Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Kenapa Bunga Meluk Dimas?


__ADS_3

DEG! DEG! DEG!


Semua orang yang ada di dalam mobil memiliki detak jantung yang sangat cepat saat ini. Dimas tidak terlihat sama sekali karena terhalang mobil lain. Apakah Dimas berhasil? Atau malah terlindas?


Dengan segera supir membelokkan mobil mengikuti mobil box itu. Mereka masih belum bisa melihat jelas apa yang tengah terjadi karena lagi-lagi mobil lain menghalangi. Bunga sangat khawatir. Ia tidak mau kalau ada korban jiwa dalam kasus. Apalagi itu Dimas. Dia pasti tidak akan pernah rela.


Hampir satu menit mobil box itu melaju tanpa diketahui bagaimana keadaannya. Mobil yang dinaiki Bunga masih setia mengikuti, bagai Dimas yang mengejar Bunga walau banyak rintangannya.


Jalanan mulai sepi, dengan segera supir mendahului mobil di depannya. Mobil box sudah ada di hadapan mereka saat ini. Namun, di mana Dimas?


Bunga semakin gelisah ketika tidak ada Dimas di sana. Pastilah, Dimas sudah tertinggal di belakang.


Tapi, tunggu!


Pintu box itu tiba-tiba terbuka ketika mobil sedikit bergoyang. Dimas berdiri di sana! Begitu gagah. Dia terlihat mengemasi beberapa kantong yang berisi emas dan menggandongnya dengan kaki pincang.


Pak Burhan terdengar bersorak. Bunga menutup matanya sambil sedikit tertawa. Dan Jutong hanya tersenyum kecil.


Dengan secepat kilat, Pak Burhan segera menelpon bala bantuan dari kepolisian sekitar tempat mereka berada. Mobil box itu masih melaju, dan mereka tidak akan membiarkan anggota DJ yang lainnya kembali kabur.


Tak butuh waktu lama, tiba-tiba saja suara sirene terdengar begitu jelas. Ada tiga mobil polisi tengah menancap gas di jalanan. Beberapa mobil segera menepi, mempersilahkan mobil bersirene itu melewat dengan leluasa. Tak butuh banyak drama, seorang polisi yang menggenggam senjata api melongok dari kaca. Mereka mendekati mobil box itu. Ketika keadaan sudah terkendali, tembakan diluncurkan ke ban mobil kanan.


TUUSS!!


Ban meletus. Mobil langsung tak terkendali namun tetap bersikeras untuk melanjutkan perjuangan mereka. Polisi pun tak akan kalah. Satu mobil menghampiri ban kiri dan meletuskannya. Tingga satu mobil lagi, mereka langsung menyiap mobil box dan berhenti tepat dihadapannya. Di sana mobil box langsung merem, berhenti dan berguling.


Mobil yang dinaiki Bunga ikut berhenti ketika mereka sampai. Namun, belum juga mobil berhenti dengan sempurna, Bunga langsung membuka pintu dan meloncat dari sana. Ia berlari dengan begitu tangguh. Ke mana lagi kalau bukan untuk menghampiri Dimas?


Bunga menggigir bibir bawahnya ketika berlari. Baru saja ia lega karena Dimas selamat. Kali ini dia harus kembali khawatir karena mobil yang dinaiki Dimas baru saja berguling. Apakah Dimas selamat?


Bunga sudah hampir sampai di mobil box. Dia masih belum bisa melihat Dimas. Air matanya mulai mengalir dan terhenti ketika melihat Dimas keluar dari box dengan membawa kantong-kantong besar.


Bunga semakin mempercepat larinya. Dimas yang melihat Bunga tengah berlari, langsung melambaikan tangan dan tersenyum manis.


"Aku gak apa-apa Bunga! Ak ×o×...."


GREPPP!!


Bunga langsung memeluk Dimas dengan erat, sangat erat. Dimas sangat terkejut. Ia bahkan tidak tahu antara senang atau takut. Senang sih iya. Tapi apakah Bunga kerasukan karena mau memeluk pada Dimas yang menjengkelkan itu?


