
Di samping gedung tua yang sebelumnya mereka datangi merupakan alamat yang ada pada hp pria kurus itu. Ternyata benar dugaan Bunga. Dia mulai bisa memahami gerakan DJ kali ini. Akan tetapi, ada satu hal yang membuat dia tak habis pikir. Di mana markasnya?
Tempat itu sulit dimasuki karena terhalang pagar kayu. Selain itu, di tempat ini tidak ada apapun selain beberapa tembok yang berdiri tegak, kayu-kayu bekas, sebuah mobil usang, dan spanduk. Tidak mungkin kalau DJ menjadikan mobil itu sebagai markas, kan?
Karena kemungkinan untuk mendapatkan letak markas masih kecil, Bunga pun mulai bergerak. Sekarang sudah cukup sore. Mungkin pekerjaan mereka akan lebih cepat selesai kalau tidak ada satu detik pun yang dibuang sia-sia. Selain pengurusan jenazah pria kurus itu memakan waktu yang cukup banyak, mereka juga enggan jika harus bekerja selama 24 jam. Melelahkan.
Bunga lalu menatap ke arah Dimas. Ia terlihat cukup kewalahan kali ini.
"Kamu udah dapet informasi dari Nona Mesi -.-?"
Dimas lalu mengangguk. Ia mengambil hp miliknya dari saku celana. Setelah mendapatkannya, ia membuka sebuah aplikasi. Di sana terpampang obrolan Dimas dengan Nona Mesi.
"Pria yang mengajak COD di HajiC punya tubuh gemuk putih, rambutnya panjang, matanya sipit, dan jalannya memang santai. Dia katanya agak mudah untuk dicari karena cuma diam terus di sebuah bengkel yang berada tepat di samping rumah makan. Nona Mesi sering melihatnya sedang nongkrong. Dan lagi-lagi ada tato -.-,"
Bunga menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, kita tahu apa identitas dari anggota DJ. Tato. Dan kita akan menemukan markasnya hari ini juga ~.~!"
Rumah Makan HajiC, 15.24 WIB
Rumah makan ini ramai seperti biasanya. Mungkin itu cukup menyulitkan keempa detektif dan satu sopir untuk mencari pria gemuk itu. Bukan karena pria itu ada di dalam rumah makan, tapi bengkel yang ada di sampingnya tertutup oleh orang yang menunggu giliran meja.
Bunga memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Ia menarik nafas dengan cukup lemas. Entah mengapa ia nampak semakin lemas setiap harinya.
"Kenapa ^.^?"tanya Dimas. Ia menatap Bunga dengan senyumannya.
Bunga lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya, mengapa kita tidak langsung saja menangkap basah DJ -.-?"
Dimas tersenyum. Ia lalu kembali menatap Bunga seolah-olah ia adalah seorang anak yang harus dinasihati.
"Aku juga inginnya seperti itu. Tapi, apakah akan terasa maksimal kalau kita langsung menangkapnya tanpa menghentikan proyek ^.^?"
Bunga lalu termenung. Ia tengah memikirkan ucapan Dimas yang ada benarnya juga. Ia menarik nafas dan memandang bengkel itu. Tak lama kemudian Hari dan Hira menghampirinya, menepuk pundaknya. Ketika Bunga berbalik, ia dapat melihat wajah kedua anak itu yang selalu memberi semangat.
Bunga mendengus. Ia kemudian menampakkan senyumannya. Setelah itu pandangannya terpacu pada seorang pria gemuk yang tengah berjalan sambil memakan sosis.
"Kejar yuk ^0^!"ujar Bunga dengan begitu santainya. Ketiga pria itu lalu mengangguk dan mulai bergerak.
Dari postur dan langkahnya pria itu memang sangat mirip dengan apa yang dideskripsikan Nona Mesi. Semuanya sangat mirip. Apalagi tato yang ada di tangan kanannya semakin menarik perhatian keempat detektif itu. Walaupun mereka belum tahu, tato apa itu.
Kali ini mereka kembali menggunakan rencana Hari dan Hira yang memang sebelumnya hampir berhasil, kalau saja pria kurus itu tidak gesit. Hari dan Hira akan berakting dan memantau pria itu dari depan. Sedangkan Bunga dan Dimas yang sudah cukup berpengalaman, sudah cukup cekatan mengamati dari belakang.
