
Ruang UKS SMA 1, 11.00 WIB
Menyelidiki zombie.
Sebuah ruangan yang dipenuhi ranjang-ranjang, beberapa obat dan alat kesehatan, juga tirai, kini terlihat seperti tempat sidang.
Bunga, berdiri beberapa meter di hadapan sebuah ranjang. Ia masih menunggu respon dari pria itu yang baru saja siuman satu jam yang lalu. Bunga menarik nafas lemas. Ia ingin sekali marah saat ini, namun tidak bisa. Berkali-kali Dimas menyuruhnya untuk bersabar karena kondisi pria itu.
"Tolong, jawab. Ini sudah kali ketiga aku melontarkan pertanyaan yang mudah. Siapa namamu uou?"ujar Bunga masih berusaha terlihat tenang.
Dan sama dengan respon dari kedua pertanyaan sebelumnya, pria itu masih bungkam. Bunga lalu membalikkan badannya untuk membuang amarahnya. Ia baru bisa kembali menatap pria itu setelah nafasnya bisa diatur.
Dan masih diam. Pria itu tidak membuka mulutnya sedikit pun. Ia malah menatap ruang UKS yang mungkin belum pernah ia datangi. Agar masalah ini cepat selesai dan Bunga bisa langsung rebahan di kamarnya, ia lalu menghampiri pria itu. Kedua tangannya menahan tubuh. Ia menghadap ke arah pria itu, benar-benar menatap wajahnya.
Bunga mengangkat sebelah alisnya. Ia malas jika harus menanyakan hal yang sama untuk ke-empat kalinya. Sehingga, dengan kreatifitasnya, Bunga memberikan isyarat pada pria itu. Ia menunjuk dada pria itu beberapa kali, lalu membuka tangannya dan mengangkat sebelah alisnya sebagai tanda bahwa ia bertanya.
Berhasil! Pria itu mulai membuka mulutnya.
"Eeeee¤.¤....."ujarnya gelapan. "Kamu siapa o.o?"
BRAAKK!!!
Bunga menepuk ranjang yang empuk itu lalu meloncat-loncat. "Bisa gila aku, bisa gila aku ~.~!"teriaknya ketika meloncat. Dimas pun segera menenangkan Bunga yang sudah kehabisan rasa sabar.
"Aku Hira n.n,"ujar pria itu kemudian.
Bunga berbalik. Ia lalu menatap Hira yang tersenyum manis dengan banyak tanya. Tanpa mau membuang waktu, Bunga kembali menghadap ke arah Hira dan melanjutkan tugasnya.
"Oke, Hira. Aku Bunga. Di sini aku berusaha mencari alasan kenapa kamu bisa tidak sadar seperti tadi. Kamu sanggup bercerita ^-^?"tanya Bunga balas tersenyum. Ia harus bersikap ramah pada setiap korban atau saksi, walau Dimas tidak terlalu suka, agar kasus yang ia tangani cepat selesai. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Lihat saja sebentar lagi.
Hira memiringkan kepalanya. Dimas dan Bunga terkejut. *I*ni orang wajahnya boros tapi kelakuannya kayak balita, pikir Dimas. Dan Bunga malah tersenyum lepas.
"Masih bingung ^-^?"tanya Bunga lembut. Hira mengangguk pasti. Bunga pun memperjelas kalimatnya. Ia nampak lebih santai dari biasanya.
"Jadi begini. Singkatnya, sebelum kamu gak inget apa-apa, kamu ini ngapain QoQ?"tanya Bunga.
Hira mengangkat wajahnya dan membulatkan mulutnya. Ia mungkin baru faham dengan apa yang dimaksud Bunga.
"Tadi pagi aku sengaja datang jam enam karena sudah janji mau main petak umpet sebelum ujian. Lalu aku^0^...."
"Tunggu -o-!"potong Bunga. Hira pun langsung berhenti bercerita. "Kamu datang ke sekolah subuh-subuh cuma mau main petak umpet?! Kamu gak nyadar kamu ini udah gede, hah?! Lihat akibatnya sekarang! Makanya jangan suka aneh-aneh deh kelakuan tu ~o~!"Bunga mulai meluapkan emosinya.
