Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
End part 2. Bye..


__ADS_3

Setelah kejadian bersejarah itu terjadi, banyak sekali perubahan yang terasa di kehidupan Bunga dan para detektif.


Perusahaan V berjalan dengan lancar. Bahkan lebih maju dari sebelumnya. Biasanya para pekerja hanya digaji untuk mengumpulkan masalah, namun kali ini tidak. Mereka juga bekerja sebagai guru di mana sekarang Perusahaan V membuka sekolah khusus detektif dan juga ada bimbingan belajar. Jika dilihat dari bidang keuangan, hal itu menguntungkan sekali.


Masalah selesai, kasus memberikan penghasilan, begitu pula sekolah dan bimbel.


Di samping itu, Proyek DJ Jaya juga sangat memberikan keuntungan. Bangunan itu kini digunakan oleh para detektif yang dulunya bekerja tanpa perintah. Mereka kini bisa menjadi detektif yang terkenal seperti idola mereka dengan masuk ke Perusahaan W, bekas Proyek DJ Jaya.


Tidak ada yang tahu bahwa keadaan akan menjadi sebaik ini.


Beberapa bulan kemudian…


Bunga berlari kea rah mobil di mana keluarganya ada di sana. Rok yang ia gunakan begitu terlihat mengganggunya sejak tadi. Apalagi gaya rambutnya yang harus disanggul sedemikian rupa. Penampilannya kali ini sangat mengubahnya, namun merepotkannya juga.


“Buruan! Yang mau wisudanya elu tapi yang telatnya juga elu -.-,” ujar kakak Bunga.


Bunga pun sudah bisa mencapai dudukan mobil. Ia menghela nafas ketika menutup pintu mobil dan bersandar di bangku.


“Ya, maaf. Aku capek. Kemarin harus ngurusin berkas-berkas. Tapi untung deh sekarang beres -.-.” balas Bunga.


Kakak Bunga tersenyum. Ia lalu mengusapkan brush ke pipi Bunga.


“Iya, kamu hebat. Semoga lancer usahanya ^-^,”


Bunga pun tersenyum.


Hari ini adalah hari di mana Bunga akan diwisuda, lulus dari sekolahnya. Ia terlihat begitu cantik dengan kebaya yang ia kenakan. Wajahnya yang dipoles sedikit langsung membuatnya terlihat seperti seorang putri.


Di tengah perjalanan, mereka banyak berbincang. Ibu, ayah, adik, dan kakak Bunga sangat banyak bertanya karena sudah lama tidak berbincang santai dengan anak perempuan yang satu ini. Dan mungkin, mulai sekarang Bunga tidak akan begitu sibuk seperti sebelumnya.


Karena sang pengemudi adalah ayah Bunga, maka mereka tidak perlu membuang banyak waktu untuk sampai di gedung yang kini tengah dipadati orang. Beliau cukup mahir dalam berkendara di jalan raya sehingga perjalanan terasa sangat singkat.


Bunga lalu turun terlebih dahulu dari mobil. Ia nampak mencium punggung tangan orang tua dan kakaknya itu sebelum berlari. Tak lupa, ia mengusap puncak kepala sang adik. Ia mulai mengangkat roknya dan berlari ke dalam gedung. Ya, dia sudah sangat terlambat.


Banyak sekali orang tua murid yang datang. Dan kebanyakan dari mereka menatap Bunga dengan. Ya, karena hanya dia yang kurang bersemangat pada acara ini, acara di mana angkatannya-lah yang menjadi pemeran utama. Harusnya dia tidak telat.


Bunga mulai memasuki gedung. Ia berhenti sejenak di depan pintu yang menjulang tinggi untuk mencari teman-temannya. Ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. HAP! Mereka berada di dekat panggung, tengah berdiri dan juga melirik.


Dengan sekuat tenaga, Bunga menghampiri mereka. Dan karena langkahnya cukup besar, Bunga bisa mencapai kerumunan itu kurang dari satu menit. Selain itu, memang keberadaan mereka tidak terlalu jauh dari tempat Bunga berdiri tadi.


