Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
30.2.12


__ADS_3

28 Februari, 12.00


Sejak pagi Bunga tidak nafsu makan. Ia sudah dirayu oleh banyak sekali orang, namun tetap saja tidak ada perubahan. Ia masih terdiam, merenungi matanya yang sembab. Dengan tarifan nafas panjang, Bunga selalu menolak rayuan teman-teman dan keluarganya.


“Bunga, sudah siang. Makan satu suap nasi saja, ya >o<,”ujar ibunya dengan penuh kelembutan.


Bungan menggeleng lemas.


“Nanti saja, bu. Aku sedang tidak mau makan -_-,”balasnya.


Kalimat itu sudah belasan kali ia ucapkan pada orang yang berbeda. Tentu saja semua orang menjadi sangat khawatir karenanya.


“Nak -.-,”ujar ibu Bunga yang mulai merayunya dengan cara lain. Sejak tadi orang asing yang berusaha membuat dia mau makan. Maka dari itu sang ibu langsung merayunya setelah kamarnya kosong. “Ibu tahu, kamu begini karena masalah yang besar. Tapi kalau kamu tidak ceritakan, bagaimana ibu bisa cari solusi? Kalau dipendam sendiri kamu malah akan membuat orang-orang khawatir, nak U.U,”


Seolah ditampar dengan kuat, Bunga sadar bahwa sikapnya ini memang salah. Ia berubah tanpa memberitahu alasannya mengapa. Ia sadar, orang-orang pasti akan jengkel kepadanya karena bersikap aneh. Memang, ini bukan Bunga yang biasanya. Dan dia, siap untuk memberitahukan alasannya kali ini.


“Bu ToT,”ujar Bunga. Ia pun mulai mengeluarkan air matanya. “Ibu TOT!”


Bunga pun tanpa sadar langsung mengeluarkan begitu banyak air mata. Ia memeluk sang ibu dengan disertai air mata itu. Mereka pun berpelukan. Ibu Bunga mengusap kepala anaknya dengan sangat lembut berharap dia akan merasa lebih tenang.


“Cerita sedikit-sedikit saja. Atau kalau kamu mau, langsung saja ke intinya U.U,”ujar ibu Bunga.


Bunga menarik ingusnya. Ia masih sulit untuk mengeluarkan suara karena tangisnya masih tidak mau henti keluar. Ia merasa sangat sakit hati. Tenggorokannya terasa diganjal oleh kata-kata yang sulit keluar.


Barulah setelah air matanya mulai mereda, Bunga perlahan mengeluarkan suaranya.


“Aku masih tidak percaya kalau ternyata Dimas itu adalah orang yang Bunga cari. Jutong bilang Dimas adalah DJ TOT,”ujar Bunga.


Ibunya terkejut bukan main. Ia yang sudah mendengar banyak cerita mengenai DJ dari Bunga, tidak bisa membayangkan kalau ternyata anak polos itu dalangnya. Jantung ibu Bunga bahkan sempat tersentak karenanya. Kalimat yang keluar dari mulut anaknya itu membuatnya sulit mengeluarkan kata-kata.


“Kamu yang benar, nak? Kenapa kamu langsung percaya? Selidiki saja dulu, barangkali bukan dia >.<,”


Bunga pun tersenyum. Ia melepas pelukannya lalu berusaha mengeringkan wajahnya dari air mata denagn tangan. Ia menatap sang ibu yang terkejut bukan main. Setelah itu, ia mengeluarkan banyak sekali kalimat yang menyusun sebuah cerita. Cerita mengenai Dimas yang disangka DJ dan mengenai hal lainnya. Ibu Bunga sempat tersenyum kecil. Ia terharu dengan perjuangan yang diceritakan oleh anaknya.


“Tak apa, nak. Semuanya akan kembali seperti semula nanti ^_^,”ujar ibunya. Bunga pun hanya bisa mengangguk dengan tenang.


“Ternyata benar, ya, bu. Kalau sudah cerita hatiku jadi terasa lebih tenang ^.^,”


Ibu Bunga lalu tersenyum. Ia menatap anaknya yang tengah duduk dengan manis.


