Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Penjelasan 2


__ADS_3

"Tapi, kau tahu. Cerita dari Dimas dan Hari bukan begitu -.-,"ujar Pak Burhan. Ia lalu menatap Jutong dengan penuh arti.


"Lalu bagaimana? Masa aku sendiri yang mengalami, berbohong di ruang Interogasi -.-,"balas Jutong.


"Mereka bilang, ada pria yang mengetuk kening Puri hingga ia tertidur. Kalian sempat bertengkar -.-,"


Jutong lalu menganggukkan kepalanya. Ia menyeka air mata yang masih saja belum bisa berhenti bercucuran.


"Siapa bilang Puri tidur? Aku cuma tepuk keningnya agar dia diam, tidak bilang terus kalau dia yang salah. Aku yang salah. Aku yang meninggalkan dia hanya demi prestasi. Aku yang membuat dia harus mencari pria lain untuk menemani hari-harinya. Dan aku yang membuatnya harus memperlihatkan wajah pacarnya sambil menangis dan menyesal. Sisanya, kejadian di dalam kamar itu, aku jujur. Tidak bohong. Ada bagian yang mungkin sempat di scroll oleh Dimas atau Hati, ketika Puri memaksa bangun dan menarik tanganku -.-,"


"Berarti hal itu yang membuatmu melayat Puri sampai ke pemakaman -.-,"terang Bunga pada dirinya sendiri.


Pak Burhan menganggukkan kepalanya. Ia melihat ke arah Bunga untuk meminta persetujuan apakah pria ini berbohong atau tidak. Dan ternyata, tidak ada sedikit pun kebohongan yang ia lontarkan. Hal itu terlihat dari sikapnya yang sungguh natural, tidak ada rasa takut atau lainnya.


Bunga lalu kembali menegakkan tubuhnya, menatap Jutong begitu dalam. Membuatnya menjadi salah tingkah.


"Boleh aku lanjut -.-?" tanya Bunga dengan lembut. Jutong mengangguk kuat. Ia pun menurunkan pandangannya dan mulai menarik nafas untuk mengatur kembali emosinya.


"Lalu, kenapa kamu masih mau lanjutkan Proyek DJ Jaya itu? Padahal Puri sudah meninggal -.-,"ujar Bunga.


"Aku cuma mau membuat rencana yang udah dibuat gak sia-sia. Aku dan dia sama-sama benci Perusahaan V. Dia pernah ditolak mentah-mentah di perusahaan itu. Dan aku, diturunkan jabatannya karena ada Dimas. Makanya aku gak suka dia Dimas dan Perusahaan V -.-,"


"Kalau screenshot percakapan kalian, kamu bilang bakal habisin nyawa Puri. Itu, gimana -.-,"


"Bukan maksud mengelak. Tapi kita memang menggunakan kata-kata itu untuk mengecoh orang. Dia yang bilang ingin berbicara kasar saja. Tapi, ya, aku hanya bisa mengikuti -.-,"


Bunga menepukkan tangannya ke meja. Ia berusaha mengingat hal apa lagi yang perlu ia katakan.


"Oh, iya -.-, "ujar Jutong tiba-tiba." Kamu lihat aku, ya, waktu di gang angker -.-?"


Bunga tersenyum. Ia lalu mengangguk dengan kuat membuat Jutong tertawa kecil.


"Maaf soal tembakan itu. Aku gak habis pikir sama diri aku sendiri -.-,"


"Gak apa-apa. Lagian, udah sembuh juga lukanya -.-," balas Bunga. Ia lalu menggerakkan tangannya dengan lincah. "Oh, iya. Kamu memang mau banget buat Dimas ketuduh, ya -.-?"


Jutong menganggukkan kepalanya.


" Iya, dan aku gak sangka kalian malah meladeninya. Membuat aku sedikit tinggi hati karena nyangka kalau Dimas memang bersalah. Dia bahkan pura-pura menghilang, masang perangkap di markasku. Di pulau kecil. Dan menggagalkan pembelian berlian ilegalku tanpa celah. Kalian memang hebat. Aku akui itu. Terimakasih, sudah menyadarkan aku ^.^,"


Bunga lalu tersenyum. Ia menepuk pundak seniornya itu.


