
"Saya tidak akan menolak untuk memfasilitasi semua keperluan kalian. Saya dukung kalian ^-^,"balas walikota.
Akan tetapi, bukannya senang, kedua anak itu hanya mengerutkan alis mereka.
"Saya tahu, saya faham. Kalian pasti bertanya mengapa saya percaya kalian. Saya ini, seorang detektif amatir juga dulunya. Kalian pikir, untuk apa saya mengusulkan Perusahaan V itu ^-^,"
Bunga dan Dimas lalu saling berpandangan. Mereka mengubah ekspresi bingung mereka dengan senyuman. Mereka sangat bahagia karena akhirnya ada yang tahu kebusukan dari direktur gendut itu.
"Saya hanya pesan satu hal saja -.-,"ujar walikota lagi. Bunga dan Dimas langsung mendengarkan dengan seksama.
"Jangan paksakan, jika lelah istirahatlah. Lalu, gunakan semua peralatan yang saya beri dan bilang kalau ada butuh. Terakhir, tolong temukan DJ. Dia juga ada kasus dengan saya -.-,"
24 Februari, 08.00 WIB
Masih pagi, mereka tahu. Apalagi Hari dan Hira. Mereka begitu memperlihatkan bahwa mereka masih ingin bersama dengan ranjang yang akan membuat nyaman sepanjang hari. Sepanjang hari Hari. Hira juga :v.
Untung saja, mobil yang disupiri oleh pria berkumis kemarin, siap mengantar mereka kemana saja.
Kali ini mereka akan mendatangi kawasan yang sudah diyakini sebagai markas. Belum ada dari pihak kepolisian yang ikut karena Bunga dan Dimas takut salah memprediksi. Mereka hanya memastikan tempat, baru siap bergerak.
"Memangnya di mana -.-?"tanya Dimas yang masih belum bisa memahami ucapan Bunga yang sempat di potong gebrakan pak kumis sebelumnya.
Bunga lalu membuka sebuah peta kota. Di peta itu penuh akan bulatan. Ya, peta yang selalu menjadi sahabat Bunga dalam setiap kasus. Hingga, tak heran jika peta itu berwarna-warni kali ini. Salah satunya tiga bulatan yang berwarna merah. Bulatan itu menunjukkan tempat yang disebutkan Nona Biya, Nyonya Okta, dan Nona Mesi.
Sekali lagi, rencana DJ. Jika dihubungkan, bulatan itu akan menunjuk segitiga yang mengarah tepat pada suatu daerah. Di daerah itu terkenal sebagai gang angker.
"Emang, kenapa di sebut gang angker *.*?"tanya Bunga.
"Jadi begini ceritanya. Konon, dulu di sana ada pasar. Tiba-tiba pasar itu kebakaran dan banyak orang yang meninggal. Setelah kejadian itu, kadang-kadang masyarakat sekitar bilang kalau ada suara ricuh, tawar menawar, dan lainnya. Makanya disebut gang angker -.-,"
Bulu kuduk Bunga tiba-tiba merinding. Cerita itu yang pendek itu sebenarnya tidak begitu menakutkan. Tapi entah mengapa, Bunga merasa bulu kuduknya semakin lama semakin berdiri.
"AC nyebelin ~.~," ujarnya kemudian. Dimas pun tertawa terbahak-bahak.
Dengan santainya, Bunga mengulurkan tangan kecilnya untuk mengecilkan AC. Barulah setelah merasa suhu dalam mobil cukup, ia pun kembali menyandarkan dirinya pada jok mobil.
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan tua. Mereka pun langsung turun dari mobil. Memang agak sulit ketika membangunkan Hari dan Hira. Namun untunglah, mereka tidak menyita waktu banyak.
Semuanya turun dari mobil, kecuali pak supir. Ia minta untuk tidak ikut-ikutan karena beliau memang tahu bagaimana keadaan gang itu.
"Tapi, gangnya gak ada tuh -.-,"ujar Hira. Ia mulai menguap untuk kesekian kalinya.
"Kebetulan, gangnya ada di belakang gedung tua ini ^-^,"balas Bunga berusaha merayu kedua anak kembar itu untuk ikut dengan mereka.
Hari dan Hira lalu menghela nafas mereka. Setelah itu, mereka menarik tangan Bunga dan Dimas untuk masuk ke dalam gang yang gelap gulita itu.
