
23.00 WIB, Pelabuhan.
Di mana Dimas Mulai Melaksanakan Tugasnya.
Dimas memberi komando pada Tim Gama yang beranggotakan lima orang polisi senior saat mereka telah menginjakkan kaki di sana. Dimas memang bukan kaptennya. Namun, ia yang mengetahui segala rencananya dan dia yang memang memiliki peranan penting dalam rencana ini.
Dimas mulai menutupi wajahnya dengan masker hitam. Ia mengangkat jempolnya pada Tim Gama sebagai tanda bahwa ia siap. Ia lalu berjalan menuju kumpulan kapal berada. Ia mulai menarik nafasnya.
"Ah, heran -.-,"bisiknya
23.04 WIB, Pelabuhan.
Baru saja empat menit berlalu, kapal yang membawa ton-an berlian dan beberapa hasil tambang lain yang ilegal, sudah tiba. Inilah rencana DJ yang sebenarnya.
Dimas mulai mengangkat bahunya. Ia lalu berjalan dengan santai menuju kapal kecil itu.
Terlihat tiga orang dengan kaca mata hitam, headset, dan celana pendek tengah turun dari kapal. Mereka lalu memasang tali pada kapal agar tidak terbawa air nantinya. Mungkin, mereka berpikir kalau para detektif akan terkecoh sehingga ketika memindahkan barang-barang ilegal itu, mereka terlihat begitu santai.
Dimas masih belum beraksi. Ia menunggu semua barang itu berhasil dipindahkan.
Barulah setelah kapal sederhana itu kosong, Dimas mulai mendekatkan diri. Ia berjalan dengan santai menghampiri ketiga orang itu.
"Woy, mau apa dia ke sini? Apa dia utusan DJ -.-?"bisik salah satu dari mereka.
Yang lainnya menggeleng sambil mengangkat bahu.
"Diamkan saja. Mungkin dia mabuk -.-,"balas yang lain.
Dimas lalu tertawa kecil ketika mendengar bisikan itu. Bisikan yang seharusnya tidak bisa didengar orang lain.
Dengan langkah pasti, Dimas mulai berlari. Ia lalu memukul punduk ketiga orang itu dengan sekali loncatan. Tentu saja, mereka langsung kesakitan.
BUKK!!!
Dimas lalu menendang bagian belakang lutut mereka sehingga kecil kemungkinan mereka akan bergerak. Tanpa banyak bicara, Dimas lalu merogoh handphone salah satu anggota DJ itu. Ia kemudian mencari nama DJ dan segera menghubunginya.
Setelah selesai mengucapkan balasan, Dimas lalu memberi isyarat pada Tim Gama. Mereka lalu mulai mengambil alih ke tiga penjahat itu dan membiarkan Dimas kembali pada orang yang ia cintai.
***
Entah pukul berapa sekarang, namun hati Dimas sangat bahagia. Akhirnya, rencana yang ia, Bunga, Hari, Hira, dan Pak Burhan buat dapat berjalan selancar ini. Namun, bukan itu saja. Dimas merasa sangat bahagia juga karena ia akan bertemu dengan Bunga. Sudah berapa lama ia tidak bisa bebas mengobrol dengan Bunga. Dan kali ini adalah waktunya.
Dimas tengah menaiki motor. Ia melaju dengan sangat cepat di jalanan yang sepi. Keberaniannya tinggi, memang. Di hawa yang dingin, gelap gulita, dan jalan yang menakutkan, ia berani menjalankan motor dengan kecepatan tak wajar.
Sejak dia menyelesaikan tugasnya dan meninggalkan pelabuhan, ia tidak berhenti tersenyum. Kaca helmnya tak bisa menutupi senyuman yang ia tunjukkan.
"Aku berhasil ^-^, "bisiknya dalam hati.
Ketika tengah memutar gas dengan penuh kekuatan, lampu lalu lintas tiba-tiba saja berubah warna. Untunglah dari kejauhan Dimas bisa melihatnya sehingga ia mulai memperlambat laju motor.
Motornya berhenti tepat di sebuah garis putih. Beberapa motor ikut berhenti bersama Dimas. Di saat itu, bahkan ia tidak berhenti tersenyum. Memang benar, cinta itu membuat mabuk.
