Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Ini Sekolah


__ADS_3

"Jangan lupa bekelnya dimakan. Uangnya pake jajan, jangan pake nraktir orang tapi sendirinya kelaparan. Kalau susah jangan nyontek. Hidup jujur, ya {8^}."ujar Jotung atau Jutong. Tapi kebanyakan orang panggil Jotung, paman dari Bunga yang adik dari Pak Burhan. Walaupun Pak Burhan bukan ayah Bunga, tapi Jotung alias Dika itu sudah dianggap paman muda oleh Bunga.


"Iya, mamang bawel. Aku tahu, ah. Lagian bekel makan macam apa yang isinya cuma sendok sama kertas nasi? Duitnya kagak ada, nasinya ketinggalan di perut lo pula #_-."balas Bunga.


"Ya elah. Sukur-sukur dipinjemin kotak makan : P."


Bunga mendengus. Ia mempercepat kakinya untuk masuk ke dalam sepatu. Dirinya sudah siap. Seragam lengkap dengan atribut, kaos kaki, dan sepatu yang tepat ikut memperindah penampilan Bunga. Apalagi rambutnya yang diikat satu itu, sungguh lucu.


Bunga melambaikan tangannya ke arah Dika yang dibalas dengan cepat. Ia pun membawa sepeda kumbangnya, menaikinya lalu menggoes dengan santai.


Suasana yang masih asri begitu terasa. Bunga dapat menikmati indahnya alam yang jarang ia lihat. Sehari-hari, hanyalah buku, gedung, dan peralatan tulis yang ia temui. Oleh karena itu, sekolah adalah hal yang paling disukai oleh Bunga. Selain ia bisa mendapatkan ilmu, ia juga suka keluar gedung tanpa pengawasan.


Jarak SMA 1, tempat Bunga dan Dimas sekolah, lumayan jauh dari gedung. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai di sana dengan menggunakan sepeda. Ya, itu tidak masalah kok bagi Bunga. Asalkan dapat menghirup udara asli, bukan AC, ia akan rela melakukan apa pun.


Baru seperempat perjalanan, Bunga berhenti di pinggi trotoar. Ia memarkirkan sepedanya sembarangan dan turun dari sana. Ia menghampiri seorang pria tua yang tengah memeluk dirinya sendiri di sudut sebuah toko.


"Bapak sedang apa ^_^?"ujar Bunga begitu ramahnya.


"Saya sedang menunggu udara agak hangat buat bagiin koran^_^."ujar pria tua tersebut.


"Sudah makan^o^?"


"Kebetulan belum. Saya masih nunggu uangnya u.u,"


Sungguh prihatin. Bunga merasa sangat iba melihat seorang pria yang sudah tua masih harus bekerja demi sesuap nasi. Dia, sudah diberi makanan pokok, camilan, uang jajan, masih saja lupa kalau ada orang yang kelaparan.


Dengan penuh keikhlasan, Bunga mengambil uang di sakunya. Ia lalu meninggalkan pria tua itu untuk beberapa lama. Bunga berniat membeli nasi kuning yang keberadaannya tepat di seberang jalan. Dengan menyeberang, dia akhirnya bisa mendapatkan antrian pertama.


Dua bungkus nasi kini sudah ada di genggaman Bunga. Ia kembali menyeberang jalan. Sambil berjalan ia memasukkan satu bungkus nasi ke dalam tasnya. Tak peduli kalau minyak dari sambal akan membuat bau tasnya.


Ketika sampai di trotoar, Bunga kembali menghampiri pria tua yang masih menunggu cahaya hangat matahari. Ia lalu menyodorkan nasi kuning yang baru saja ia beli.


"Saya tahu ini tidak seberapa. Tapi saya ikhlas, pak. Bapak harus sarapan dulu sebelum bekerja ^_^."


Pria itu nampak terkejut. Ia lalu menerima bungkus nasi itu dengan senyuman lebar. Rasa syukur berkali-kali ia ucapkan. Kata terimakasihnya pada Bunga pun sepertinya sudah menjadi paragraf saat ini.


Setelah menjawab ucapan terimakasih dari pria tua itu, Bunga melirik jam tangannya. Masih ada waktu sebelum ujian dimulai. Ia pun pamit dan mulai menaiki sepedanya. Menggoesnya hingga ke SMA 1.


