
26 Februari, 08.00 WIB
Pagi ini masih sejuk ,tapi belasan orang telah bersiap berkumpul di kantor polisi. Hari ini mereka akan segera menjalankan rencana yang telah dibuat matang-matang.
"Dengar semuanya! Buronan ini bukan orang biasa! Berhati-hati dengan senjata, ucapan, gerak-gerik atau bahkan tatapan mata. Hindari kontak langsung ~0~!"ujar Pak Burhan.
"Siap ~0~!"teriak semua orang yang ada di sana.
"Tim A masuk ke dalam gedung. Tim B menunggu di pagar kayu. Dan Tim C berada di pintu masuk. Yang lainnya lakukan sesuai perintah. Bubar~.~!"lanjut Pak Burhan.
Tanpa aba-aba para polisi itu langsung memberikan hormat pada Pak Burhan. Setelah melihat balasan, mereka lalu membalikkan badan dan membubarkan barisan. Mereka langsung masuk ke dalam mobil. Begitu pun Pak Burhan, Hari, Hira, Dimas, dan Bunga. Mereka dengan gesit memasukkan tubuh mereka ke dalam mobil.
Setelah mobil yang dikendarai oleh Pak Burhan mulai melesat, mobil-mobil yang terparkir pun mulai membuat jalanan kembali padat.
Tak butuh waktu lama, sekitar sepuluh menit mereka sudah berada sepuluh meter dari gedung tua. Di sebuah lapangan yang cukup luas, mereka menghentikan mobil dan memarkirkannya di sana. Tanpa perintah, belasan polisi itu langsung keluar dari mobil. Jalan mereka sedikit membungkuk dengan beberapa senjata api dan pakaian pelindung. Mereka langsung berjalan menuju gedung tua.
“Untung tempat ini tidak terlalu ramai -.-,”ujar Pak Burhan sambil membuka sabuk pengamannya. Keempat detektif itu hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
Semua mobil yang terparkir sudah tidak berisi. Orang-orang yang ada di dalamnya bersiap untuk menyergap DJ dan anggotanya. Tim-tim yang telah ditugaskan langsung bergerak ke bagian mereka. Hari, Hira, Dimas, dan Bunga pun begitu. Mereka mempersiapkan senter yang ditempeli stiker headset itu dan bergerak dengan santai.
Pak Burhan berjalan paling depan di antara keempat remaja itu. Ia mulai merapikan rencana, membuat suasana lebih tenang.
Seorang pria yang tubuhnya sangat terlindungi itu melambaikan tangan pada Pak Burhan. Ia lalu mengacungkan jempol padanya. Setelah mendapatkan kode itu, Pak Burhan lalu membalikkan badannya dan menatap keempat detektif muda itu.
“Kalian, aku berpesan untuk hati-hati. DJ ini sangat tidak biasa. Anti peluru sudah di pasang di dalam tubuh kalian -.-?”
“Sudah ^.^,”balas mereka bersamaan.
“Baiklah. Masuk ke sana dan berhati-hatilah. Semoga kita bisa menangkapnya hidup-hidup -.-,”
Mendengar kalimat yang seolah perintah itu membuat mereka langsung bergerak. Awalnya sempat ada rasa ragu pada diri mereka untuk masuk ke gang menyeramkan itu. Akan tetapi, ini demi kepentingan semua orang. DJ ini tidak boleh dibiarkan. Dan ini adalah saatnya untuk menangkap orang jahil itu.
Tidak ada yang berdiri paling depan ataupun paling belakang. Keempat detektif itu berjalan beriringan. Oleh karena itu, kaki mereka memasuki gang secara bersamaan. Sudah satu langkah mereka lalui. Kemudian dua langkah membawa mereka menuju daerah yang samar-samar. Dan langkah ketiga berhasil menyelimuti mereka dengan kegelapan.
Gerakan mereka memang tidak menunjukkan suatu kegelisahan sedikit pun. Akan tetapi, jantung mereka berdegup begitu kencang. Keringat bercucuran. Mereka tahu, tempat ini akan membawa mereka ke dua sisi nantinya. Jika mereka bergerak cepat, dapat berakting, maka mereka akan menangkap DJ dengan mudah. Namun, bila mereka gagal dan membuat mereka curiga, mungkin maut langsung ada di hadapan.
