Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Di mana Kasus Tak Memandang Keadaan


__ADS_3

Dimas membuka matanya. Ia melihat beberapa peralatan yang ada di sekitarnya. Ranjang, AC, lemari kecil, kursi, dan perawat. Sudah tidak salah lagi. Ia pasti tengah berbaring di rumah sakit saat ini. Dan benar saja. Ketika pandangannya mulai pulih ia bisa melihat seorang perawat tengah tersenyum padanya, membelakangi tiga orang lainnya.


"Kamu sudah siuman^-^?"ujar perawat itu ramah.


Ya, iyalah. Kalau belum siuman gak mungkin gua bisa melek, begitu pikir Dimas. Namun karena perawat itu ramah, Dimas tidak jadi mengungkapkan hal itu.


"Iya^-^."balas Dimas. Perawat itu masih tersenyum.


"Kamu kuat, tampan pula. Kamu bisa selamat dikedinginan dengan luka seperti itu. Saya sangat salut. Tetap bertahan, ya^-^."lanjut perawat itu.


Dimas mengangguk. Perawat itu lalu pergi, mengatakan sesuatu pada tiga orang itu, dan kemudian membuka pintu menghilang di baliknya.


Dimas memandang tiga orang yang masih mematung di depan pintu. Dimas menyipitkan matanya karena belum bisa mengenali mereka dengan jelas. Setelah apa yang di hadapannya itu nampak jelas, barulah Dimas tersenyum.


Salah satu dari ketiga orang itu langsung berlari mendekati Dimas. Ia memeluk Dimas dengan sangat kuat.


"AbangT.T!"terial Amel, adik Dimas.


"Abang bilang bakal baik-baik aja kalau jadi detektif. Abang bilang bakal banyak duit kalau jadi detektif. Tapi ini mana, bang? Abang malah di rumah sakit ngabisin duitT.T,"ujarnya. Dimas hanya bisa tersenyum tatkala adik kecilnya itu mengomel. Lucu sekali.


Setelah itu, dua orang lainnya, ibu dan ayah Dimas, ikut memeluknya. Dimas merasa tenteram sekali.


"Nak, lututmu sudah digeser lagi ^-^"ujar ayah Dimas.


"Digeser, ayah pikir itu pintu, digeser~.~?"balas Dimas. Mereka tertawa sambil melepas pelukan.


"Oh, iya nak. Ibu tadi lihat Bunga, yang kata kamu calon mantu. Dia cantik banget. Tapi sayang, sayaang sekali. Katanya kemungkinan kecil dia bakal siuman T.T."ujar ibu Dimas.


"HUSS, ibu. Kasian Dimas. Dia, kan, cuma ngayal, bu. Dia jomlo. Jangan rusak khayalannya sama omongan dari dokter itu dong~.~."ujar ayah Dimas. Ibu Dimas pun langsung membungkam mulutnya.


"Bunga, meninggal o_o?"bisik Dimas.


***


Terdengar suara tangis dari mulut seorang ibu. Ya, ibu Bunga. Beliau duduk di depan pintu ruang operasi sambil meneriaki nama anaknya. Ayah, kakak, dan adik Bunga hanya bisa mencoba menenangkan ibunya. Sungguh suasana yang tidak mengenakan.


Dimas datang. Ia menggunakan kursi roda yang tengah didorong adiknya. Dan mau tidak mau mereka harus ikut menyaksikan seorang ibu yang merasa kehilangan.


Dimas menghampiri ibu Bunga. Ia lalu menyapanya.


"Selamat pagi, bu^-^,"ujar Dimas yang diikuti dengan senyuman dari keluarganya.


Ibu Bunga berbalik dan menghentikan tangisannya. Ibu Bunga sangat cantik. Walaupun dia sudah punya tiga anak tapi dia terlihat awet muda. Pantas saja Bunga cantik. Apalagi ayahnya yang ternyata, ya, tampan juga.


Ibu Bunga menangis lagi. Ia lalu menghampiri Dimas dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu Dimas, yaTuT?"ujar ibu Bunga. Dimas mengangguk kecil. "Kamu orang baik. Terimakasih sudah menjaga Bunga selama ini. Anak rewel itu gak bakal bertahan lama di agen kalau gak ada kamu. Ibu sangat bersyukur kamu selalu ada di samping Bunga. Maaf, ibu jarang bantu kamu temenin Bunga TUT."


Dimas tersenyum kecil lalu mengusap punggung ibu Bunga.


