
“Saya mohon! Saya memang salah! Saya akan memberikan apa pun yang anda mau ~O~!”teriak direktur sambil berlutut di hadapan seorang perempuan cantik.
“Udah, ayah. Ngapain sih minta tolong sama dia?! Dia kan yang buat perusahaan ini jadi rusuh ~O~!”balas anak dari direktur itu yang sepertinya sebaya dengan perempuan yang ada di hadapan sang ayah.
Direktur lalu menatap Ara dengan tajam. Ia nampak menggebu-gebu.
“Kamu yang bilang dengan disingkirkannya Bunga maka keuangan ayah akan bertambah karena tidak harus bayar anak ingusan itu dengan uang yang banyak. Tapi mana buktinya, Ara? Kamu malah menjerumuskan ayah kamu sendiri. Berlutut sama anak ini ~O~!”
“Ih, apaan? Gak mau ayah! Emang ~O~….”
“EMANG APA~O~!”teriak direktur berhasil mengagetkan Ara. “Kamu bisa menyelesaikan masalah ini? Hah? Bisa, Ara? Coba bilang sama ayah, kamu bisa gak ToT?”
Ara yang terkejut hanya bisa terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca karena melihat sang ayah yang biasanya tidak marah, kini berteriak di hadapan wajahnya.
“Ikut berlutut -.-,”lanjut direktur.
Dengan lemas Ara menurunkan tubuhnya. Ia lalu menumpahkan air matanya di sana. Rasa malunya sudah sangat besar. Ia tidak sanggup menahan rasa malu itu. Namun, ia juga tidak bisa melawan sang ayah setelah melihat beliau marah besar.
Bunga merasa sedikit iba pada anak tak tahu diri itu. Ia yang biasanya dimanja, kini mendapatkan gertakan langsung dari orang tersayangnya. Bunga, bukanlah orang yang jahat. Hatinya masih selalu memperingatkan sikapnya jika mulai melebihi batas.
“Bangun -.-,”ujar Bunga. Akan tetapi, direktur masih belum mau mengangkat lututnya. “Pak, saya maafkan bapak. Mohon berdiri -.-,”
“Tapi, kami butuh bantuanmu -.-,”
“Yup, saya faham pak -.-,”ujar Bunga. Ia mulai menekuk lututnya sehingga posisi jongkoknya bisa membuat ia menatap wajah direktur. “Saya faham kalau bapak ingin menjadi yang terbaik. Tapi, jangan sampai bapak menjadi seperti ini. Berlutut memohon di hadapan seorang anak perempuan seperti saya itu akan sangat menurunkan derajat bapak, jika orang lain tahu. Jadi, sudahlah. Akan saya bantu, semoga saya bisa -.-,”
Direktur tersenyum. Ia lalu mengambil tangan kanan Bunga dan mengepalnya.
“Terimakasih banyak. Saya berhutang padamu. Akan saya lakukan apa pun yang anda mau ToT,”
20.45 WIB, Perusahaan V
Ya, memang sudah malam. Akan tetapi, amukan massa masih belum bisa dihentikan. Walaupun sebagian dari mereka sudah pulang ke rumah mereka, namun sisanya masih bersikeras. Beberpa dari mereka ada yang sampai menguap. Akan tetapi, entah mengapa mereka masih bertahan.
Bunga berjalan keluar dari pintu perusahaan. Ia melangkahkan kakinya dengan tenang. Setiap kali kakinya dibuka, setiap kali teriakan masyarakat meredam. Satu persatu dari mereka sadar akan kedatangan Bunga. Dan hal itu cukup untuk membuat ejekan-ejekan menjadi pujian.
“Lihat! Itu Bunga ^O^!”teriak salah seorang pria paruh baya yang sejak tadi mengeluarkan suara beratnya.
“Ya, pak! Semuanya akan baik-baik saja ^O^!”balas yang lainnya.
Bunga hanya bisa tersenyum mendengar dukungan-dukungan itu. Apa yang ayahnya katakana dulu memang benar. Jangan takut untuk kehilangan. Karena sekali kehilangan maka yang lainnya akan datang.
Bunga lalu mengetuk pintu dari dalam. Seorang polisi yang berjaga membalikkan tubuhnya. Ia menatap Bunga dengan penuh khawatir.