Sekarang mereka sudah berada di tengah-tengah gang. Tim A yang sudah berada di dalam gedung bisa melihat bayangan keempat anak itu. Namun aneh. Belum terjadi apa pun walau sekarang mereka masih melangkahkan kaki mereka. Bahkan, cahaya dari depan masih Nampak jelas.
Keempat anak itu merasa sedikit lega. Akhirnya mereka tidak perlu banyak bertingkah untuk masuk ke dalam markah. Tinggal beberapa langkah lagi maka mereka akan mencapai cahaya itu. Langkah mereka diperlebar, gerak mereka dipercepat. Mereka tak sabar untuk segera masuk ke dalam markas.
DDUUUAAAGGG!!!!
Akan tetapi mereka salah besar.
Ketika mereka sudah ada di hadapan cahaya itu, sesuatu berhasil menutupnya. Cahaya tidak ada. Semua kembali gelap. Pemikiran mereka kalang kabut. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika berpuluh-puluh orang dengan sosok yang menyeramkan lagi-lagi berjalan menuju mereka.
“Senternya ~O~!”teriak Bunga.
Seolah diberikan jalan keluar, ketiga pria yang bersama Bunga langsung teringat akan benda yang mereka genggam dan segera menyalakannya.
Cahaya yang berasal dari empat buah senter itu cukup untuk menerangi seisi gang. Mereka akhirnya bisa melihat dengan jelas bagaimana sosok orang-orang yang ada di hadapan mereka.
Sungguh mengerikan. Wajah mereka seolah-olah penuh dengan darah. Bahkan, ada yang pipinya bolong, matanya tertutup, dan lain sebagainya. Akan tetapi, setelah menunjukkan senter itu, rasa takut para detektif langsung menghilang. Mereka tahu, itu hanyalah make up.
“Kalian siapa? Sepertinya aku baru lihat -.-,”ujar seorang wanita yang wajahnya tidak terlalu banyak menggunakan make up. “Kalian anggota baru bukan -.-?”
Dengan penuh ketakutan, keempat anak itu sepakat untuk mengangguk. Mereka berharap dengan anggukan kepala itu mereka akan selamat dan dapat menjalankan rencana dengan baik. Benar saja, harapan mereka berhasil menyelamatkan diri mereka.
“Kenapa sih setiap anggota baru itu selalu ketakutan kalau ditanya sama aku? Ini Cuma make up loh ToT.”Tanya wanita itu.
__ADS_1
“Ya, makanya jangan serem-serem ^0^!”balas temannya yang lain. Anggota yang lain pun langsung tertawa.
“Anu -.-,”ujar Dimas. Ia cukup berani. “Boleh kami bertemu dengan DJ ^-^?”
“Tentu saja. Ayo ^O^!”teriak mereka. Dengan penuh kebahagiaan, orang-orang itu lalu berjalan mendahului mereka untuk menunjukkan keberadaan DJ.
HHHHAAATTCCCIIIIMMMMM!!!!!
Terdengar suara Hira yang baru saja bersin. Bersinnya cukup keras sehingga membuat beberapa anggota DJ langsung membalikkan kepala mereka. Setela itu, mereka lalu kembali berjalan.
Cahaya yang tadi tertutup kini tak dihalangi. Mereka lalu berjalan beriringan menuju mobil tua itu. Spanduk yang ada di sana dibuka, menampilkan sebuah pintu yang agak tinggi. Satu persatu dari mereka menaiki mobil untuk mencapai pintu itu. Gerakan mereka begitu gesit agar tak ada yang melihat.
“Kalian bisa masuk sendiri, kan? DJ tidak mungkin memperbolehkan anggota barunya payah ^o^.”ujar seorang pria yang berada di barisan paling akhir. Ia lalu menaiki mobil dan menutup spanduk.
Keempat anak itu menatap spanduk dengan begitu pasrah. Mereka tidak sanggup berkata-kata.
“Masuk saja. Toh, Tim B sudah melihat kita. Kita akan aman -.-,”ujar Bunga. Mereka lalu mengangguk dan mulai memasuki pintu itu.
Di sisi lain.
Setelah mendengar suara bersin, para polisi sudah tahu bahwa mereka berhasil melewati gang. Kode itu ternyata cukup mempan dan tidak menimbulkan curiga. Langsung saja, semua polisi yang bukan anggota tim bergerak memasuki gang. Cahaya yang masih bisa memudahkan mereka untuk melewati gang itu, telah dibuka. Penyergapan akan segera di laksanakan.
