Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Penguntit Hari


__ADS_3

Sebuah pemandangan yang sangat indah tengah berada di hadapan Bunga saat ini.


Terlihat sebuah gunung tengah berdiri dengan begitu kokohnya. Nampak hijau dan indah. Apalagi beberapa awan putih datang menghampiri membuat pemandangan itu semakin mengagumkan.


Saat ini Bunga tengah berada di tengah hutan. Ia bisa melihat gunung lainnya di atas hutan itu. Ia tersenyum sambil mengusap pohon yang ada di sampingnya. Bunga betah berada di sana. Apalagi ditemani dengan sejuknya tiupan angin.


Akan tetapi, sebuah bola besar tiba-tiba turun dari langit. Bola itu berhasil mengubah awan putih menjadi awan merah menyeramkan. Bunga terkejut bukan main. Apakah ini adalah proyek DJ yang membutuhkan banyak uang itu? Hal itu terus berputar di pikiran Bunga hingga akhirnya tanah yang ia injak bergetar hebat. Orang-orang berteriak karena baru saja monster mengerikan keluar dari puncak gunung.


Monster itu sangat menakutkan. Ia menatap ke arah Bunga yang masih terpaku. Dengan hitungan detik saja, lompatan monster itu sudah bisa mencapai keberadaan Bunga. Bunga terkejut bukan main. Di hadapannya saat ini sudah berdiri satu monster menakutkan yang siap melahap siapa saja. Monster itu lalu membuka mulutnya sehingga semakin jelas terlihat betapa lebarnya mulut itu. Dari sana, monster itu mulai mengeluarkan suara.


“Bungaaaa *O*!”ujar monster itu dengan suara yang sangat berbeda. Tidak cocok dengan penampilan menyeramkannya. Apalagi disertai dengan lendir yang berceceran. “Bungaaa, bangun, nak. Kamu kesiangan *O*!!”


Tunggu apa?


Bunga pun membuka matanya lebar-lebar. Ia lalu melihat sebuah sosok orang yang sangat ia cintai, ibunya. Dan yang membuat Bunga masih heran adalah, mengapa wajahnya basah? Apakah kejadian tadi bukanlah sebuah mimpi?


Pertanyaan itu baru terjawab ketika Bunga menarik tubuhnya untuk segera bangkit. Di sampingnya ia melihat seorang ibu yang tengah menggenggam sebuah gayung berisi air. Perasaan basah ini pastilah dari air di gayung itu, bukan dari lendir monster.


“Kamu gak sekolah, nak? Lihat ini sudah pukul enam tiga puluh -.-.”ujar ibu Bunga.


Bunga yang masih harus beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya hanya bisa kembali merebahkan dirinya di kasur.


“Ibu, ujianku sudah beres. Berreesssss. Dan sekarang itu jadwalnya perbaikan nilai, kalau yang nilainya kurang. Dan, aku baru akan pergi ke sekolah ketika pukul delapan telah tiba bertepatan dengan waktu guru datang-.-,”balas Bunga.


Namun, BYUUURRRR!!! Ibu Bunga malah menumpahkan setengah dari keseluruhan air di dalam gayung.


Bunga tidak terkejut sama sekali. Ia hanya bisa menarik nafas panjang dan mengangkat tubuhnya untuk bangkit dengan perlahan. Namun, tiba-tiba saja Bunga memeluk ibunya. Ia memeluk dengan sangat erat. Bahkan, beberapa air mata terlihat menetes di sana. Ibu Bunga terkejut bukan main. Apakah cara ia membangunkan Bunga itu keterlaluan?


“Apa cara ibu berlebihan, nak>~”tanya sang ibu dengan begitu lembut.


Bunga menggeleng dengan perlahan.


“Malah aku mau bilang makasih karena ibu sudah siram aku TUT.”


Ibu Bunga mengerutkan alisnya. Ia lalu mengusap punggung anaknya itu.


“Kenapa berterimakasih 6.6?”


“Iya, aku berterimakasih karena dengan mengguyurku itu berarti aku adalah seorang anak. Sudah lama aku tidak mendengar perintah ibu. Sudah lama aku tidak merasakan guyuran dan pelukan ibu. Aku merasa benar-benar menjadi seorang anak jika diperlakukan seperti ini. Aku, tidak merasa seperti seorang pegawai yang dibangunkan dengan alarm atau ketukan pintu TUT.”


