
Perusahaan V, 15.23 WIB
Lima orang yang berjalan dengan begitu keren membuat beberapa orang langsung memerhatikan mereka. Jutong, Pak Burhan, dan Bunga memang sudah biasa dikagumi banyak orang. Namun Hari dan Hira? Mereka mendapat perhatian karena selain mereka berjalan sejajar dengan orang-orang terkenal itu, mereka juga punya paras yang cukup membuat mata sulit beralih.
Mereka tengah berjalan menuju kamar Jutong. Tidak ada yang tidak memperbolehkan Bunga, Hari, dan Hira untuk masuk ke dalam Perusahaan V. Selain karena para penjaga sudah tahu siapa mereka, akan sulit juga bila mereka ditahan. Ingat satu hal, ada Bunga si tukang ngegass di sana.
Tak sedikit orang yang menyapa Bunga. Banyak pula orang yang menyemangati Bunga. Mereka memang sangat menyayangkan kepergian Bunga dari Perusahaan V. Maka dari itu, kedatangan Bunga akan sangat mengubah suasana tegang di dalam perusahaan itu.
Setelah banyak membalas sapaan, mereka lalu mulai menaiki lift. Seperti biasa, lift kosong. Kebanyakan orang lebih nyaman berdiam di tempat mereka dari pada berkeliaran keluar dan bermain lift. Maka dari itu lift tak jarang kosong.
Jutong yang berada paling depan langsung menekan tombol. Pintu lift pun tertutup dan mereka mulai berpindah menggunakan kapsul besar itu. Satu lantai telah dilewati. Lift terbuka dengan begitu lebarnya, menampilkan orang-orang yang akan menaikinya.
Namun, sungguh disayangkan. Di hadapan lift itu ternyata ada Ara tengah berdiri dengan begitu angkuhnya. Ia sempat membuka matanya lebar-lebar ketika melihat Bunga bersama Jutong dan Pak Burhan. Tatapan sinisnya langsung keluar dan hal itu membuat Bunga harus bernafas dengan tak nyaman.
Ara lalu mulai memasuki lift. Ia menekan tombol di sana dan segera menghampiri Bunga yang sebenarnya tidak mau banyak bicara hari ini.
“ Well -.-,”ujarnya. “Siapa ini? Seorang detektif yang tidak berfaedah tiba-tiba datang bersama Jutong. Sudah merebut Dimas dariku, sekarang mau mengambil Jutong juga? Cewek gampangan -.-,”
Bunga langsung mengatur nafasnya. Ia sudah ingin menendang orang gila itu keluar dari lift. Namun, ia malas untuk membalas ucapan nenek sihir itu sehingga Bunga hanya mengangkat kedua bahunya.
Melihat tidak ada respon dari Bunga membuat Ara naik pitam. Ia langsung mencari topic lain untuk diperdebatkan.
“Oh, sekarang Dimas dilupakan terus pindah ke Jutong? Depresi gara-gara dikeluarin dari Perusahaan V, ya -.-?”
“Jangan ngundang masalah, deh. Aku lagi males balesin b*cotan anda wahai anak direktur. Jadi, udahlah. Sebelum aku meledak -.-,”balas Bunga dengan santainya.
Namun tak kapok-kapok. Ara langsung tertawa keras, tanpa malu ketika dilihat oleh empat pria yang ada di sana.
“Meledak? Sekalian aja meledak biar hidupnya jadi lebih bermanfaat. Gak gangguin kehidupan orang lain -.-,”
BRAKKK!!!!
Tiba-tiba saja Bunga menarik kerah baju Ara dan menggusurnya ke pojok lift. Ia terlihat sangat marah hingga tangannya yang tengah gatal sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Ia menatap Ara dengan begitu ganas hingga membuat anak manja itu langsung berkeringat parah.
“Mau aku buat mulut tajammu tidak bisa bicara lagi? Tinggal sekat bagian sini dan pita suaramu mati -.-!”ujar Bunga sambil menunjuk-nunjuk leher Ara. Dalam keadaan seperti ini dia sangat menakutkan.
Ara mulai terlihat tegang. Ia memang sangat takut kalau Bunga sudah marah, tapi dia tidak pernah kapok walau sudah berkali-kali ia kalah dari Bunga. Namun, ia nampak berusaha keras untuk menyembunyikan ketakutannya itu demi kembali meledek Bunga.