Ketika menjalankan sepedanya dengan santai, tiba-tiba saja ada beberapa pria berotot yang berdiri di depan Bunga. Awalnya ia berpikir kalau mereka hendak menyeberang. Tapi ternyata, mereka hendak menunggu Bunga. Entah apa maksud mereka, yang pasti niat mereka itu buruk. Hal itu terlihat jelas di wajah mereka.


Bunga merasa agak ragu untuk melanjutkan perjalanannya. Namun setelah mempercayakan diri untuk menggoes pedal, ia akhirnya sampai di hadapan para pria itu.


Ketika berada di hadapan mereka, Bunga merasa sangat diperhatikan. Namun, setelah beberapa meter ia lalui, barulah ia merasa tenang. Tidak ada yang terjadi. Mungkin niat pria-pria itu ba..BRUK!!!


Sepeda Bunga terjatuh! Tas Bunga tengah dipegang erat oleh salah satu pria. Jantung Bunga berdegup kencang.


"Bagaimana ini? Aku harus ujian>~


"Heh, bocah. Kenapa tas ini isinya buku semua{\=¤\=}?"ujar pria itu sambil mengobrak-abrik tas Bunga.


"Bang, duit saya tinggal lima rebu. Buat beli hp aja gak cukup bang>~<,"


"Ya iyalah, dasar bego! Lima rebu mah beli TV juga cuma dapet satu. Sok-sokan ngomongin hp{//_\=}."


Bunga mengerutkan alisnya. Ngomong apa sih ini orang? 7_7


Setelah mengacak-acak tas Bunga, mereka menemukan sebuah dompet. Itu adalah dompet yang sangat berharga. Bukan cuma uang tunai, ada ATM juga kartu pengenal milik Bunga. Walaupun uang tunainya hanya dua lembar uang dua ribu, dan satu lembar uang seribu, namun Bunga sangat membutuhkannya. Tanpa itu, ia tidak bisa bayar uang kas.


Pria itu tersenyum bahagia. Mereka langsung membuka isi dompet.


"Ih, kere! Apaan ini cuma lima rebu /^\?! ". Pria itu pun kembali membuka dompet itu untuk melihat isinya.


"Ini ATM pasti gak berguna juga -_-."ujarnya.


Bunga pun mendengus kesal. Ia lalu meronta-ronta. Karena titik fokus mereka sedang di pusatkan pada dompet Bunga, mereka jadi lengah. Bunga melepaskan cengkeraman mereka dan berjalan perlahan-lahan untuk menegakkan sepedanya. Setelah distandarkan, ia lalu mengambil tas dan dompetnya secepat kilat. TEPP.

__ADS_1


Kini tas dan dompet yang sempat diambil alih, sudah kembali ke tangan Bunga. Ia pun menghindari pukulan pria-pria itu dengan berjongkok. Roknya ia tarik ke atas untuk memudahkan kakinya terlentang. Dengan memusatkan seluruh tenaganya pada kaki, Bunga yakin kalau kekuatannya akan bertambah. Ia menjulurkan kaki kanannya lalu berputar tiga ratus enam puluh derajat untuk menjatuhkan tiga orang pria yang sedang mengerumuninya. SAAAH. Berhasil, ini berhasil! Ketiga pria itu terjatuh.


Dengan secepat kilat, Bunga berdiri. Ia lalu berlari ke arah sepedanya. Dompet yang berharga itu segera ia masukkan dalam tasnya. Sebelum menaiki sepedanya, Bunga sempat mendorongnya terlebih dahulu. Ia terus menerus mendorongnya hingga menjauh dari para pria itu.


Berbeda dengan dugaan, ternyata tiga orang pria itu meninggalkan teman-temannya untuk mengejar Bunga. Dengan tubuh mereka yang besar dan kuat, pastilah mereka mudah menyusul langkah Bunga. Dan benar saja. Mereka sudah berada tepat di belakang Bunga.


Bagaimana ini? >O<


Tangan salah satu pria itu terulur. Dia hampir mencapai tas Bunga. Bukan, ini bukan saatnya untuk tiba-tiba naik sepeda dan menggoesnya. Langkah mereka terlalu cepat. Sulit sekali dihindari.


Semakin lama tangan pria itu semakin dekat. Mereka berteriak pada Bunga untuk segera berhenti. Bunga bersikeras. Dia tidak mau terlambat sampai di sekolah.