Ketika sampai, ratusan mata memandang Bunga dengan tajam. Mereka sebenarnya sudah tahu bahwa seorang Bella biasa terlambat. Hanya masuk kelas dan upacara saja yang bisa ia tepati waktunya. Dan kali ini, mereka sepertinya mulai muak dengan kelakuan Bunga sehingga hanya bisa menatap dengan begitu tajam.


Dari balik tubuhnya, datang seorang guru laki-laki menghampiri. Wibawanya tak kalah besar dengan Pak Burhan. Dan ia satu-satunya orang yang menatap Bunga dengan senyuman. Untunglah, masih ada harapan untuk Bunga.


Namun, peletak!


Lengan Bunga terkena sedikit sentilan. Walaupun sebenarnya tidak sakit, namun hati tidak bisa menerima hal itu. Dan rasa malunya juga. Hampir semua oarng yang ada di sana langsung tertawa melihat Bunga.


“Maaf, pak >.<,”balas Bunga.


“Maaf, maaf. Kebiasaan kamu. Untung aja kita nunggu. Kalau enggak, udah aku malu kamu naik panggung sendirian -.-,”balas Pak Guru.


Bunga hanya bisa menundukkan kepalanya.


“Maaf, semuanya -.-,” ujarnya.


Yang lain masih belum ada yang tersenyum. Namun, acara harus tetap berlangsung dan mereka harus tetap naik panggung.


Setelah selesai Acara Wisuda

__ADS_1


Bunga berjalan seorang diri, menggunakan waktu luang untuk bertemu keluarganya. Sampai saat ini masih belum ada yang tersenyum padanya. Bahkan, ketika ia dipanggil ke depan untuk mengambil penghargaan karena masuk tiga besar di sekolahnya, masih belum ada yang tersenyum. Padahal, Dimas yang merupakan pemegang peringkat satu dan Iyus yang mendapat peringkat ketiga pun tidak menampakkan senyuman saat mereka bersalaman. Apakah dia seburuk itu?


“Bel -.-,” terdengar seseorang memanggil Bunga.


Karena ia sangat mengharapkan panggilan itu sejak tadi, Bunga langsungmembalikkan tubuhnya. Ia melebarkan mulutnya dan menampakkan wajah yang ramah. Sungguh cantik.


Di hadapannya nampak Selena tengah melotot. Dengan melihat sekilas saja sudah membuat hati Bunga ciut. Ia lalu menghapus senyumannya dan menunggu Selena berjalan ke hadapannya.


“Kenapa -.-?”tanya Bunga dengan lemas.


Tanpa disangka, Selena lalu memberikan senyuman padanya. Senyuman itu, tulus. Bunga dapat merasakannya. Dan karenanya Bunga merasa begitu senang sehingga ia langsung membalas senyuman itu.


“Maaf, dari tadi kita gak ada yang nyapa kamu, ya ^-^?”tanya Selena.


Bunga mengangguk dengan kuat.


“Iya. Apa keterlambatan aku begitu membuat kalian marah -.-?”


“Enggak, lah. Sama sekali enggak. Sebenarnya Pak Guru Cuma mau jahilin kamu, tahu gak. Kamu itu gak telat sama sekali. Kita malah punya waktu lama. Kamu tahu, kan, waktu di panggung kita berdiri agak lama? Itu karena kita masih punya banyak waktu ^.^,”balas Selena berhasil mengejutkan Bunga.


“Jadi, aku dijahilin sama satu angkatan -.-?”


Selena tertawa kecil. Ia lalu mengangguk.


“Sebenarnya, bukan Cuma itu -.-,” Selena lalu menghentikan ucapannya untuk sementara waktu. Ia menatap kea rah Bunga dan memberikan senyuman. “Kamu cantik banget. Beda sama Bella tukang ngegass yang dulu. Kenapa dari tadi kita diem, karena kita masih cari di mana sisi Bella si tukang ngegass itu. Gak ada sama sekali, lho,. Kamu kelihatan cantik dan anggun. Bahkan, aku sampai gak nyangka ^.^,”


Bunga lalu tertawa kecil. Ia sudah salah sangka ternyata. Untung saja ada Selena yang memberi tahu. Kalau tidak, ia mungkin akan terus salah sangka. Bunga lalu berpikir, pantes aja tadi Diams mukanya merah banget.


