
"Dimas -.-,"
Terdengar suara yang begitu parau dari mulut Bunga. Ia tengah memanggil-manggil Dimas dalam keadaan yang bising ini karena hanya Dimas yang ada di sana.
"Bagian mana yang sakit >~" Tanya Dimas. Ia lalu memindahkan tubuh Bunga ke pangkuannya sedikit demi sedikit.
Bunga mengerang. Ia baru merasakan sakit setelah luka tembak itu melukai kulitnya.
"Aku gak tahu dari mana asal darahnya ToT,"ujar Dimas. Ia nampak sangat panik ketika melihat Bunga mengaduh kesakitan.
"Tanganku. Tangan kiriku. Sepertinya cukup dalam >~<,"ujar Bunga masih dengan mata yang terpejam.
Dimas segera mengambil tangan kiri Bunga. Ia mencari luka yang disebabkan oleg peluru itu. Dan setelah ia melihat sebuah peluru menancap di lengan Bunga. Dari peluru itu keluar banyak sekali darah.
Dengan cepat Dimas mencari kain yang bisa digunakan. Akan tetapi, semua kain itu kotor dan dilumuri tanah yang berasal dari sepatu. Ia terus mencari hingga ia sadar kalau Bunga akan semakin kesakitan jika Dimas tidak gerak cepat.
Ketika menatap Bunga yang mulai pucat, Dimas sadar. Ia lalu menyobekkan bajunya. Karena ia banyak belajar di bidang kesehatan, ia pun berani mengambil peluru. Untunglah pelurunya tak terlalu dalam sehingga ia bisa dengan mudah mengambilnya.
"Tahan >.<,"ujar Dimas. Bunga pun menggigit bibir bawahnya ketika Dimas mengeluarkan peluru.
PLUK! Peluru pun berhasil di keluarkan.
Kain bersih yang sejak tadi digenggam oleh Dimas kini tengah dililitkan pada lengan Bunga dengan kuat. Darah dengan cepat menembus lilitan kain. Namun, tidak sebanyak tadi.
Setelah memastikan darah tidak banyak keluar, Dimas lalu mengambil tubuh Bunga dengan kedua tangannya. Ia mulai berdiri, mengangkat Bunga bersamanya.
"Kamu harus kuat >~<,"ujar Dimas sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari markas.
Rumah Sakit, 12.00WIB
Di tengah hari ini belasan orang telah berhasil diamankan. Mereka adalah anggota DJ yang kalah saat penggrebekan. Mereka lebih memperlihatkan sikap yang pasrah ketika para polisi membawa mereka ke kantor polisi.
Di sisi lain, anestesi yang diberikan pada Bunga sudah habis. Ia baru saja merasakan sakit di bagian lengannya.
Keluarga Bunga hadir di sana namun tidak bisa menyemangati dari dekat. Bunga masih harus beristirahat.
"Saya sudah suntikan pereda nyerinya ^_^,"ujar seorang wanita cantik. Ia berbeda dengan yang lainnya, ia sopan.
Bunga hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala. Ia merasa sangat lemas saat ini. Setelah wanita itu keluar dari ruangan, Bunga langsung memejamkan matanya. Ia menatap ke arah jendela dan mulai terlelap.
Sedangkan di koridor rumah sakit, keluarga Bunga terlihat sedikit lega ketika wanita itu menjelaskan bahwa Bunga baik-baik saja. Semuanya sudah diatasi dan Bunga akan sehat walau dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Syukurlah -.-,"ujar Ibu Bunga. Ayah Bunga pun mengangguk.
Mereka nampak banyak bersyukur walau mereka masih belum bisa menatap Bunga langsung. Berbeda dengan mereka, Dimas merasa dia paling bersalah. Ia merasa ia bukanlah pelindung yang baik. Ia bukan yang terbaik bagi Bunga.
"Maaf, tante, om. Saya gak bisa buat Bunga baik-baik saja. Saya tidak becus. Saya tidak layak bersama Bunga ToT,"ujar Dimas. Ia tanpa sadar berhasil meneteskan air mata.
