Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Make Up


__ADS_3

Bunga membuang nafas kesal. Ia lalu menendang sebuah batu yang ada di hadapannya. Erangan terdengar bersamaan dengan jatuhnya lutut Bunga pada tanah.


Seorang polwan mendekati Bunga. Ia menepuk pundak Bunga.


“Maaf, kami belum bisa maksimal T0T,”ujarnya.


Bunga lalu mengangkat tubuhnya untuk melihat wanita yang baik hati itu.


“Bukan kalian yang belum bisa maksimal, tapi aku yang kurang gerak cepat. Terimakasih telah membantu ^.^,”balas Bunga. Wanita itu pun mengangguk.


Beberapa polisi dikerahkan untuk berpatroli saat ini juga di sekitar makam dan kos Puri. Ditakutkan DJ akan datang lagi dan mengacau. Setelah Pak Burhan membagi tugas, beliau lalu membubarkan pasukannya dan semua berpencar.


Pak Burhan berjalan mendekati Bunga. Ia nampak merasa sangat bersalah.


“Bunga, sudah jangan menyalahkan dirimu lagi. Kita akan tangkap DJ secepatnya ^,^,”ujar Pak Burhan. Bunga pun mengangguk.


“Ayo, semangat Bunga. Sedikit lagi saja Si DJ itu akan kalah. Kita ada bersamamu ^.^,”ujar Hira yang langsung mendapat anggukan dari Hari. Bunga tersenyum.


Tangan Bunga kini tengah dipegang oleh Hari dan Hira. Mereka mengangkat tubuh Bunga yang menempel pada tanah. Setelah memastikan Bunga bisa berdiri tegak, kedua anak kembar itu membersihkan celana Bunga. Bunga pun sedikit tertawa ketika melihat tingkah bocah-bocah itu.


Dari kejauhan terlihat seorang pria tengah berlari dengan penuh keringat di wajahnya. Ia menghampiri ketiga detektif muda itu.


“Kalian kenapa tiba-tiba ada di sini -o-?”tanya Dimas dengan ngos-ngosan.


“Gak ada apa-apa -.-,”balas Bunga acuh tak acuh. Si kembar hanya bisa menyaksikan dengan seksama.


“Kamu kenapa marah gitu, Bunga. Tunggu, kamu marah sudah biasa. Tapi, kamu agak ngambek manja kayak perempuan pada umumnya yang bilang ‘gak ada apa-apa’ padahal ada ^.^,”


BUKK!!


Sebuah pukulan yang terbang ke lengan kanan Dimas nampak jelas terlihat. Bunga yang menjadi pelaku hanya bisa menatap dengan garang.


“Lo apaan? Waktu orang lain sibuk kejar DJ lo malah berak ~o~!”


“Yah, kan, aku juga gak mau sakit perut kayak gitu. Aku minta maaf ToT,”


“Minta maaf gitu aja? Mana minta maaf secara fisiknya ~o~?”


Dimas lalu berlutut di hadapan Bunga. Hal itu cukup mengejutkan si kembar bahkan Bunga sendiri.


“Aku minta maaf udah buat kamu susah sendirian. Aku tahu, berakku tidak terlalu penting. Tapi, ada yang harus kamu tahu kalau aku ini sedang kurang sehat. Perutku kena diare dan itu karena aku gak bisa berhenti makan pedas. Kalau saja sejenak aku berhenti fokus pada pedas, aku selalu ingat wajahmu ^3^,”


Bukannya merasa tersipu atau mungkin terharu, Bunga malah langsung pilu. Dia menatap wajah Dimas yang benar-benar merasa bersalah. Dan oleh sebab itu, Bunga langsung mengangkat lengan Dimas. Ia menyuruh Dimas untuk berdiri dan menghadap tepat kepada dirinya.


“Dari pada kayak gini, unfaedah, kamu mending minta maaf sama Pak Burhan dan tim. Bantu mereka buat ganti kejadian yang tadi -.-,”


Dimas lalu tersenyum manis. Ia mengangguk dan segera berlari menghampiri Pak Burhan. Tak butuh langkah yang banyak, kaki panjang Dimas sudah bisa mengantarnya ke hadapan Pak Burhan.