Ibu Bunga tersenyum sambil menghembuskan nafasnya. Ia lalu mengusap rambut anaknya yang kini basah kuyup. Ia menyentuh pipi anaknya dan menyingkirkan tetes-tetes air mata Bunga. Bunga lalu tersenyum.


“Bunga ^u^,”ujar ibunya lembut. Beliau mengangkat kedua pipi Bunga sehingga mereka saling berpandangan saat ini. “Kamu tidak perlu diguyur atau disuruh untuk mendapatkan kasih sayang dari kami. Dengan menjadi orang sehebat itu, kami sudah sayang padamu. Bahkan semakin sayang. Asalkan kamu tidak memaksakan diri kamu, ibu pasti akan terus menunjukkan posisi kamu sebagai anak ^u^.”ujar ibu Bunga.


Bunga tersenyum dengan sangat manis.


“Kalau begitu, kamu sekarang pergi ke kamar mandi. Badan kamu, kan, sudah basah kuyup. Kebetulan ayah, kakak, sama adik kamu udah berangkat duluan ke rumah bibi. Kamu susah dibangunkan. Selain itu, Dimas juga sudah menunggu kamu sangat lama. Dari pukul enam pagi malah. Dia juga bantu ibu bangunin kamu tadi ^u^.”ujar ibu Bunga.


Bunga pun tersenyum. Ia mengangguk pada ibunya dan membiarkan beliau keluar dari kamar.


“Pantes aja tadi aku mimpi monster-.-,”bisik Bunga. Ia pun mulai beranjak membuka jendela dan mengambil handuk.

__ADS_1


***


Sarapan telah selesai. Bahkan, baju dan perlengkapan lainnya sudah siap. Saat ini Bunga tengah memasukkan kaki kirinya ke dalam sepatu yang begitu bersih. Penampilannya selalu enak dipandang.


Dimas dan Bunga berada di depan daun pintu saat ini. Mereka menunggu ibu Bunga yang tengah membawakan minum untuk Bunga. Dari kejauhan, terlihat ibu Bunga tengah berjalan dengan sebuah gelas di tangannya. Setelah sampai di hadapan Bunga, beliau memberikan air itu. Bunga meminumnya dengan suasana hati yang sangat baik sepertinya.


Bunga melemparkan senyumannya pada sang ibu. Ia lalu mengambil tangan kanan sang ibu lalu menciumnya.


“Aku berangkat, ya, bu ^U^.”ujar Bunga dengan manisnya.


Ibu Bunga mengangguk.


“Hati-hati ^.^,”ujarnya. Bunga membalasnya dengan anggukan kepala dan lambaikan tangan. Ia lalu berjalan menuju sepeda Dimas berada.


Tak mau kalah, Dimas ikut mencium tangan ibu Bunga. Ia menampakkan wajah tampannya ke mata ibu Bunga.


“Bu, setelah pulang sekolah saya mau pinjam Bunga sebentar ^.^,”


“Memangnya mau kemana ^.^?”


“Mau fotocopy wajah cantik yang diturunin sama ibu. Nanti mau saya pajang di ruang tamu biar jadi cerah ^.^,”


Ibu Bunga tertawa kecil. Ia lalu menganggukkan kepalanya.


“Hati-hati saja^.^.” Begitu amanatnya. Dan Dimas mengangguk dengan pasti. Ia lalu mengacungkan jempolnya.


Setelah mendapatkan ijin dari seorang ibu, Dimas pun menghampiri Bunga. Ia menaiki sepedanya lalu mempersilahkan Bunga untuk menaiki sepeda juga. Bunga, berdiri di belakang sepeda sambil berpegangan erat pada bahu Dimas. Mereka pun melaju meninggalkan rumah.


Kali ini jarak tempat kedua mantan detektif itu tinggal menuju sekolah menjadi lebih jauh. Oleh karena itu, bukannya semakin mempercepat laju sepeda, Dimas malah memperlambatnya. Ia ingin sekali menghabiskan waktunya bersama Bunga lebih lama.


BBBRRRUUUKKK!!!


