Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Pengencok


__ADS_3

"Apa ini? Kenapa silau? Kenapa banyak orang mengerumuniku? Aku dimana?! Siapa kalian?! Siapa aku >o!" Mungkin hal itulah yang tengah diucapkan oleh sebuah peta kota saat ini. Ya, peta kota.


Saat ini Bunga yang masih menggunakan baju dari rumah sakit tengah menjabarkan rencananya pada Dimas, Pak Burhan, dan Jutong. Walaupun keadaannya masih belum pulih namun ia terlihat antusias setiap kali menghadapi DJ.


Di ruangan yang hanya mendapatkan cahaya dari lampu belajar itu, ketiga orang yang baru saja mendapatkan penjelasan dari Bunga masih berusaha mencerna. Bunga memang jelas ketika mengatakan maksudnya. Akan tetapi, arwah kereta express sepertinya baru saja merasuki Bunga. Bicaranya cepat sekali. Bahkan ia sempat menyemburkan hujan lokal yang membuat peta kota masih menyisakan titik-titik enzim berharga Bunga di beberapa bagian.


"Jelas^-^?"tanya Bunga.


Semuanya menggeleng. Bahkan, Dimas yang mempunyai kapasitas otak yang lebih dari ketiga orang di hadapannya harus ikut menggelengkan kepalanya. Otaknya terlalu rendah untuk bersahabat dengan mulut expess Bunga.


"Kamu jangan kecepatan dong jelasinnya, yang //_-."ujar Jutong.


Bunga memutar bola matanya. Ia memandang Dimas yang kini tengah berwarna merah padam di kursi rodanya. Ia melakukan itu seolah-olah meminta Dimas untuk menyangkal ucapan Jutong. Namun sepertinya Dimas malah sependapat dengan Si Tua Jutong.


Bunga menarik nafas panjang.


"O....ke....ja.....di^_^......."


"Gak usah selebay itu Bunga//_-,"ujar Pak Burhan. Bunga pun tertawa kecil. Ia mulai membenahi dirinya untuk berbicara lebih serius saat ini.


"Jadi begini. Aku mulai dari awal. Tanpa sengaja aku menemukan sebuah pola. Aku hapus dulu pensilnya, ya. Nanti aku gambar lagi pakai spidol merah ini^.^,". Bunga pun menghapus beberapa garis di peta kota itu. Ia membuka tutup spidol merahnya dan kembali memberikan penjelasan.


"Ketika aku tandai tempat dilakukannya pemotongan pita itu, lalu menandai tempat launching cincin berlian Enokuia, aku menyadari sesuatu. Dan ketika aku beri tanda statsiun tempat Kereta Halloween itu ada, aku melihat bangun datar. Apa coba^.^?"ujar Bunga. Ia masih membiarkan titik-titik di atas peta tak berbentuk.


Ketiga orang yang kini bersamanya mengerutkan kening mereka. Belum ada yang benar-benar memahami apa yang Bunga maksud. Hingga akhirnya, Dimas angkat tangan.


"Kalau disambungkan dari titik ke titik itu jadi bentuk segiempat -v-."ujar Dimas.


Bunga membuka mulutnya sedangkan Pak Burhan dan Jutong memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Dimas.


"Bukan, CPU komputer. Titik yang ini bukan buatan aku. Ini emang udah dari sananya dodol >.


"Segitiga^o^!"teriak ketiga laki-laki itu.


"Yap^0^!"balas Bunga. Mereka pun berputar dan berjingkrak-jingkrak, kecuali Dimas. Hal itu berhasil memunculkan sebuah kata-kata mutiara baru yaitu, jangan pandang kedewasaan seseorang hanya dari umur.


Setelah kebanggaan mereka habis, mereka berhenti bersikap kekanak-kanakan. Mereka kembali fokus pada kasus dan memikirkan apa yang tengah Bunga buat.


Bunga menyambung titik-titik itu. Ia lalu membuat bulat di tengah segitiga.


"Di sini. Aku yakin, karena sebuah berlian yang dilindungi banyak orang, mahal, berada di sana. Dari kasus-kasus sebelumnya mereka selau mengecohku. Kali ini tidak lagi. Aku akan tangkap basah mereka~v~!"


"Tapi, kapan kita akan berjaga-jaga ^.^?"tanya Jutong.