“GAK! BUNGA LEBIH BAIK DI DALAM SAJA ^O^!”teriaknya.
Namun, Bunga malah menggelengkan kepalanya.
“Kalau saya tidak keluar dan memberi penjelasan, semuanya tidak akan berhenti -.-,”ujarnya.
Polisi itu lalu saling melempar pandangan dengan temannya. Mereka tengah bertukar pikiran. Setelah sepakat, barulah mereka merapikan massa. Polisi yang satunya langsung membuka pintu perusahaan.
“Kami percaya padamu ^.^,”ujar polisi tersenyum. Bunga hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Bunga mulai melangkankan kakinya keluar dari ruangan yang telah melindunginya. Ia memang sempat takut. Akan tetapi, ia percaya bahwa pihak kepolisian akan melindunginya.
Kini, Bunga berada di posisi paling tinggi di antara kerumunan orang yang tengah marah itu. Ia bisa memandang seluruh wajah dari atas sana. Terlihat beberapa spanduk, poster, dan lain sebagainya tengah mengiringi kerutan alis orang-orang ini.
“Baik -.-,”ujar Bunga mulai mengeluarkan suaranya. Masyarakat yang tadi saling berteriak, langsung terdiam. “Terimakasih -.-,”
Bunga pun menghela nafas panjang. Ia menatap seluruh mata yang ada di hadapannya.
“Saya, berdiri di sini untuk mewakili pihak perusahaan dalam memberikan keterangan. Walaupun kebanyakan dari kalian tahu bahwa saya bukan bagian dari Perusahaan V ini lagi. Akan tetapi, saya sebagai salah satu mantan karyawan, tidak bisa tinggal diam melihat perusahaan ini didemo puluhan orang, bahkan setelah malam datang seperti ini -.-,”
Bunga lalu menghentikan ucapannya untuk sesaat. Ia sengaja untuk tidak melanjutkan kata-katanya secara langsung agar masyarakat bisa memahami keadaannya saat ini. Barulah, setelah mereka berhenti berdiskusi, Bunga menarik nafas untuk melanjutkan ucapannya.
“Entah dari mana rumor itu berasal, entah siapa yang menyebarkan rumor itu, dan entah sejak kapan hal ini beredar, sungguh saya tidak tahu. Akan tetapi, bila saya ada di posisi kalian, saya yakin saya akan melakukan hal yang sama. Namun, pernahkah terpikir di benak kalian, jika hal ini belum tentu benar? Belum ada bukti kuat yang beredar menunjukkan bahwa penjahat yang menggemparkan kehidupan kita berasal dari tempat ini, setahu saya. Pernahkah terpikirkan akan hal itu?
“Saya, tidak akan menunggu jawaban dari kalian. Saya hanya perlu kesadaran diri kalian. Walaupun saya juga sempat kecewa akan berita abal-abal ini, namun saya tidak mau langsung percaya. Jangankan kalian, kami pun masih memastikan siapa DJ itu. Belum ada bukti kuat yang menunjukkan sosok DJ. Belum ada! Dan tentu saja hal itu tidak menjadikan perusahaan ini salah, benar?
“Apalagi direktur. Beliau memang terlihat sebagai seorang yang serakah, namun kami yakin dia bukanlah DJ. Beliau tidak mungkin melakukan hal keji itu. Walaupun beliau memang orang yang kurang berpikir panjang, namun beliau berpendidikan. Beliau pasti memikirkan apa yang hendak ia lakukan. Tidak gegabah seperti DJ.
“Kalian boleh mengeluarkan suara kalian. Kalian boleh memberikan pendapat. Namun, apa salahnya jika penyampaiannya dilakukan secara baik-baik? Tidak bisakah kalian langsung menemui direktur di kantornya?
“Untuk hal DJ, saya dan sahabat-sahabat saya sudah tangani. Kami sudah memiliki rencana. Tenang saja. Serahkan pada kami karena ini tugas kami. Agar semuanya cepat berakhir, tolong, jangan ikut campur akan urusan kami. Kami tidak diam, kami bergerak. Fisik dan mental kami telah dikerahkan demi kedamaian dan kemakmuran kita semua. Dan selama ini, kita semua aman. Maka dari itu, saya mohon. Bapak-bapak, ibu-ibu, saat ini sudah gelap gulita. Anak-anak kalian menunggu di rumah. Pekerjaan besok sudah memanggil. Kita masih punya waktu. Kita diskusikan besok hari, bisa -.-?”