"Tak apa nak. Kamu sudah berbuat baik. Terimakasih ^.^,"ujar ayah Bunga. Dimas tak menjawab. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba saja Dimas mengambil sebuah kertas dari dalam sakunya. Ia lalu menyodorkan kertas itu pada ayah Bunga.
"Pak, saya mohon maaf sekali lagi. Saya harus pergi. Saya hanya mau menitipkan ini untuk dibaca oleh Bunga. Dan saya mohon jangan sampai ada orang lain yang membaca ToT,"ujar Dimas.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, ayah Bunga lalu mengambil kertas itu dari tangan Dimas. Ia mengusap kepala Dimas dengan penuh kasih sayang lalu melemparkan senyumannya.
Dimas mulai beranjak. Ia menyalami ibu Bunga. Dengan rasa yang campur aduk, ibu Bunga lalu memeluk Dimas. Setelah itu, mereka tersenyum dan membiarkan Dimas pergi begitu saja.
13.12 WIB
Banyak orang datang ke rumah sakit. Baik dari kepolisian maupun Perusahaan V. Belum ada teman Bunga yang datang karena berita mengenai hal ini tidak boleh dibocorkan begitu saja.
Bunga sudah bangun. Ia sudah bisa dijenguk. Banyak sekali orang-orang yang memberi semangat pada Bunga. Tak sedikit yang merasa sedih karena tidak bisa membantu Bunga. Hal itu cukup untuk membuat Bunga lupa akan Dimas yang sejak tadi tidak masuk ke ruangannya.
"Bungaaa TOT!!!"teriak seorang pria dari luar ruangan. Untunglah saat ini ruangan kosong sehingga Bunga tidak perlu merasa malu.
"Bunga kenapa kamu gak bilang kalau kamu kembali bekerja? Aku padahal bisa bantu T~T,"lanjutnya.
__ADS_1
Bunga tertawa kecil.
"Gak apa-apalah Jutong. Ini kan hobi aku ^-^,"
"Hobi sih hobi. Tapi gak usah sampai terluka kayak gini, kan? Mulai sekarang aku bakal bantu kamu bagaimana pun caranya -.-,"
Bunga pun kembali tersenyum.
"Oh, iya. Jutong lihat anak kembar gak di luar? Aku mau ngobrol sama mereka. Bisa bantu? Katanya pengen bantu ^.^,"balas Bunga.
"Oh, anak-anak itu. Aku lihat sih. Aku panggilkan, ya ^-^,"
Jutong pun mulai meninggalkan ruangan itu. Ia tidak meninggalkannya secara penuh, namun hanya mengeluarkan kepalanya untuk memanggil dua anak kembar itu. Hari dan Hira, mereka masih belum mendapat giliran masuk karena mereka harus mengalah dengan orang yang datang dari tempat yang jauh.
Saat ini Hari dan Hira sudah berhasil masuk. Kedatangan mereka langsung disambut oleh tangan Bunga yang dibalut perban.
"Bunga ToT!"teriak kedua anak itu. Mereka lalu menghampiri Bunga dan memeluknya.
"Padahal aku aja yang ke dalem tadi TnT,"ujar Hira.
"Gak apa-apa. Resiko ini ^-^,"balas Bunga.
"Tapi tetep aja. Aku yang cowok ini gak bisa melindungi temen. Apalagi pacar nanti. Pokoknya aku gak mau kayak gini! Aku juga harus tanggung jawab ToT!"ujar Hari. Hira langsung menganggukkan kepalanya.
Bunga sedikit tertawa melihat kedua anak itu. Ia pun mengerutkan alisnya untuk berpikir mengenai tugas yang akan ia berikan.
"Kalau begitu, kalian gantikan tugasku untuk hari ini. Mau ^o^?"
Kedua anak itu langsung merespon dengan anggukan kepala yang cepat.
"Tugasnya apa ^0^?"tanya mereka bersamaan.
"Begini. Dengarkan, ya. Kalian ambil brankas yang ada di markas. Aku sempat membukanya sedikit. Letaknya tidak jauh dengan pintu keluar. Aku yakin DJ pasti akan mengunci brankas itu. Tolong cari bersama Dimas. Besok juga aku akan kembali bekerja -.-,"
"Eh, jangan dulu! Lagi pula Dimas gak ada kok ~0~."ujar mereka bersamaan.