Dimas segera merangkul Bunga.
"Udahlah Bunga. Kamu gak usah ngurusin hal itu. Lagian memang main petak umpet itu seru, kok ^-^."
Bunga membuka mulutnya.
"Seru? Seru kata kamu? Kamu lupa Dim kamu umur berapa? Ya, gak usah main kayak gitu lah kalau misalnya mau ujian. Kenapa kamu gak ngapalin aja ~o~?"
"Lho, kok jadi aku sih? Kan aku cuma bilang kalau main petak umpet itu seru! Aku ngapalin! Si Hira tuh yang gak ngapalin ~O~!"
"Alaah ngaku aja kalau kamu suka main petak umpet kalau jam lagi kosong, kan ~O~!"
"Ya tapi, kan, aku ngapalin ~O~!"
Dan, ya, pertengkaran itu terus terjadi. Hira hanya bisa menatap mereka. Memalingkan perhatiannya pada orang yang berbicara. Mereka bertengkar gara-gara Hira? Bukan. Mereka memang sudah ingin bertengkar sejak tadi. Hanya saja ini adalah waktu yang tepat untuk meluapkannya.
Hira mulai kelelahan ketika mereka berdua masih saja cekcok. Hira merasa jadi obat nyamuk. Ia lalu menarik nafas panjang.
__ADS_1
"LALU ~O~!!"teriaknya membuat Dimas dan Bunga langsung berhenti bertengkar. "Aku mulai bermain bersama teman-temanku ^-^,"
Bunga pun mulai sadar kembali. Ia menghampiri Hira untuk fokus pada tugasnya.
"Ya, lalu bagaimana ^-^?"
"Aku tidak mau diejek karena tidak bisa bermain permainan mudah itu. Aku pun segera berlari menuju koridor. Untung saja ada sebuah ruangan yang jendelanya terbuka. Aku tidak perduli kalau itu gudang hantu. Yang aku perdulikan, aku hanya ingin bisa menjadi pemenang karena batas waktu pencarian sampai bel.
"Tanpa ragu aku masuk, tuh. Lewat jendela. Awalnya aku merasa, ah, nyaman. Apalagi ada AC. Aku malah jadi betah. Tapi nyebelinnya, waktu aku lagi santai-santai, eh ada suara barang jatuh. Lah aku kaget, ya, kan? Terus aku deketin tuh asal suaranya. Aku lihat ada tiga orang aneh. Pakai baju kerlap-kerlip, pakai headset sama kacamata item. Mereka bongkar keramik. Aku deketin, ada yang berkilau-kilau gitu. Tapi, tiba-tiba salah satu dari mereka nangkap aku. Mereka pegang pundak aku, liatin benda bulet, dan aku udah gak inget apa pun dari sana T_T."
Bunga mengangguk. Ia lalu menatap Dimas, kembali mengangguk. Ia berbalik menatap Hira.
"Hira, makasih udah kasih infonya. Tubuh kamu pasti bakal segera pulih, kok. Kamu ada dalam lindungan kepolisian. Jangan takut, fokus pada kesehatan kamu, ya ^-^."ujar Bunga.
Hira tersenyum manis. Wajahnya mirip orang Jepang.
Setelah menyemangati Hira yang sebenarnya masih lemas, Bunga dan Dimas keluar dari UKS. Mereka melaporkan beberapa dugaan dan apa yang diucapkan Hira pada Pak Burhan. Pak Burhan nampak memahami hal itu. Ia lalu menyuruh seorang dokter cantik untuk masuk ke ruang UKS dan memeriksa keadaan Hira.
"Lalu, bagaimana -,-?"tanya Pak Burhan.
"Kita langsung ke gudang hantu saja. Di sana pasti lebih banyak bukti yang terkait -.-."ujat Dimas. Bunga dan Pak Burhan pun mengangguk setuju.
"Tapi ^o^,"ujar Bunga. "Tolong jangan suruh pulang semua orang yang masih tinggal. Terutama, kepala sekolah ; ),"
Gudang Hantu SMA 1, 11.32 WIB.