“Kalau begitu makan satu suap saja ^.^,”


“Tidak, bu. Aku akan makan satu piring penuh. Otakku mulai mendeteksi lambung yang kurang asupan makanan ^o^,”


Mereka sempat tertawa kecil di atas ranjang itu.


13.21 WIB, Ruang Tamu Rumah Bunga


Kali ini Bunga sudah baikan. Ia bahkan bisa bercanda dengan si kembar. Pak Burhan dan Jutong bersyukur karena akhirnya Bunga dapat ceria kembali. Mengapa demikian? Karena Bunga adalah tokoh utama dalam kasus ini. Jika dia yang merasa tidak semangat menyelesaikan kasus, siapa yang akan melanjutkan? Tak ada yang sepandai Bunga, tak ada yang seteliti Bunga, dan tak ada yang semanis Bunga.


“Jadi, bagaimana ^o^,”ujar Bunga. Ia menatap Pak Burhan yang duduk di hadapannya.

__ADS_1


“Wah, kamu. Tadi nangis sekarang minta buru-buru beresin kasus //_-,”ujar Pak Burhan.


Bunga tersenyum kecil.


“Begini. Bunga, itu adalah kodenya. Puspa itu Bunga. Dan menurut Jutong pelakunya Dimas karena Cuma dia yang suka panggil-panggil kamu Puspa. Nah, untuk masalah itu menurut saya lewat saja karena mungkin iya mungkin tidak. Selanjutnya saya menemukan hal yang menarik di dalam brankas ini ^.^,”


“Hal, menarik? Memangnya ada hal yang lebih menarik dari Dimas adalah DJ -.-,?”tanya Bunga. Ia nampak masih memikirkan hal konyol itu.


“Tentu. Bukan hanya anggota dan informasi lain mengenai komplotan DJ. Tapi mengenai tempat dan kapan launchingnya perusahaan yang akan merobohkan Perusahaan V itu -.-,”


Keempat detektif yang tengah bersama Pak Burhan itu terkejut. Hal itu membuat Pak Burhan malah merasa heran.


“Kenapa kamu ikut kaget, Tong? Bukannya kamu sudah tahu //_-?”tanya Pak Burhan.


“M..maksudku, kenapa bisa ada informasi me..mengenai launchingnya? Dimas itu pintar! Dia kenapa bisa seceroboh itu >.”ujar Jutong. Ketiga detektif itu hanya bisa tertawa melihat Jutong yang kaget.


“Yah, semua orang bisa ceroboh -.-,”balas Pak Burhan yang berhasil membungkam mulut Jutong.


Bunga dan si kembar menahan tawa karena wajah Jutong memang benar-benar tidak terkendali. Ia sangat lucu.


“Memangnya, kapan, pak ^.^?”tanya Bunga. Sepertinya ia yang paling penasaran di antara yang lain.


“Kalau masalah itu saya tahu pasti. 30.2.12. Sebenarnya, DJ tidak menuliskan langsung tanggal itu. Tapi saya sadar bahwa di setiap halaman tertulis LAUNCH 30.2.12. Walau awalnya saya kira itu adalah LUNCH, makan siang, tapi ternyata itu kode yang disembunyikan DJ -.-,”ujar Pak Burhan.


Seolah memastikan, keempat detektif itu langsung mengambil beberapa kertas yang dibawa oleh Pak Burhan. Mereka langsung melihat kea rah kata LAUNCH itu. Dan benar saja. Bukan hanya di satu halaman atau satu lembar saja, namun di seluruh kertas yang ada di sana.


“Kenapa bisa ceroboh seperti ini, ya? Padahal kalau sudah berhadapan langsung dengan kita, dia nampak sangat jenius orangnya -.-,”ujar Bunga.


“Kalau menurutku -.-,”timpal Jutong yang sejak tadi penasaran dengan kertas-kertas yang saat ini berada di tangannya. “Mungkin dia orangnya pelupa sehingga menuliskan semua hal penting dalam kertas -.-,”


Mendengar ucapan Jutong yang seolah memberikan jalan keluar, membuat Bunga dan Pak Burhan langsung tersenyum. Mereka saling menatap dan mengangguk. Si kembar pun tak mau kalah. Mereka bahkan sampai tertawa mendengar ucapan Jutong.