Untuk menjalankan rencananya, Hari dan Hira pura-pura menjadi anak kembar yang kelakuannya seperti murid TK. Mereka meloncat-loncat kegirangan, sempat menubruk pria itu. Hal itu berhasil membuatnya mengangkat tangan kanannya. Dengan segera, Bunga dan Dimas melebarkan langkah mereka. CASS!!! Itu memang gambar headset. Dimas lalu mengggaruk kepalanya sebagai tanda bahwa target sudah terkunci.
Hari dan Hira terlihat berbincang dengan santai. Mereka tidak menampakkan bahwa mereka tengah mengintai. Bahkan, sesekali mereka berjalan agak menjauh atau mendekati. Mereka sengaja membiarkan pria itu berjalan menuju markas dan membimbing mereka ke sana.
Akan tetapi, pria itu ternyata sadar bahwa Hari dan Hira sempat curi-curi pandangan padanya.
Kecurigaan tumbuh di dalam pikiran pria gemuk itu. Ia bahkan mempercepat langkahnya untuk bisa mencapai pundak salah satu dari mereka. Bunga dan Dimas sempat merasa tegang, namun mereka berusaha untuk tidak menampakkannya. Sikap sok santai mereka bertahan hingga pria gemuk itu menepuk pundak Hari.
Hari gemetar. Ia terlalu terkejut hingga tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Keringat dingin ikut membasahi dahi Dimas dan Bunga. Mereka langsung mempersiapkan kaki mereka untk berlari dengan kencang. Namun, SETS!
__ADS_1
Tiba-tiba saja anak kembar itu berbelok secara bersamaan. Mereka berjalan menuju zebra cross dan menunggu giliran mereka menyeberang. Untuk menghilangkan rasa curiga pria gemuk itu, Hari sempat membalikkan kepalanya dan menatap pria itu dengan sinis. Untunglah, dia percaya dengan rencana yang tidak diduga-duga itu. Ia lalu mengangkat kedua bahunya dan kembali berjalan sambil menikmati sosisnya.
Bunga dan Dimas dapat bernafas lega. Mereka lalu kembali mengintai pria itu.
Sudah lebih dari lima menit tidak ada pergerakan yang aneh dengan pria itu. Dia berjalan dengan normal, menghabiskan sosisnya dengan normal, semuanya tak ada yang mencurigakan. Hingga akhirnya ia mulai memasuki sebuah gang.
Gang itu cukup kecil untuk dirinya. Keempat detektif itu mengawasi secara terpisah membuat mereka semakin sulit dikenali. Pria itu masih berjalan seolah tak ada arah. Yang membuat keempat detektif itu sedikit tenang adalah tidak adanya rasa curiga yang berkelanjutan sehingga mereka dapat mengintai dengan tenang.
KREKKK!!!
Entah dari mana asalnya tiba-tiba saja Dimas menginjak sebuah sampah kaleng. Ia menutup matanya karena merasa sangat teledor. Tentu, pria gemuk itu langsung membalikkan pandangannya. Ia melihat Dimas dan Bunga tengah tertawa sambil memainkan kaleng di sana. Seolah acuh tak acuh, pria itu lalu mengangkat bahunya dan kembali berjalan. Akan tetapi, jalannya menjadi lebih cepat.
"Gawat, dia sadar kita lagi pura-pura ~.~,"ujar Dimas. Ia lalu memberika sinyal pada Hari dan Hira yang berada jauh di hadapan mereka.
Dengan sigap Hari dan Hira langsung melangkahkan kakinya. Ia berusaha untuk mencegah pria gemuk itu untuk kabur. Dan benar saja. Pria gemuk itu langsung melempar sosisnya. Ia berlari, membawa tubuh gemuknya memasuki gang-gang sempit.
“Gawat ~.~!”teriak Dimas dan Bunga bersamaan. Mereka pun langsung berlari untuk mencapai pria itu.