"Kalau ada yang masih mau ditanyakan, tanyakan saja. Jangan ragu, kak ^.^,"


Jutong tersenyum. Ia lalu sedikit mengeluarkan tawa. Entah itu bahagia ataukah kesedihan, tidak ada yang tahu. Namun, ia nampak lebih tenang dari sebelumnya.


Bunga lalu menatap ke arah Pak Burhan. Mereka sedikit berbincang atau bisa dibilang berbisik karena ucapan mereka sulit di dengar. Setelah pembicaraan tersebut selesai, Pak Burhan mengangguk dan membiarkan Bunga berdiri dari tempat duduknya terlebih dahulu. Barulah setelah itu, ia mengikuti langkah Bunga.


"Senang bisa mengenalmu. Aku, mungkin tidak akan tahu betapa indahnya dunia detektif kalau dulu kau tidak ajarkan aku. Terimakasih ^.^,"ujar Bunga.


Jutong mengangguk. Ia mengangkat tangannya yang tengah di borgol hanya sekedar untuk melambaikan tangan. Bunga kembali mengeluarkan air mata. Biar bagaimana pun, ia merasa sakit ketika melihat pria yang dulu sangat dekat dengannya, kini menjadi musuh yang harus ia hukum. Ya, kehidupan dunia memang sulit ditebak.


Bunga dan Pak Burhan lalu keluar dari ruang interogasi, meninggalkan Jutong berpikir seorang diri. Apa yang telah dia lakukan memang patut di sesali.

__ADS_1


Bunga berjalan berdampingan dengan Pak Burhan. Ia sedikit berbincang di tengah langkah kaki yang terus membawanya menjauhi ruang interogasi.


Mereka terlihat asyik dalam perbincangan. Tidak ada yang mau menengahi maupun mengakhiri. Hingga seseorang berhasil membuat mereka harus menarik nafas panjang karena malas. Ada yang berani masuk dalam perbincangan mereka ternyata.


"Anak perempuan yang baru datang ke Perusahaan V sudah bisa mencuri hati semua orang, ya. Tidak ada yang tahu kalau sebenarnya hatinya busuk -.-,"


Bunga yang merasa menjadi sasaran dari ucapan itu langsung membalikkan tubuhnya. Di sana ia dapat melihat Ara tengah duduk manis di hadapan dua orang polisi yang siap menjaganya.


Bunga awalnya enggan untuk meladeni. Namun, wajah Ara yang menyebalkan memang patut diberikan sedikit pelajaran. Anak ini memang tidak ada rasa takut, atau bersalah. Entah hatinya sudah beku atau apa, anak ini sangat keras kepala.


Bunga lalu mendekati Ara yang masih duduk di bawah pengawasan. Nampak dari wajahnya ia sangat kesal dan merasa tidak nyaman. Bunga lalu menatapnya dengan sombong. Orang ini, tidak bisa ditoleransi.


"Memangnya hatiku busuk? Atau kamu yang hatinya busuk -.-?" tanya Bunga.


"Lo, lah. Gak tahu diri. Masukin partner sendiri ke penjara -.-,"


Bunga lalu mengangguk sebagai tanda ejekan.


"Aku hampir lupa. Sepertinya ada yang harus aku urus denganmu -.-," ujar Bunga. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke arah Ara.


Ara langsung memutar bola matanya. Ia mengangkat dagunya sebagai tanda bahwa ia menantang.


"Apa -.-?"


"Aku mau minta alamat uang DJ. Berlian, emas, atau hal lainnya yang kalian sembunyikan -.-,"


Ara lalu menertawakan Bunga. Ia berhasil membuat orang-orang yang ada di sana kebingungan.


Bunga lalu menatap Pak Burhan. Ia seolah meminta pertolongan pada pria itu untuk mencampuri obrolan mereka karena ditakutkan emosi Bunga keluar batas dan membuatnya menimbulkan kerusuhan.


Pak Burhan faham. Ia lalu mengangguk dan melihat ke arah Ara. Seketika tatapan Ara langsung turun.