Setelah itu mereka lalu menyimpan kembali kertas-kertas itu. Mereka kemudian mulai mendekat satu sama lain.


“Kalau benar apa yang dikatakan Jutong barusan, itu berarti semua informasi yang kita butuhkan ada di kertas-kertas ini ^o^,”ujar Hari mulai mengeluarkan suaranya.


Hira mengangguk, menyetujui ucapan kembarannya.


“Dan jangan lupa, DJ ini tetaplah seorang jenius. Ia tidak mungkin menyebutkan informasi dengan begitu lantang. Pastilah ada kode yang ia buat agar informasinya tidak mudah dikenali ^o^,”


“Jadi, menurutmu bagaimana, Bunga ^o^?”tanya Pak Burhan. Ia menampakkan senyuman yang semangatnya.


“Kita cari kode mengenai apa yang akan dia lakukan pada tanggal 30.2.12 itu ^.^,”


Pak Burhan dan si kembar langsung mengangguk. Sedangkan Jutong yang baru saja masuk ke dalam kelompok orang-orang ini hanya bisa mengikuti dan melakukan apa yang diperintahkan.Ia langsung mengecek kertas yang ia genggam barangkali ada informasi mengenai tanggal itu.


Belasan menit telah dilewati penuh keluhan. Tak ada yang bisa bernafas dengan lega. Mereka terus menghembuskan nafas lemas karena kalimat yang dituliskan di kertas itu penuh teka-teki. Apalagi sulit untuk memecahkannya.


Ketika mereka tengah mengeluh, tiba-tiba saja Bunga berdiri tegak. Ia lalu mengerutkan alisnya dan mengangkat sebuah kertas dengan lambat. Nafasnya terengah-engah bahkan membuat keringatnya tiba-tiba bercucuran.


"Kenapa -.-?"tanya Pak Burhan khawatir. Ia pun langsung berdiri tegak mengikuti Bunga.

__ADS_1


Tak mau kalah Jutong dan si kembar ikut mengangkat tubuh mereka. Karena rasa ingin tahu mereka tinggi, mereka langsung mendekatkan diri mereka pada Bunga. Dan ekspresi mereka langsung berubah ketika Bunga mengangkat kertas itu ke arah cahaya.


"Mana mungkin o.o,"ujar Hari dan Hira bersamaan. Mereka bahkan sampai menutup mulut mereka.


"Bagaimana bisa kamu menemukannya 0.0?"ujar Jutong mulai curiga.


Bunga hanya bisa membuang nafas kasar. Ia menatap Jutong yang seolah menuduhnya dengan sangat tajam, bahkan sempat membuat Jutong tersekat. Dengan secepat kilat, Bunga pun menurunkan kertas yang ia genggam. Ia pun menjatuhkan dirinya ke atas kursi yang baru saja ditinggalkan.


"Kata-katamu seolah kamu menyalahkan aku, Jutong! Kau pikir aku bersekongkol dengan DJ, begitu ~.~?"tanya Bunga. Posisi duduknya sangat sempurna hingga membuat keadaan tiba-tiba menegangkan.


Seolah mengikuti apa saja yang dilakukan Bunga, keempat pria itu langsung duduk setelah kalimat itu keluar dari mulut Bunga.


"Bunga, tenanglah. Mungkin kamu terlalu terbawa emosi sehingga salah sangka ketika mendengarkan ucapan Jutong ~.~,"ujar Hira. Ia lalu mengusap punggung Bunga.


"Tenang, ya? Kalimat dan tatapan orang sombong ini selalu begitu! Walau sebenarnya aku tidak berbicara tapi aku tahu ~.~!"ujar Bunga. Amarahnya mulai naik.


Dengan segera Pak Burhan bertindak. Bisa bahaya kalau sampai Bunga mengamuk karena hal sepele ini. Dia mungkin bisa mematahkan salah satu tangan Jutong.