24 Februari, 08.25WIB. Gang Angker.
Hira yang masih mengantuk berjalan paling depan. Saat ini, mereka tengah berada di dalam gang yang terasa dingin itu.
Ternyata, di gang itu berdiri beberapa toko dan ruko. Pintunya sudah hangus dan berdebu, tak diperbaiki. Apalagi cahaya kurang sehingga hawa begitu dingin. Ditambah bangunan yang berhasil menutup keberadaan gang itu terlihat menjulang. Semakin seram saja tempat ini.
Hari yang sudah mulai sadar langsung menggenggan tangan Dimas dengan erat. Ia begitu menempel dengan tubuh Dimas.
"Apaan dah! Risih ah ~_~,"ujar Dimas. Berkali-kali ia berusaha melepaskan tangan Hari, berkali-kali juga genggaman Hari semakin erat.
Bunga lalu melihat sekitar. Tak ada yang aneh di sana. Hanya bangunan tua, jalan becek, dan jendela yang hancur. Semuanya tidak mencurigakan. Hingga ia melihat sesuatu di dekat sebuah pintu.
Tiba-tiba saja, terdengar suara musik yang cukup keras. TETTTTT!!!! Suara itu begitu membuat jantung berdebar. Keempat anak itu langsung kebingungan. Apa yang terjadi?
Cahaya! Selagi masih ada cahaya maka mereka aman. Akan tetapi, tiba-tiba saja suara tawa banyak orang yang digabung dengan suara jeritan begitu mengusik telinga. Hari dan Hira langsung menutup telinga mereka karena tak kuasa mendengar suara itu. Dimas pun langsung menggenggam tangan Bunga. Ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi.
BRUKKK!! DAGGG!!!
Tiba-tiba saja terdengar suara drum tengah terjatuh lalu menggelinding. Cahaya yang ada di hadapan mereka di halangi oleh sesuatu! Dengan secepat kilat, Dimas menarik tangan Bunga dan Hari yang tengah berpegangan dengan Hira.
"Kita lari ke arah belakang ~o~!"perintahnya.
Tanpa menyetujui perintah itu dengan kata-kata, mereka langsung berlari bersama-sama. Tanah yang becek, kotor, dan bau sudah tidak dihiraukan. Mereka menginjak genangan-genangan air kotor itu dengan nafas terengah-engah. Celana mereka yang bersih dan wangi langsung mendapat corak dari tanah yang mereka injak.
Cahaya itu terlihat begitu jauh. Ditambah lagi bebatuan yang entah dari mana berkali-kali membuat mereka hampir terjatuh. Ini kasus yang sangat misterius.
__ADS_1
Dimas sempat tersenyum kecil saat cahaya yang hendak mereka capai sudah ada di hadapan. Akan tetapi, BRAKKKK!!! Lagi-lagi sesuatu menghalanginya, membuat cahaya itu hilang.
Karena mereka anak-anak yang pintar dan cerdas, tak perlu bertanya mengapa, mereka langsung menyusun tangga untuk keluar melewati drum itu. Bunga mengeluarkan handphone. Ia menyalakan senter. Sepertinya mereka akan mudah keluar.
PLETAKKK!!!
Tiba-tiba saja, kayu dan beberapa barang yang mereka tumpuk terjatuh karena sebuah batu yang dilempar. Jantung anak kembar itu semakin berdetak kencang. Mereka lalu memalingkan kepala mereka, berharap tak ada siapa-siapa di sana.
Akan tetapi mereka salah.
Di balik mereka, nampak beberapa kepala manusia yang wajahnya tidak terkena cahaya. Hitam. Kaki mereka saja ada yang hanya sebelah, ada yang terbalik. Hanya terlihat beberapa bagian yang menggontay dari wajah-wajah mereka. Apakah itu, pipi yang robek?
Bunga lalu mengambil balok kayu dan menyodorkannya pada sekelompok makhluk yang entah apa.
"Dorong aja drumnya ~0~!"teriak Bunga.
Hari, Hira, dan Dimas lalu mengeluarkan seluruh tenaga mereka.
Sulit. Drum itu keras. Hira lalu mengetuk drum itu dan terdengar butiran kerikil berjatuhan.