"Gak apa-apa, bu. Itu sudah kewajiban saya. Saya memang ingin melindungi Bunga karena dia juga baik^-^,"ujar Dimas. "Saya harap ibu bisa bersabar untuk kepergian Bunga. Saya juga masih belum bisa merelakan Bunga. Namun, kita berdoa yang terbaik saja bagi Bunga^-^."


Ibu Bunga mengerutkan alisnya. Ia pun membuka tangannya sehingga melepas pelukan.


"Oh mungkin saya salah orang, ya-.-?"tanya ibu Bunga. "Nama anak saya aslinya Bella -.-,"


Dimas mengangguk.


"Ya. Saya sangat mengenalnya, bu^-^." balas Dimas


"Memangnya siapa yang bilang dia meninggal-.-?"


Dimas terkejut. Ia langsung salah tingkah di hadapan ibu Bunga karena tidak faham dengan hal yang sebenarnya terjadi.


"Tadi ibu menangisi Bunga yang sudah meninggal, kan? Dia sudah kritis ketika bersama saya^-^."lanjut Dimas.


PLAAAK!

__ADS_1


Ibu Bunga memukul lengan Dimas. Bukannya mendukung anaknya, ibu dan ayah Dimas malah tertawa melihat anaknya kena pukul orang lain. Namun mereka sengaja menahannya agar Dimas tidak terlalu malu.


"Kamu pikir anak saya udah mati~o~?" ujar ibu Bunga. Dan dengan polosnya Dimas mengangguk. PLAAKK!! Sekali lagi ia mendapatkan pukulan. "Saya nangis itu karena pohon jambu air milik tetangga tumbang. Kan, kalau tumbang pasti rumah saya gak adem. Mana saya gak bisa minta jambunya nanti. Bunga itu sehat wal afiat, dia lagi main noh di taman. Ada-ada aja kamu~o~."


Lagi-lagi ibu dan ayah Dimas nampak menahan tawa. Dimas menahan rasa malu. Kalau dipikir-pikir memang keterlaluan menganggap orang yang masih hidup itu meninggal. Apalagi langsung ke sanak saudaranya. Ibunya lagi. Ah memang lucknut Dimas ini.


"Maaf, ya bu. Anak saya emang agak ngelantur kalau bangun tidur^-^,"ujar ibu Dimas.


"Yah, gak apa-apa, bu. Saya maklumi. Bunga juga tadi bergumam gak jelas. Dia teriak kayak gini, STOPPP!!!! STOPPPP!!! Kau mencuri hatiku. Gitu bu. Aduh mungkin gara-gara kebentur aspal kereta, anal saya jadi caprak^.^."balas ibu Bunga. Dimas hanya menggelengkan kepala.


"Kalau begitu kami pesimis, ya bu. Mari ^-^."ujar ibu Dimas.


Karena merasa ada sesuatu yang aneh, ayah Dimas langsung mendekati keluarga Bunga.


"Maaf, bu. Maksud istri saya permisi. Ya biasa. Kalau orang bangun tidur suka ngelantur. Mari^-^,"ujar ayah Dimas. Mereka pun mulai meninggalkan keluarga Bunga yang sepertinya santai-santai saja dengan keanehan dari perilaku mereka.


Hah, kasihan Dimas.


***


"Udah, dek. Abang bisa sendiri. Lagian abang mau ada perlu sama Kak Bunga^-^,"ujar Dimas ketika ayah, ibu, dan adiknya hendak ikut mengantarkannya pada Bunga.


"Ya udah, hati-hati, ya. Dari yang ayah lihat dia orangnya cantik. Ayah agak ragu dia mau sama kamu. Kamu harus tegar kalau ditolak-.-,"


"Huss, ayah jangan gitu. Gak apa-apa, nak. Ibu bakal dukung kamu. Kamu, kan, anak ibu yang paling ganteng. Ibu optimis, kamu pasti ditolak karena dia emang cantik. But don't worry. There's nothing impossible if fight and don't give up ^-^,"


Dimas pun melebarkan senyumannya. Ia menyalami sang ibu tercinta. Walaupun hatinya selalu merasa agak ditindas oleh keluarganya sendiri, karena dia jomlo, Dimas selalu sayang mereka. Dia tidak perduli jika ia sakit hati. Asalkan keluarganya tidak sakit hati, tak apa. Dia juga, kan, bagian dari keluarga.(?)