Penyelidikan Barang di Bawah Keramik
Bunga menatap seluruh penjuru ruangan menyeramkan itu. Ia tahu, ada yang unik di sana, selain sebuah piringan hitam yang kuno itu.
Agar bukti tidak hilang dengan mudah, mereka bertiga tidak menyarankan yang lain untuk ikut masuk. Hanya berjaga di luar gudang agar kasus lebih cepat selesai.
Sebuah tumpukan kardus yang mungkin saja menimpa Hira, seperti yang Priska ceritakan, nampak mengundang perhatian. Bunga langsung mendekatinya. Tangannya yang masih dibaluti sarung tangan itu memindahkan kardus satu persatu.
Setelah kardus itu disingkirkan, nampak lantai yang bersih. Keramiknya tertutup rapi. Tidak bekas cokelan atau sebagainya. DJ ini memang bermain rapi.
Bunga lalu jongkok. Ia menyipitkan matanya untuk bisa melihat lantai yang ia curigai. Ia lalu meraba setiap garis semen kering yang ada. Dan suatu hal yang ia rasakan membuatnya terkejut.
Dengan segera Bunga membuka sarung tangannya. Ia lalu kembali menyentuh semen kering yang ia curigai itu. Dan benar apa yang dia hipotesis.
"Dim, Pak, sini ^o^!"ujar Bunga. Mereka berdua langsung menghampiri Bunga.
"Lihat ini ^o^,"lanjut Bunga. Ia lalu mengusap semen kering itu dan menggesekkannya. Dimas ikut mencoba apa yang Bunga lakukan. Dan ia ikut terkejut.
"Semennya terlalu basah untuk gudang tua ini -.-,"ujar Bunga. Dimas mengangguk.
Pak Burhan baru terkejut. Ia kemudian jongkok di samping Bunga. Dimas tak mau kalah. Ia setengah duduk di belakanh Bunga dan menempelkan dagunya pada puncak kepala Bunga. Ya, dasar Dimas.
Tanpa rasa ragu Pak Burhan mengambil sebuah pisau kecil dari sakunya. Ia lalu mengetuk-ngetuk semen yang ternyata setengah kering itu. Tak butuh tenaga dan waktu yang banyak, sudah terlihat retakan-retakan di pinggir keramik itu.
Pak Burhan segera mengambil sarung tangan. Ia lalu melindungi tangannya dengan sarung tangan nila itu dan mulai membongkar keramik. Terkejut. Mereka terkejut!
Di bawah keramik itu nampak tanah yang lebih dalam dari yang lainnya. Seolah sengaja digali. Di bagian yang melengkungnya terlihat bekas benda yang menusuk tanah. Benda ini pasti kotak dan berisi.
Sepucuk surat yang hanya di tuliskan pada secarik kertas membuat ketiga orang itu langsung marah.
Halo, orang-orang lelet! uou. Baru ketemu, ya? : D. Aku DJ, sudah kaya sekarang! Tinggal sedikit lagi saja aku bisa selesaikan proyekku. Pastinya sebelum kalian, orang-orang lelet, bisa mengejarku. Aku tidak sabar ingin segera bertemu labu menyeramkan! ^-^
Bunga menarik nafas panjang. Ia sungguh tidak faham dengan apa yanh terjadi.
__ADS_1
"Apa yang akan kita lakukan u_u?"tanya Pak Burhan khawatir. "Kasus ini pasti akan semakin rumit u_u."lanjutnya.
Bunga kembali menarik nafas panjang.
"Panggilkan kepala sekolah. Aku ingin bicara dengannya ~_~."
***
Di gudang hantu itu, Pak Burhan, Dimas, dan Bunga tengah menghadap ke arah kepala sekolah yang tengah tersenyum canggung.
"Ada apa, ya, nak Bunga ^-^?"ujar Kepala Sekola SMA 1 itu.
Bunga tertawa sinis. Ia menatap pria yang tengah menyembunyikan ketegangannya itu dengan sungguh menakutkan.
"Pertanyaanku banyak, pak ~_~,"ujar Bunga. Kepala sekolah itu hanya tertawa canggung. Terlihat ia sangat takut.