"Drumnya isi batu T.T,"ujar Hira. Jantung mereka pun semakin berdegup kencang. Apa yang harus mereka lakukan sekarang?
Handphone Bunga pun padam. Entah mengapa. Mereka semakin tegang.
Di saat seperti itu, Dimas sebagai laki-laki yang paling dewasa berpikir keras. Sedangkan Bunga, ia malah memperhatikan sesuatu yang berada di belakang drum. Matanya menyipit dan ia langsung terkejut.
GREPPP!!
Dimas mengambil kayu yang dipegang Bunga.
"Pegangan sama Bunga ~0~!"teriaknya. Hari dan Hira mengangguk dan langsung menggenggam tangan Bunga.
Dimas menarik Bunga. Ia lalu menggerak-gerakkan kayu yang ia genggam. Makhluk-makhluk itu langsung menyingkir begitu saja. Ada JALAN!! Mereka langsung menggunakan kesempatan itu untuk berlari sekencang-kencangnya.
Bunga sempat membalikkan pandangannya. Ia terlihat mencari seseorang.
"Semuanya ~0~!"teriak Dimas. Bunga pun mengalihkan pandangannya. "Kita langsung meloncat dan tendang penghalang itu bersama-sama. Aku yakin, yang itu bukan drum sungguhan ~0~!"
Lagi-lagi ketiga anak itu hanya mengangguk.
Mereka yang masih ketakutan langsung mengatur nafas. Tanpa ragu, mereka melihat ke arah gang yang membuat keringat mereka keluar tadi.
Kosong.
Tak ada apa-apa di sana. Hanya ada genangan-genangan air yang bergerak karena hentakan dari keempat anak itu tadi.
"Bisa gila aku T.T,"ujar keempat anak itu bersamaan.
RM. Padang Dekat Gedung Tua, 10.12 WIB.
"Untung ada Dimas ^-^,"ujar si kembar bersamaan.
Kali ini, mereka termasuk pak supir sedang makan rendang dengan lauk lainnya. Dimas yang traktir. Ya, biar bagaimana pun, orang tua Dimas berkecukupan ditambah dirinya yang mempunyai tabungan dari penghasilan sebagai detektif.
"Karena Dimas, rasa gemetar kami bisa hilang ^-^,"balas Hira.
Dimas hanya memutar bola matanya. Yang penting Bunga baik-baik saja, pikirnya. Memang gak nyambung.
"Ternyata bener rumor itu -.-,"ujar pak supir. Keempat anak itu langsung mengangguk.
"Tapi, ada sesuatu yang membuat aku bertanya-tanya -.-,"ujar Bunga. Ketiga temannya langsung terfokus padanya.
"Di cahaya yang ada di depan, di balik drum tadi, terlihat sebuah pintu. Sepertinya itu markasnya. Tapi, bagaimana kita mengetahui cara masuk ke sana tanpa diganggu lagi? Untuk memastikan saja, apa itu markasnya atau bukan-.-,"
Ketiganya lalu merenung.
"Kalian ingat, sebelum pulang Nona Biya bilang sesuatu-.-,"ujar Dimas.
"Aku lupa. Soalnya author gak masukin ke cerita ^-^,"
Dimas mendengus kesal.
"Pria yang COD dengannya bertubuh tinggi, gemuk. Tato headsetnya ada di tangan kanan. Katanya sering keluar rumah juga. Gak mungkin kan ada orang yang bakal mirip banget?^.^,"
__ADS_1
"Tapi gak satu orang kayak gitu -.-,"
"Aku bagi tugas aja. Ketemu hari ini, aku traktir makanan padang lagi ^-^,"
"Boleh ^-^,"balas mereka serentak.
"Saya ikut ^-^,"ujar pak supir.
Mereka pun segera menyelesaikan makan mereka dan segera berpencar.
BUNGA.
Di pasar yang entah pasar apa namanya, Bunga berjalan dengan gontay. Ia memperhatikan setiap orang yang ada di sana. Yang putih dan gemuk banyak. Tapi yang bertato sama sekali tak ada.
Bunga berjalan terus dari awal pasar hingga ke ujung. Ia bahkan bolak-balik. Akan tetapi, tak ada yang bisa dicurigai.