Terdengar suara tong terjatuh dengan keras tepat di belakang sepeda Dimas. Dengan sigap Dimas lalu membelokkan sepedanya ke trotoar. Mereka lalu membalikkan kepala mereka untuk melihat apa yang terjadi. Namun, tak ada siapa-siapa. Dan bahkan tong yang ada di pinggir trotoar itu pun tidak terjatuh. Dimas dan Bunga pun saling berpandangan. Setelahnya mereka mengangkat bahu mereka dan Dimas kembali menggoes pedal sepedanya. Sepeda pun kembali melaju dengan perlahan.


Sebuah gerbang yang tinggi kini berada di depan mata Dimas dan Bunga. Dari kejauhan saja mereka sudah bisa melihat gerombolan siswa yang tengah memenuhi papan pengumuman. Mereka sempat berpandangan untuk bertukar pikiran. Setelah itu, Dimas mempercepat laju sepedanya.


Gerbang yang tadi mereka lihat sudah dilewati. Dimas lalu membelokkan sepedanya ke parkiran. Sepeda berhenti tepat di paling samping parkiran. Bunga lalu turun dari sepeda. Ia merapikan kembali seragamnya yang sempat kusut. Kemudian, Dimas mulai memarkirkan sepedanya. Sebuah rantai ia pasang di ban belakang sepeda. Barulah setelah memastikan sepedanya aman, Dimas berdiri dan mengambil tangan Bunga yang mengguntai. Mereka berjalan dengan tenang.


“Apaan sih? Aku lagi gak mau nyebrang-.-,”ujar Bunga sambil melepaskan genggaman Dimas. Dimas hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Bunga.


KREEKKK!!!


Terdengar sebuah suara yang kemungkinan berasal dari ranting yang diinjak. Dengan serentak, Bunga dan Dimas membalikkan kepala mereka untuk melihat sumber suara. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada sebuah ranting yang patah dan bekasnya berserakan. Bunga memandang Dimas, begitu pun sebaliknya. Mereka kembali mengangkat bahu mereka dan melanjutkan perjalanan.


Papan pengumuman yang tertempel di dinding sekolah itu bagai sebuah daging yang dijual setengah harga, sangat dipenuhi oleh orang. Bukan hanya siswa, tapi tukang sapu dan penjaga sekolah juga ikut melihat papan pengumuman itu. Padahal di sana hanya tertempel sebuah daftar nama orang-orang yang kurang beruntung hari ini. Atau mungkin orang malas.


Kumpulan orang itu akan sulit diterobos jika hanya bilang ‘permisi’. Oleh karena itu, Dimas langsung menarik tangan Bunga, menggunakan tangan yang satunya untuk membuka jalan, dan tak butuh waktu lama mereka sudah berada di tempat paling depan.


Ketika merasa menang, Bunga lalu melakukan tos dengan Dimas. Mereka sempat tertawa kecil sebelum mengecek kertas itu.


Deretan nama dan nilai terpajang di sana. Bunga dan Dimas sangat takut jika nama mereka ada di sana. Dimas lalu mencari namanya dengan teliti. Dan positif! Dia tidak harus melakukan perbaikan nilai. Bunga pun melakukan hal yang sama. Ia terus menerus mencari namanya di kertas bagian kelasnya. Dan negatif diremed! Dia pun mengucap syukur dan kembali melakukan tos dengan Dimas. Mereka lalu memutar badan mereka untuk kembali ke keluar dari kerumunan.

__ADS_1


Namun, sebenarnya inilah saat yang paling tidak menyenangkan.


Masuk kerumunan lebih mudah dari pada keluar. Mereka hanya memandang punggung-punggung siswa lain ketika masuk. Namun, ketika keluar, mereka harus memandang wajah-wajah mereka. Coba bayangkan. Sebuah ekspresi yang sangat mengkhawatirkan ketika mereka takut. Keringat, mata yang melotot, alis yang mengerut, dan yang paling parah adalah lubang hidung yang kembang kempis. Mau tidak mau, Bunga dan Dimas harus menghadapi hal itu.


Dimas kembali menggenggam tangan Bunga. Mereka hanya bisa menunduk dari pada harus menatap wajah-wajah mengkhawtirkan itu. Dimas lalu menyeret beberapa orang yang menghalanginya. Dan akhirnya mereka berhasil keluar dari kerumunan. Senyuman dan tawa kecil pun hadir di wajah mereka.


