
"Tunggu Bunga^0^!"teriak Dimas yang tengah berlari menghampiri Bunga. "Jalanan macet kalau naik mobil ^0^!"
Bunga menghentikan langkahnya. Ia lalu melihat sekitar. Ada sebuah motor! Entah milik siapa.
"Itu motor siapa^0^?"teriak Bunga sambil melanjutkan langkahnya.
"Mas Jutong! Dia ke sini naik motor^0^!"teriak Pak Burhan.
Tanpa basa-basi Jutong langsung melemparkan kunci motor pada Bunga. HAP! Dimas menerimanya dengan kedua tangannya. Ia lalu berlari dan meloncat ke belakang stir motor. Helm yang ada di kaca spion tidak ia hiraukan. Ia langsung memakainya dan menarik tangan Bunga untuk mendekat.
"Kita belum punya SIM. Tapi gak apa-apa. Biar aku yang bawa. Kamu cukup percaya padaku bahwa aku gak akan mungkin membuatmu terluka sedikit pun. Naik^-^!"ujar Dimas.
Tak ada waktu untuk terbawa perasaan. Bunga menghiraukan gombalan Dimas yang kurang tepat dengan waktu itu, lalu mengambil helm yang dilemparkan Pak Burhan. Ia memakainya, walau ia tidak tahu helm siapa itu. Motor dinyalakan, menderu-deru dan melaju dengan kecepatan tinggi.
"Udah ini aku harus nasihatin mereka kalau naik motor dengan kecepatan tinggi dan tanpa SIM itu bahaya. Saya harap bisa tilang mereka-.-,"bisik Pak Burhan.
"Maaf, pak polisi. Helmnya itu dua ratus tiga puluh ribu aja ^-^,"ujar seorang pria yang ternyata memberikan helm pada Pak Burhan yang tengah tergesa-gesa.
Jutong tertawa dengan keras. Pak Burhan lalu mengeluarkan dompet dan membayar helm itu.
"Semoga helmnya gak rusak T.T."bisik Pak Burhan.
13.45 WIB, 70km/jam.
Bunga memegang erat baju Dimas yang menjalankan motor dengan ugal-ugalan. Perjalanan masih cukup jauh. Mungkin mereka baru sampai seperempat jalan. Di tambah banyaknya hambatan di jalanan.
Lampu merah. Gawat! Mereka tidak punya waktu banyak. Dimas lalu membelokkan motornya ke arah yang berbeda. Mereka mengambil lajur yang mungkin akan memperlambat mereka.
"WOY! JALANNYA SALAH~O~!"teriak Bunga dari balik punggung Dimas.
Dimas tidak menjawab. Ia malah membelokkan motornya ke dalam gang. Bunga tidak bisa banyak berkomentar. Ia hanya diam, percaya pada Dimas kalau dia pasti akan membawa Bunga tepat waktu.
13.55 WIB 40-50km/jam.
Dimas melewati pasar dengan kecepatan itu. Beberapa orang terkejut dan di antara mereka ada yang marah. Namun bukan saatnya untuk menjelaskan keadaan. Mereka akan tahu bahwa tindakan Dimas itu benar beberapa menit kemudian.
Sedang santai-santainya Dimas menjalankan sepeda motor itu, tiba-tiba tumpukan kardus jatuh di hadapannya. Ia tidak akan sempat mengerem. Pikirannya acak-acakan.
Bunga terkejut. Ia lalu memejamkan matanya ketika Dimas membelokkan motornya ke sebuah balok kayu yang berada tepat di depan pedagang buah. Ia memutar gas terus hingga kecepatan bertambah. Rodanya berdecit kala bersentuhan dengan balok kayu.
SUUUUTTTT!!!
Motor terapung, melewati tumpukan kardus yang menghalangi jalan. Semua orang melihat hal itu dan terkejut, termasuk Bunga. Sebuah apel dari pedagang itu bahkan sempat terbawa. Ketika masih berada di udara, Bunga melemparkan buah apel yang terbawa itu tepat ke tumpukan apel yang lain. Hal itu menimbulkan rasa kagum dan sorakan semangat dari para penghuni pasar.