“Dan -.-,” lanjut Selena membuat Bunga seketika menghentikan tawanya. Selena lalu menggenggam kedua tangan Bunga dan matanya berkaca-kaca. “Sebenarnya kita mau kasih kejutan buat kamu. Sebenarnya aku, gak boleh bocorin ini ke kamu gitu aja. Tapi, aku udah gak tahan dan aku mau bilang, makasih ^.^,”


Bunga mengangkat sebelah alisnya. Ia lalu mulai mengeluarkan banyak pertanyaan di dalam pikirannya.


“Makasih buat apa ^.^,”


“Kamu, ini maksudnya gimana sih -.-?”


“Jadi, kita semua udah tahu kalau kamu Bunga Aditya. Dan pikiranku benar kalau Dimas itu asisten Bunga. Aku mau minta maaf karena aku suka sok di hadapan kamu. Padahal sebenarnya, kamu lah idola aku. Aku sangat bangga sama kamu, sumpah ^.^,”


Bunga lalu terbelalak. Ia terkejut dengan ucapan Selena barusan.


“Dari mana kalian tahu 0.0?


“Walikota. Dia keceplosan waktu pidato di Balai Kota minggu lalu. Semenjak itu, aku terus bahagia karena ternyata rasa bangga aku pada Bunga sebenarnya sudah tersampaikan sejak lama. Lewat Bella yang menyamar ^.^,”


“Tapi, ada satu hal lagi yang aku herankan. Kamu jenius dalam bidang detektif 0.0?”


Selena lalu mengangguk dan sedikit mengeluarkan tawa.


“Aku dulu suka bareng sama si kembar. Aku salah satu detektif yang bekerja tanpa perintah. Dan sekarang, aku bisa menjadi detektif sungguhan, Bel. Perusahaan W, mereka memberiku undangan untuk masuk ke sana. Dan aku tahu, semuanya gak akan terjadi kalau tanpa rencana hebat kamu ^.^,”


Bunga lalu tersenyum bahagia. Ia tanpa sadar memeluk Selena yang dulu sangat tidak ia sukai. Ternyata anak ini sangat hebat di balik layar.


PROK PROK PROK!!!!


Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan riuh. Hal itu tentu mengejutkan. Bunga langsung melepaskan pelukannya. Selena memberinya senyuman yang sangat manis lalu membawa tangan Bunga.


“SELAMAT LULUS BUNGA ADITYA ALIAS BELLA DAN DIMAS ^0^!”teriak teman-teman seangkatan Bunga.


Bunga lalu menghampiri mereka, memberikan senyuman yang amat tulus. Ketika ia sudah hampir sampai ke panggung, Selena menyerahkan tangan Bunga pada seorang pria yang pipinya masih memerah. Bunga lalu mengambil tangan pria itu dan memberikannya senyuman. Dimas, pria itu, lalu menarik Bunga ke atas panggung.

__ADS_1


Di tengah riuhnya keadaan, banyak yang terkejut dan menganga melihat kenyataan bahwa Dimas dan Bunga adalah detektif cilik yang banyak dikagumi orang-orang. Dan karena masih banyak pertanyaan yang harus dibalas, Pak Guru mewakili kedua anak itu untuk membalasnya. Di kesempatan itu, Dimas menarik tangan Bunga menjauhi Pak Guru dan kerumunan.


“Kenapa, sih? Tadi aja gak mau nyapa -.-,”ujar Bunga mulai kesal dengan Dimas.


Dimas yang terlihat gugup lalu memandang Bunga dengan begitu tajam.