Pria itu tidak sempat untuk berbalik ke belakang. Ia hanya fokus ke hadapannya, mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi, mungkin pemikirannya itu harus berubah karena tanpa sengaja anak kembar itu melintas dengan seenak jidat. Pria gemuk itu lalu berbalik arah. Ia segera memindahkan perut yang penuh lemak itu ke tempat yang lebih aman. Dan lagi-lagi ia harus mencari jalan keluar karena Dimas dan Bunga ada di sana.
“Mau apa sih kalian ~.~?!”teriaknya.
“Kami tidak pernah berniat untuk menyakitimu. Kami hanya ingin mendapatkan informasi darimu. Kita bicarakan dengan baik-baik -.-,”ujar Dimas.
“Kau pikir aku bodoh? Aku ini sudah dilatih untuk tidak mudah terpedaya ~.~!”teriak pria itu.
“Mohon, pak. Kami ingin menyelamatkanmu dari DJ -.-,”timpal Hira.
“Kalian pikir aku ini benar-benar bodoh?! Aku ini tidak akan mudah percaya. Kalau kalian mau informasi, dapatkan dari mayatku ~.~!”
Pria gemuk itu langsung merogoh sakunya. Ia mengambil sebuah pil yang sebelumnya sering mereka lihat. Hal itu cukup membuat Bunga gemetar. Ia tidak mau kembali kehilangan informasi.
Tiba-tiba saja dengan sergap Bunga meloncat dari tempat dia berada. Ia lalu menangkap tangan pria itu hingga mereka berdua terjatuh. Otomatis, pil itu langsung terlempar dan masuk ke dalam kubangan lumpur. Tak mungkin untuk diambil lagi sepertinya.
“CEWEK BODO*~.~!”teriaknya. Ia lalu berusaha mengangkat tubuhnya. Akan tetapi, Bunga yang memiliki kekuatan lebih besar dari pria gemuk itu langsung mencengkram lengannya agar tidak banyak bertingkah.
Tak banyak diam, ketiga pria yang sempat terkejut itu langsung membantu Bunga. Mereka menahan seluruh tubuh pria itu. Gerakannya tidak mau diam. Bahkan, ia berteriak-teriak dan mengucapkan sumpah-serapah. Beberapa orang langsung datang karenanya. Yang lebih merepotkan, ketua RT-nya pun hadir.
Bunga dan ketiga temannya tidak perduli dengan kehadiran masyarakat sekitar. Mereka hanya fokus untuk menahan pria itu dan meyakinkan mereka kalau anggota DJ ini adalah seorang penjahat.
“Saya telpon polisi ~.~!”ujar ketua RT. Dimasn pun segera memberikan respon dengan anggukan kepala mewakili teman-temannya yang tidak bisa berpindah pandangan.
“Namun, tolong jangan campur tangan. Kami dari detektif yang bekerja tanpa perintah sehingga ini salah satu tugas kami -.-,” ujar Hira. Perkataannya itu cukup membuat ketiga temannya kagum akan kalimat bijaksana yang tiba-tiba muncul.
Semua warga yang ada di sana langsung menganggukkan kepala. Mereka pun memberi ruang dan tak ikut membantu keempat detektif itu.
Tak butuh waktu lama, terdengar suara sirene yang membuat warga langsung membuka jalan. Mereka memang sopan.
Beberapa polisi dengan seragam lengkap langsung mendekati keributan. Mereka melihat seorang pria gemuk berhasil membuat empat orang anak sedikit terluka dan berantakan. Karena pria gemuk itu masih meronta-ronta, sempat menendang lengan Dimas, salah satu dari mereka langsung menembakkan sesuatu yang membuat pria itu tertidur.
Kantor Polisi 16.50 WIB
Bunga nampak mondar-mandir di hadapan Dimas, Hari, dan Hira. Mungkin keadaan pria gemuk itu yang membuatnya khawatir. Bagaimana jika ia meninggal? Apa yang akan terjadi jika pria itu sulit bangun? Bayangan yang buruk teru mengelilingi kepala Bunga.
__ADS_1
“Bunga, duduk dulu. Minum. Kamu jangan terlalu capek -.-,”ujar Dimas. Ia menggenggam tangan Bunga dan sedikit menariknya untuk duduk.
