terimakasih pak ^-^,”ujarnya. Polisi itu lalu mengangguk.


Setelah polisi itu pergi, Bunga langsung mendekati teman-temannya. Ia memberikan beberapa sarung tangan agar sidik jari mereka tidak menempel pada senter ketika menggenggamnya. Lalu ia menyalakan senter untuk memastikan bahwa itu adalah senter yang benar.


Hal yang sudah dapat diduga. Dari senter itu terpancar cahaya. Akan tetapi cahayanya terhalang oleh sebuah stiker yang menempel di senter. Bayangan headset pun Nampak jelas.


Lagi-lagi Hari, Hira, Dimas, dan Bunga saling berpandangan. Mereka bertukar pikiran. Setelah itu, mereka lalu tersenyum dengan bahagia.


“Sepertinya pekerjaan kita akan semakin menarik ^o^.”ujar Bunga.

__ADS_1


Ketiga sahabatnya lalu mengangguk. Sebentar lagi, DJ akan kena!


__ADS_2