"Emang Dimas kemana o.o?"
"Entahlah. Tadi kata ayahmu dia pergi menitipkan sebuah kertas. Kertasnya kami yang pegang. Tapi janji jangan bekerja hari ini atau besok baru kami berikan kertasnya -.-,"
"Iya, iya. Mana kertasnya? Tuh ajak Jutong buat bantu kalian -.-,"
Anak kembar itu lalu memberikan sebuah kertas. Setelah itu mereka sedikit bertengkar dengan Bunga lalu kemudian keluar dari ruangan itu bersama Jutong.
Melihat tidak ada yang sedang menjenguknya, Bunga pun mulai membuka kertas itu dengan suasana hati yang bahagia. Ia membaca kalimat demi kalimat yang ada di sana. Akan tetapi, semakin lama ekspresi Bunga malah semakin berubah. Ia lalu mulai meneteskan air matanya dalam senyuman.
Markas DJ, 13.50 WIB
Kali ini tempat yang sebelumnya penuh akan orang itu sudah kosong. Bahkan, pagar kayu yang ada di sana sempat hancur sehingga memudahkan ketiga orang itu untuk memasuki markas.
Tanpa banyak basa-basi, mereka langsung menelusuri seluruh bagian dinding. Bisa dikatakan sulit untuk mencari brankas yang dimaksud Bunga karena selain hampir seluruh dinding ini rusak, penerangan juga kurang memadai.
Hingga akhirnya lima belas menit telah mereka gunakan tanpa hasil apa pun. Menyerah? Mungkin sebentar lagi. Mereka sepertinya akan menyerah. Hal itu terlihat dari wajah Hari dan Hira yang sudah putus asa.
“Aduh >o<,”teriak Hira begitu nyaring.
Dengan spontan sang kembaran langsung mendekatinya.
“Kenapa >O”
“Ini, apaan sih. Temboknya gak kuat banget sampai bisa berjatuhan kayak gini. Jadi aku jatuh -.-,”
Hari pun langsung melihat kea rah tembok yang dimaksud kembarannya. Di sana ia melihat tembok yang memang berlubah. Namun, dengan penuh kecerdikan, Hari tahu kalau ada sesuatu di dalamnya.
Tanpa ragu ia lalu memasukkan tangannya ke dalam tembok. Ia berhasil meraba sesuatu yang cukup keras. Mungkinkah ini, brankasnya?
“Hira, cepat bantu tendang ~o~!”ujar Hari. Hira pun mengangguk dan mereka mulai menendang tembok bersama-sama.
__ADS_1
BRRAKKK!!!!!
Tembok pun berjatuhan ke bawah menampilkan sebuah rak yang di atasnya tersimpan brankas hitam mengkilat. Kedua anak itu sempat terkagum-kagum karena jarang sekali ada orang yang benar-benar handal menyembunyikan barang berharga seperti ini. Namun,agar tidak menyia-nyiakan waktu, kedua anak itu mengambil brankas keluar dari tembok itu.
Jutong yang sejak tadi penasaran langsung mendekati brankas itu. Ia Nampak terkejut karena tiba-tiba saja ada brankas keluar dari sebuah tembok. Tanpa berpikir panjang, Jutong lalu membantu kedua anak itu untuk memindahkan brankas ke lantai yang kotor.
DJ memang orang yang penuh perhitungan. Brankas itu selain di simpan di tempat yang sangat tersembunyi, juga dilindungi pengaman. Ya, brankas itu di kode.
“Jutong, coba deh minta tolong sama Pak Burhan buat nanya-nanya ke anggota DJ yang sekarang di tahan. Aku mumet ah -.-,”ujar Hari. Hira pun mengangguk dengan perlahan.
Seolah mendapatkan pencerahan, Jutong lalu mengambil handphonenya. Ia mencari nama Bapake Burhan di sana. Setelah itu ia memulai panggilan. Mereka mengobrol sedikit sebelum akhirnya telepon di tutup.
“Pak Burhan sudah siap. Beliau bilang cukup sepuluh menit untuk bertanya-tanya ^.^,”balas Jutong.
Anak kembar itu hanya mengangguk pelan.