Setelah termenung begitu lama, akhirnya Dimas memutuskan untuk melepaskan kantong berisi beras, eh emas itu. Ia balas memeluk Bunga, erat. Dan anehnya, Bunga yang masih mengeluarkan air mata malah bersembunyi di balik dada bidang Dimas.


"Aku khawatir T~T."ujar Bunga. Suaranya bergetar dan pelukannya semakin erat seolah-olah itu adalah reaksi seseorang yang sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun.


"Aku, kan, udah baik-baik aja. Udah, gak usah nangis. Kalau jadi jelek karena nangis sih sukur, nanti gak bakal ada yang halangi aku deketin kamu U.U,"


"Tapi, kamu bilang aku cantik walau nangis TCT."


"Iyah. Kamu memang sangat cantik. Makasih udah lari dan peluk aku UwU,"


Peluk?! Teriak Bunga dalam hati. Ia pun langsung membuka matanya dan melihat Dimas tengah menempel padanya. APA?! Teriak Bunga lagi. Ia pun sadar akan perilakunya dan segera membuka pelukannya. Ia bahkan sedikit mendorong Dimas untuk menjauh darinya.


"Apaan sih kamu, Dim?! Kenapa gak ingetin aku?! Aku gak maksud kayak gini, ya, tadi! Itu tu cuma refleks karena kalau gak ada kamu, tukang titah buat aku berarti gak ada! Jangan salah faham kamu, ya ~o~!"teriak Bunga. Ia masih mencoba menjauhkan dirinya dari Dimas dengan pipi yang langsung memerah. Bahkan jantungnya kembali berdegup kencang >w<.


Dengan tenaganya yang lebih dari Bunga, Dimas berhasil merantai Bunga yang sudah masuk perangkap. Ia tidak mau melepaskan pelukan Bunga yang langka dan harus dilindungi itu.


"Gak apa-apa. Aku gak bakal salah faham. Tapi aku mau gini dulu, sebentar saja. Sulit untuk membuatmu bisa jujur sesuai dengan hatimu seperti ini. Makanya aku mau seperti ini, satu menit saja u.u,"ujar Dimas lalu menarik kembali Bunga dalam pelukannya.

__ADS_1


Bunga terkejut. Ia langsung terdiam dan menuruti apa yang diinginkan Dimas. Ia merelakan tubuhnya masuk ke dalam pelukan yang ternyata hangat dan nyaman itu. Bunga bahkan sempat tersenyum kecil. Ia suka kalau Dimas seperti ini.


"Tuh, kan. Kamu memang mau peluk-peluk sama aku, kan UwU,"


"Ih, apaan?! Udah ah lepas >c<,"


Dimas pun tertawa kecil.


Dari kejauhan, Jutong nampak memerhatikan kedua orang itu. Tatapannya penuh arti dan, iri.


"Awas aja-_-,"bisiknya.


***


Ternyata bukan hanya kantong yang Dimas bawa yang berhasil mereka bawa, namun puluhan batang emas juga dirampas. Kedua pengemudi mobil box itu berpakaian yang sama dengan para bawahan DJ yang disuruh mencuri berlian. Kini mereka tengah berada di kantor polisi, dekat gedung detektif.


"Kami gak bakal buka mulut~o~!"teriak salah satu bawahan yang berjanggut.


"Eh geer! Kita belum ada yang nanya juga ~o~!"teriak Bunga. Pria berjanggut itu pun cengengesan.


"Kalian gak mau buka mulut. Temen kalian gak mau buka mulut. Emang apa sih yang Si DJ itu kasih, hah? Sampai kalian gak mau buka mulut--.--?"tanya Dimas.


"Ya duit, lah! Sekali berhasil nganter ke Proyek Detektif DJ yang bakal menenggelamkan perusahaan detektif kalian yang terus menerus merekrut orang-orang berkemampuan tinggi, kita dapet satu juta. Satu juta Woy! Kalian bakal kalah sama Sultin DJ! Hahahahah wkwkwkwkwk xixixixixixixi ckckckck mckmck lol~o~!"teriak pria berjenggot.


