
Busa yang putih dan menjijikan keluar dan mulut pria gemuk itu. Dalam keadaan seperti ini , tak ada yang merasa terkejut sama sekali. Hal itu memang sudah biasa terjadi. Akan tetapi, biar bagaimana pun sungguh menjengkelkan.
“Pria ini bodoh -.-,”ujar Dimas tiba-tiba. “Dia merelakan nyawanya demi seseorang yang mungkin tak banyak jasanya untuk dia -.-,”
Ketiga temannya langsung menundukan kepala. Rasa kesal mereka sempat redam oleh rasa iba. Mungkin pria ini tak seharusnya meninggal dengan begitu mengenaskan. Pria yang wajahnya nampak tak sejahat itu mungkin hanya korban. Dan kejadian ini cukup menyentuh hati anak-anak itu.
“Aku panggil ambulance T.T,”ujar Bunga. Ia lalu membalikkan tubuhnya membelakangi teman-temannya.
Mobil, 12.12 WIB
Pria itu baru saja diangkat ke dalam ambulan. Karena peristiwa ini bukanlah kecelakaan, Pak Burhan sempat hadir. Keempat anak itu memberitahukan kronologi kejadian. Dan karena peristiwa ini salah satu dan kasus DJ, maka Pak Burhan mengembalikan kasus ini pada keempat detektif itu. Ia tidak bisa mempercayai Ara yang bekerja dengan asal.
Kali ini mereka akan menuju ke Cafe KucinB. Ya, kafe yang merupakan tempat COD antara Nyonya Okta dengan salah satu anggota DJ.
“Tubuhnya cungkring, kulit putih, telinganya agak besar, sama tato di tangan kanan. Waktu COD pakai baju seragam Cafe KucinB. Wah, ceroboh banget ni orang -.-,”ujar Bunga ketika
membaca balasan dan Nyonya Okta beberapa menit yang lalu.
“Ternyata dia jawabnya cepet, ya ^.^,ujar Dimas. Bunga pun hanya mengangkat bahunya.
Ketika berada di perjalanan, mereka tak banyak mengeluarkan kata, lagi. Pikiran yang dipenuhi oleh pria yang baru saja bunuh diri itu membuat mereka sedikit goyah. Bagaimana jika pria dari Café KucinB juga harus meminum pil aneh itu untuk menutup mulutnya juga? Apa yang harus mereka lakukan untuk mencegah hal itu?
Entahlah.
Kafe yang cukup digemari anak muda itu sudah berada di hadapan mereka. Mobil berhenti di parkiran, membuat nafas keempat detektif itu dihembuskan bersamaan. Setelah mobil benar-benar berhenti, belum ada yang mau bergerak. Mereka memandang bagian dalam kafe untuk beberapa saat sebelum akhirnya sebuah kalimat keluar dan mulut Bunga.
“Rencananya mau gimana -.-?“
Dimas menghela nafasnya. Ia lalu menggelengkan kepalanya, tidak seperti biasanya. Kasus ini memang memusingkan. Sudah berapa lama mereka kerjakan namun hasilnya belum ada. Biasanya mereka menyelesaikan kasus paling lambat dua hari, namun ini sampai berminggu-minggu.
“Ayolah, guys! Semangat dong! Kami tahu kalian sedikit kecewa tapi ayolah ^0^!”ujar Hari.
“Iya. Kalian harus semangat ^O^!”balas Hira yang tersenyum dan berhasil membuat mata sipitnya tenggelam.
Dimas dan Bunga hanya bisa menundukkan kepala mereka.
“Bunuh diri memang sudah biasa. Tapi, mati di hadapan kami langsung, itu luar biasa. Di tambah kasus ini sangat rumit -.-,” ujar Bunga. Entah mengapa, semangatnya tiba-tiba luntur.
Hari dan Hira lalu tersenyum kecut.
“Kalian tahu ^.^?”tanya Hira. “Beginilah pekerjaan kami . Kalau bukan hanya untuk hobi, kami tidak akan pernah sudi. Untung saja orang tua kami berkecukupan. Kalau tidak, entah bagaimana. Rencana kami tidak bisa sematang kalian yang selalu mendapatkan pelatihan setiap bulan. Hasilnya pun cuma seperempat dari penghasilan kalian. Kami, detektif amatir, sangat ingin masuk Perusahaan V, sebelum kami tahu kalau direkturnya busuk -.-.”