Masyarakat yang tengah bersama-sama itu langsung berpandangan. Mereka saling bertanya pada teman di samping mereka tentang jawaban mereka. Hal itu menimbulkan desis yang cukup mengusik telinga sehingga Bunga langsung mengambil nafas panjang.
Tiba-tiba saja, seorang pria dengan kacamata hitam mengangkat tangannya. Ia memiliki kumis yang cukup tebal dan nampak berwibawa.
“Kalau begitu, kami akan diskusikan besok -.-,”ujarnya. Bunga pun tersenyum lega. Ia lalu mengangguk dan tersenyum.
“Baik, kalau begitu. Sampaikan salam saya pada anggota keluarga di rumah. Selamat malam ^-^,”ujarnya lalu mulai membalikkan tubuhnya, melangkah menuju ke dalam perusahaan, meninggalkan orang-orang yang tengah membubarkan diri.
“Entah sihir apa yang ada dalam dirimu, saya tidak tahu. Tadi itu, sangat membuat jantung saya berdegup kencang. Tapi, kamu meredakan masyarakat dengan sangat mudah. Saya kagum. Maaf, saya sudah menyia-nyiakan bakat hebatmu ^-^,”ujar direktur.
Lagi-lagi Bunga menunjukkan senyumannya.
“Saya tidak punya sihir. Tapi, perjuangan saya untuk menumbuhkan rasa percaya masyarakat pada saya sejak dulu itulah factor utamanya. Mereka tidak akan mendengarkan saya jika mereka tidak percaya pada saya. Kepercayaan itu sulit di dapatkan, pak. Maka dari itu, saya sarankan agar bapak membangun rasa kepercayaan masyarakat pada bapak dari nol lagi ^-^,”balas Bunga.
Direktur mengangguk. Matanya nampak berkaca-kaca, menahan tangis. Ia sangat terharu melihat ucapan anak remaja itu. Kata demi kata yang ia ucapkan, berhasil mengusik hatinya.
“Lalu -.-,”ujar direktur. “Bagaimana saya membalas budi ^-^?”
Bunga lalu memutar bola matanya. Setelah suatu ide brilian tertancap di kepalanya, ia lalu memandang Ara dengan sinis. Memberinya senyuman yang cukup menggertak hati.
“Saya ingin bicara dengannya, berdua saja -.-,”
21. 13 WIB, Kantor Direktur.
Dua orang remaja tengah duduk di kursi yang saling berhadapan. Satu melipat tangannya di dada, satu menundukkan kepala. Keadaan kali ini mungkin biasa terjadi antara Arad an Bunga di mana Bunga selalu menunduk dan membiarkan Ara menyombongkan diri. Namun, pada saat ini, hal itu bertukar.
“Bicara-.-,”ujar Bunga. Ia nampak tengah menginterogasi Ara.
“Mau dengar apa, hah ~O~?”tanya Ara. Tatapannya sedikit direndahkan karena rasa malunya masih ada.
Bunga lalu tertawa kecil.
__ADS_1
“Oke, kalau kamu mau berbelit-belit ^O^,”ujarnya. “Pertama, kenapa kamu benci aku -.-?”
Ara memutar bola matanya malas. Mulutnya masih bungkam, enggan menjawab ucapan Bunga.
BRAKK!!
Terlihat Bunga baru saja menggebrak meja yang menjadi pemisah antara mereka.
“JAWAB~O~!”teriaknya. lagi-lagi ia mengeluarkan amarahnya yang membuat Ara kembali berkaca-kaca.
“OKE~O~!”teriak Ara. Bukan seperti pemberani, namun teriakannya terdengar condong kea rah takut. “Aku cinta Dimas sejak dia masih calon anggota detektif. Dan tiba-tiba, kamu datang dan merebut dia dariku -.-,”
Bunga mengangkat sebelah alisnnya. Ia lalu tersenyum.