Mereka melambaikan tangan ke arah Dimas. Dimas tersenyum lalu memutar roda di kursi roda yang ia gunakan sehingga mulai bergerak mendekati Bunga.


Baru beberapa putaran saja Dimas sudah bisa menyaksikan sosok yang selalu menjadi harapannya. Walau saat ini Bunga masih nampak pucat, namun ia begitu cantik. Entah apa yang menjadi penyebabnya, akan tetapi ia selalu berhasil menarik perhatian Dimas.


Dimas berada di hadapan Bunga saat ini. Ia melihat Bunga yang tengah duduk tegap, memejamkan matanya, dan tersenyum kecil. Ia pasti tengah menikmati tenangnya menghirup oksigen yang masih segar. Tangannya menggenggam sebuah kertas. Dimas memandang Bunga begitu takjub. Kalau ciptaannya secantik ini, apalagi penciptanya?


Tanpa mau mengganggu Bunga, Dimas hanya menaruh tangannya di atas tangan Bunga. Bunga langsung membuka matanya dengan perlahan. Dimas tahu, mungkin ia mengganggu Bunga. Ia sudah siap dimarahi ketika Bunga berhasil mengenali Dimas, menatap wajah Dimas. Namun, tiba-tiba saja Bunga tersenyum. Hal itu membuat Dimas terkejut.


"Gimana aku bisa marah sama orang yang udah selamatin hidup aku. Makasih udah berani loncat dan relain mantel kamu, ya^-^."ujar Bunga.


YEAHHH!!!


Ini adalah saat yang Dimas tunggu selama bertahun-tahun. Mendapatkan senyuman Bunga yang khusus disampaikan padanya. Ingin sekali Dimas berjoget dengan backsound 'Goyang Inul' saat itu juga untuk meluapkan rasa bahagianya.


"Makasih banget, ya Dim. Aku, aku sangat bersyukur karena kamu selalu siap sedia di samping aku. Aku sadar ternyata orang baik itu masih ada^-^," lanjut Bunga. "Dan a^×^..."Dimas langsung menutup mulut Bunga.


"Udah, ah. Kayaknya yang awal juga udah cukup. Aku yang harusnya bilang makasih karena kamu bisa bertahan, membuat harapan dan bayanganku tentang masa depan kita tak hilang. Aku, sangat bersyukur. Apalagi waktu kamu bilang kamu suka sama aku sebelum mental^0^."ujar Dimas.


Ekspresi Bunga langsung berubah drastis. Ia membuat tampang marah. Dari kedua telinganya seolah-olah nampak kebulan asap. Kenapa dia?


"Ahhh!!!! Aku kira kalau dilembutin kayak gitu kamu bakal lupa sama kata-kata aku. Dasar ikan mas! Udah jangan bahas itu! Itu tu cuma gak sengaja doang~o~."ujar Bunga. Wajahnya langsung merah karena malu.


Dimas tertawa kecil. Ia mengulurkan tangannya untuk mencapai puncak rambut Bunga.


"Gak usah malu kali ^o^."ujar Dimas. "Lagian aku ^.^...."


"Eh liat deh^-^!"ujar Bunga mengalihkan pembicaraan. "Ini ditemukan oleh Jutong saat ia mencari kita. Katanya ini nempel di kaca kepala kereta^o^,"ujar Bunga.


Dimas mengambil surat itu. Ia membalikkannya. Dilihatnya sebuah angka delapan yang terpampang begitu jelas. Apa pula ini? Teka-tekinya semakin sulit dipecahkan.


"Maksudnya apa, ya? 8 -.-?"ujar Dimas. Bunga menggelengkan kepalanya.


"Aku udah gak faham. Untung aja keluargaku selamat sampai sini. Apalagi setelah aku tahu mereka ada di gerbong dua, gerbong yang belum sempat kamu selamatkan. Aku lagi pusing. Kayaknya bodo amat kalau nyawa aku terancam. Aku gak bakal nyelesaiin masalah ini, orang aku udah ada targetnya ^.^."ujar Bunga.


"Target -.-?"


"Ngepet-.-!"


Dimas memutar bola matanya. Ia kemudian semakin menyelidiki kertas itu.

__ADS_1


TRING! Tiba-tiba dia mendapat inspirasi. Ia membuka matanya lebar-lebar, lalu menusuk kertas itu.