“Kalau berani silahkan. Gue gak takut karena nantinya lo juga yang bakal masuk penjara -.-,”
Bunga tersenyum. Ia lalu menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke tempat di mana pita suara Ara berada. Dan sedikit demi sedikit ia menekan bagian itu.
“Aku, bodo amat. Empat orang cowok yang lagi sama kita itu tahu apa yang benar-benar terjadi. Gak ada CCTV di sini. Dan lagi kamu gak bisa bela diri nanti karena pita suaramu keburu rusak. Aku makin bodo amat kalau inget hal itu -.-,”
Ara langsung membuka matanya lebar-lebar. Kali ini ia kalah telak. Ia tidak menyangka Bunga tiba-tiba sangat berani melawan kata-katanya dengan lantang. Dan lagi, apa ini? Keempat orang yang juga ada di lift itu tidak bergerak sama sekali. Mereka hanya memerhatikan apa yang dilakukan Bunga pada Ara tanpa mau melerai.
Ara semakin tersudutkan. Tenggorokannya sudah mulai ditekan lebih dalam dan terasa sakit. Tenaga Bunga lebih besar darinya sehingga ia sulit ketika mencoba menyingkirkan tangan Bunga.
“Lo udah gila ya ~o~!”teriak Ara tepat ke arah wajah Bunga. Sekali lagi Bunga tersenyum.
“Kalau iya gimana -.-?”balasnya santai. Dan hal itu semakin membuat jantung Ara bagai mau meledak.
“OKE! Gua salah ~O~!”teriaknya dengan suara yang sedikit tersekat. Bunga hanya mengangkat sebelah alisnya dan masih meneruskan tusukan tangannya. “STOP! Gua nyerah! Lepasin gua ~O~!”
Setelah mendengar kalimat itu keluar dari mulut Ara, Bunga lalu menatap wajah nenek lampir itu. Ia dapat melihat ketakutan tergambar di sana. Karena Bunga memiliki rasa kasihan yang lebih besar dari teman-temannya di perusahaan, ia lalu melepaskan cengkeramannya dengan berat hati. Ia lalu menjauh, keluar dari lift bersamaan dengan pintunya yang terbuka.
Di dalam lift masih tersisa Ara yang terbatuk-batuk. Ia terlihat memegang lehernya yang sedikit merah sambil menatap Bunga dengan berkaca-kaca.
“Kalau mau tambah, bilang aja -.-,”ujar Bunga sebelum pintu lift tertutup rapat.
“Cewek si*alan ~.~!”ujar Ara dalam suaranya yang masih serak.
Hadapan Kamar Jutong, 13.45 WIB
__ADS_1
Di sana, Bunga tiba-tiba menghentikan langkahnya. ia lalu merenung.
“Kenapa, Bunga ^.^?”Tanya Jutong dengan begitu lembut. Bunga pun mengangkat kepalanya menghadap ke arah Jutong.
“Bagaimana kalau Jutong salah sangka? Bagaimana kalau bukan Dimas yang menjadi DJ? Bagaimana kalau orang lain -.-?”
Keempat pria yang berada di sana menghembuskan nafas lemas. Lagi-lagi Bunga tak bisa menerima keadaan.
“Bunga -.-,”ujar Hari. “Dunia ini memang penuh akan topeng -.-,”
“Iya, Bunga. Kamu harus terima keadaannya -.-,”timpal Hira.
Bunga kembali menundukkan kepalanya. Ia masih tidak mau bergerak dari tempatnya berdiri saat ini.
“Bunga, kami tahu bagaimana perasaanmu setelah tahu hal ini. Tapi, waktu tidak bisa dihentikan. Kamu harus terus menjalani hidup, Bunga -.-,”ujar Hira. Ketiga pria yang lainnya langsung mengangguk.
“Lalu, kalian juga percaya -.-?”ujarnya seolah menyekat pikiran Jutong, Pak Burhan, Hari, dan Hira. Mereka langsung terdiam mendengar ucapan Bunga itu. “Kenapa kalian tidak mau mendengarkan keterangannya langsung? Bagaimana kalau ternyata Dimas itu bukan DJ? Kenapa kita tidak tanya langsung padanya? Apa salah dia -.-?”
Bunga kembali sulit dikontrol. Ia langsung mengerutkan keningnya dan menangis dengan diam. Namun, wajahnya tidak berekspresi seolah ia benar-benar merasa stress.