"Aku sudah tahu kronologi kejadiannya. Tinggal bilang saja pada polisi, serahkan diri -_-."ujar Bunga. Pria itu semakin gugup.
"A...a..aa...duh nak. Saya mana mungkin buat reka-reka zombie seperti itu //.^,"
"Saya tahu. Tapi apa yang bapak sembunyikan di keramik ini harus di pertanggungjawabkan, benar ^_^?"
Kepala sekolah semakin gelagapan.
"Ya, sudah. Berarti bapak pikir saya ini bodoh, ya? Bapak pikir saya tidak tahu kalau bapak menyembunyikan sebuah benda berkilau di bawah keramik. Menyalakan piringan hitam itu hanya untuk menakuti siapa saja agar tidak ada yang masuk ke ruangan ini, agar tidak merusak barang berkilau bapak. Dan bapak, yang telah menyembunyikan benda itu, tidak sadar kalau baru saja tiga orang aneh membawanya pergi ^o^?"
Kepala sekolah langsung menyentuh dadanya. Ia nampak sangat terkejut. Penampilan rapinya seketika berubah ketika rasa gugup, terkejut, dan marah bercampur aduk di ruangan itu. Ia menatap keramik yang setengah terbuka itu, lalu menghampirinya.
Kepala sekolah membuka keramik itu tanpa ragu. Tangannya bergetar ketika melihat tanah kosong di bawah keramik itu. Ia menangis, tersedu-sedu.
"Berlian-berlianku ToT,"ujarnya.
Pak Burhan, Dimas, dan Bunga agak terkejut. Mereka sempat terdiam sesaat ketika mendengar kata berlian.
"Memangnya dari mana bapak dapat berlian itu? Bukannya bapak tidak mampu, ya? Orang tua yang harus membiayai istri matre dan anak-anak tak tahu diri, masa iya punya berlian? Pasti maling, ya-o-?"tanya Bunga.
Kepala sekolah nampak habis kesabaran. Ia lalu menatap Bunga dengan penuh amarah.
"Iya! Aku memang mencurinya dari museum! KAMU KEBERATAN ~O~?"ujar kepala sekolah.
"Bunga memang cerdik. Paling bisa memanfaatkan keadaan. Membuat marah orang yang sedang tertekan untuk mendapatkan informasi? Pintar sekali dia. Apalagi anak kami nanti. Kami pasti jadi suami istri ^♡^."bisik Dimas dalam hatinya. Memang kalimatnya tidak benar karena tidak masuk ke gagasan utama. Tapi, ya, terserah dia, lah.
Bunga tersenyum. Kepala sekolah lalu terkejut. Ia menyesali kalimatnya.
"Tidak, bukan, aa.. aa. aku tidak mencurinya! Aaa..aa..פ×,"
"A a a a a aisyah, kujatuh cinta. Lalalalalla. Terserah kau pencuri. Ikut kami saja. Di sel, kamu tidak akan menemukan istri matre, kok ^-^,"ujar Pak Burhan. Ia lalu mengunci tangan kepala sekolah, membawanya.
"Maaf T.T,"bisiknya ketika meninggalkan gudang itu.
Bunga tersenyum lebar. Ia lalu menghapus senyumannya itu. Ia tahu kasus itu sudah selesai. Dengan diketahuinya penyebab zombie itu, sebenarnya sudah selesai. Hanya kasusnya menjadi panjang. Membuat Bunga sulit menyelesaikannya dalam satu hari.
"Halloween ^0^!"teriak Dimas.
Bunga berbalik ke arah Dimas. Dan tiba-tiba saja Dimas memeluknya. Bunga meronta-ronta. Ia terus mendorong badan Dimas.
"Apaan sih ~o~?"ujarnya marah.
"Labu menyeramkan, itu halloween, kan ^♡^?"
__ADS_1
Bunga terkejut. Akan ada pencurian saat halloween? Tapi, kan, negara kita tidak merayakannya. Mungkin itu hanya kode untuk tanggal. Lalu, apa yang akan DJ curi lagi untuk proyeknya?