Tempat ini riuh. Sulit jika mencari satu orang dalam keadaan seperti ini. Sepertinya aku harus melakukan trik, begitu pikir Bunga.
Ia lalu mencari sebuah gentong. Aha! Gentong biru itu! Tanpa ragu ia langsung berlari ke arah sana. Gentong itu sepertinya kosong. Maka dari itu Bunga percaya, apa yang ia lakukan pasti sukses.
DUNG! Gentong itu terguling.
"Ahh! Cincin berlianku ^.^,"teriak Bunga tepat ke dalam gentong itu. Suaranya yang menggema berhasil membuat seorang pedagang kaos yang putih, gemuk, dan bertato langsung memalingkan pandangannya. Tatonya ternyata berada di sebelah kanan.
Kena!
Bunga lalu berlari menuju pria itu. Amarahnya yang tak dapat dibendung langsung ia keluarkan. Tangan kanan pria itu ditarik dengan kuat. Bunga pun langsung melihat gambar tato. Tapi, tak ada. Tak ada headset.
Pria itu melotot, membuat Bunga ciut.
"Saya mau beli kaos ^.^,"ucap Bunga.
HARI DAN HIRA.
Mereka mendapatkan bagian mall karena mereka berdua. Dan seolah seorang penguntit, Hari dan Hira mencurigai seluruh orang yang gemuk dan putih. Mereka membuka tangan kanan semua orang gemuk dan putih yang mereka temuk dengan lancang. Sebagian dari mereka hanya menganggap kalau anak-anak itu cuma prank menjadi orang gila.
Sudah hampir lima belas orang yang mereka curigai, namun tak ada yang bertato.
"Capek ah >o
"Ayo semangat -.-,"balas Hari terlihat menggusur kakinya.
Mereka pun menguap dan menutup mata mereka. Lalu BRUKK! Seorang pria berhasil mereka tabrak.
"Aduh pak, maaf >.<,"ujar mereka berdua.
"Hati-hati kalau lihat. Jalan tuh pakai mata ~.~,"ujar seorang pria dengan kosa kata yang parah, berkulit putih, gemuk, dan bertato.
Tunggu, apa?
DIMAS
Dimas mendapatkan bagian mencari pelaku itu di daerah Restaurant SukaA. Setelah itu, mungkin dia akan pindah ke Cafe KucinB dan terakhir ke RM HajiC.
Selama Dimas berkeliling dan berputar di restaurant, tak ada orang yang berpenampilan seperti itu sama sekali. Ia pun mulai bergerak bersama pak supir untuk menuju cafe. Akan tetapi hasilnya nihil.
Terakhir adalah RM HajiC. Jika di sana ia tidak menemukan orang itu, sungguh keterlaluan.
Akan tetapi, baru saja mobil hendak parkir, Dimas melihat seorang pria baru saja bersalaman dengan seorang wanita. Setelah itu, pria itu pergi begitu saja. Ciri-cirinya sangat mirip. Begitu pun tatonya.
Tanpa ragu, Dimas meloncat dari dalam mobil. Ia berlari dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Untung saja jalanan lumayan sepi hingga ia bisa mudah meraih tangan kanan pria gemuk itu.
GREPP!!! Dimas mendapatkannya! Namun, sungguh gila. Itu bukan tato, tapi tanda lahir.
"Apaan O.O?"tanya pria itu garang. Dimas begitu malu saat ini.
Tiba-tiba hp Dimas bergetar. Ia pun segera mengangkatnya. Di sana terdengar suara Hari yang berteriak-teriak tak karuan.
"Maaf pak. Saya ada kepentingan ^.^,"ujar Dimas. Ia pun meletakkan tangan pria itu dan segera berlari menaiki mobil.
Mall, 11.05 WIB.
Terjadi kejar-kejar di sana. Seorang pria gemuk dengan ciri-ciri yang sesuai telah berhasil ditaklukan tepat di samping mall yang tempatnya cukup sepi. Tak ada orang yang menonton mengingat tak ada siapa pun di sana.
__ADS_1
"Di mana DJ ~.~?!"teriak Dimas.
Namun, pria itu malah tersenyum. Ia lalu mengambil sebuah pil dan memakannya. Pria itu mati di tempat. Sungguh mengejutkan. Dimas membuang nafas. Satu informasi telah hilang begitu saja.