13.48WIB, 50-60km/jam.
__ADS_1
Saat ini mereka tengah berada di sebuah jalan yang sepi. Memang menguntungkan namun jalan itu penuh tantangan. Sempit, licin, ada bangunan dan selokan yang menghimpit. Di kecepatan itu Dimas lumayan sulit mengontrol motor. Ia sempat menggerakkan tubuhnya untuk menstabilkan laju motor.
Lagi-lagi gangguan.
Seekor kucing melintas seenak jidat. Dimas terkejut dan motornya menjadi tidak stabil. Mereka hampir jatuh karena ban belakang terpeleset ketika menghindari kucing. Dimas menurunkan kakinya. Ia beberapa kali menginjak jalan agar motor tidak tumpah ke selokan. Dan barulah, ketika mereka melihat sebuah cahaya, motor kembali stabil.
Dimas memegang kemudi dengan begitu erat. Tepat di depan gang itu adalah jalan raya. Dari sana mereka bisa belok kiri dan sampai di statsiun. Dimas pun segera membuat motor melaju di jalanan dengan membabi buta. Mereka seperti tengah melayang karena saking cepatnya laju motor itu.
WAAAWAWWAWWWAWA!!!!
Banyak orang yang berteriak dan berlari ketika mereka sampai di statsiun. Bukan takut dengan laju motor Dimas, bukan. Mereka berlari karena dari kejauhan kereta api melaju dengan sangat cepat.
Dimas me rem motornya hingga hampir terjatuh. Ia lalu membuka kaca helmnya dan memanggil seseorang untuk mendapatkan informasi.
"Ada apa pak ^0^?"tanya Dimas.
"Ngeri, jang. Kereta apinya gak ada rem. Cepet pergi atau nanti ketubruk>~<,"ujar pria tua yang kemudian berlari, tidak, berjalan dengan sangat perlahan karena dia cukup tua.
Bunga semakin tegang. Kereta api sudah hampir sampai di statsiun dengan kecepatannya yang masih tidak wajar. Dimas dan Bunga terus berpikir. Mereka tidak tahu harus melakukan apa.
"Ahhhh bodo amat~.~!"ujar Dimas lalu kembali menutup kaca helmnya dan menjalankan motor dengan kecepatan tinggi.
"Dimas! Kamu punya nyawa sembilan hah~o~?"teriak Bunga dari belakang punggungnya.
"Jujur aku tidak punya. Tapi puluhan, tidak, ratusan nyawa orang akan melayang kalau satu nyawaku tidak dikorbankan~o~!"
"Bukan satu, tapi dua! Aku akan ikut denganmu~o~!"
Dimas pun tersenyum tipis. Ia memutar gas hingga motornya berlalu dengan begitu cepat.
Beberapa barang sempat ditubruk oleh Dimas. Ia sudah tidak perduli pada orang-orang atau satpam yang berusaha menghentikan mereka. Ia malah semakin mempercepat laju motor hingga ia berhasil menjalankan sepeda motornya di atas rel kereta api.
Mereka sedang ada di hadapan kereta saat ini. Namun, tak ada yang merasa panik satu pun. Dimas lalu mengeluarkan motornya dari rel ketika kereta hampir menabrak mereka. TTTIIIIIIIIINNNNNNNN!!!!!! Terdengar suara klakson kereta yang begitu nyaring membuat jeritan di dalamnya semakin tenggelam.
Bunga berdiri di jok belakang. Ia memegang bahu Dimas dengan sangat kuat. Ketika tiba saatnya, Bunga tiba-tiba meloncat ke tangga yang berada di pinggir gerbong. Ia berpegangan erat, sangat erat pada tangga itu. Angin yang berhembus begitu kuat berhasil mengacakkan rambutnya. Dimas sempat khawatir sehingga ia berbalik menatap Bunga. Dan Bunga yang masih menggunakan helmnya mengangkat jempolnya membuat Dimas memutar balik motornya.