“Aku, gak ngerebut dia, cewek posesif. Aku emang kenal sama dia jauh sebelum kamu. Waktu dia jadi calon, siapa yang dukung dia? Aku! Asal kamu tahu itu -.-,”balas Bunga. Ara pun hanya bisa terdiam. “Kedua, kenapa kamu ingin menyingkirkan aku dan Dimas dari perusahaan V? Bukannya kamu suka Dimas? Kenapa kamu gak singkirin aku aja -.-?”
Ara mengusap air matanya. Nafasnya nampak tak karuan dan keringat dingin mulai bermunculan. Memang benar. Kalau tidak ada tameng, Ara hanyalah seorang pengecut.
“Aku tidak tahu. Aku kira dengan mengeluarkanmu, aku bisa satu rayon dengan Dimas. Tapi, ayah salah sangka. Dia malah ngeluarin kalian berdua. Dimas juga! Dia bilang akan keluar kalau kamu keluar -.-,”balas Ara.
Tiba-tiba Ara menutup wajahnya. Ia menangis dengan cukup histeris. Bunga yang sudah tidak perduli, hanya bisa menarik nafas panjang, membiarkan anak itu mengeluarkan semua bebannya.
Namun, tangisan Ara yang manja dan ingin mencari perhatian itu berhasil mengusik telinga orang-orang yang tengah berjaga di luar. Mereka sampai mengetuk pintu tak karuan.
“Kenapa ~O~?”teriak direktur samar. Beliau nampak sangat khawatir pada Ara.
Bunga kembali memutar bola matanya. Ia mengelus dadanya agar kesabaran yang sudah diambang kepala itu segera bertambah banyak.
“Tidak ada ~O~!”teriak Bunga. “Sedikit drama saja dari seorang ratu drama ~O~,”lanjutnya sedikit menyindir Ara.
“Serius ~O~?”lanjut direktur.
“YA ~O~!”balas Bunga singkat. “Tuh, ayahmu takut kamu di apa-apain sama aku, princess. Makanya jangan nangis. Pangeran kamu nanti dateng dan itu bikin aku repot -.-,”
“Pangeran?! Pangeran kamu bilang! Pangeran aku udah kamu ambil dengan mudahnya ~O~!”ujar Ara. Ia mulai mengangkat dagunya sambil meneteskan banyak air mata.
“Lanjut -.-,”balas Bunga membuat Ara geram.
“Lo itu cewek murahan! Gak tahu terima kasih ~O~!”
“Oh, maaf. Aku tahu terima kasih. Itu adalah ungkapan yang sangat sulit diucapkan. Yang pastinya sama orang kayak kamu -.-,”
“Halah, banyak omong~O~!”balas Ara. Ia nampak sangat marah. “Kamu gak tahu, kamu gak tahu betapa Dimas cinta sama aku dulu. Dia itu baik Cuma sama aku dan dia selalu bantu aku! Apalagi kalau itu bukan cinta?! Dia berlaku baik sama kamu Cuma karena kasian, ngerti gak! Dia kasian karena cewek kayak kamu gak mungkin bisa dapetin hati cowok ~O~!”
Bunga lalu menggaruk alisnya. Ia masih berusaha tenang walaupun telinganya sudah panas mendengar ucapan Ara yang asal itu. Ia masih tetap diam, membiarkan Ara mengeluarkan semua unek-uneknya. Barulah setelah Ara berlebihan, ia bertindak.
“Bisa berhenti, ratu baper -.-?”tanya Bunga lembut. “Aku Cuma bisa bilang ‘oh’ doang, jadi percuma kamu bilang banyak-banyak kayak gitu. Aku gak peduli, gak pengen tahu, gak nanya juga -.-,”
“Cewek gi*a~O~!”
“Bodo amat, aku bilang bodo amat. Sebanyak apa pun sumpah serapah yang akan kamu keluarkan, akan kalah sama kalimat ‘bodo amat’. Tahu, gak? Gak tahu, kan? Cie, ada ratu ember yang kudet ternyata ^0^,”
“DIAM ~O~!”teriak Ara. Itu membuat Bunga tertawa kecil.
__ADS_1
“Oke, langsung ke pertanyaan ketiga ^-^,”ujarnya lembut. “Jadi, sejak kapan kamu jadi bendahara dari proyek DJ Jaya -.-?”tanya Bunga tanpa ekspresi.