Pertanyaan yang bagus! Bunga memang menunggu pertanyaan itu.


"Karena kereta api itu terjadi tanggal 3, kemudian pemotongan pita tanggal 6, dan cincin tanggal 9, maka pencuriannya pasti tanggal 12. Kelipatan tiga. Orang ini mudah ditebak. Aku yakin itu karena dia memang seorang pengencok^.^!"


"Pengecoh kali, ah //_-,"balas Dimas.


"Ahh, apalah itu. Yang pasti, prediksiku pasti benar^.^!"


Dimas tersenyum kecil. Ia lalu memikirkan suatu hal. Tanpa ragu ia langsung saja mengatakan hal itu pada Bunga.


"Bagaimana kalau kau salah^.^?"


"Ya, nak. Bagaimana kalau kita tetap berjaga saja di tanggal-tanggal sebelumnya^.^?"timpal Pak Burhan.


"Ya ya ya. Terserah kalian saja. Yang penting aku sudah kasih tahu, kan. Dah, aku lanjut tidur. Sekalian kangen-kangenan sama keluarga^-^."


"Aku ikut! Mau sekalian nyapa camer. Sebelumnya aku belum bener nyapa ^.^!"ujar Dimas. Mereka pun melambaikan tangan pada Pak Burhan dan Jutong yang masih ingin berdiam di tempat gelap itu.


Ketika Bunga membalikkan tubuhnya, terlihat sesuatu yang bergerak dari pintu. Orang itu nampak mengangguk pada salah satu di antara keempat orang di dalam.


"Iya. Untung gak terlalu peka. Sangat mudah menjebak kalian dalam permainan ini ^-^,"bisik Bunga. o_O

__ADS_1


***


"SIALAN~0~!!!"


BRAAKKK!!!


Beberapa benda terdengar dijatuh-jatuhkan. Orang-orang yang sedang tertunduk patuh pada seorang ketua nampak bergetar karena ketakutan. Mereka masih menggunakan kostum sama seperti yang terlihat di CCTV SMA 1.


"Maaf, DJ. Kami tidak bisa menghentikan rundingan itu >~<."ujar salah satu bawahan DJ. Ia sepertinya cukup dekat dengan DJ.


"Ya seenggaknya pecahin kaca kek apa kek! Lihat sekarang! Rencana kita gagal total karena Si Burhan itu mulai mengerahkan para anggotanya yang selalu menghambatku! Kenapa kakek tua itu harus ribet-ribet jaga daerah?! Harus mengeluarkan berapa banyak tak tik lagi, hah?! Mikir sedikit kalian ini! Proyek kita bakal banyak tertunda ~O~!"ujar DJ, pemimpin mereka, yang menggunakan suara samaran, dan tengah membuat proyek yang entah apa itu.


Semuanya diam. Tidak ada yang berani mengeluarkan sepatah kata pun karena jika ucapan mereka salah, DJ akan melakukan yang buruk pada mereka.


"DJ, bagaimana kalau begini~c~?"ujar seseorang yang memiliki keberanian lebih.


DJ mengangguk dengan kuat. Ia tertawa keras. Keras lagi. Dan semakin keras. Sepertinya perubahan rencana telah terjadi.


***


Di tengah hari, Bunga menghirup udara segar. Ia meregangkan tubuhnya. Sungguh menawan.


Beberapa hari yang lalu Bunga sudah boleh pulang dari rumah sakit. Ia langsung mengajak orang tuanya untuk memasuki kamar kantornya. Keluarganya begitu antusias. Mereka sangat bangga pada Bunga yang selalu bekerja keras. Walau mereka tidak tahu apa yang tengah Bunga lakukan.


Tanggal enam sudah terlewat. Sudah satu hari tanggal itu dilewati dengan begitu damai dan tenteram. Tak ada kasus, tak ada tugas tambahan, sekolah lancar, hanya banyak waktu bersama keluarga yang dimiliki oleh Bunga. Hal itu membuatnya semakin bahagia.


Dimas berkali-kali menggoda ibu Bunga untuk semakin akrab dengannya. Ia begitu menginginkan restu dari ibu Bunga. Ia gigih.


"Gak, bu. Dia payah -o-,"ujar Bunga sambil menyandarkan kepalanya di paha sang ibu.


Ibu Bunga tersenyum kecil.


