Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
End part 1


__ADS_3

Balai kota 11.00


Matahari bersinar dengan sangat bahagia kali. Sampai-sampai sinarnya serasa membakar kulit dan menyerap keringat. Ya, begitu panas.


Keempat detektif muda itu baru saja turun dari mobil. Mereka nampak santai walau berada dalam udara panas seperti ini. Ya, ada AC di dalam mobil. Namun, setelah beberapa detik berlalu, barulah terasa udara panas langsung menyelimuti tubuh mereka. Keringat langsung keluar dalam waktu yang cukup singkat.


“Kok, panas banget, ya -.-?”Tanya Hari. Ia terlihat paling tersiksa karena berada di depan AC sepanjang perjalanan tadi sehingga saat ia keluar, hawanya langsung berubah seratus delapan puluh derajat.


Hira lalu menyipitkan matanya . Ia mengangguk, menatap langit dengan mata yang seolah hampir tertutup.


“Mataharinya terlalu semangat. Gak ada awan yang mau ngalangin, juga. Pantesan panas -.-,”


Bunga yang sejak tadi tidak berkomentar hanya bisa tersenyum. Ia lalu menggelengkan kepalanya melihat kekompakan anak kembar itu. Bunga terlihat santai dalam cuaca seperti ini. Rasanya sangat teduh di tempat ia berdiri. Belum lagi, bajunya yang tipis membuatnya tidak merasa gerah.


“Ya, iyalah teduh. Orang dipayungin sama kemejanya Dimas ~o~!”teriak kedua anak kembar itu. Bunga kembali tertawa. Ia lalu mulai berjalan meninggalkan mereka berdua menuju kantor walikota.


Dari kejauhan, sudah nampak seorang pria dengan pakaian rapi tengah berdiri menunggu. Ia sempat melambaikan tangan pada keempat detektif yang wajahnya tengah menyeringai. Tawa walikota sedikit terdengar.


Karena kantor walikota adalah jarak yang paling dekat dengan pintu masuk, mereka pun bisa sampai dalam waktu kurang dari satu menit. Di hadapan mereka kini sudah berdiri Pak Walikota dengan wibawanya, menyambut kedatangan mereka. Beliau lalu menjabat tangan Bunga, lalu Dimas, lalu Hari, dan terakhir Hira karena ia terlihat paling kepanasan.


Setelah itu, beberapa orang yang ternyata tengah berada di belakang Pak Walikota turut menyambut kedatangan mereka. Semuanya menjabat tangan dan mengucap selamat akan keberhasilan dari misi untuk menggagalkan proyek DJ Jaya. Bunga, Dimas, dan Si Kembar tak bisa terhenti tersenyum saat ini. Mereka merasa bahagia karena usaha mereka tidak sia-sia.


Sekitar dua puluh hingga tiga puluh orang baru saja memberi selamat dan beberapa hadiah tanpa henti. Pak Sopir yang menerima hadiah itu dan memasukkannya ke dalam mobil. Ia sangat bahagia bila melihat anak-anak bahagia. Setelah semua orang selesai bertegur sapa, mereka pun meninggalkan keempat detektif dengan Pak Walikota. Begitu pun Pak Sopir. Beliau kini kembali ke dalam mobil untuk menata barang-barang.


“Oh, iya, pak. Memangnya ada perlu apa, ya? Bukannya semua hal yang terjadi sudah kami laporkan ^o^?”Tanya Bunga dengan lembut. Ia menatap Pak Walikota sambil tersenyum.


Pak Walikota lalu membalas senyuman Bunga.


“Kita bicarakan di dalam ^-^,”balasnya. Ia lalu membuka tangannya untuk mempersilahkan anak-anak itu memasuki ruangannya.


“Kita sopan gak sih membiarkan orang tua membuka tangannya gitu buat kita? Bukannya kita yang harusnya kayak gitu, ya -.-?”bisik Hira pada, tentu saja, kembarannya.


Hari hanya mengangkat kedua bahunya. Ia berhasil membuat Hira mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepala.


Ruang Walikota.


Dimas, Hari, Hira, Bunga. Begitulah posisi duduk keempat detektif yang bekerja di luar perintah itu. Mereka terlihat seperti keluarga yang harmonis dengan satu orang ibu, satu orang ayah, dan dua anak yang pada tampan.