"Ini adalah perintah dari Jutong langsung. Kalau kau membantah, hukumanmu akan ditambah dan Jutong akan aku beritahu. Dia akan membencimu karena kamu tidak memberitahukan di mana harta kalian di simpan -.-," ujar Pak Burhan dengan tegas. Di saat seperti ini, beliau sangat menakutkan untuk ditatap.


Ara yang mulai merasa takut ketika melihat Pak Burhan bertindak, langsung menundukkan kepalanya. Ia membuang nafas kesal.


Di benci oleh Jutong adalah suatu hal yang sangat tidak ia suka di dunia. Semua tahu, ia mencintai pria itu. Apa pun yang Jutong mau pasti akan ia laksanakan. Lebih gilanya lagi, ia juga suka Dimas. Bahkan mencintainya. Ia menginginkan kedua pria itu menjadi miliknya, entah mengapa.


"OKE ~o~!" teriak Ara. "Akan aku beritahu. Asalkan jangan buat Jutong membenciku! Sudahlah Dimas meninggalkanku karena bocah ingusan Si Bunga itu! Jangan buat aku dibenci orang ini juga -.-."Ujarnya.


Pak Burhan lalu tersenyum. Ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Bunga. Di sana tawa bunga pecah. Ia sudah tidak bisa menahan tawa lagi.


Ara kembali memutar matanya. Ia pun mengambil sebuah kertas dibalik saku celananya. Setelah itu ia menyodorkan kertas yang ada di genggamannya dengan kasar ke hadapan Pak Burhan. Akan tetapi bukan beliau yang menerimanya. Namun Bunga yang langsung mengambil kertas itu dengan kasar.


"Terima kasih, anak direktur -.-," ujar bunga sambil menatap Ara dengan sinis.


Bunga pun melambaikan tangan ke arah Ara. Mereka pergi meninggalkannya dengan dua pengawal yang sejak tadi berada belakangnya.


Mereka kini akan berjalan keluar dari kantor polisi. Di perjalanan menuju pintu, bukan hanya berbincang saja, mereka pun mulai membuka kertas yang diberikan oleh Ara. Kata-kata yang ada di sana mereka teliti. Memang mereka tidak langsung memberitahukan alamatnya. Namun teka-teki yang ada di kertas itu tidak terlalu sulit untuk dipecahkan.


sakram


Itu yang tertera di kertas.

__ADS_1


Sangat mudah untuk memecahkannya. Karena jika dibalik maka kata tersebut akan menjadi markas dan dari sana mereka sudah tahu bahwa harta yang belum sempat digunakan untuk proyek DJ Jaya pasti berada di sana.


Bunga dan Pak Burhan sekarang tengah berada di luar kantor polisi. Mereka menyilangkan tangan mereka menunggu tiga orang pria yang sangat terlambat hari ini. Siapa lagi kalau bukan Dimas, Hari, dan Hira .


Barulah setelah kurang lebih lima belas menit berlalu, tiga orang pria tengah turun dari sebuah mobil. Bukan mobil mewah, bukan. Apalagi mobil Limousine. Namun, mobil yang biasa ditumpangi sebagai angkutan umum. Ya, angkot.


Mereka nampak tergesa-gesa ketika membayar ongkos. Setelah itu mereka membalikkan tubuh mereka, berlari sambil sedikit mengoceh dan mulai menghentikan langkah mereka ketika sadar Bunga dan Pak Burhan ternyata menunggu di sana.


"Bukan aku yang menghambat, tapi kedua anak ini -0-,"ujar Dimas sambil berdiri tegak dengan penuh keringat seolah ia tidak ingin disalahkan.


"Eh, Kok begitu -.-," ujar Hari dan Hira. "Bukannya kau yang tadi lama hanya untuk mencari celana ini?"


Dimas mengibaskan kedua tangannya lalu menggeleng ke arah Bunga. Ia melakukan hal itu untuk memastikan Bunga tidak percaya pada perkataan kedua anak itu.


Akan tetapi, bukan hanya menatap Dimas dengan tatapan sayu, Bunga bahkan menghembuskan nafasnya dengan cukup kencang.


