
Bunga keluar dari kantor direktur dengan langkah santai. Ia berjalan sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Wajahnya nampak berseri, tidak sesuai perkiraan.
Seolah keluarga yang tengah menunggu anggotanya selesai operasi, Hari dan Hira langsung menghampiri Bunga. Mereka mengeluarkan banyak sekali pertanyaan. Namun Bunga hanya membalasnya dengan senyuman. Ia lalu menunjuk orang yang ada di belakangnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Ara yang tengah menatap Bunga tajam, dengan hidung dan mata sembab.
“Kalian ini kenapa sih ~O~?!”ujar Hari dan Hira bersamaan. Lagi-lagi Bunga hanya tersenyum. Ia lalu berjalan melewati kedua anak laki-laki itu.
“Ayo, pulang duluan. Nanti dicariin lagi -.-,”ujarnya pada Hari dan Hira.
Seolah kalimat itu adalah sebuah perintah, mereka langsung meninggalkan orang-orang yang tadi bersama mereka. Dengan langkah yang cukup lebar, mereka berhasil menyeimbangi Bunga.
“Kenapa sih ~O~?”bisik Hari. Sepertinya dia sangat penasaran dengan apa yang baru saja terjadi.
Untuk menjawab rasa penasaran kedua sahabatnya, Bunga lalu mendekatkan mulutnya pada telinga anak kembar itu.
“Dia ngaku -.-,”bisiknya lembut membuat Hari dan Hira sedikit merinding.
29 Februari, 09.23 WIB, Rumah Bunga
Bukan mendatangi kantor direktur, pria yang kemarin menyarankan untuk mendiskusikan masalah DJ malah datang ke rumah Bunga. Bahkan sepagi ini di mana Bunga seharusnya masih bersantai di kamarnya, atau membaca buku dan mendengarkan music.
Mau tidak mau Bunga harus menghadapi mereka. Ini juga demi kepentingan dirinya agar tidak terhambat ketika harus menyelidiki karyawan di Perusahaan V. Sisi lainnya, ia juga akan berada di tingkat yang jauh lebih tinggi dari Ara jika berhasil menyelesaikan misi ini. Apalagi yang datang ke rumah Bunga bukan hanya satu orang, namun tiga orang pria dengan salah satunya lebih mirip mahasiswa.
“Diminum dulu tehnya ^.^,”ujar ibu Bunga yang baru saja menyuguhkan minuman-minuman hangat untuk tamu.
“Makasih, bu ^o^,”balas Bunga. “Silahkan diminum ^.^,”
Untuk menghargai apa yang telah disuguhkan, ketiga pria itu lalu meminum sedikit air. Dan memang benar. Pikiran mereka yang awalnya berantakan ketika datang ke sini, langsung terasa segar setelah meminum teh yang disuguhkan ibu Bunga. Setelah mengucapkan terimakasih, mereka pun memulai pembicaraan serius.
“Untuk hal kemarin, mungkin Nona Bungan sedikit heran karena kami datang ke tempat ini. Namun, alasan kami kuat. Kami akan lebih mempercayai nona yang sudah membuktikan kerja nona dari pada pria gemuk itu -.-,”ujar pria berkacamata. Bunga hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kepala.
“Lalu, apa yang ingin anda diskusikan untuk sekarang -.-,”balas Bunga dengan wibawanya.
Pria dengan rambut rapi memandang pria berkacamata dengan sepintas. Laalu setelah itu, ia mengangguk.
“Untuk masalah itu, kami tidak bisa tinggal diam. Memang, masyarakat di daerah kami tidak terganggu. Entah belum. Namun, setelah mendengar bocoran kalau kejadian di kost-an putri adalah salah satu kasus DJ, kami mulai waspada. Daerah itu tidak jauh dari tempat kami berasal. Selain itu, tidak jarang kami juga melihat anak menempelkan logo headset. Kami takut itu adalah komunitas DJ -.-,”lanjut pria berkacamata.
Bunga lalu mengingat kembari kasus Puri yang sempat digeromboli warga. Tidak bisa dicegah, tidak bisa dihalangi, bahkan tidak bisa dielak ketika para warga melihat kejadian itu dengan mata kepala mereka sendiri. Hal itu bukan rekayasa dan hal itu nyata. Pantas saja jika kekhawatiran di masyarakat sempat terjadi.