Dengan penuh kekuatan Bunga memanjat tangga. Ia beberapa kali terpeleset membuat Dimas berteriak keras. Namun akhirnya, dengan seluruh kekuatan yang ia miliki, ia berhasil masuk ke dalam salah satu gerbong.
Dimas tak mau kalah. Ia mengerem motornya secara mendadak. Apalagi ia hanya menarik rem depan saja. Alhasil motor pun mengangkat ban belakangnya dan menerbangkan Dimas. SSUUUIIITTT!!!! Seolah tengah di slow motion, Dimas menggerakkan tangannya untuk mencapai tangga gerbong itu. Ujung tangannya sudah mau mencapai ujung tangga. Sedikit lagi. Sedikit lagi. Dan SET! Tangannya tak berhasil mencapai.
DIMAS HENDAK JATUH KE KOLONG KERETA!
Tamat sudah riwayatnya kali ini. Apakah ia harus mati dalam misi? Apa ia benar-benar harus mengorbankan satu nyawanya untuk ratusan nyawa lainnya? Dan apakah dia harus meninggalkan Bunga begitu saja? Komen sekarang juga :v
Semua bayangan tentang kehilangan kenangan itu tiba-tiba hilang. Dimas tidak masuk ke kolong kereta. Kaki kanannya berhasil menyelamatkan nyawa berharganya. Kakinya tersangkut di salah satu tangga. Dimas pun bersyukur lalu mulai menarik badannya. SUITT! Dengan sekali tarikan nafas ia sudah bisa melepas kakinya dan berjalan menuju gerbong.
__ADS_1
Dimas menghentakkan kakinya di lantai gerbong. Beberapa orang yang berada di sana langsung menyambutnya dengan gembira. Tanpa basa-basi Dimas langsung berlari ke arah luar gerbong. Ini gerbong yang lumayan dekat. Di depan gerbong ini ada dua gerbong bergandengan. Dan di belakangnya ada empat gerbong bergandengan. Ini cukup untuk menyelamatkan banyak nyawa. Sisanya, ia serahkan pada Bunga.
Dengan sekuat tenaga Dimas mengangkat ujung gerbong. Ia berusaha untuk memisahkan gerbong-gerbong ini agar tidak terus terbawa. Ia lalu membuka helm yang ia gunakan, memukulkan helm itu pada besi yang menghubungkan gerbong, lalu menginjaknya.
"Ayolah~-~!"ujar Dimas dengan marahnya. Ia lalu mengadukan besi yang masih terhubung itu dengan helmnya sekali lagi dan BERHASIL! Gerbong sudah terlepas dan melaju dengan agak lambat.
Tanpa ragu Dimas lalu meloncat ke gerbong yang ada di hadapannya. Ia membongkar beberapa kursi dan melemparkannya pada gerbong belakang. Kursi-kursi itu dilindas, membuat laju gerbong semakin lama semakin pelan. Orang-orang di sana bersorak, mengucap syukur, lalu berterimakasih pada Dimas.
Kali ini tujuannya adalah mencari Bunga. Ia lalu berlari melewati gerbong-gerbong yang masih terhubung dengan kepala kereta dan meneriakkan nama Bunga.
Seorang wanita tengah mencabut sebuah besi yang menghubungkan kepala kereta dengan gerbong di belakangnya. Dan ketika Dimas hendak mendekatinya, gerbong sudah terlepas. Gawat! Bunga tertinggal seorang diri di kepala kereta.
Dimas tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Ia lalu berlari ke arah belakang, mengambil ancang-ancang, lalu berlari dengan sekuat tenaga. Bunga yang ada di hadapannya menyilangkan kedua tangannya sebagai tanda bahwa Dimas lebih baik tidak meloncat. Namun percuma. Anak bandel itu sudah meloncat lebih dulu. Ia berlari di udara, berusaha menggapai kepala kereta yang sempit dan cukup jauh.