Seolah ditampar dengan keras, Dimas dan Bunga menyadari banyak hal. Bersama anak kembar ini, mereka sadar. Mereka memang hidup dengan nyaman. Mereka beruntung. Mereka terbiasa mendapatkan keenakan dan kemudahan.
Dimas memandang Bunga. Ia melihat ekspresi haru di sana. Bunga, ia balas menatap Dimas. Tatapannya diiringi dengan senyuman yang manis. Ia tahu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
“Kalau begitu ^_^,”ujar Dimas dan Bunga bersamaan. “Bagaimana kalau rencana kali ini kalian yang tentukan ^.^?”
Masih Mobil, 12.20 WIB
Sebuah rencana sudah selesai dibuat. Dimas dan Bunga dengan segera mendengarkan.
__ADS_1
“Rencananya, Bunga masuk ke dalam kafe langsung. Bisa tanya-tanya apa benar ada pegawai dengan ciri-ciri seperti itu. Kalau ada nyalakan senter dua kali. Kalau tidak ada nyalakan senter satu kali. Setelah itu, kami akan bersiap di semua pintu di kafe. Bunga bisa langsung temui orang itu dan minta keterangan mengenai DJ. Begitu Hari ^.^,” ujar Hira. Ia sudah seperti jubir untuk Hari.
“Boleh juga. Ayo, kita kerjakan ^.^,” ujar Bunga. Mereka pun bersemangat.
Cafe KucinB, 12.30 WIB.
Bunga berjalan dengan santainya menuju kasir. Mantelnya ia buka dan bajunya sedikit dimodifikasi agar lebih cantik. Tak lupa ia bersikap imut. Ia sengaja menampakkan senyuman manisnya agar pencarian dipermudah. Selain kasirnya pria, senyuman Bunga juga memang jarang dikeluarkan sehingga akan membuat wajahnya semakin bercahaya.
Kasir sudah ada di hadapannya. Bunga Iangsung saja mengeluarkan handphone dan bersiap membuka senter di sana. Setelah itu, barulah Bunga menanyakan banyak hal pada seorang pria yang menjadi pelayan.
“Selamat siang ^-^,”ujar Bunga nampak begitu manis.
Pelayan itu langsung tersenyum dan segera menghampiri Bunga.
“Ada yang bisa saya bantu? Anda sangat cantik hari ini ^-^,”ujar pelayan itu.
Bunga semakin memperlebar senyumannya. Akan tetapi, ia terus komat-kamit di dalam hatinya karena merasa kesal telah menjadi tumbal untuk rencana ini. Cantik apanya? Keren, baru iya!
“Saya mau coffe latte-nya satu. Dan saya juga mau Tanya ^-^,”
“Boleh. Tanya apa saja boleh ^-^,”
“Apa di sini ada pegawai yang cungkring, kulitnya putih, terus telinganya agak besar ^-^?”
Pelayan itu mengerutkan alisnya. Ia nampak mengingat-ingat teman kerjanya yang mungkin saja sesuai dengan cirri-ciri yang disampaikan Bunga. Mungkin saja pertanyaan Bunga tak semudah menjawab soal PG sehingga pelayan itu termenung cukup lama.
Bunga sempat merasa bosan. Ia memang tipe orang yang tak sabaran. Ia tak suka melihat orang termenung begitu lama seperti ini. Menunggu itu menjengkelkan, apalagi kalau tidak ada kepastian : D.
“Oh ^O^!”ujar pria itu sempat mengejutkan Bunga dan membuyarkan lamunannya. “Kalau gak salah, ada. Namanya, siapa? Saya lupa. Tapi emang ada kok. Karena telinganya besar dia jadi suka pakai headset yang ada logo-logo apalah itu. Saya sih pernah tanya itu logo apa, tapi dia cuma geleng-geleng kepala dan bilang ke saya kalau saya kepo. Mungkin saya memang suka ingin tahu orangnya jadi saya ^O^…”
Pelayan itu langsung tersenyum. Ia nampak memaklumi semua kesalahan orang cantik. Dasar :D
Seolah mengembalikan karismanya, Bunga hanya bisa membungkam mulutnya. Ia lalu menunggu pria itu untuk mengambil pesanannya. Seolah menyadari suatu hal mengenai rencana mereka, Bunga lalu membuka hpnya. Ia menyalakan senternya.