Pak Walikota lalu duduk di hadapan mereka berdua dengan begitu perlahan. Ia seolah meresapi caranya duduk. Di tangan kanannya nampak sebuah map yang berisikan beberapa lembar kertas. Entah apa yang akan ia bahas kali ini.


Sempat terjadi keheningan di ruangan itu kala Pak Walikota membereskan kertas-kertasnya. Ia membuka mapnya itu dengan terburu-buru. Hal itu sempat membuat keempat remaja yang masih kebingungan, bertanya-tanya. Kelihatannya Pak Walikota tengah sangat bahagia.


Setelah kertas-kertas yang ia bawa berjajar rapi, ia pun menatap keempat remaja yang berada di hadapannya. Ia lalu menunjukkan giginya yang bersih dan kuat.


“Pak, bisa langsung ke intinya? Kami bener-bener bingung ini 0~0,”ujar Dimas tiba-tiba. Ia sepertinya sudah tidak tahan melihat walikota yang begitu bertele-tele.


“Oh, iya ^0^.”balas walikota seolah baru saja diingatkan akan hal penting. “Begini, saya sudah menerima semua laporan mengenai aksi kalian. Saya sangat bangga, sangat bangga. Bahkan, mungkin dulu ketika saya menjadi detektif yang bekerja tanpa perintah, kemungkinannya kecil jika membuat rencana seberbelit itu -.-,”


Hari dan Hira terkejut ketika mendengar pernyataan dari walikota. Mereka bahkan hendak membuka mata mereka lebar-lebar dan membuka mulutnya.

__ADS_1


“Emangnya bapak dulu detektif yang bekerja tanpa perintah 0.0?”Tanya mereka bersamaan. Sangat terlihat keakraban mereka saat ini.


Pak Walikota lalu menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum kea rah Bunga dan Dimas yang juga melebarkan mulutnya. Ya, kedua anak ini sudah tahu bahwa walikota dulu adalah seorang detektif juga.


“Sedikit bercerita, saya dulu itu hanya bisa membantu di balik layar. Saya sangat ingat ketika saya hanya mendapat imbalan dari orang yang saya bantu, bukan dari pihak berwenang. Jadi, ketika saya bisa menjadi seorang walikota, saya langsung melaksanakan satu-satunya program kerja yang sudah saya buat sejak jauh-jauh hari, mendirikan perusahaan detektif. Karena saya tahu bagaimana rasanya bekerja di balik layar -.-,” balas walikota.


Anak kembar itu menganggukkan kepala mereka tanda faham. Setelah itu, mereka mulai membungkam mulut mereka untuk mendengarkan ucapan Pak Walikota berikutnya.


“Jadi, begini. Proyek yang dibuat oleh Jutong itu ternyata cukup besar, walau sebenarnya masih besar dan elit Perusahaan V. Tapi, kita semua tahu kalau Perusahaan V adalah satu-satunya gedung yang menampung detektif di Negara kita sehingga hanya orang-orang yang terpilih dari yang terpilih yang bisa bekerja di sana.


“Namun, setelah melihat bangunan yang dibuat oleh Jutong, saya merasa mendapatkan suatu pencerahan. Kenapa kita tidak membuka perusahaan detektif kedua di Negara kita untuk memberikan harapan pada orang-orang yang memang berbakat ^-^?”


Hari dan Hira tersenyum bahagia. Mereka seolah mendapatkan suatu kesempatan ketika mendengarkan penjelasan dari Pak Walikota. Semua tahu kalau para detektif yang bekerja tanpa perintah itu, semua berbakat, walau pun mereka belum bisa menyaingi para detektif di Perusahaan V. Akan tetapi tidak adil pula rasanya jika mereka tidak diberi kesempatan dan bantuan untuk melakukan aksi mereka, mengingat ada beberapa pihak yang masuk Perusahaan V jalur belakang.


Bunga dan Dimas hanya bisa mengangkat bahu mereka sambil tersenyum. Mereka ikut bahagia. Dan mungkin dengan keputusan Pak Walikota yang menguntungkan banyak pihak itu, wajib didukung.


“Kami dukung, pak ^o^.”ujar Dimas mewakili ketiga rekannya.