Ketika lampu masih berwarna merah, handphone Dimas berdering. Dengan segera, ia merogoh saku jaketnya dan mengambil benda balok dari sana. Saat layar handphone sudah berada di depan matanya, Dimas bisa melihat nama Pak Burhan ada di sana. Sadar jika yang menghubunginya adalah orang yang tengah bersama Bunga, Dimas lalu mengangkatnya. Ia menyelipkan handphone miliknya di antara helm dan telinga kanan.
"Halo, pak ^0^!"Ujarnya kegirangan. "Tugasku sudah selesai ^.^!"
"Syukurlah," balas Pak Burhan.
Dimas pun tersenyum.
"Bunga mana, pak? Aku mau ngobrol sama dia ^.^,"
Namun, untuk beberapa saat kalimat itu tidak dijawab. Senyuman Dimas langsung pudar. Ia mulai merasakan sesuatu yang aneh tengah terjadi.
"Pak, Bunga mana -.-?"ujarnya mengulang pertanyaan.
Pak Burhan masih belum membalas. Hanya terdengar suara tarikan nafas yang seolah-oleh tengah putus asa.
"Nak,"balas Pak Burhan. Dimas lalu mulai melihat lampu berubah menjadi kuning. Ia pun menyalakan motornya, bersiap untuk melaju. "Bunga tidak selamat,"
Mendengar kalimat itu membuat Dimas terpaku. Tubuhnya kaku sehingga tidak bisa digerakkan. Jantungnya langsung memompa darah dengan begitu cepat. Telinganya seolah tidak bisa mendengar apa pun. Bahkan, ketika lampu mulai hijau dan kendaraan di belakangnya menyalakan klakson, ia hanya mengacuhkannya.
Belasan kendaraan melaju, melewati Dimas sambil sedikit mengeluarkan protes. Namun Dimas masih terdiam. Ia tidak sanggup bergerak karena sangat terkejut.
__ADS_1
"Bunga, pergi meninggalkanku 0_0?"bisiknya lemah.
Perusahaan V
Terdengar suara motor menggerung dengan begitu kencang. Beberapa orang yang masih berada di sana langsung melihat ke arah sumber suara. Berhubung keadaannya masih sepi, suara motor itu jadi terdengar sangat jelas.
Dua pemadam kebakaran itu baru saja berhenti memadamkan api. Ya, api sempat kembali membesar ketika mereka hendak menurunkan selang sehingga butuh waktu lama untuk kembali meredamkannya.
Motor yang datang dari kejauhan itu langsung berhenti. Sang pengendara merem bannya dengan sekaligus sehingga tergambar bekas ban di aspal. Tanpa ragu ia lalu membuka standar motor dan membuka helmnya. Ya, ia Dimas, yang tengah tergesa-gesa karena kabar buruk dari Pak Burhan.
Dimas mulai turun dari motornya. Ia lalu menghampiri Pak Burhan yang belum menyadari kehadirannya.
"Pak ~o~! "teriaknya dari kejauhan.
Pak Burhan lalu membalikkan kepalanya. Ia akhirnya bisa bernafas lega setelah melihat salah satu rekan kesayangannya benar-benar selamat.
"Bunga di mana, pak ~o~?" teriak Dimas. Mata Pak Burhan lalu kembali berkaca-kaca.
"Di sana, di dalam luapan asap itu. Kami belum menemukan Bunga yang masih hidup, ataupun yang sudah meninggal. Tapi, tim kami sudah menemukan beberapa helai baju T_T, "balas Pak Burhan.
" Enggak, pak. Kalau terjadi kebakaran, pasti mayatnya gosong! Tidak sampai menghilang ~o~, "
Pak Burhan lalu mengangkat kedua bahunya.
"Ini bukan kebakaran, nak. Ara sudah memasang bom di dalam. Dan mungkin meledak bersama Bunga -.-,"
Dimas lalu tertawa. Ia bukan senang namun berusaha meledek.
"Bapake memang ada buktinya -.-?"tanya Dimas. Ia seperti tengah kehilangan akal karena tidak terima akan kepergian Bunga.
Pak Burhan lalu memegang bahu anak itu. Ia berusaha menenangkannya.