Bunga lalu memperbaiki posisi tubuhnya. Ia menarik nafas panjang dan siap untuk mengeluarkan semua argumennya.
“Untuk orang dengan logo itu bisa bapak laporkan langsung ke kepolisian karena mereka semua sudah tahu masalah ini. Lalu, saya mohon agar bapak tidak khawatir. Dan tolong sampaikan pula hal ini pada masyarakat. Jangan khawatir, jangan rusuh, jangan gelisah. Kami di sini tidak tinggal diam. Jika kalian percaya pada kami, kalian pasti hanya akan waspada, tidak sampai takut. Nah, barulah kami akan bekerja dengan maksimal. Namun, bila kalian masih ragu akan kerja keras yang telah dan akan kami kerahkan, maka kami juga malas menyelesaikan kasus. Kami akan melalaikan hal ini, walau ini tugas kami. Karena untuk apa bila tidak dipercayai. Padahal kepercayaan kalian-lah inti dari kerja kami -.-,”terang Bunga.
Ketiga pria yang ada di hadapannya hanya bisa menganggukkan kepala mereka. Memang benar apa yang dikatakan Bunga. Demonstrasi, pemitnahan, dan ketidak percayaan mereka malah akan membuat para detektif merasa malas untuk bekerja.
Ketiga pria itu lalu saling memandang satu sama lain. Mereka sedikit berdiskusi sebelum akhirnya berterimakasih dan pamit pulang pada Bunga.
Mereka berdiri setelah matahari mulai menghangat. Mereka keluar dari rumah Bunga, kembali mengucapkan terimakasih dan meninggalkan gerbang rumah tanpa jejak.
__ADS_1
Bunga yang masih berdiri di pintu pagar hanya bisa menutup wajahnya sebentar untuk menghilangkan stress. Ia berusaha mengosongkan pikirannya untuk beberapa saat. Setelah itu, ia kembali membuka matanya dan menarik nafas panjang.
“Semuanya akan baik-baik saja -.-,”bisiknya pada diri sendiri.
Namun, belum sempat Bunga membalikkan tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam kamar nyamannya, Pak Burhan dan Jutong sudah keluar dari mobil yang entah sejak kapan ada di sana. Dari arah lain terlihat Hari dan Hira berjalan dengan santai. Bahkan sesekali bersenda gurau.
“Kayaknya rumah ini bakal jadi markas deh //_-,”bisik Bunga.
Dan benar saja. Di ruang tamu yang baru saja kosong, kini sudah kembali terisi dengan pria-pria yang jenius. Gelas telah diganti dengan yang baru, begitu pun pembicaraan mereka. Namun, kali ini Bunga hanya bisa mendengarkan ucapan para pria di hadapannya sambil menyandarkan dirinya di sofa. Ia sudah sangat lelah.
“Pagi-pagi masa rebahan lagi sih -.-,”protes Hira yang sepertinya ingin kembali ke ranjang.
Bunga menatap anak itu dengan tajam.
“Kamu pikir kenapa aku rebahan? Aku pusing. Masa masih pagi udah dua kali dikerumuni bapak-bapak dengan obrolan yang membosankan -.-,”balas Bunga.
“Aku belum bapak-bapak ~O~!”teriak Hari, Hira, dan Jutong bersamaan. Suara mereka yang menggema berhasil membuat Bunga kembali menutup wajahnya.
“Eh, saya bapak-bapak. Hargai saya -.-,”ujar Pak Burhan. Ketiga orang itu pun langsung membungkam mulut mereka.
Bunga, yang merupakan perempuan satu-satunya di antara mereka hanya bisa diam. Ia masih harus mengatur pikiran dan nafas yang masih belum teratur. Ia lelah, malas. Ia butuh Dimas.
“Kita beresin ini sampai hari ini. Ini rencana kamu, Bunga. Kita sudah satu minggu menggulung masalah ini dan sekarang adalah puncaknya. Di tanggal ini kamu sudah menargetkan untuk menyelesaikan semua rencana. Jadi, ayolah. Aku yakin setelah ini kamu akan santai -.-,”ujar Hari.