Dengan senyum semringah, Pak Walikota lalu membuang nafas lega.


“Saya sudah berunding dengan Burhan. Dan dia bilang saya butuh bantuan kalian. Saya sangat bersyukur bisa mendengar kalimat itu dari kalian. Terimakasih banyak. Saya akan mengusulkan perusahaan itu dengan cepat ^-^.”


Tiga Hari Kemudian


“Buruan, ah! Lama banget sih kamu ~o~!”teriak Bunga pada pria yang tengah memasang dasi dengan susah payah.


“Aku dulu bisa pakainya, tapi tiba-tiba dia ngeselin! Dasar dasi labil ~O~!” ujar Dimas yang masih berkutit dengan dasinya.


Bunga lalu memutar tubuhnya. Ia kembali memasuki rumah Hari dan Hira, di mana mereka sekarang tengah berada. Langkahnya terdengar agak berat karena kesal. Namun, Dimas nampak tidak begitu menghiraukannya karena ia masih harus mengurusi dasinya.


Bunga lalu berkacak pinggang ketika ia sampai di hadapan Dimas. Bibir bawahnya sedikit mengembang sebagai penyempurna alisnya yang mengerut sehingga ekspresi marahnya begitu nampak. Bukan marah, tapi lebih ke kesal. Sejak tadi, ketika ia dan Si Kembar tinggal menyemprotkan parfum ke pakaian formal mereka, Dimas masih mengerutkan dahinya dan memarahi dasinya. Dan itu cukup untuk menguras waktu mereka.


“Kamu kenapa lagi sih -.-?”tanya Bunga. Make up nya yang tidak terlalu berlebihan itu nampak cocok di wajahnya yang imut, membuatnya amarahnya semakin menjadikan ia lucu.


Akan tetapi, Dimas masih belum mendengarkan ucapan remaja pintar itu. Ia masih ingin memecahkan masalahnya seorang diri. Di samping itu, Hari dan Hira yang sudah memasuki mobil terus memencet klakson. Walaupun bukan mereka yang mengemudi, melainkan Pak Supir, mereka tetap memaksa untuk meraih klakson.


Karena merasa diacuhkan dan pusing dengan suara klakson dari luar, Bunga mulai menggaruk rambutnya yang rapi. Tanpa ragu ia mendekatkan tubuhnya pada Dimas. Dengan gerakan yang tanpa aba-aba,ia langsung mengambil dasi yang menempel di kerah Dimas. Ia membenarkan dasi Dimas di tempat asalnya, sehingga Dimas bisa melihat kening Bunga dalam jarak yang begitu dekat. Wanginya memang khas.


Tidak butuh waktu yang lama, tangan Bunga yang ahli sudah bisa menyelesaikan tali temali pada dasi itu. Ia lalu merapikannya, menarik bagian belakangnya, lalu menyapu kerah baju Dimas sedikit. Masih dengan tatapan datar, ia menatap Dimas yang kini hanya beberapa senti saja di hadapannya. namun, tidak seperti biasanya, di antara mereka tidak ada yang memerah.


Dimas lalu tersenyum. Ia pun melihat kea rah tangannya. Tanpa disangka, ia langsung memasukkan tangannya ke sela-sela jari Bunga yang menjuntai. Tentu Bunga terkejut, namun hal itu tidak sampai membuat pipinya memerah.


“Ayo, pergi ^-^.”ujar Dimas. Ia lalu mulai menarik tangan Bunga.


Bunga menarik kembali tangannya. Ia mulai membuka mulut.


“Kenapa harus gandengan tangan -.-?”tanya Bunga dengan polosnya.


Dimas lalu mengembalikan langkahnya. Ia merapikan rambut Bunga yang sempat berantakan tadi.

__ADS_1


“Kamu tadi udah rapi-in dasi aku. Bahkan sampai ke kerahnya segala. Padahal , kan, aku gak minta sama sekali. Dan aku rasa kelakuan kamu kayak seorang istri ke suaminya. Bener gak ^0^?”


Barulah setelah mendengar kalimat itu, pipi Bunga memerah. Namun, ia masih tetap memberikan tatapan heran. Sepertinya ia tidak begitu tersipu malu seperti biasanya.