“Kamu cantik >~<,”ujarnya membuat Bunga menahan tawa. “Aku, cinta sama kamu -.-,”


Mendengar hal itu dari mulut Dimas memang sudah biasa. Namun, kali ini situasinya berbeda. Sehingga Bunga hanya bisa membalasnya dengan senyuman, memikirkan apa yang akan ia katakan.


“Mungkin kamu memang udah bosen dengernya. Tapi kali ini, ucapan aku formal. Bukan Cuma mau jahilin kamu. Aku sangat cinta sama kamu. Gak tahu kenapa >.<,”


Bunga lalu menyemburkan tawanya. Ia berhasil membuat Dimas terkejut dan menjadikannya bertanya-tanya.


“Oke ^0^,”ujar Bunga tiba-tiba. “Gini. Aku gak bakal buat hubungan kita jadi kayak pacaran, enggak. Karena kamu tahu, kan, aku gak suka pacaran. Dan mungkin sebagai gantinya, aku akan berkelakuan sama ke kamu, kayak kamu ke aku dulu. Semacam temen tapi mesra gitu ^0^,”


Dimas lalu mengangkat sebelah alisnya. Ia masih belum mengeluarkan senyuman maupun tawa.


“Jadi, maksudnya kamu 0.o….”


“YA,” potong Bunga. “Melihat kamu yang sabar, seiring berjalannya waktu, hatiku merasa bahwa cinta kamu patut untuk dibalas. Dan aku, juga mencintaimu ^0^.”


Ungkapan yang sangat ditunggu-tunggu itu akhirnya keluar dari mulut Bunga. Dengan bahagianya, Dimas lalu menunjukkan senyumannya. Ia merogoh sakunya untuk mengambil suatu benda. Setelah benda itu sudah ada di tangannya, ia masukkan benda itu ke jari tengah Bunga. Sekarang, tangan manis Bunga sudah dihiasi sebuah cincin putih yang indah berkilau.


Bunga melihatnya untuk sekejap, lalu menatap kea rah Dimas.


“Kamu belinya barengan Enokuia, ya? Ini, cincin yang dalemnya berlian, kan ^0^,” ujar Bunga yang langsung dibalas anggukan kepala dari Dimas.


“Aku beli dari tabungan aku. Beli dua sih, yang satu buat ibu yang satu buat kamu. Tapi yang kamu, aku tambahin huruf double B di dalamnya ^0^.”


Namun pernyataan itu malah membuat Bunga mengerutkan alisnya. Ia cemberut.


“Tabungan kamu habis dong gara-gara aku -.-,”


“Oh, enggak lah. Nanti juga nambah lagi ^.^,”


“Tahu dari mana -.-?”


Seolah itu adalah sebuah mantra, Hari dan Hira tiba-tiba saja berada di belakang Bunga dan tentu saja mengejutkannya. Mereka lalu menampakkan senyuman mereka.


“Pulang wisuda kita ada jadwal ^.^,”ujar Hari. Bunga hanya bisa mengerutkan alisnya.


“Jadwal 0.0?”tanyanya dengan polos.


Hira lalu menyodorkan sebuah kertas. Bunga menerimanya dengan penuh tanya. Setelah melihat kertas itu, Bunga membuang nafas lemas.


“Orang gak ada kerjaan -.-,”ujarnya lemas.”Jadi, pulang ini kita harus tangani kasus pembunuhan-.-?”


Ketiga orang yang bersama Bunga lalu mengangguk.


“Oke, aku ikut -.-,”


“Satu hal lagi -.-,”ujar Dimas.


“Apaan -.-?”


“Puri belum meninggal sebenarnya. Dan dia masih mau menghancurkan Perusahaan V -.-,”


“GILA TUH ORANG! MAU GUA APAIN SIH KALIAN O.O!”teriak Bunga berhasil menimbulkan keheningan.

__ADS_1


“Ya, itulah Detektif Ngegass ^0^.”ujar Pak Guru yang langsung mendapat sambutan dari para hadirin.


Detektif Ngegass hanya bisa memaksaan mulut mereka untuk tersenyum karena, masalah ternyata masih belum selesai.


__ADS_2