"Mungkin itu menurut pemikiran kamu, bukan hati kamu. Kalau sudah bersama-sama cukup lama, otak memang suka bertentangan lho dengan hati^-^."


Bunga mendengus. Ia sangat tidak suka hal semacam menjodohkan anak dengan anak ganteng seperti Dimas. Tunggu, ganteng O_o?


DUARRRRRR!!!!!


Terdengar sebuah ledakan yang begitu kencang. Bunga terkejut. Ia langsung beranjak dari posisinya dan berlari keluar kamar. Ibunya berkali-kali memanggil, menanyakan apa yang terjadi namun ia tak menjawabnya.


Sebuah ruangan yang amat tinggi, di mana hampir seluruh kota dapat dilihat, kini tengah diinjak oleh Bunga. Ia segera berlari ke ujung balkon itu untuk menyaksikan apa yang terjadi.


Ternyata, tak jauh dari gedung terlihat sebuah truk yang tengah mengeluarkan bara api di jalan tol. Dari kejauhan nampak beberapa damkar langsung bertindak. Setelah melihat semua itu, rasa tergesa-gesa Bunga langsung hilang. Ia menyunggingkan bibirnya lalu menghembuskan nafas kasar.


DELOLET DOL DELOLET!!!!!


Terdengar ringtone bersuara dari handphone Bunga. Dengan santai Bunga mengambil hp-nya dari saku celana. Bapake Burhan. Itulah nama yang tertera di layar handphone. Bunga langsung menerima panggilan itu. Ia menempelkan handphone miliknya tepat di telinga kanan.


"Iya? DJ? Oh, pencurian. Gagal? Haha. Baik, aku ke sana sekarang ^-^,"


TUUT!


Telepon ditutup. Bunga lalu memandang kembali jalanan. Di sana mobil damkar sudah sampai. Semburan air nampak hampir berhasil memadamkan api. Dan hal itu membuat Bunga kembali tersenyum


"You're in trap now^-^,"


***


Mobil sudah tidak lagi mengeluarkan bara api. Beberapa orang yang berpakaian seperti anggota DJ, kini tengah berjongkok di hadapan beberapa aparat polisi.


Bunga turun dari mobil, disusul dengan Dimas dan Jutong. Mereka siap untuk memecahkan kasus baru ini.


"Tadi ada peringatan bahwa pintu terbuka di tempat berlian itu berada. Tiba-tiba saja sebuah mobil masuk dan keluar dengan cepat. Tidak ada yang berani mencegahnya. Mereka mungkin tertawa dengan bahagia hingga kami yang telah bersiap-siap langsung menembak ban mobil. Meletus dan ya, inilah yang terjadi -.-."ujar Pak Burhan menerangkan. Tugas Dimas ternyata harus digantikan dulu karena dia masih belum benar-benar pulih.


Bunga menganggukkan kepalanya. Ia lalu berjalan menghampiri orang-orang yang disangka bawahan DJ. Ia membuka kacamata hitam mereka. Orang biasa. Bukan orang yang terlihat menawan seperti yang dibayangkan. Setelah itu, Bunga berjalan menuju belakang mobil.

__ADS_1


BRAAAKK!!


Dibukanya box mobil itu. Bunga mengharapkan berlian yang dicuri ada di sana. Namun, ternyata box itu kosong melompong. Sikap santai Bunga langsung berubah. Dia membuka matanya lebar-lebar. Jantungnya berdegup sangat kencang. Bahkan, tangannya sempat bergetar.


Bunga langsung berlari menuju kedua orang yang terlibat dalam kasus ini berada. Ia memandang bawahan DJ itu dengan amarah yang sudah memuncak. Pipi mereka dicengkeram dengan begitu kuat.


"NGOMONG! Kemana mereka pergi ~o~?!"ujar Bunga. Namun mereka berdua masih bungkam.


Bunga membalikkan tubuhnya. Ia melepaskan cengkeraman tangannya. Ia memutar otak. Apa yang harus ia lakukan?


Tiba-tiba Bunga merogoh saku dari bawahan DJ itu. Sempat terjadi perlawanan dari mereka, namun para anggota dari kepolisian langsung saja menggenggam kedua orang itu. Dan dengan mudahnya Bunga sudah mendapatkan handphone salah satu dari mereka.


Di kunci! Mereka terlalu menyembunyikan identitas.