Bunga yang masih menutup wajahnya belum mau mengeluarkan pendapatnya. Ia masih harus memproses ucapan Hari di pagi hari yang sejuk ini. Pikirannya masih melayang-layang, belum bisa focus.
“Kalian ngobrol aja. Aku lemas, ah. Aku bakal dengerin aja. Cuma ngerespon hal-hal yang memang perlu respon dari aku -.-,”balasnya. Ketiga pria itu lalu mengangguk.
“Aku dulu yang bicara ^.^,”ujar Jutong. Ia nampak sangat antusias apalagi setelah mendapatkan acungan jempol dari Pak Burhan dan si kembar. “Semalaman aku dan Pak Burhan menyelidiki semua kertas yang ada di brankas itu. Semua informasi telah kami ambil dan kami simpulkan ^.^,”
Bunga lalu mengangguk. Ia memberi isyarat bahwa dia memahami ucapan Jutong.
“Nah, ternyata memang benar. Akan terjadi pengeboman sekaligus peluncuran proyek di saat yang bersamaan. Peluncuran proyek akan terjadi di pulau terpencil itu. Tapi, aku dan Pak Burhan belum tahu yang mana yang benar karena menurutmu, akan terjadi pengeboman. Apalagi untuk waktunya, kami belum tahu karena DJ ini penuh akan teka-teki. Kau tahu, kan , bagaimana sifat Dimas? Jadi, kami ke sini untuk mendiskusikan masalah itu ^.^,”lanjut Jutong.
Bunga menutup matanya. Ia mengangguk dengan kuat.
“Terus, aku berperan apa di sini -.-,”
“Kamu sangat penting. Kamu bisa mengatur rencana untuk menggagalkan proyek ini dan menangkap DJ. Aku percaya karena kamu pasti punya banyak rencana ^.^,”ujar Pak Burhan.
Bunga lalu melihat Pak Burhan. Di sana ia bisa melihat arti lain dari kalimat yang baru saja ia sampaikan. Oleh karena itu, ia segera mengangkat tubuhnya dan menghadap kea rah keempat pria itu.
“Ok, karena kalian mempercayai aku, jadi aku bakal gunakan kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya ^o^,”ujar Bunga. Ia lalu mengambil sebuah kertas dan satu buah pensil yang selalu siap sedia di bawah meja ruang tamu. Di sana ia mulai menggambar.
“Kita kerahkan anggota kepolisian yang mempunyai ketelitian dan tindakan cepat, pak. Dan untuk detektif, mungkin hanya Jutong karena aku tidak mau ikut ke sana. Aku, tidak mau mengambil resiko. Jadi, kita membagi tim. Tim Alpha berjaga di pulau itu, tanpa detektif. Dan Tim Beta di sekitar Perusahaan V, di mana Jutong dan bapak akan bergabung di sana -.-,”
“Kenapa begitu? Bukannya hanya akan terjadi satu di antara dua kemungkinan itu -.-?”tanya Hari.
__ADS_1
“Bisa jadi. Namun, apa salahnya untuk berjaga-jaga? Toh, kalau misalnya hanya pengeboman yang dilaksanakan, kita bisa menanganinya sekaligus menghentikan proyek DJ Jaya di pulau itu ^.^,”balas Bunga.
Keempat pria yang ada di hadapannya langsung mengangguk tanda faham.
“Tapi -.-,”ujar Hira mulai mengeluarkan suaranya. “Kenapa salah satu dari kita gak ikut ke Tim Alpha? Padahal kita bisa bantu mungkin -.-,”
Bunga mengangguk kecil. Ia lalu menggaruk dagunya dan kembali membuka mulut.
“Kalau kalian aku masukkan dalam Tim Alpha, mungkin yang berjaga di sini tidak ada. Karena yang aku lihat dari DJ, kemungkinannya lebih besar di pengeboman. Kalau misalnya ketika pengeboman dia ada, kalian bisa langsung keluar dari sini, dari rumahku dan berlari mengejar. Sedangkan kalau misalnya di pulau kecil itu akan sulit untuk melarikan diri. Dan menurutku, kalian akan sempurna jika bekerja bersamaan -.-,”
Hari dan Hira lalu mengangguk. Mereka saling memandang satu sama lain dan melakukan tos kecil.