“Pak, aku mau minta maaf karena aku tidak bantu tadi. Aku sakit perut. Jadi, sekarang apa yang bisa aku bantu^.^,”


Pak Burhan lalu mengangguk. Ia mengusap puncak kepala Dimas.


“Gak usah. Tim udah nyebar. Kamu bantu cari informasi dan lakukan rencana aja ^-^,”balas Pak Burhan. Dimas pun tersenyum dan berjalan menuju Bunga.


“Bunga^O^!”teriaknya dari kejauhan. Bunga baru mengangkat alisnya ketika Dimas sudah tiba di hadapannya. “Aku disuruh selesaiin kasus aja. Jadi, aku tidak usah bantu para polisi karena mereka sudah sangat handal. Jadi, apa rencana kita ^.^?”


Bunga menganggukkan kepalanya. Ia hendak memandang ke arah si kembar untuk mendapatkan konfirmasi bahwa Dimas sudah bergabung kembali. Setelah melihat kedua anak itu mengangguk dan mengangkat jempo mereka, Bunga baru merenungi rencana yang akan ia ambil.


“Mungkin ini terlalu soren jika kita mencari merek make up ini. Menurutku, kita periksa saja sidik jari yang kau simpan itu ^.^,”ujar Bunga.


Dimas lalu memasukkan tangannya ke dalam saku mantel. Diambilknya sebuah platik klip yang berisi solasi dengan sebuah tanda sidik jari.

__ADS_1


Kantor Polisi Kota, 14.15 WIB


Penyelidikan Sidik Jari


Hari dan Hira nampak berlalu lalang sambil membawa sebuah laptop. Ya, laptop milik Puri. Mereka banyak bertanya pada orang-orang dan cukup menghalangi Dimas dan Bunga yang tengah mencari pemilik sidik jari.


“Kalian tanya aja sama Brian! Dia jago IT! Jangan ganggu orang lain dong -o-!”ujar Bunga. Ucapannya berhasil membuat Dimas cekikikan.


Hari dan Hira lalu memonyongkan mulut mereka. Mereka pun berjalan menuju Brian yang tengah bersantai.


Seorang pria yang tengah mencari pemilik sidik jari itu masih betah dengan layar di hadapannya. Ia masih melakukan suatu hal yang entah apa itu.


“Kenapa kita harus cari sidik jari? Kamu kan udah curigai dia -.-,”ujar Dimas. Bunga pun menghembuskan nafasnya.


“Aku masih tidak yakin. Kalau sidik jari ini benar mengarah pada dia, ya baru aku percaya -.-,”balas Bunga. Dimas pun mengangguk.


Pria yang tadi tengah asyik dengan pencariannya, kini menatap Dimas dan Bunga dengan senyuman.


“Saya sudah nemu siapa pemiliknya ^.^,” Dimas dan Bunga langsung mempersiapkan telinga mereka. “Bekas sidik jari di sini bukan hanya di satu bagian, namun banyak. Tersebar. Memang awalnya cukup rumit, tapi ternyata hanya ada satu sidik jari di sana. Yaitu sidik jari Puri -.-,”


Bunga dan Dimas menghembuskan nafas mereka. Mereka saling berpandangan.


“Terimakasih banyak, pak atas bantuannya ^.^,” Pria itu pun mengangguk dengan pasti.


Dimas dan Bunga mulai meninggalkan pria itu. Mereka hendak mendekati si kembar dan menanyakan kabar laptop Puri.


“Berarti DJ memang orang cerdas. Ia tidak campur tangan dalam masalah saklar itu -.-,”ujar Dimas. Bunga lalu mengangguk.


“Orang aneh itu, selalu saja bikin masalah -.-,”


Beberapa tombol tengah di tekan oleh Brian. Ia nampak handa mengotak-atik laptop itu. Bertepatan dengan datangnya Dimas dan Bunga, laptop itu berhasil menyala. Hira dan Hari melompat kegirangan. Mereka lalu mengambil laptop itu dan menundukkan kepala mereka.


“Terimakasih Brian ^_^,”ujar mereka bersamaan.


Hari dan Hira lalu menyeret dua orang yang baru saja sampai ke sebuah meja yang kosong. Mereka menyimpan laptop itu di atas meja dan mulai mengotak-atik isinya.