Dengan pasrah, Bunga menaruh dirinya di atas kursi tepat di samping Dimas.
“Gak usah khawatir. Aku gak akan biarkan puspaku tersakiti ^.^,”ujar Dimas lagi.
Bunga lalu mengangkat kepalanya. Ia menatap Dimas yang tersenyum di balik memar sendi di tangannya. Bunga pun sadar bahwa Dimas memang baik hati. Ia pun membalas senyuman Dimas.
“Tangan kamu hijau. Kamu baik-baik saja >~”tanya Bunga gelisah. Ia lalu menarik tangan Dimas, memeriksa memar yang ada di sana.
“Kamu perhatian banget sih sama aku? Baru sadar kamu cinta sama aku >.”
“Ih, apaan sih >.”ujar Bunga. Ia langsung melepaskan genggamannya. “Aku tuh Cuma mau periksa aja. Lagian siapa juga yang bakal cinta sama kamu selain Selena -_-?”
“Kamu ^.^,” balas Dimas. Pipi Bunga langsung memerah. Ia nampak semakin lucu.
“Eh, percaya diri banget, pak. A..aku gak cinta sama kamu kok. Apaan sih >.”
Dimas lalu tersenyum sambil membuang nafasnya. Ia menatap wajah Bunga dengan begitu serius.
“Emang kamu gak cinta sekarang. Tapi emang kamu jamin nanti gak bakal cinta sama aku? Aku ini bakal nunggu kamu, lho. Suer. Bukan gombal ^-^,”
Kalima itu semakin membuat pipi Bunga memerah. Ia terlihat begitu gugup.
“Yah, kita jadi nyamuk Hir -_-,”ujar Hari.
“Aku gak merasa sih. Aku suka lihat mereka bercinta. Kalian cocok >3<,”balas Hira membuat kembarannya langsung menepuk jidat.
“Jangan asal ngomong >o
Dimas masih tak rela jika melihat wajah Bunga hanya semerah itu. Ia lalu menatap Bunga dengan senyuma mautnya. Selain itu, kembaran yang sangat jahil di belakang Dimas tiada henti-hentinya menatap mereka.
“Jangan jahilin Bunga terus dong. Kasihan dia, lagi bikin ancang-ancang buat ngungkapin perasaannya sama kamu, Dim 6.6,”ujar Pak Burhan yang tiba-tiba datang.
Bunga pun semakin merah padam.
Pak Burhan datang tidak dengan tangan kosong. Ia membawa beberapa lembar kertas dan sebuah handphone yang mungkin cukup canggih. Mereka langsung terpaku ke barang bawaan Pak Burhan sehingga tak ada yang mau melanjutkan tema Bunga Cinta Dimas lagi saat ini.
“Itu apa, pak 0.0”tanya Bunga. Ia terlihat paling penasaran.
“Ini barang dari pria gemuk itu. Dia masih pingsan. Mungkin dia akan bangun untuk beberapa jam ke depan -.-,”
“Lalu, bagaimana cara buka handphone nya? Gak mungkin orang yang tahu bahwa dia sedang diintai lupa untuk menyembunyikan segala identitas -.-,”sambung Hira. Ia terlihat masih kesal dengan kejadian tadi.
Pak Burhan tersenyum. Ia lalu menunjukkan layar handphone yang menampilkan wallpaper logo DJ.
“Ada fingerprint di handphone nya. Dia memang pintar tapi kami lebih pintar. Identitasnya sudah terbuka dan kalian bisa mencari dengan leluasa. Selain itu, kertas-kertas ini mungkin tidak berharga. Isinya hanya struck bekas pembelian sosis ^.^,”
Tanpa harus dimintai, Pak Burhan langsung menyerahkan handphone itu pada Bunga. Dengan segera, Bunga membukanya.
Beberapa file mereka lihat bersama-sama. Belum ada ekspresi yang menandakan bahwa mereka menemukan sesuatu. Hingga akhirnya sebuah foto yang menampakkan pria gemuk itu membuat mereka sadar.
“Ternyata kita melewatkan sesuatu -.-,”ujar Bunga. “Markas itu, tertutup spanduk>.<,”
__ADS_1