"Jadi, kita bakalan berjaga di rumah kamu, nemenin kamu yang lagi galau ^o^, "ujar Hari dan Hira bersamaan. Mereka lalu tertawa kecil.
Bunga membalasnya dengan anggukan kepala. Ia lalu kembali fokus pada gambar yang tengah ia buat.
"Dari dua rencana yang tadi aku akan paparkan apa yang ada di pikiranku. Sisanya kalian bisa menyaringnya dengan penambahan atau pengurangan ^.^,"ujar Bunga.
An Keempat pria yang bersamanya langzu g menganggukkan kepala. Mereka mulai menyondongkan tubuh mereka agar bisa fokus pada penjelasan dari Bunga.
Bunga sempat menggaruk kepalanya sebentar sebelum melanjutkan pembicaraan. Bukan karena kutuan atau ketombean, ia hanya sedikit bingung bagaimana cara memberitahu mereka.
"Jadi, begini. Aku akan bahas rencana di pulau terpencil itu dulu -.-,"ujar Bunga. Ia kembali menunggu persetujuan keempat rekannya. "Nah, di sini, kita akan buat rencana. Mungkin untuk anggota kepolisian yang dikerahkan itu terserah Bapake saja. Untuk keberangkatannya, karena tempatnya lumayan jauh, kita perlu survey. Tidak usah ribet. Cukup kirim drone untuk melihat keadaan di sana. Barulah setelah keadaan
dipastikan aman, setiap daerah tidak memiliki penjagaan ketat, kita akan mulai beraksi. Atas yang lewat Barat atas yang lewat Selatan. Yang Barat langsung mengamankan keadaan, sedangkan yang Selatan fokus mencari DJ. Karena aku yakin, hanya arah itu yang mempermudah pelariannya kalau kepergok -.-,"
Masih total ada yang berkomentar. Mereka tidak mau mengganggu bunga yang tengah fokus pada penjelasannya.
"Masalah itu beres. Tinggal yang di sekitat Perusahaan V. Di sini kita juga menyebar. Sebagian di dekat perusahaan, namun tidak terlalu mencolok. Sebagian berada di tempat-tempat yang berpotensi sebagai pelarian atau kedatangan. Nah, kalau terlanjut datang, segera panggil penjinak bom. Setelah itu yang lainnya fokus ke pengejaran tanpa banyak bergerombol. Pesan dariku, jangan sampai kita terlihat tengah melaksanakan rencana kita. Jangan sampai mereka sadar bahwa mereka tengah diintai -.-,"lanjut Bunga. Ia lalu kembali menyandarkan tubuhnya setelah selesai menyampaikan semua pemikirannya.
Bunga memutar pensil yang sudah lumayan tumpul. Ia lalu tersenyum ke arah empat orang yang ada di hadapannya sambim tersenyum. Sedangkan mereka masih berusaha menyimpan semua kata-kata yang diucapkan Bunga ke dalam otak mereka. Tentu, rencana ini bukan sekedar hafalan perkalian.
Bunga tidak berkomentar. Ia masih diam untuk mendengarkan pertanyaan yang mungkin saja hendak diajukan.
Dan benar saja. Belum selesai Bunga berbicara dengan pikirannya, Hari dan Hira sudah mengangkat tangan mereka secara bersamaan, tanpa diskusi.
Bunga tertawa kecil. Ia lalu menatap kedua anak kembar itu.
"Siapa yang mau duluan^.^?"ujarnya.
Hari dan Hira saling memberikan tatapan sinis. Mereka bertelepati untuk mendapatkan giliran pertama.
"Udah barengan aja -.-,"balas Jutong yang tidak ingin mendengar keributan untuk sementara waktu.
Hari dan Hira lalu mengangguk. Mereka mulai menatap Bunga dengan serius.
"Lalu, kapan rencana ini akan dilaksanakan ^.^?"tanya mereka bersamaan.
__ADS_1