“Jadi, aku mau kita gandengan tangan juga. Biar lebih apa yang tadi kamu mulai, gak berhenti di situ gitu aja ^.^,” lanjut Dimas.


Bunga hanya bisa menarik nafas panjang dan menyetujui anjuran Dimas. Mereka pun keluar dari rumah Hari dan Hira lalu menutupnya dengan rapat, meninggalkan rumah itu kosong.


Perusahaan V, 09.00 WIB


Pak Burhan nampak rapi dengan jasnya. Bahkan gaya rambutnya berbeda dari biasanya, membuatnya semakin pantas untuk disegani. Akan tetapi, ekspresinya tidak demikian.


Di hadapannya kini tengah berdiri empat orang anak yang menunduk. Mereka tidak ada yang berani melawan atau membantah. Mereka pasrah dan tertunduk malu.


“Ini acaranya penting. Dan kalian masih saja telat? Kamu juga Bunga dan Dimas. Kalian ini udah keseringan telat tahu, gak? Di mana kedisplinan kalian? Kalau kalian begini terus, bagaimana para detektif akan mempercayai kalian sebagai atasan -.-?”ujar beliau sambil melipat kedua tangannya di hadapan dada.


Kalimat yang baru saja dikeluarkan oleh Pak Burhan, berhasil membuat keempat remaja itu mengangkat kepala mereka. Mereka kebingungan dengan maksud dari kalimat terakhir itu.


“Maaf, pak. Atasan ._.?” tanya Dimas dengan alisnya yang terangkat sebelah.


Pak Burhan tiba-tiba mengubah ekspresinya. Beliau tertawa terbahak-bahak.


“Kalian akan mengambil alih Perusahaan V. Kalian yang akan jadi tim penanggung jawabnya. Walau pun, ya, saya yang diangkat menjadi direkturnya, tapi kalian yang akan banyak berperan penting di sini. Kalian akan menguasai Perusahaan V ^.^,”


Dimas dan Bunga langsung membuka mulut mereka. Mereka sempat meloncat dan menjerit. Bahkan tanpa disadari, mereka berpelukan karena saking bahagianya. Bagaimana tidak. Perusahaan besar itu akan dipegang oleh mereka, walau dalam bimbingan Pak Burhan. Namun tetap saja, mereka yang mengaturnya dengan penuh tanggung jawab.


Aka tetapi, Hari dan Hira tidak terlihat bahagia sedikit pun. Mereka hanya tersenyum kecut. Dan dengan senyuman itu, mereka mengangkat tangan mereka, berusaha memberikan selamat kepada Dimas dan Bunga.


“Semangat dan selamat ^-^,” ujar mereka bersamaan.


Dimas, Bunga, dan Pak Burhan mengerutkan alis mereka. Mereka pun saling berpandangan untuk beberapa saat. Setelah itu, mereka tertawa terbahak-bahak. Dimas dan Bunga lalu membalas jabatan tangan mereka.


“Kamu juga, ya ^-^,”balas Bunga dan Dimas yang di balas dengan senyuman. “Semangat untuk berjuang bersama kita ^-^.”


“Maksudnya 0.0?”


“Hey, kalian juga jadi penanggung jawab Perusahaan V! Kita satu tim ^-^.”


Di Atas Panggung


Pak Burhan meneriman penghargaan dan penyerahan jabatan. Belau sempat memberikan pidato, atau lebih cocok disebut curahan hati. Setelah itu, giliran keempat remaja itu yang menerima penghargaan.


“Kalian, aku percayakan untuk mengurus perusahaan ini ^-^,”ujar Pak Burhan. Beliau lalu memberikan sebuah medali pada masing-masing detektif itu. Orang-orang bertepuk tangan riuh. Begitu orang tua mereka yang nampaknya begitu bahagia.


“SELAMAT DAN SEMANGAT BAGI DETEKTIF NGEGAS ^0^!”lanjut Pak Burhan yang kembali disambut gemuruh.


“Detektif Ngegass 0.0?”tanya mereka berempat.


Pak Burhan lalu mengangguk.

__ADS_1


“Iya. Nama tim kalian. Cocok untuk masing-masing dari kalian yang sukanya marah-marah ^0^.”


Keempat remaja, tidak, Detektif Ngegass pun tertawa bahagia.


__ADS_2