Di sisi lain, Dimas dan si kembar menunggu kode dari dalam mobil.
Sudah lama mereka menunggu di sana dan sudah lama juga Dimas geram pada pria yang tersenyum manis, menatap Bunga dengan begitu kagum. Waktu yang lama itu akhirnya membuat rasa greget menjadi tenang. Bunga tiba-tiba saja menyalakan senter di hp-nya, lalu mematikannya kembali. Baru satu kali. Jika Bunga memang tidak menyalakan kembali lampunya, itu pertanda misi mereka akan lebih rumit.
AKAN TETAPI!
Tiba-tiba saja, Bunga menyalakan kembali senternya. Dimas pun segera membuka pintu mobil. Mereka bertiga langsung berpencar menuju tempat mereka seharusnya. Akan ada adegan aksi yang mengasyikkan sepertinya.
Back to Bunga
Dia sudah menggenggam sebuah minuman yang ia pesan sebelumnya. Setelah memberikan uang, Bunga lalu kembali mengajak pelayan untuk membahas anggota DJ lebih lanjut. Untung saja dia orangnya banyak bicara sehingga tak perlu banyak tanya untuk mendapatkan informasi dari pria ini.
“Kalau begitu, boleh aku tahu di mana cowoknya. Maaf, ngobrolnya gak usah seformal itu ^-^.”ujar Bunga.
Pipi pelayan itu seketika berubah jadi merah. Entah mengapa. Mungkin dia merasa malu atau suhu di dalam ruangan ini terlalu panas.
“Kalau begitu, mbak bisa tunggu di sebelah sana. Nanti saya panggilkan dulu dia. Mungkin sedang ada di dapur. Tunggu sebentar mbak ^.^,”
__ADS_1
Bunga lalu mengangguk. Ia kemudian duduk di bangku yang ditunjukkan pelayan itu padanya. Setelah menempatkan tubuhnya dengan nyaman, Bunga lalu mengusap seluruh pipinya. Ia merasa pegal karena harus terus menerus tersenyum.
Ternyata tak dapat dipungkiri kalau jurus wajah cantik itu memang memudahkan hampir segala hal. Contohnya sekarang. Pria itu langsung datang dalam waktu yang sangat cepat, tidak sampai lima menit. Bunga pun bersyukur.
Seorang pria yang sangat kurus, berkulit putih, dan telinganya sedikit lebar itu tengah berjalan dengan santai. Sama seperti pria sebelumnya, dia mempunyai tato atau apalah itu di tangan kanannya. Gambarnya headset pula. Selain itu, di sepatunya tertempel sebuah stiker dengan gambar yang sama dengan surat yang pernah Bunga dan Dimas temukan saat kasus zombie dulu.
Tak perlu pengecekan ulang, tak perlu mencari kepastian. Bunga sudah yakin pria ini adalah anggota DJ itu. Banyak sekali identitas yang ia tunjukkan di sekujur tubuhnya. Hal itu membuat Bunga menyimpan minumannya dan langsung berdiri menyambut pria itu.
Untuk sementara waktu mereka berhadapan. Pria itu tidak berekspresi, begitu pun juga Bunga. Mereka hanya saling menatap dengan sinis.
Dan tiba-tiba saja, pria itu mengerutkan alisnya. Ia seolah menyadari sesuatu dari tubuh Bunga. Entah itu apa, yang pasti pria itu langsung membalikkan tubuhnya dan berlari menuju ke dapur kafe.
“Gila, dia kenal wajah gue ~O~!”teriak Bunga. Ia pun langsung mengikuti arah lari pria itu walau beberapa keributan langsung terjadi.
Banyak sekali barang di dapur. Pria ini memang cerdik. Ia berhasil membuat Bunga kewalahan dengan permintaan maaf karena harus mengganggu kegiatan di dapur. Namun, setelah mendapatkan banyak hujatan, Bunga akhirnya bisa melewati dapur yang entah mengapa terasa panjang itu.