Beberapa foto Puri yang sangat manis nampak berceceran. Wanita ini begitu cantik. Ia banyak menyimpan file-file sekolah. Sungguh anak yang rajin. Terlihat beberapa foto piagam miliknya membuat keempat detektif itu merasa sedih.


Ketika semua dokumen yang diharapkan ada selesai dicari, barulah nampak sebuah foto screenshots yang letaknya sangat tersembunyi. Dari foto itu nampak kalau Puri tengah melakukan obrolan online dengan DJ. Hari dan Hira pun memperbesar foto itu agar terlihat lebih jelas.


^0^: Jadi, sahabat, kapan?


: Gua kasih kode sama lo, Puri. Kita akan mulai di akhir bulan alamat tempat tinggal lo.


^0^ : Ah, kode mudah macam apa itu? Siip, gue bakal siap-siap. Kalau udah kayak gini gua suka gak sabar :v


: Jangan gitu dong! Lo harus sabar dikit.


^0^ : Tapi, menghancurkan orang yang udah nolak gua mentah-mentah itu suatu kebahagiaan. Gua bakal beraksi di bagian penghancuran nanti.


: Seenaknya aja ya lo. Gua suruh lo bekerja di bagian lain. Lo tu lembek.


^0^ : Gua lembek?! Heh, lo mikir dong, siapa yang sabar ngadepin niat buruk lo sejak awal?


: Eh, sorry, nih. Lo gak ada sopan-sopannya ya dari dulu. Mau gua hipnotis dan habisin nyawa lo?


^0^ : Mikir dong, masa sama sahabat sendiri berani kayak gitu. Tapi, gak apa-apa sih. Gua juga bakal tenang kalau lo berani lakuin hal itu, gak usah masuk penjara kalau rencana lo gagal :v


Dan percakapan itu berakhir di sana. Tidak ada foto yang menjadi kelanjutan dari percakapan itu. Keempat detektif itu kembali menarik nafas. Mereka masih merasa kesal pada kelakuan DJ yang tidak menghargai wanita. Dari percakapan itu mereka tahu kalau Puri adalah orang jenius yang menyalahgunakan kelebihannya. Ditolak menjadi anggota detektif di Perusahaan V, mungkin itu maksudnya. Dan, memang benar, pembalasan dendam yang buruk tak pernah berujung baik.


“Ternyata, begitu -.-,”ujar Bunga. “Kalau benar DJ itu dia, sesuai dugaanku, aku tidak akan pernah mau melihat tampangnya lagi -.-,”

__ADS_1


Ketiga teman yang bersama Bunga hanya bisa diam. Kata-kata Bunga itu memang tidak ada salahnya.


“Terus, setelah dapat informasi mengenai status Puri di mata DJ, apa rencana kita? Waktu kita hari ini hanya sampai maghrib. Aku tidak ingin kita terlalu memaksakan tugas di luar perintah -.-,”ujar Dimas.


“Ya, memang benar sih apa yang kamu katakan, Dimas. Aku sudah lumayan lelah. Mungkin sampai rumah, aku akan langsung buka bingkisan dari walikota ^.^,”balas Hira. Hari yang tahu apa maksud dari saudaranya langsung mengangguk dan sedikit meloncat.


Bunga dan Dimas heran. Bingkisan? Mereka kira detektif yang masih amatir dan bekerja di luar perintah hanya mendapatkan sedikit pendapatan. Tentunya tidak setimpal dengan apa yang mereka usahakan. Tapi, ternyata walikota memperhatikan hal semacam ini? Sungguh di luar dugaan.


“Memang bingkisan macam apa yang diberikan oleh walikota 0.0?”tanya Bunga. Ia terlihat mulai penasaran.


“Sesuai kasus. Kalau agak sulit kadang selain uang lima ratus ribu, kami juga dikirim makanan. Atau pernah dapat sembako ^.^,”balas Hira.


“Iya. Tinggal ajukan siapa yang berhasil memecahkan kasus, dengan ijin dari kepolisian dulu tentunya, kami bisa mendapatkan barang-barang itu ^.^,”sambung Hari.


Bunga dan Dimas menganggukkan kepala mereka. Ternyata, bayaran dari pekerjaan mereka jauh lebih layak dari pada bekerja tanpa perintah.