Semua yang ada di sana -Pak Burhan, Dimas, dan Bunga langsung terkejut. Ya, Jutong tidak ada karena katanya ada urusan. Mereka langsung terdiam membeku. Proyek Detektif DJ yang akan menenggelamkan perusahaan V, perusahaan yang dibuat negara untuk merekrut para detektif, di mana Bunga dan Dimas, akan ada yang menghancurkan.


"Be*o, lu, Toyib! Untung Sultin gak ada di sini! Kalau ada mati lu~.~,"


"Eh, gusti keceplosan! Bisa di undo gak ^.^?"


"Ya nggak lah comberan! Tapi gak apa-apa lah. Orang kita udah dapet dua juta ini. Mending di penjara. Si DJ itu gak tahu diri. Bisanya marah-marah sama mukul orang //_-,"ujar pria satunya. Pria berjenggot itu mengangguk.


"Berarti kalau dua juta kalian udah nganter dua kali, ya ^-^?"tanya Dimas.


Namun mereka kembali membungkam mulutnya. Bunga pun memutar bola matanya. Ia sudah tahu bagaimana sifat orang-orang ini.


"Yah, padahal kalau kalian kasih tau aku bakal kasih pelajaran sama DJ. Aku bakal balas rasa sakit kalian. Tapi sayang kalian gak mau buka mulutU-U."


"Aduh eneng manis jangan gitu dong! Balaskan dendam para pengikut DJ si**an itu ~o~!"


"Ya, makanya apa^-^?!"teriak Bunga dengan tampang yang masih manis. Menyeramkan.


"Iya, neng. Jadi yang pertama, kami cuma disuruh bawa dari tempat yang gak boleh kami beritahukan. Kalau masalah gua yang punya banyak emas itu kami gak akan kasih tau karena itu kami udah janji. Kami juga gak diperbolehkan untuk datang menemui wajah DJ. Dia pakai topeng sama masker pengganti suara terus. Yang kedua ya ini. Dia yakin kita bakal berhasil^.^."ujar pria berjenggot.


Dengan secepat kilat Dimas menulis semua apa yang dikatakan pria berjenggot itu. Dimas mengangguk setelah selesai menulis hal yang hendak dia laporkan. Ia pun memberi isyarat pada Bunga untum kembali menggali informasi dari dua orang yang sangat ceroboh itu.


"Emang emasnya buat apa^-^?"tanya Bunga. Ia harus bersikap imut walaupun ia sangat jijik akan hal itu.


"Ya dijual. DJ kan butuh uang buat selesaikan proyek itu. Jadi dia jual emas-emas dan berlian-berlian itu. Malah DJ sendiri yang mau jualnya karena gak percaya sama bawahan--.--,"ujar pria yang satunya.


Bunga tersenyum.


"Bisa gambarkan barang yang udah pernah dijual^-^?"


Dengan bermodalkan balas dendam pada DJ, kedua orang itu bersemangat menggambarkan dan mendeskripsikan barang tambang dijual oleh DJ di buku catatan Dimas. Setelah mendapatkan informasi cukup, mereka lalu dimasukkan ke ruang tahanan untuk melalui proses persidangan nantinya.


Bunga meregangkan tubuhnya setelah keluar dari ruangan menegangkan itu. Ia menampakkan senyuman yang puas.

__ADS_1


"Ada rencana, Bunga ^.^?"tanya Pak Burhan.


Bunga mengangguk.


"Ayo ke sel pemilik rumah makan! Lalu ke sel kepala sekolah^0^!"teriak Bunga. Ia pun berjalan dengan semangat membuat Dimas lagi-lagi harus tersenyum.


Pak Burhan mengikuti Bunga. Ia lalu memanggil beberapa petugas untuk mengantarkan mereka ke tempat pemilik rumah makan. Di sepanjang jalan nampak suram karena melihat orang-orang yang melanggar hukum dengan santuynya berdiam di dalam sel tahanan. Bunga menggelengkan kepalanya. Dasar orang-orang yang putus asa.


Sebuah sel yang dihuni oleh tiga orang itu ada di hadapan Bunga saat ini. Pemilik rumah makan berada di sana. Ia nampak sangat bahagia, sungguh aneh. Ketiga tahanan itu malah bermain permainan anak kecil. Gabut.