“Kalau begitu, ayo lanjut cari kodenya. Semoga ada petunjuk -.-,”
Mereka pun mulai memutar brankas itu barangkali ada sesuatu yang tersembunyi di sana.
Tapi, sayang. Kepintaran DJ telah membuat ketiga detektif itu harus mudah putus asa. Bagaimana tidak? Sudah hampir sepuluh menit mereka mencari, memantau seluruh penjuru markas, namun tak ada petunjuk satu pun.
Tubuh yang sudah penuh akan keringat lalu dibantingkan ke lantai. Ketiga detektif itu menatap langit-langit markas yang bersih, jauh dari debu. Mereka terlihat begitu putus asa.
TRRRIIIINGGGG!!!!!
Terdengar sebuah suara dari kantung celana Jutong. Mereka bangkit dengan serempak. Itu telepon dari Pak Burhan! Akhirnya mereka memiliki harapan.
Jutong tersenyum bahagia. Ia lalu mengangkat telepon dengan senyuman yang lebar. Namun, tak lama kemudian senyumannya pudar. Pudar lagi. Lagi, dan lagi. Hingga akhirnya ia kembali menampakkan ekspresi keputus asaan.
Setelah menutup telepon, Jutong lalu memandang kedua anak kembar itu. Ia menggelengkan kepalanya lemas dan kembali menyandarkan punggung. Begitu pun Hari dan Hira.
Keheningan tiba-tiba menyertai ketiga detekti itu. Tak ada yang mau bicara, marah, atau mengeluh. Semua lelah. Semua pasrah.
“AAHHHHHHH ~O~!”teriak Hira. Ia pun kembali berdiam. “HUAAAAHHHHHHH ~O~!” lanjutnya disertai dengan gerakan kaki.
DUUUGGG!!!
Tiba-tiba saja kakinya menendang brankas yang begitu keras. Tentu saja ia mengaduh kesakitan. Bahkan, matanya sempat berkaca-kaca karena menahan sakit. Akan tetapi ada sisi positifnya. Kedua orang yang bersamanya bisa membuat tawa di wajah mereka. Keheningan mulai tersingkir.
“Makanya diem ^O^!”teriak Hari. Hira hanya mendengus kesal.
“Lagian ini brankas keras baa -.-….,”
Belum selesai Hira memarahi brankas itu, ia langsung dikejutkan oleh suatu hal. Sesuatu yang terbuka tiba-tiba. Sesuatu yang menempel pada brankas itu.
“Lho, kok brankasnya ada saku >.”Tanya Hira. Kedua temannya hanya bisa menggelengkan kepala sambil menatap brankas itu takjub.
“Ayo, buka -.-!”ujar Hari.
Mereka pun langsung bangkit dari posisi mereka. Dengan sekuat tenaga, mereka membuka bagian kiri brankas yang tadi sedikit terbuka. Cukup sulit memang. Tapi kekuatan ketiga pria itu cukup untuk membuka kotak rahasia di brankas itu dan memunculkan sebuah kertas yang begitu banyak.
Mereka sempat terpental ketiga membukanya sehingga kertas-kertas berhamburan. Tanpa ada rasa sabar, mereka lalu mengambil kertas-kertas itu dan membaca satu persatu. Kosong. Kosong. Lagi-lagi kosong. Tak ada kertas yang bertuliskan kalimat atau apa pun itu.
“Ini, aneh banget. Pasti ada sesuatu di kertas ini -.-,”ujar Jutong.
“Coba cari terus! Semoga ada satu kertas saja yang memberi kita petunjuk -.-!”ujar Hira.
Mereka pun kembali focus pada kertas-kertas itu.
Belasan kertas telah dicek dan dipisahkan namun tak ada satu pun yang berisi kalimat. Hira yang paling kesal langsung mengambil brankas itu. Ia mengorek-orek bagian tadi untuk mencari sesuatu.
“Ketemu ^o^!”teriaknya girang. Kedua temannya langsung focus padanya.
“Aku benar. Kertas terakhir ini yang berkalimat ^o^!”lanjutnya. Mereka pun tersenyum bahagia, mulai menelaah kertas itu dan membaca kalimat yang ada di sana.
“Dia yang aku cintai, dialah puspa,”
__ADS_1