“Kalau begitu, agar cepat sampai rumah, bagaimana kalau sekarang kita langsung ke kosan Puri ^.^?”ujar Bunga. Ketiga sahabatnya lanngsung termenung.


“Mau apa 0.0?”tanya mereka secara bersamaan.


“Ada yang harus kita tanyakan pada ibu kos mengenai pemasangan saklar itu -.-,”


Kosan Putri Jalan Karpet, Komp. Jalan Karpet No. 005, 15.30 WIB


Seorang wanita paruh baya yang terlihat tegang kini duduk di hadapan Bunga. Tatapan Bunga yang taja, berhasil membuat tangannya sedikit bergetar.


Di sebuah ruangan, Hari, Hira, Dimas, dan Bunga mengundang ibu kos untuk sesi tanya jawab. Mereka hanya mempersilahkan ibu kos untuk duduk di kursi yang masih tersisa setelah kebakaran. Ya, keempat detektif itu hanya bisa berdiri.


“Ibu, sekitar beberapa hari lalu, apa ibu tahu ada pria masuk ke dalam kosan khusus putrid -.-?” Bunga memulai pertanyaan.


Ibu kos menggeleng dengan perlahan.


“Saya tidak tahu akan hal itu. Jika ini tentang Puri, sehari sebelum kejadian Puri ajak saya ngobrol. Saya ingat ada pria berjalan menuju kamar Puri di atas, tapi bayangan saya buram. Entah mengapa -.-,”


Bunga memandang ketiga sahabatnya. Ia mengangguk. Ibu kos juga ternyata mendapat pengaruh hipnotis dari Puri.


“Lalu, apakah Puri bertingkah aneh belakangan ini -.-?”


“Tentu tidak. Dia berperilaku seperti biasa -.-,”


“Tapi, apakah ibu tahu akan pembuatan saklar yang membuka laci rahasia di kamar No. 12 itu?”


Ibu kos mengerutkan alisnya. Tangannya sudah tidak terlalu gemetar dan tubuhnya menjadi lebih rileks. Kali ini, ia terlihat tengah mengingat-ingat suatu hal yang mungkin saja ia lewatkan.


“Saklar -.-,”ujarnya masih mencoba mengingat. “Oh ya ^o^!”


Setelah mendengar ucapan itu, Dimas langsung mengeluarkan alat rekamnya. Sedangkan Hari membuka catatan, dan Hira mempersiapkan otaknya untuk membayangkan hal yang terjadi.


“Ketika Puri datang ke sini, dia bilang diantar kakak laki-lakinya. Memang benar. Ketika ia datang kemari, ia meminta menetap di kamar no. 12. Kebetulan saat itu jajaran sana masih kosong dan saya persilahkan. Anehnya, kakaknya Puri itu mau ngasih uang lebih ke saya tapi ada syaratnya. Dia mau membangun kamar Puri sedikit, membongkar beberapa bagian katanya. Lalu, ya, saya bolehkan saja karena memang mereka memberi uang lebih, tidak meminta biaya pembongkaran, dan kamar Puri jadi bagus. Saya bersyukur saja ^.^,”


“Kalau boleh tahu, siapa yang datang kembali datang kembali ke kamar Puri pada saat pembangunan -.-?”


“Oh, orangnya saya kurang tahu. Cuman katanya mereka rumahnya di pinggiran kota. Ada sekitar lima sampai enam orang yang datang. Kayaknya mereka geng, soalnya mereka pada pakai topi ada gambar orang lagi pakai headset ^.^,”


Bunga mengangukkan kepalanya. Pinggiran kota? Informasi yang cukup.


Setelah itu, tak ada lagi pertanyaan yang diajukan. Menurut Bunga hal itu cukup untuk rencana mereka selanjutnya.


“Tapi yang masih aku bingungkan, bagaimana dengan make up ini -.-?”tanya Bunga ketika mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah.


“AH^O^!”teriak Hari dan Hira. “Selena suka banget make up. Dia tahu segala hal tentang make up ^.^,”

__ADS_1


Bunga lalu tersenyum. Setelah ia tidak kuasa menahan tawa, ia mengeluarkan seluruh tawanya.


“Kayaknya besok kamu yang harus wawancara ^O^,”ujar Bunga pada Dimas


__ADS_2