Sebuah pintu tertutup rapat. Pria itu lalu membukanya. Dan yang membuat Bunga lebih siaga untuk mengejarnya adalah, dia langsung mengunci pintu itu dan berlari kea rah lain. Bunga tak perduli apa yang ada di balik pintu itu. Ia hanya terus mengejar dan mengejar. Hingga akhirnya terdengar suara pintu terbuka dan Hari berada di sana.
“Dia keluar lewat pintu depan ~O~!”teriak Hari.
Hira dan Dimas yang mendengar hal itu pun langsung bergerak. Mereka melakukan rencana B, yaitu langsung kejar saja.
Pria itu berlari dengan gesit di dalam kafe membuat beberapa pengunjung risih. Lagi-lagi Bunga banyak meminta maaf karena telah mengganggu orang lain.
Pria itu kali ini berada di luar kafe. Namun, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Bunga sempat bertanya-tanya, apa yang membuatnya bisa terpaku seperti itu? Dan pertanyaannya dapat dijawab dalam waktu lima detik saja di mana Hira dan Dimas sudah berhasil mengepung pria itu.
Tanpa basa-basi Dimas langsung meloncat dan menindih pria itu dengan lututnya. Dengan sekali hentakan saja, dia sudah dapat dilumpuhkan. Dan untuk menjaga agar kejadian sebelumnya tidak terjadi, Dimas langsung menarik kedua tangan pria itu sehingga hanya dadanya saja yang menjadi penahan tubuh.
“Kalau ingin lepas, cepat katakana di mana detailnya markas kalian berada ~O~?”ujar Dimas. Dia terlihat masih tenang walaupun keadaan sungguh tegang.
Pria itu masih bungkam. Ia tak mau mengeluarkan sepatah kata pun.
“JAWAB ~O~!”lanjut Hari tak sabaran. Ia terlihat mengunci kaki pria itu karena takut terjadi sesuatu nantinya.
Akan tetapi, pria itu tiba-tiba menyunggingkan bibirnya. Ia menatap Bunga dengan sinis yang dibalas dengan tatapan lebih sinis lagi.
“Aku tak perduli kalian mau patahkan tanganku, remukkan tubuhku, atau memukulku sampai mati. Karena. Karena mau aku memberitahu atau pun tidak aku akan tetap mati -_-!”ujar pria itu.
Semuanya nampak heran. Mereka hanya bisa saling berpandangan.
Tiba-tiba Bunga menurunkan tubuhnya. Ia mencengkram rahang pria itu dan menatapnya dengan sungguh garang.
“Aku juga gak perduli gimana kamu mati. Aku Cuma perduli apa yang ada di otak kamu! Di mana, markas itu ~O~?!”ujar Bunga. Ia sedikit berteriak ke hadapan pria itu.
“Puspa -_-,”ujar pria itu membuat Bunga terkejut. “Kamu memang pejuang. Tapi sayang. Aku bodo amat sama semua yang ada di dunia ini. Aku hanya kasih kamu satu kode. Spanduk! Kau bodo*, b*go! Aku puas bisa ngomong ini ke kamu karena Bos DJ pilih kasih ke kamu -_-,”
“Kalau kau mau beri tahu di mana markasnya, kami akan bebaskan kamu dari DJ ~.~,”rayu Bunga.
“Hah, dasar perempuan! Rayuan kamu memang mempan dan dapat dipercaya. Tapi, ada pengintai. Pengintai di mana-mana. Aku, lebih baik mati dengan tanganku sendiri ~O~!”
Pria itu lalu menyingkirkan Dimas. Ia mengambil sesuatu dari dalam sakunya dan langsung menelannya. Bunuh diri. Itu mungkin jalan keluar baginya.
__ADS_1
Sebuah handphone tiba-tiba saja keluar dari saku pria itu ketika mengeluarkan obat. Bunga meraihnya. Ia menyalakan tanpa ragu. Dan anehnya, nampak sebuah alamat dalam gambar di wallpaper depan handphone pria itu. Bunga lalu menatap jasad pria itu dan mendekati telinganya.
“Terimakasih, telah membantu. Aku akan mendatangi alamat ini-_-,”terangnya.