Markas DJ,09.00 WIB
Semua orang Nampak santai berada di tempat yang ternyata cukup nyaman itu. Ruangan ini memiliki banyak ventilasi. Walaupun begitu, tetap saja. Asap dari puluhan rokok yang tengah digunakan telah menutupnya sehingga membuat keempat anak itu kesulitan bernafas.
Tanpa ragu, mereka langsung membawa masker dari dalam mantel mereka. Dengan menggunakan masker, paru-paru mereka akan lebih aman.
Di sebuah kursi yang paling tinggi, terlihat seseorang dengan kacamata hitam tengah memainkan handphone. Dia memang terlihat tidak asing selain dandanannya yang sering dilihat Bunga dan Dimas dalam setiap kasus DJ, pria itu juga menggunakan sebuah name tag. Di sana terpampang DJ Proyek yang membuat keempat remaja itu yakin bahwa dia adalah dalang dari semua ini.
Di dalam markas, tak ada yang mencurigai keempat detektif itu. Selain begitu banyaknya orang yang harus diperhatikan, mereka juga lebih focus pada diri mereka sendiri.
“Itu DJ -.-,”bisik Hari. Ketiga temannya mengangguk.
“Entahlah. Selain temboknya agak tebal, spanduknya juga akan menutup suara -.-,”ujar Dimas.
Keempat anak itu lalu termenung. Mereka berusaha mencari alternative yang terbaik.
“Kita bersin bareng-bareng aja ^o^,”ujar Bunga.
“Ngaco - o-!”ujar Hari, Hira, dan Dimas. “Mereka bakal curiga - o-,”
“Eh, enggaklah. Kita kan, dianggap satu tim. Kita berasal dari daerah yang sama. Bilang aja kalau kita agak kurang terbiasa dengan asap rokok sebanyak ini ^.^,”
“Bener juga. Pinter kamu ^0^,”balas ketiga pria itu.
HHHAAAAATTTTCCCHHHIIIIMMMMM!!!!!!!
Suara bersin mereka terdengar cukup keras. Hampir semua orang langsung memalingkan pandangan mereka, kecuali DJ. Melihat situasi seperti itu Bunga segera bersiap untuk memberitahukan alasannya. Akan tetapi, tiba-tiba mereka kembali focus pada kegiatan masing-masing. Hal itu cukup membuat mereka heran hingga, HHATTCHHIIIIMMM terdengar suara bersin yang juga nyaring.
“Aduh! Kapan debunya mau dibersihkan DJ ~0~?”teriak orang yang baru saja bersin dan diacuhkan oleh DJ.
Si Kembar, Bunga, dan Dimas langsung saling menatap. Mereka tertawa kecil melihat apa yang baru saja terjadi.
GGRREEEKKKK!!!!
Tiba-tiba saja terdengar sesuatu dibuka. Bertepatan dengan suara itu, muncul cahaya terang yang memasuki ruangan itu. Semua orang terkejut. Lantas mereka mengambil beberapa senjata dan berdiri dari posisinya. Bahkan, DJ yang sejak tadi terlihat paling santai, kini bergerak dengan cepat.
Belasan polis langsung memasuki markas itu. Terjadi beberapa kekerasan di sana. Suara tembakan dari senjata api yang sepertinya illegal itu berhasil membuat para polisi memperkua pertahanan mereka. Beberapa sempat kena tembak, namun tidak sampai meninggal.
__ADS_1
Si kembar langsung beraksi. Mereka keluar dari markas untuk menaiki bangunan itu. Siapa yang tahu kalau DJ akan keluar lewat jalan lain? Sedangkan Bunga dan Dimas kompak menatap ke arah tempat DJ sebelumnya berada.
Kosong.
Sosok DJ tidak ada di sana. Hal itu cukup membuat jantung Bunga dan Dimas berdegup begitu kencang. Mereka lalu mencari keberadaan orang itu dengan mata jeli mereka. Semua sudut sudah ditatap akan tetapi orang itu menghilang dengan cepat.
Bunga mulai resah. Badannya bergetar karena geram. Ia terus menerus mencari sosok DJ hingga akhirnya ia melihat seorang pria yang tengah berjalan dengan santainya menuju sebuah pintu.
“Di sana ~O~!”teriak Bunga sambil menunjuk keberadaan DJ yang tak terlalu jauh itu.