"Salah satu rekan saya, menemukam gumpalan daging gosong di sudut ruangan. Sisanya, kami belum cek karena asap terlalu tebal -.-,"ujar beliau. "Apa pun hasilnya, kita harus terima -.-,"
Dimas lalu menutup matanya. Ia tetap berdiri tegar sambil melihat pemandangan yang sangat menyedihkan itu. Di balik kelopak matanya, air sudah berusaha mendobrak untuk keluar. Dan tanpa butuh waktu lama, ia sudah mengeluarkan tetesan air mata.
Tubuh Dimas merasa lemas. Ia lalu menjatuhkan dirinya ke tanah sehingga bajunya yang sudah lusuh karena pertengkaran tadi, semakin lusuh. Apalagi di bagian lutut yang tengah menopang tubuhnya saat ini. Ia nampak sudah sangat putus asa.
Keheningan malam menyerbu dua orang pria yang tengah bersedih itu. Mereka benar-benar merasa tidak bisa melakukan apa pun saat ini. Hanya menarik dan mengeluarkan nafas saja, sudah membuat mereka sesak.
Pak Burhan yang tengah melamun langsung sadar. Ia memandang anak itu dengan sangat pasti.
"Apa yang baru saja kamu bilang, nak T-T?" tanyanya masih belum bisa mendengar dengan jelas ucapan Dimas.
Dimas lalu mengangkat tubuhnya. Ia menghadap pada Pak Burhan dengan senyuman kecil.
"Rela berkorban demi satu orang adalah cinta yang sebenarnya. Dan aku akan masuk ke sana, mencari orang yang aku cintai itu ^-^," balas Dimas sambil menunjuk lantai satu Perusahaan V yang masih ditutupi asap hitam.
Pak Burhan terkejut. Beliau lalu menepuk bahu Dimas dengan tegas.
"Jangan nekat. Tadi saja, ketika kami kira kalau apinya sudah mati, ternyata masih bisa menyala lagi. Jangan macem-macem sama hidup kamu -.-,"
Dimas lalu tersenyum kembali. Ia mengambil tangan Pak Burhan dan menurunkannya dengan hati-hati.
"Hidup ini perlu cinta. Dan cinta harus ada dalam hidup. Jika hanya mendapat sedikit cinta saja, itu tidak akan cukup. Dan hanya dia yang bisa melengkapinya hingga sempurna bagiku ^.^,"
Dimas lalu mencium punggung tangan Pak Burhan. Setelah itu ia berlari dengan sangat cepat menuju lantai satu Perusahaan V.
"Dimas ~0~!"teriak Pak Burhan. Namun, Dimas sama sekali tidak mendengarkan seruan itu. "Jangan jadi alay! Kata-kata kamu itu gak memotivasi saya! Kembali woy ~0~!"
Namun, sudah terlanjur. Dimas sudah masuk ke dalam ruangan itu. Tanpa pengaman. Tanpa perlindungan. Tanpa persiapan. Dan tanpa rasa takut.
Lantai 1 Perusahaan V.
Di sini, tidak terlihat apa pun. Hanya ada asap hitam yang mengelilingi tempat ini. Selain itu, beberapa barang yang masih panas saja yang nampak jelas.
Dimas lalu merobek sebagian bajunya yang cukup panjang. Ia lalu menutupi mulutnya dengan kain itu. Setelah itu, ia mulai menghemat pengeluaran karbon dioksida.
"Bunga ~0~!"teriaknya di dalam ruangan berasap itu. "Aku sudah selesaikan misi! Ayo, kita pulang ~0~!"
Namun, tidak ada jawaban akan teriakannya itu.
Dimas lalu mengeluh. Ia tahu, tim yang dikomandoi oleh Pak Burhan tidak akan pernah bekerja dengan asal-asalan. Mereka pasti telah memeriksa seluruh ruangan dan hanya gumpalan daging yang ditemukan.
__ADS_1
Dimas lalu putus asa ketika mengingat hal itu. Ia lalu mulai membalikkan tubuhnya.
TAPI TUNGGU!
Ada satu ruangan yang tidak bisa dibuka ataupun mudah ditemukan oleh siapa pun. Dan Dimas langsung berlari ke sana. Tempat yang cukup beresiko untuk didatangi. Tempat yang pasti tertutup oleh asap lebih tebal dari lantai 1. Dan tempat di mana Bunga pasti berada.
Di mana lagi kalau bukan di kamar Bunga?
Kamar Bunga.