“Udah gini kita mau ke mana^.^?”tanya Dimas.


“Ke kantor guru, yuk! Kita ambil kertas daftar nilai tertinggi ^.^.”balas Bunga dengan penuh antusias.


“Tapi, bukannya itu gak boleh di kasih tahu, ya, sebelum di pasang di papan pengumuman -.-?”


Bunga tersenyum.


“Makanya, kita bilang aja mau bantuin. Kita bantu pasangin aja. Kalau nanti, kan, gerombolan gak bakal sebanyak itu ^.^,”


Dimas tersenyum.


“Kamu pintar, deh ^.^,”ujar Dimas sambil mencubit pipi Bunga. Dan tentu saja, Bunga lalu menyingkirkan tangan Dimas. Mereka lalu mulai berjalan menuju kantor.


Di sepanjang koridor yang cukup sepi, mereka kembali mengobrol. Sepertinya banyak sekali topik yang ingin mereka bahas setelah mendapatkan waktu bebas ini. Habisnya mereka tidak henti-henti mengobrol.


TAK! TAK! TAK!


Terdengar suara langkah kaki yang begitu berisik. Dimas dan Bunga kembali memalingkan pandangan mereka ke arah belakang. Dan lagi-lagi tidak ada siapa-siapa. Dimas dan Bunga langsung berpandangan. Mereka mulai berbicara melalui tatapan mata.


“Kita lanjut aja jalannya. Kita diskusiin nanti o.o,”


“Iya. Sekalian ada ketawanya dikit biar gak mencurigakan o.o,”


Setelah itu mereka tersenyum dan melanjutkan langkah mereka.


Ketika mereka kembali berjalan di koridor, Dimas tiba-tiba saja menarik Bunga untuk berjalan menuju sebuah batu. Bunga menurut saja. Ia lalu berjalan menuju batu itu yang tengah di semprot oleh cahaya matahari yang lumayan terik. Mereka berjalan di tempat yang sangat terang. Dimas lalu sedikit menurunkan matanya untuk melihat ke arah belakang 6.6. Dan benar saja. Ada sebuah bayangan seorang pria yang tengah mengikuti mereka. Dimas pun memandang Bunga dan mengajaknya kembali berjalan di koridor.


“Benar firasatku. Ada yang ngikutin kita 0 o 0,”ujar Dimas. Bunga lalu mengangguk.


“Kita buat rencana sambil ke kantor guru. Kalau pas kita keluar dari kantor dia masih ngikutin, jalankan rencana o_o,” Dimas pun mengangguk.


Kantor Guru, SMA 1, 08.24 WIB


“Iya, bu. Jadi kita mau bantu pasangin daftar nama itu. Kan ibu jadi gak usah repot ^.^,”ujar Bunga.


Seorang wanita dengan tubuh gemuk itu hanya bisa memutar bola matanya. Ia lalu berusaha mengambil sesuatu di dalam laci miliknya.


“Kalian bisa aja ngerayunya -.-,”ujar wanita itu. Ia pun menyodorkan beberapa lembar kertas. “Nih, tinggal buka aja double tip-nya. Nanti kamu pasang di papan pengumuman-.-,”


Bunga dan Dimas mengangguk. Mereka lalu mencium tangan wanita itu dan mulai keluar dari kantor guru.


Deretan nama terlihat rapi. Dimas lalu mengambil sebuah kertas milik kelasnya dan melihat ia masih berada di jajaran pertama. Begitu pun Bunga. Dan ketika melihat kertas yang keseluruhan siswa, Dimas-lah yang berada di posisi satu. Sedangkan Bunga di posisi dua. Hal itu membuatnya cemberut.


Papan Pengumuman, SMA 1, 08. 30 WIB

__ADS_1


Kertas-kertas itu sudah dipasang dengan rapi. Bunga dan Dimas lalu tersenyum. Namun, dari kaca penutup papan, Dimas tiba-tiba melihat orang yang mengikuti mereka tengah berada di belakang mereka. Dan dengan sigap, ia berbalik lalu mengambil tubuh pria itu. Ia menyeretnya gang yang jarang dilewati. Di sana, ia sedikit terkejut.


“Ketua kelas, Hari^0^?!”teriak Bunga dan Dimas.


__ADS_2