"Buka-.-!"teriak Bunga. Namun bawahan DJ itu hanya terdiam, gelisah. "Buka atau aku patahkan belikatmu~o~?!"


Mereka masih bungkam. Kemarahan Bunga pun sudah meluap. Waktunya terbuang sia-sia. Dan untuk mempersingkat waktu, Bunga langsung menekan tulang belikat pemilik handphone dengan sangat kuat.


"Ah>~


"BUKA ~O~!"


"Jangan mbak! Mohon, jangan. Saya kasih tahu saya kasih tahu sajaToT!"


"Bohong, tulang belikat dan sendi putar kamu hilang. Faham ~.~?" Bawahan DJ pun mengangguk.


"Apa pun asal jangan buka hapeToT,"


"Ah, berbelit ~o~!"teriak Bunga. Ia lalu mengambil tangan pria itu dan menempelkan telunjuknya pada fingerprint di hape.


TERBUKA!


Bunga segera membuka hape pria itu. Ia terkejut ketika melihat layar depan dari handphone milik pria itu. Sebuah gambar seorang pria, bawahan DJ itu, tengah selfie dengan mulut monyong, jari telunjuk dan tengahnya terangkat, dan salah satu matanya mengedip. Mulutnya merah, pakai liptint. Mata dan rambutnya persis dandanan korea. Namun, Bunga akui, wajahnya cukup menggelikan.


"Aku screenshots dan disebar atau kau bicara sekarang juga~o~?!"


"Baik! Baik. DJ, pergi ke Toko Emas Kayu Abadi! Dia mengambil emas-emas putih di sana! Kami disuruh ambil berlian, karena tahu kemungkinan selamatnya kecil! Kalau berhasil lolos kami akan diberi lima gram berlian! Tolong jangan sebar, aku sudah berkata yang sebenarnya ToT."


"Kau bodoh! Gimana kalau DJ malah marahi kita ~.~?"


"Kan kita bakal di penjara kali, Ac-.-,"


"Oh, iya -.-,"


Ya, mereka akan menjalani beberapa tahun yang sangat menyedihkan di penjara setelah hakim memutuskan.


Bunga takut pria itu berbohong. Ia pun memandang Dimas. Dan untunglah Dimas melihat kalau pria itu tidak berbohong sama sekali. Beberapa perilaku refkeks dari tubuhnya tidak menandakan dia tengah berbohong.


Setelah itu mereka berempat langsung menaiki mobil. Mobil melaju melewati jalan raya yang tak terlalu padat saat ini.


Di dalam mobil, Bunga nampak memandang Dimas, mereka bertukar pikiran. Setelah itu, Bunga membuka petanya. Toko itu, cukup terkenal. Mereka bahkan menjual emas yang sangat mahal. Toko Emas Kayu Abadi. Bunga membuka peta untuk melihat lokasi toko itu. Ternyata lokasinya jauh dari perkiraan. Tak membentuk apa pun. Setelah menyadari sesuatu, Bunga kembali tersenyum.


"Wah, benar-benar terjebak ^-^,"ujarnya.


Mobil kini sudah sampai di toko emas. Namun, sayang. Sesampainya mereka, sebuah mobil box yang membuat beberapa orang menjerit telah pergi. Karena belum cukup jauh, mobil yang dinaiki Bunga langsung saja mengikuti mereka.


Di jalan raya terjadi balapan. Untuk sanksi mungkin akan diurus nanti. Jika atas nama kepolisian, itu berarti untuk kepentingan semua. Maka, tak heran jika supir langsung menancap gas untuk menghentikan mobil dihadapan mereka.


"Kali ini aku yang beraksi^-^,"ujar Dimas.


"Tapi dengkulmu>.<.."ujar Bunga yang langsung dipotong oleh Dimas.


"Aku baik-baik saja : ),"


Dimas lalu membuka atap mobil. Ia keluar dengan hati-hati, melawan kencangnya angin. Supir sebisa mungkin mendekati mobil box itu. Namun memang kecepatannya sangat tinggi.

__ADS_1


Tubuh Dimas sudah di atas mobil seutuhnya. Ia tinggal melompat dan emas itu akan selamat. Namun, di pertigaan, mobil box tiba-tiba belok kiri, tanpa sen. Semua yang ada di dalam mobil terkejut ketika melihat Dimas melompat begitu saja.


"TIDAK >O


__ADS_2