Sebenarnya Bunga atau Pak Burhan tidak terlalu mementingkan hal itu sekarang. Yang penting adalah markas itu sekarang.


Setelah itu Bunga langsung memamerkan kertas yang ia terima dari Ara sebelumnya. Tanpa ragu, Hari, Hira, dan Dimas langsung melihat ke arah kertas tersebut. Mereka membaca kalimat yang tertera di sana. SAKRAM DJ


MARKAS DJ, 09.00 WIB


Sekarang mereka tengah berada di markas DJ. Tentunya dengan melewati Gang angker. Ternyata setelah kejadian DJ selesai, Gang itu tidak menakutkan sama sekali. Malah sekarang beberapa cahaya mulai menyinari Gang kecil itu.


Beberapa anggota kepolisian tengah mencari berlian yang mungkin saja disembunyikan di suatu tempat di markas itu. Markas yang kini porak-poranda, tidak teratur, dan penuh dengan kotoran.


Dimas dan Bunga tidak banyak bergerak. Namun, mereka banyak berpikir. Mereka memikirkan tempat yang mungkin saja dijadikan sebagai persembunyian berlian atau harta yang lainnya.


Sudah banyak keramik yang dibuka, sudah banyak tembok yang di palu, namun tidak ditemukan harta sedikit pun. Mereka pun mulai menggaruk kepala mereka, bertanya-tanya di mana sebenarnya harta itu disimpan.


Tiba-tiba saja Hari dan Hira berteriak dengan kencang. Mereka memanggil Bunga dan Dimas untuk segera menghampiri mereka. Dan seolah itu merupakan perintah, Bunga dan Dimas langsung mendekati kedua anak itu.


Hari dan Hira menunjuk ke arah tembok yang sudah runtuh karena dipalu. Di sana mereka terus menunjuk-nunjuk sebuah bulatan yang berkilau. Bunga dan Dimas terkejut. Mereka lalu menepuk pundak Hari dan Hira bersamaan.


"Good boys ^.^!"ujar mereka bersamaan


Dimas dan Bunga lalu mengorek-ngorek tembok tersebut hingga nampak sebuah tombol terbuka di sana. Mereka lalu menekannya dan sebuah suara terdengar begitu jelas dari arah belakang. Dengan segera Bunga dan Dimas berlari ke arah sana memastikan apa yang baru saja mengejutkan mereka.


Tepat di samping sebuah pintu nampak speaker yang masih utuh. Bunga dan Dimas lalu memperhatikannya, melihat kemana kabel speaker itu mengarah. Ternyata bulatan hitam yang tadi adalah sebuah bel dan kabel itu pasti menunjukkan suatu tempat yang mungkin sengaja disembunyikan.


Oleh karenanya, keempat detektif muda itu langsung mengikuti arah kabel yang tersambung ke speaker. Ketika mereka terus mengikuti kabel tersebut, mereka dapat melihat dinding yang belum sempat di palu. Dinding tersebut sama dengan dinding lainnya. Namun, nampak retak di beberapa bagian.


Karena retak itu tidak seperti biasanya, Bunga dan Dimas lalu memukul tembok tersebut bersamaan. Dan benar saja. Ternyata itu bukan hanya sekedar tembok. Itu adalah sebuah pintu yang menghubungkan antara markas DJ dengan sebuah ruangan di mana di sana banyak sekali berlian, emas, dan uang bertumpuk.


Bunga dan Dimas lalu saling bertatapan. Mereka tersenyum, memandang Hari dan Hira, lalu mengacak rambut mereka.


Uang dan berlian-berlian tersebut diambil oleh kepolisian, dijadikan sebagai barang bukti. Mereka menyimpannya dengan rapi dan mungkin akan melakukan suatu hal pada benda-benda berharga tersebut.


"Aku sangat bahagia bisa menyelesaikan kasus ini dengan waktu yang tidak terlalu lama -.-," ujar Bunga.


Dimas mengangguk. Ia lalu mencubit pipi Bunga.


"Kamu memang wanita yang tangguh ^.^,"ujarnya membuat pipi Bunga memerah.

__ADS_1


__ADS_2