Seorang petugas yang mengarahkan mereka bertiga langsung memanggil pemilik rumah makan. Ia lalu menyuruhnya keluar. Pemilik rumah makan itu melihat Bunga. Ia langsung ceria dan bersemangat keluar dari sel.


"Pak, kita ngobrol sebentar ^-^,"ujar Bunga. Pemilik rumah makan mengangguk dengan riang.


Di sebuah ruangan yang kedal udara itu, nampak Bunga dan Dimas tengah berhadapan dengan pemilik rumah makan yang entah mengapa masih nampak riang.


Dimas lalu menyalakan rekaman yang ia sembunyikan di bawah meja yang tengah mereka gunakan. Sesi wawancara pun dimulai.


"Nak Bunga. Makasih banyak udah tangkap saya. Saya jadi merasa tenang karena gak harus merasa diawasi oleh DJ. Makasih. Walau saya harus masuk penjara tapi ini cuma satu-satunya cara supaya saya bisa kabur. Makasih Nak Bunga, Nak Dimas TUT."ujar pemilik rumah makan sedikit berkaca-kaca.


Ternyata benar dugaanku. Pikir Bunga. Ia lalu menatap Dimas. Sama seperti biasanya, Dimas langsung faham maksud dari tatapan Bunga.


"Kenapa mesti masuk penjara, pak? Bapak, kan, bisa menghindar -.-,"ujar Dimas. Kali ini dia mulai ikut bicara.


"Ah, nak. Bagaimana bisa menghindar. CCTV dipasang di mana-mana. Sekali saya berbuat sesuatu yang mencurigaka, anak istri saya diancam. Memang saya dapat uang. Tapi saya nyesel u.u."


Curahan Hati Seorang Bawahan DJ. Mungkin itulah nama acara yang harus diadakan.


Bunga mengangguk. Ternyata DJ itu orang yang cukup keras. Nekat. Gila. Bunga memang masih bingung harus memulai investigasinya dari mana. Tapi dia sudah punya target. Jadi tidak usah takut kalau-kalau DJ ini mulai melunjak.


"Katanya barang yang dicuri itu dijual. Bapak tau pada siapa saja^-^?"tanya Bunga.


"Kalau transaksi, kami para bawahan kurang tahu. Hanya DJ yang melakukan jual-beli. Yang kami lakukan hanya memberi tanda pada setiap barang yang dijual. Gambat headset. Hal itu memudahkan kami para pencuri untuk mengambil kembali barang yang dijual ^.^."


"Mengambil kembali -.-?"


"Iya. Jadi DJ menjual, mendapatkan uang, dan kembali mencuri barang itu ^.^."


Bunga dan Dimas terkejut. Mereka lalu memandang pemilik rumah makan. Jujur. Dia jujur. Selain itu ucapan dari kedua tahanan tadi dan pemilik rumah makan sangat akur. Berarti, hal itu memang benar-benae terjadi.


"Baiklah. Aku rasa cukup. Terimakasih banyak atas informasinya, pak^-^,"ucap Dimas. Ia mengangguk pada Bunga yang sempat mengerutkan alisnya.


"Gak. Saya yang mau berterimakasih karena telah membebaskan saya ^-^,"


Mereka pun tertawa kecil bagaikan bukan di tempat tahanan. Setelah beres bersenda gurau mereka pun keluar dari ruangan yang dikira akan menegangkan itu. Bunga tersenyum lepas. Akhirnya ia yakin pada orang yang ia curigai. Ya siapa lagi kalau bukan..


"Dimas, Bunga, direktur panggil kalian ^-^."ujar seorang detektif, Mira, dari tempat yang sama dengan Bunga.


Bunga dan Dimas mengangguk. Mereka pun berjalan menuju kantor direktur.


***


Sebuah ruangan VIP tengah dimasuki oleh Dimas dan Bunga. Mereka langsung menghadap pada direktur yang duduk dengan tenangnya.


"Ada yang bisa kami bantu^-^?"tanya Dimas.


"Tidak ada. Aku hanya ingim memberikan informasi tanpa basa basi. Kalian dipecat~_~."

__ADS_1


O_o


__ADS_2