Sebagian kertas copot. Angka delapan itu berubah menjadi angka enam, atau sembilan. Bentuk seperti itu. Bunga terkejut, begitu pun Dimas. Ia tidak menyangka kalau analisisnya ternyata benar.


"Ternyata benar. Ini hanya tempelan. Tapi yang bagian ini saja -.-,"ujar Dimas sambil menunjuk bagian yang kini bolong.


"9^-^!"


"6^-^!"


Beda pendapat. Bunga langsung mengerutkan dahinya.


"Dari aku ini sembilan -.-."ujar Bunga mulai mengeluarkan emosinya.


"Kalau dari aku, kan enam -.-,"


"Ya, makanya kamu pindah sini -.-!,"


"Gak bisa kayak gitu : P."


"Curang kamu, Dim. Ini sembilan -.-!"


"6 ^.^,"


"9 -.-!"


"Stop ^.^!"teriak Dimas. "Gak tentu aku salah, loh. Cuman kamunya aja yang gak ada di posisi aku : P."


Bunga merenung. Memang benar apa yang dikatakan Dimas. Dimas tidak salah. Tapi Bunga juga belum tentu benar. Ini hanya masalah tempat saja. Dan ya, hal itu sangat mempengaruhi pandangan orang.


Mereka pun mulai melupakan angka itu. Mereka bercakap-cakap entah apa.


"Nak Bunga ^0^!"teriak seseorang dengan pakaian polisi. Beliau berlari bersama Pak Burhan yang kelihatannya sangat semangat.


Tak butuh waktu lama kedua pria itu sudah berada di hadapan Bunga dan Dimas dengan nafas yang terengah-engah. Mereka terlihat cukup gelisah.


"Kenapa ^-^?"balas Bunga.


Pria yang bersama Pak Burhan menyodorkan sebuah surat. Bunga langsung mengambil surat itu dari tangan polisi. Ia membukanya tanpa ragu.


"Ini kosong -.-?"ujar Bunga. Pak Burhan dan polisi itu mengangguk.


"Tolong pecahkan ~,"ujar polisi itu. Nafasnya mulai bisa diatur.


Bunga lalu meneliti kertas itu. Ia membolak-balikkannya. Setelah itu menyodorkannya pada cahaya matahari. Dan kemudian membuang nafas lemas.


"Aku butuh uang receh -_-,"ujar Bunga.


Pak Burhan langsung mengambil dompetnya. Ia mengeluarkan satu buah koin uang lima ratus rupiah dari sana. Bunga lalu mengangguk. Ia menggosokkan uang itu pada kertas yang kosong. Tiba-tiba, sebuah kalimat langsung terlihat.


"Ingat permainan dulu? Ketika kita menggosok kertas dengan uang receh, langsung ada gambar, kan? Sama halnya dengan ini. Dari mana aku tahu? Karena ketika aku terpakan pada sinar matahari, nampak sebuah bayangan kuning yang mengilap. Dari sana aku yakin, kertas ini juga sama -.-,"


Ketiga orang yang bersama Bunga mengangguk. Mereka lalu mulai membaca tulisan yang kini jelas.


Hai, detektif. Kesal ya kalau rencana ketahuan terus -_-. Gara-gara kamu tumpahin kerikilnya aku jadi gak bisa ngambil hasil tambang di bawah rel itu huhu T.T. Tapi tak apa. Tujuanku bukan itu, kok. Semoga kamu cepat sembuh sehingga saat peluncuran cincin Enokuia kamu datang. Kamu tidak tahu karena kamu bukan diposisiku^.^. Lucu ya ^c^.


Bunga menghempaskan nafasnya. Ia mengaduh.


"Aduh orang ini! Gila kali, ya -.-!"ujar Bunga.


Dimas tidak menghiraukan Bunga yang saat ini tengah mengamuk.


"Aku tahu ^.^!"ujar Dimas. "Aku yakin kalau yang dimaksud DJ itu orang yang kelihatannya serba enak. Bener, gak? Soalnya jadi orang kayak gitu gak semudah yang kita bayangkan. Kita gak tahu kalau gak ada di posisi dia^.^."


Bunga tersenyum kecil.


"Gampang ternyata. Tanggal 6 bakal ada pengesahan toko di dekat statsiun. Mereka bakal ambil hasil tambang yang waktu itu ketimbun. Tanggal 9 peluncuran cincin berlian. Hah! Pencuri-.-!"ujar Bunga.

__ADS_1


Habis ini, aku pasti bakal ngungkap siapa kamu.


__ADS_2