Dimas sudah sampai di sana. Ia terpaksa menaiki tangga karena lift pasti tidak akan bisa digunakan. Dan kali ini, Dimas sudah mulai kekurangan oksigen. Ia terbatuk. Bahkan matanya mulai memerah karena merasa perih.
Sebuah pintu yang sering ia kunjungi tengah berada di hadapannya kali ini. Tanpa ragu, ia lalu mendobrak pintu itu. Karena tenaganya cukup kuat, pintu itu sudah bisa terbuka.
Ketika berada di dalam ruangan yang masih steril itu, Dimas langsung menutup pintu kembali dengan rapat. Ia tidak mau tempat tidur ini juga terkontaminasi asap.
TAP!
Baru saja Dimas membuka kain di mulutnya dan menghela nafas, ia harus dikejutkan dengan sesuatu yang menyentuh bahunya. Dimas segera membalikkan tubuhnya. Dengan refleks, Dimas langsung mengambil tangan yang baru saja menyentuh pundaknya dengan kasar.
Dimas melihat siapa yang berhasil membuatnya terkejut. Namun, ternyata bukanlah sesuatu yang menyeramkan. Malah, Dimas langsung menarik tangan itu dan memeluk pemiliknya.
"Dimas 0.0?"ujar Bunga yang kali ini berada dalam pelukan Dimas.
"Kamu kenapa buat aku khawatir, sih? Kan, aku udah bilang, jaga diri baik-baik. Semua orang nyangka kamu udah meninggal tahu gak? Kamu juga buat aku dimarahin orang-orang waktu di lampu merah. Kamu ini kenapa sih ToT? "
Bunga lalu tersenyum kecil. Ia lalu membalas pelukan Dimas.
"Kamu anak cowok tapi cerewet banget sih? Lagian, aku itu kan jago lari, jago loncat. Apalagi ada bantuan dari bom itu yang berhasil buat aku mental ^.^,"
"Terus daging itu apaan ToT?"
"Daging 0_0? "
" Iya. Pak Burhan katanya nemu daging. Makanya dikira kamu udah meledak aja ToT,, "
" Oh, hahaha. Itu gumpalan daging, kan? Iya, ada yang nyembunyiin daging di wajan besi. Karena aku harus pakai wajannya, aku jadi buang dagingnya sembarangan. Lagian kamu kok gak hubungi aku terus? Kan aku juga jadi khawatir -.-,"
Dimas lalu tersenyum di balik punggung Bunga. Ia mengelus rambut Bunga dengan perasaan lega.
"Syukurlah ^-^, "ujar Dimas.
Bunga hanya bisa memutar bola matanya.
" Pertanyaan aku gak di jawab. Dan lagi, baju kamu kotor -_-,"
Dimas tertawa kecil.
"Heh, kamu harus bisa menerima hal itu, wahai putri. Aku juga gak protes walau baju kamu basah ^-^, "
Bunga lalu melotot. Ia melepaskan pelukannya dengan cukup kuat.
"Kamu gak tahu, kan? Aku ini baru aja disiram sama damkar! Mereka memang gesit, tapi terlalu gesit. Belum aja aku sempet masuk ke kamar, mereka udah siram gedung gitu aja -_-,"
Dimas kembali tersenyum. Ia lalu mulai membuka jaketnya yang kotor. Setelah itu, ia mengenakan jaket itu pada Bunga.
"Pakai, jangan sampai kedinginan. Nanti kamu sakit ^_^, "
Pipi Bunga pun mulai memerah.
Di Luar Perusahaan V.
Pak Burhan yang sudah mendengar penjelasan dari Bunga langsung memeluk anak itu. Ia lalu mengucap syukur terus menerus.
" Lalu, Dika Jutong gimana ^.^?"tanya Bunga begitu saja.
Pak Burhan lalu melepas pelukannya.
"Nanti siang, kita tengok di sel ^_^, "ujarnya.
****Author Massage.
Hai, maaf aku sering muncul haha. Oh, ya. Ini adalah eps terakhir. Tapi aku tahu mungkin dari kalian ada yang kurang faham sehingga eps selanjutnya akan aku buatkan eps spesial PENJELASAN. Di mana semua kejadian yang bikin kalian bingung akan aku bahas dengan baik.
__ADS_1
Makanya ayo! Komen tentang part yang buat kalian bingung. Ditunggu yaaa
Next up : 16 March 2020***