Keheningan tiba-tiba saja memenuhi ruangan itu. Mereka tidak mau berbicara karena pertanyaan Bunga sulit dijawab untuk saat ini. Bunga memang ada benarnya juga. Tapi, kenyataannya tidak seperti yang diharapkan Bunga. Mau tidak mau ia harus mengikuti alur cerita yang ia alami.
Tiba-tiba saja Jutong menghembuskan nafasnya kasar. Ia lalu berjalan dan menatap Bunga dengan penuh makna.
“Ya udah. Kalau kamu mau cari, cari kemana? Biar aku bantu ^.^,”ujarnya.
Bunga sempat terkejut mendengar ucapan Jutong. Ia lalu mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Jutong. Di sana ia bisa melihat senyuman Jutong yang memang tulus. Ia juga bisa melihat hal lain di sana. Dan dengan pernyataan itu, Bunga bisa tersenyum. Ia mengangguk dengan kuat.
Hari dan Hira juga Pak Burhan merasa bahagia ketika bisa melihat Bunga kembali tersenyum. Dan mereka pun tertawa kecil karena..
"Jadi kita bakal keluar dari gedung ini, terus balik lagi -.-,"balas Hari. "KENAPA GAK DARI TADI PERGINYA BUNGA ToT?"
Bunga lalu tersenyum kecil. Ia menghapus air matanya. Mulutnya yang imut itu dibuka untuk membalas ucapan Hari.
Di sana berdiri seorang wanita yang cantik. Dia adalah salah satu teman Bunga yang lumayan akrab ketika berada di Perusahaan V. Dan panggilan wanita itu cukup untuk membuat Bunga ingin bertanya.
"Kenapa ^0^?"tanyanya dengan sopan.
"Tadi aku disuruh sama direktur buat panggil kamu. Sekalian aku lewat sini. Katanya darurat. Kamu langsung aja ke sana deh, biar cowok itu gak banyak ngomong ^.^."ujarnya.
Bunga pun mengangguk dan mengucapkan terimakasih lalu membiarkan wanita itu pergi, kembali mengerjakan tugasnya.
"Orang itu, mau apa lagi dia -.-?"bisik Bunga.
Kantor Direktur, 14.03 WIB
Keempat pria yang sejak pagi bersama Bunga tidak bisa ikut masuk ke dalam ruangan yang menyebalkan itu karena para penjaga langsung melarang mereka. Tentu saja hal itu dikarenakan Bunga pasti akan mendapatkan banyak dukungan kalau bersama mereka. Direktur tidak mau kalah untuk kedua kalinya sehingga ia memanggil Bunga seorang diri.
Bunga memasuki ruangan itu dengan rasa sebal dan marah. Ia lalu melihat ke arah meja direktur yang mengingatkan ia ketika pergi dari perusahaan, bersama Dimas. Bunga lalu duduk setelah direktur itu memerintahkannya. Tampang Bunga yang tidak berekspreai membuat direktur itu sempat menarik nafas panjang.
"Jadi -.-,"ujar pria itu sambil memosisikan dirinya di hadapan Bunga. "Kamu datang ke sini dengan tujuan lain -.-?"tanyanya.
Bunga hanya bisa menyipitkan matanya dan mengangkat sebelah alisnya.
"Maksud anda -.-?"
"Ya, berita mengenai DJ adalah salah satu anggota Perusahaan V menyebar luas di kantor. Hal itu tidak menutup kemungkinan kalau mantan anggota juga bisa terlibat -.-,"
Bunga memutar bola matanya. Ia lalu membuang nafasnya dengan kasar.
"Intinya -.-?"
"Intinya adalah, kamu dan Dimas adalah komplotan DJ, kan? Dan datang ke sini dengan menghipnotis keempat pria itu untuk mendapatkan banyak informasi mengenai perusahaan ini, benar kan ~.~?!"balas Pak Direktur. Ia mulai berteriak.
__ADS_1
"Wow, tunggu. Kenapa anda menyimpulkan seperti itu? Masa saya mencari diri saya sendiri ~.~?"
"Tapi, apa yang telah kamu lakukan pada Ara membuat saya semakin percaya kalau kamu adalah DJ! Dasar manusia tak tahu diri~.~!"
Bunga semakin memutar otaknya. Pria ini bicara apa, sih?