HAP! Bunga berhasil menangkap tangan Dimas. Ia lalu berusaha mengangkat tubuhnya. Dan tersisalah tiga orang yang berada dalam bahaya.
Bunga langsung berlari ke arah masinis berada. Ia membuka pintu tanpa ragu. Dan di sana ia tahu apa penyebab kereta ini tidak mau berhenti.
Masinis itu diikat dan mulutnya di sumpal. Ketika Bunga datang, terlihat ia tengah berusaha membuka tali yang mengikat dirinya. Bunga langsung menarik tali yang mengikat masinis dengan sekali tarikan. Masinis pun terlepas lalu segera menarik rem.
Suara decitan terdengar begitu jelas. Beberapa orang sampai menutup telinga mereka karena decitan itu sangat ngilu. Masinis itu terus menarik rem sambil berkaca-kaca.
Laju kereta mulai melambat. Namun tak cukup lambat untuk sampai di statsiun. Masinis itu semakin banyak mengeluarkan air mata. Ia bahkan berteriak ketika berusaha menghentikan laju kereta.
Dimas mendongak keluar. Ia melihat gerbong-gerbong di belakangnya sudah berhenti. Orang-orang berhamburan keluar dari sana dan mengikuti petugas.
"Dim, ini gak akan tepat waktu~.~!"teriak Bunga.
Dimas pun memutar otaknya. Ia lalu melihat sebuah tuas. Ah! Relnya!
"Relnya ~o~!"teriak Dimas. Ia pun langsung mencari sesuatu untuk dilempar.
GREKK!!!
Tiba-tiba relnya memindahkan kereta ke lajur yang berbeda. Statsiun selamat. Tidak akan ada yang terluka, kecuali ketiga orang itu.
Dimas terkejut. Apa yang telah Bunga lakukan untuk mendorong tuas itu? Dimas pun langsung menatap Bunga. Ia tidak melihat kakinya di tutupi sepatu. Ternyata Bunga melempar sepatu kesayangannya untuk mendorong tuas. Kini sepatu itu tengah berguling-guling karena sempat tergilas kereta. Tergilas, benar!
Bunga lalu membuka sepatunya yang lain. Ia mulai menaiki kereta. Dimas masih belum tahu apa yang hendak di lakukan kekasih idamannya itu. Ia hanya bisa menjaga Bunga agar tidak terluka. Alhasil, kini dua orang remaja tengah berpegangan erat pada atap kereta.
Bunga membuka helmnya. Ya, ia memang belum membuka helmnya. Tebasan angin membuat rambutnya berkibar, layaknya bendera. Ia terlihat sangat cantik dan pemberani.
Tanpa disangka, Bunga lalu melempar helmnya itu tepat ke arah balok kayu yang tengah menahan berton-ton kerikil. Namun, balok itu tidak menjatuhkan kerikil seperti yang ia harapkan. Ia kesal. Lalu dengan berat hati dilemparkannya lah sepatu yang ia genggam. DASSSSSS!!!! Kerikil-kerikil itu berhasil menutup seluruh rel. Bunga lalu memandang ke arah Dimas, tersenyum. Tetesan air mata nampak diterpa angin.
"Siap siap, pak TuT!"teriak Bunga pada masinis. "Selama tinggal, Dimas. Terimakasih sudah cinta padaku. Aku akui, aku memang suka padamu^-^." lanjutnya sambil mendorong Dimas hingga masuk ke dalam kereta.
__ADS_1
Tinggal beberapa detik lagi kereta akan menabrak kerikil. Beberapa detik lagi kereta akan terhenti. Beberapa detik lagi Bunga akan terlempar begitu keras hingga mungkin nyawanya ikut terlempar. Menyelamatkan dirinya sendiri? Begitu harapan kalian? Jangan harap. Bunga tak punya waktu
sebanyak itu. DUARRRRRRRR!!!! Kereta berhasil menabrak kerikil, ia terhenti dan melemparkan Bunga begitu saja. Jauh, dan jauh.