DUAAKKK!!!!


Tiba-tiba seorang pria datang, berseragam sama dengan Bunga. Ia memukul wajah pria itu dengan cukup keras. Hanya butuh melumpuhkan satu pria saja. Jika yang paling depan oleng, maka yang belakang pun akan ikut oleng.


Ketiga pria itu kini tengah bergulung di trotoar, membiarkan langkah Bunga dan pria penyelamat semakin jauh.


"Kamu gak papa, Bel *¤*?"ujar pria itu sambil berlari.


"Aku gak apa-apa, Ki. Makasih udah tolongin aku TvT." balas Bunga pada Rifki.


Ya, Rifki. Pria tampan, Ketua OSIS pula. Jago Badminton pula. BAIK PULA. KAYAAA PULAAA. KULITTTNYAA BENING KAYAKK KACA SUPERMARKETTTT. ENAK BANGET YA HIDUP LO, KI!!!>O<


Back to the topic.


Pria-pria itu masih belum mau menyerah. Mereka bangkit dan kembali mengejar.


"Woy, gak sopan ya kalian! Liatin aja! Kalau ketangkep langsung diremukin ~O~!"ujar pria itu. Bulu kuduk Bunga dan Rifki bergidig.


"Unfaedah banget mereka ngejar kita #_-."ujar Bunga.


"Kita? Maksudnya kamu? Kan cuma kamu yang mereka incer : P."balas Rifki.


Hampir tiga menit penuh mereka saling kejar-kejaran. Lelah, benar. Penat, iya. Capai, oh tentu.


Jarak sekolah masih jauh. Dan dengan bodohnya, Bunga sama sekali tidak menggunakan sepedanya. Ia merasa semakin sulit menaiki sepeda miliknya. Lututnya sudah tidak tahan menjadi engsel.


"Itu sepeda unfaedah banget ~o~!"ujar Rifki dengan nafasnya yang masih terengah-engah.


"Yee, sendirinya unfaedah ~O~!"balas Bunga.


Mereka pun malah beradu mulut. Hingga tiba-tiba..


BRAKKK!!! BUUKKK!! BUK BUK BUK!!


Terdengar suara pukulan dari arah belakang. Dengan polosnya, Rifki dan Bunga malah berbalik, bukan melanjutkan langkah mereka. Di sana, mereka melihat Dimas dengan kerennya tengah menghalau para pria jahat itu.


Cukup tiga pukulan, masing-masing satu, Dimas sudah bisa menghabisi ketiga penjahat itu. Setelah menyelesaikan hal itu dengan mudah, ia lalu menghampiri Bunga yang tengah dibaluti keringat.


"Kamu gak apa-apa, Bel♡~♡?"ujarnya. Ia melihat Bunga dari atas sampai bawah.


Bunga menggeleng.


"Ayo, kita harus buru-buru pergi. Nanti mereka ngejar kamu lagi o~o."ujar Dimas.


"Tapi, aku cuma bawa satu sepeda. Boncengannya juga satu : (,"


"Biar aku yang supir. Lagian sekolah masih jauh. Kamu duduk di depan, nyempong. Biat Mantri Tokek yang duduk di belakang ^-^,"ujar Dimas.


Rifki mendengus.


"Tunggu, aku gak mau di belakang! Aku harus deket Bunga ~o~!"


"Gak bisa ~o~!"

__ADS_1


"Bisa ~o~!"


Bunga tersenyum tipis. Ia mengusap dadanya karena tingkah dua orang ini.


***


"Kalau gini, kan, aman^_^."


Kedua pria yang dibonceng oleh Bunga hanya bisa menutupi wajah mereka.


Rifki, dengan terpaksa harus menggoes sepeda yang entah mengapa terasa berat itu. Dimas, yang saat ini tengah duduk gaya ibu-ibu yang baru pulang dari pasar, harus menjaga keseimbangan stang sepeda. Ya, mereka bekerja sama dengan baik. Sedangkan Bunga? Dia hanya duduk manis di jok belakang dengan beberapa nada yang ia nyanyikan.


Sampailah mereka di sebuah gedung yang sangat luas. Gedung SMA 1, tempat di mana murid-murid unggul di kota itu berkumpul.