"Tunggu, Doremon, tunggu. Turunkan lemak di leher anda sebentar agar ketika meledek saya anda bisa mengatakannya dengan jelas ^.^,"balas Bunga.
Direktur langsung melotot. Ia sangat marah ketika disamakan dengan Doremon, tokoh kartun berwarna biru itu.
"Mengaku saja! Tidak mungkin dia berbohong pada saya -.-!"
"Dia? Ada yang menuduh saya? Siapa ~.~?"
"Jangan banyak mengubah arah pembicaraan! Kamu akan saya tangkap ~.~!"
Bunga yang sudah sangat marah hanya memilih untuk diam setelah kalimat itu keluar dari mulut direktur. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia merelakan tangannya terciprat beberapa tetes enzim direktur. Direktur itu masih terus bicara.
Setelah direktur menghentikan kalimatnya, Bunga pun mengangkat tubuhnya dari kursi. Ia sadar kalau ia berdiam di sana lebih lama lagi, tubuhnya akan terasa sangat panas karena ucapan direktur itu pedas semua. Bunga pun merapikan bajunya dan menghadap ke arah direktur.
"Kalau teletubus mau laporin saya, cari bukti dulu baru bicara. Ingat winniu the pooh, ucapan itu tak berarti tanpa adanya bukti. Saya permisi, mau cari pria yang sangat mencintai saya ~.~"ujar Bunga. Ia lalu keluar tanpa membalikkan tubuhnya.
Dengan sedikit menggerutu, Bunga membuka pintu itu. Ia lalu menepuk punggung Pak Burhan, Jutong, dan si kembar.
"Ayo lari ^0^!"ujarnya. Mereka pun spontan berlari. Benar saja, direktur gendut itu langsung keluar dan memerintahkan penjaga untuk menangkap Bunga. Dan untunglah Bunga bisa menyelamatkan diri.
"Bunga dilawan ^0^,"bisiknya.
15.32 WIB
Sudah sore, memang. Sudah lama, memang. Tapi Bunga masih sulit menekan bel rumah. Bahkan ketika ditawari untuk dibantu, ia tidak mau. Ia ingin melakukannya dengan tangannya sendiri.
Kali ini mereka semua berkumpul di depan rumah Dimas. Rumah itu terlihat kosong, entah mengapa. Pintunya tertutup rapat padahal masih belum malam. Hal itu membuat Bunga merasa semakin tak karuan. Ia ragu.
"Bunga tinggal teken aja kenapa sih? Aku lapar -.-,"ujar si kembar bersamaan. Pak Burhan dan Jutong hanya bisa mengangguk setuju.
"Iya ini aku tekan ~.~,"ujarnya. Ia pun mulai mendekatkan telunjuknya ke arah bel.
Dengan cepat, Hari mendorong siku Bunga sehingga membuatnya terkejut lantas langsung menekan bel. Bunga sempat menatap Hari dengan tajam. Dan Hari hanya membalasnya dengan senyuman.
Terdengar suara seorang wanita berteriak dari dalam rumah itu. Untunglah, orang tua Dimas ada di rumah. Tapi, apakah Dimas pun ada di sana? Bunga berharap begitu.
Seorang wanita yang sudah tidak asing dengan Bunga membukakan pintu. Ia menatap Bunga dengan senyuman manisnya.
"Bunga sama si kembar. Kirain siapa. Ayo masuk ^.^,"ujarnya ramah. Beliau pun langsung membukakan pintu lebar-lebar.
"Ada apa ^.^,"tanya ibu Dimas dengan entengnya.
"Dimas, ada ^.^?"
Pertanyaan itu ternyata malah membuat ibu Dimas menundukkan kepalanya.
"Dia pergi, entah ke mana. Ibu pun kangen sama dia -.-,"balas beliau.
#***author massage*.
Halo semua. Buat yang udah baca ceritaku sampai saat ini makasih banyak atas waktu yang sudah kalian luangkan. Terimakasih atas supportnya. Di beberapa bagian aku plesetin, maaf ya.
Jangan lupa share Detektif Ngegas ke temen-temen kalian dan komen 😁.
Buat kalian yang suka cover Detektif Ngegas aku juga buat gambar lain di ig-ku lho di lulu_rizkisal.ice.
Aduh malah promosi 😆 maaf yaa 😀. Sampai bertemu di eps selanjutnyaa**
__ADS_1