Dimas dengan secepat kilat menanggapi ucapan Bunga. Ia lalu berlari menuju pria itu berada.
GREEPPP!!!!
Tangan DJ sudah dapat digenggam. Ia sempat terkejut karena usahanya untuk kabur tiba-tiba dihalangi oleh sesuatu. Dengan segera Dimas membantingkan tubuh DJ sehingga ia terlempar cukup jauh dari pintu masuk. Setelah itu, pertarungan antara Dimas dan DJ pun terjadi.
Tak mau membuang waktu dan menunggu, Bunga lalu memasuki pintu itu. Ia membukanya dan melihat sebuah jalan menuju jalan raya yang memang jauh di hadapan. Ia lalu teringat akan keberadaan Hari dan Hira. Dengan segera ia memanggil anak kembar itu.
“Loh, kok ada di sini? Jangan-jangan ini jalan lain~o~?”Tanya Hira.
“Iyah! Jaga saja ~O~!”ujar Bunga. Ia lalu kembali masuk ke dalam ruangan.
Terjadi tembak menembak, pukul memukul, dan kekerasan lainnya. Bunga yang bisa dikatakan satu-satunya anak perempuan di sana hanya bisa membantu dengan mencari barang yang berharga.
Di sisi lain, Dimas berusaha mengenali wajah DJ. Namun, setiap kali ia hendak membuka kacamata hitamnya, wajahnya terkena pukulan.
“Terus cari ~O~!”teriak Dimas pada Bunga.
Bunga pun mengangguk dan mulai mengobrak-abrik tempat itu.
Kegaduhan terjadi di sana. Sudah banyak musuh yang tumbang. Hal itu cukup untuk membuat para polisi itu mudah dalam mengerjakan tugas mereka.
Ketika telinganya penuh akan kebisingan, Bunga pun menutupnya agar ia focus. Ia lalu mencari semua barang yang penting. Ketika ia melangkah, ia melihat sebuah tembok yang agak terbuka. Bunga mulai curiga. Ia lalu menjauhkan tubuhnya dari sana untuk mengambi ancang-ancang. Setelah itu, ia mengangkat kakinya dan menendang tembok itu.
Benar saja. Tembok itu sedikit demi sedikit terbuka. Di dalamnya Nampak sesuatu yang sedikit memantulkan cahaya. Ini brankas?
“Jangan buka ~O~!”teriak DJ. Tanpa disangka ia lalu mengeluarkan senjata api dan menembakkannya pada Bunga.
“BUNGA AWAS ~O~!!!”teriak Dimas. Ia tidak sempat mencegah gerakan DJ itu.
Bunga pun membalikkan tubuhnya dan segera menghindar. Namun, JJLEEBBB!!! Peluru itu berhasil mengenainya dan membuat dia berdarah.
“BUNGA ~O~!!!”teriak Dimas. Ia tidak bisa mengontrol dirinya sehingga DJ berhasil menjatuhkannya.
DJ lalu melemparkan sesuatu yang berhasil membuat ruangan mulai berasap.
“LINDUNGI MATA KALIAN! INI GAS AIR MATA ~O~!”perintah Dimas.
Para polisi langsung menutup mata mereka menggunakan kacamata. Bukan menyulitkan hal itu malah mempermudah para polisi untuk mengambil anggota DJ yang terkena gas air mata.
Di Luar.
DJ berhasil lolos dan dia tengah berada di luar ruangan itu. Si kembar dan Tim A serta Tim B ternyata sudah bersiap di sana. Mereka telah menutup jalan keluar bagi DJ. Namun, lagi-lagi DJ membuka sebuah bola yang membuat tempat itu terkungkung asap. Dan di balik asap itu, DJ menghilang.
Di dalam, Dimas langsung merangkul Bunga yang berlumuran darah. Ia lalu memeluk Bunga dengan kuat.
“Bertahan >~<,”ujarnya
**Author Massage: ^.^
__ADS_1
Halloo, aku muncul heheh. Sekali lagi aku mau mintaa maaafff yang sebesar-besar karena selain update gak teratur, aku juga jarang up v: Belakangan ini banyak kegiatan di sekolah dan aku sulit membagi waktu. Di mohon agar semuanya bisa memahami, maaf yaa ToT.
Untuk membuatku bisa semangat membagi waktu, yuk klik favorit + dan jangan lupa share ceritaku ke teman-teman kalian. Thanks**.....