Mereka bertiga mulai melewati gerbang. Banyak yang tertawa ketika melihat mereka. Dan dengan rasa malu, Rifki menahan sepeda ketika sudah sampai di parkiran. Bunga turun paling pertama. Disusul oleh Dimas, kemudian Rifki. Mereka berdiri di hadapan Bunga secara berdampingan.


"Makasih buat kalian. Kalian berjasa banget hari ini ^-^."


Merasa mendapatkam sanjungan dari Sang Gebetan, Dimas dan Rifki langsung salah tingkah.


"Ah, itu mah gak seberapa 8 )."balas Dimas yang dibalas anggukan dari Rifki.


Bunga mengangkat sebelah alisnya, lalu tersenyum.


"Gak bisa gitu. Usaha kalian ketika membawa sepedaku patut di apresiasi ^-^,"ujar Bunga dengan tenangnya. Sedangkan kedua pria yang ada di hadapannya hanya bisa mengusap dada.


"Gua kira karena basmi preman tadi UoU,"


***


Koridor yang bersih dan luas itu kini penuh oleh siswa-siswi yang tiba-tiba saja bergerombol di depan mading. Rifki, Dimas, dan Bunga yang berjalan beriringan merasa bersyukur. Sebagai siswa yang dicap rajin, mereka merasa sangat bahagia karena akhirnya para murid sadar akan adanya mading.


Akan tetapi dugaan mereka salah. 7.7


Para murid itu berkumpul untuk melihat Selena yang lagi-lagi sedang pamer. Memang siapa Selena? Dia anak dari seorang pengusaha yang memiliki penerbitan buku. Uangnya banyak sekali. Sudah tidak dapat ditampung. Tapi sayangnya, Selena yang pemikirannya kurang dewasa itu suka menyalahgunakan kelebihannya. Cantik, memang. Sombong, BANGETT!!>O<


Dan kali ini, sudah dapat di tebak kalau Selena pasti sedang membawa alat yang ia bawa. Ternyata memang benar. Ketika ketiga orang itu menghampiri, di sana terlihat balok kayu yang menahan bobot tubuh Selena yang kecil. Dan tangan Selena menahan bobot sebuah kaca pembesar. Tunggu, kaca pembesar?


"Woy, Selena! Apaan sih lo? Kalau kaca pembesar mah gua juga punya-o-!"teriak Dimas dari paling belakang.


Semua orang langsung berbalik. Mereka memusatkan perhatian pada Dimas yang terlihat biasa-biasa saja.


"Halo Dimas♡!"ujar Selena genit. Ya, dia memang suka cowok-cowok ganteng atau cogan termasuk Dimas. Kalau Rifki lebih ke menjengkelkan sehingga Selena tidak suka padanya.


"Dimas, lihat aku punya apa^_^?"


Dimas mendengus.


"Kan gua dah tahu. Makanya gua nanya itu guna kaca pembesar buat pamer-pamer//_-?"


Selena tersenyum manis. Memang manis, iya manis. Tapi masih seperempat dari manisnya Bunga. Kalimat itu bukan hanya keluar dari mulut Dimas, tapi dari tiga perempat murid cowok di SMA 1.


"Ini kaca pembesar punya Bunga Aditya yang dia pakai waktu menyelesaikan kasus cincin Enokuia. Lihat! Ada tanda tangannya Dim ^0^."ujar Selena.


Seketika Bunga menahan tawanya. Ia sudah banyak dihibur oleh perilaku Selena yang menyanjung-nyanjung dirinya sebagai Bunga, seorang detektif perempuan termuda di Indonesia. Walaupun Selena suka sekali mencaci Bunga, tapi ia merasa bahagia setiap kali ia mendapat pujian tidak langsung dari Selena.


"Emang kamu pakai itu kemarin 6.6?"bisik Dimas. Bunga menggelengkan kepalanya dengan senyuman kecil.


Ketika rasa tenang baru saja menghampiri Bunga, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan dari arah belakang. Semuanya langsung berbalik. Mereka melihat seorang siswi berlari ketakutan.


"Ada apa o.o?"tanya Bunga.


"Ada yang berdarah-darah. Dia datang dari gudang hantu. Gudang hantu, Bel. Gudang hantu.~.~...."


"Kasus lagi,"batin Bunga.

__ADS_1


__ADS_2