"Kamu ini kenapa Bunga tiba-tiba seperti ini? Kamu harus berpikir tenang -.-,"ujar Pak Burhan. "Mungkin Jutong tidak bermaksud begitu. Sifatnya memang seperti itu. Kamu terlalu banyak beban belakangan ini sehingga mudah tersinggung -.-,"


"Benar, Bunga. Mana mungkin aku menuduhmu begitu. Aku, kan, sayang banget sama kamu >~<,"


Bunga lalu mulai membuka langkahnya. Ia hendak mendekati posisi Jutong yang memang berada agak jauh dari tempatnya berada. CASHH!! Jutong menghindari pukulan Bunga yang tiba-tiba itu. Ia seperti tengah kerasukan atau apalah itu.


Dengan segera Hari dan Hira menarik tangan Bunga. Mereka berusaha menahan Bunga agar tidak menyerang Jutong.


"BUNGA ~0~!"teriak Pak Burhan.


"Gak! Orang ini sudah di luar batas! Menindas dan ~.~...”


“CUKUP BUNGA ~o~!”teriak Pak Burhan. Ia mulai kewalahan. “Kamu duduk dulu. Kenapa masalahnya jadi besar begini? Tenang, sabar. Bukan saatnya kamu seperti ini. Nanti ada waktunya -.-,”


Bunga pun menurunkan pandangan matanya dari Jutong. Ia lalu berusaha melepaskan dirinya dari genggaman anak kembar itu dengan halus. Setelah itu yang baru duduk di kursinya.


Yang lain hanya bisa kembali mengikuti tingkah Bunga. Jutong yang menjadi sasaran lantas terkejut sehingga masih tidak bisa duduk dengan tenang. Ia menatap Bunga dengan penuh pengharapan. Namun, bukan saatnya ia membuka pembicaraan. Jika saja ia mengatakan suatu hal, mungkin keadaan akan semakin memburuk.


Keempat pria itu lalu membiarkan Bunga tenang untuk beberapa saat. Barulah setelah Bunga bisa bernafas dengan tenang, Pak Burhan mulai menatap kea rah Jutong. Ia mengangguk sebagai tanda bahwa Jutong sudah boleh meminta maaf. Tanpa menunggu persetujuan dari si kembar, Jutong langsung mendekati Bunga dan menatap wajahnya.


“Bunga, sayang, maaf. Aku tidak seharusnya bertanya hal seperti itu. Mungkin nada dan tatapanku salah jadi, maafkan aku. Aku gak mau sampai kamu marah kayak gitu lagi. Aku, takut kehilangan kamu >.<,”ujar Jutong.


Dengan lemas, Bunga lau menatap Jutong yang tengah memelas itu. Ia menghembuskan nafas sekejap lalu mengangguk.


“Aku juga ingin minta maaf. Mungkin aku terbawa emosi karena pusing. Aku masih sulit menerima kalau DJ adalah Dimas. Aku hanya, ah. Sulit mengontrol. Jadi maafkan aku juga ^.^,”ujar Bunga. Ia sudah bisa tersenyum dan membuat Jutong kembali tenang.


Hari dan Hira saling berpandangan. Mereka melihat kelakuan Jutong yang menunjukkan rasa cintanya pada secara terang-terangan. Hal itu membuat mereka harus berpikir keras, mana yang lebih cocok dengan Bunga? Dimas atau Jutong?


“Jadi ^_^,”ujar Bunga kemudian membuyarkan lamunan kedua anak kembar itu. “Sebenarnya aku sudah mengecek kertas itu berkali-kali. Namun entah bagaimana aku memang merasa aneh karena ada huruf V besar di tengah-tengah kertas itu. Ketika aku melihatnya lebih teliti ternyata benar. Kertas itu mempunyai bayang-bayang bila terkena cahaya. Di sana, aku bisa melihat Perusahaan V. Huruf V itu ternyata dari gambar gedung. Lihat saja di sini. Gedung kita tengah di apakan -.-,”


Bunga lalu mengangkat kertas yang ia genggam. Keempat pria yang bersamanya langsung terkejut ketika melihat bayangan di kertas itu.


‘Apa? Mana bisa >O”ujar mereka bersama-sama.

__ADS_1


“YA -.-,”ujar Bunga. Ia lalu melemparkan kertas itu ke atas meja. “Mereka hendak melakukan pengeboman di Perusahaan V -.-,”lanjutnya.


__ADS_2