Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Apakah Ini Akhir dari Bunga Sang Detektif?


__ADS_3

"Ya, kalian dipecat dari Perusahaan V. Kalian boleh membereskan semua barang kalian dari kamar dan pergi besok pagi-_-."ujar pria bertubuh gemuk yang hanya berdiam diri di mejanya itu.


Bunga tercengang. Ia masih belum bisa menghadapi hal ini. Mengapa dia tiba-tiba dikeluarkan? Padahal, semenjak dia dipanggil ke perusahaan ini, kasus-kasus menjadi jarang terjadi karena bagaimana pun caranya pastilah Bunga tahu.


"Mohon maaf bila saya lancang, pak. Tapi apa salah kami hingga dengan tiba-tiba bapak menyatakan bahwa kami dipecat? Apakah negara tidak mempercayai kami lagi, pak? Atau mungkin negara tidak memecat kami, tapi bapak yang tidak menginginkan kami di sini? Mohon jawab, pak! Saya tidak terima jika diperlakukan seperti~.~!"ujar Bunga. Emosinya mulai datang.


Dimas merasakan hawa panas dari Bunga. Ia tahu Bunga mulai menunjukkan amarahnya. Baik dengan siapa pun, apa pun, di mana pun, Bunga akan mulai naik pitam jika ada yang menginggungnya. Oleh karena itu, Dimas selalu siap sedia memadamkan api yang menyelubungi Bunga. Seperti saat ini, Dimas langsung saja menggenggam tangan Bunga agar ia bisa mengontrol diri.


"Heuheuheuheu~v~,"tawa direktur. "Kalian dipecat karena kalian memang tidak becus ~o~!"teriaknya.


"Di mana letak ketidakbecusan kami?! Pernahkah ada kasus yang tidak kami selesaikan?! Semua kasus selalu kami selesaikan dalam waktu tercepat, pak~o~!"balas Bunga.


Direktur itu kembali tertawa. Tawanya sungguh menjengkelkan.


"Kalian tidak ingat? DJ itu sudah dua kali lolos dari pantauan kalian! Sudah aku bilang mereka salah mempercayai kalian! Kerugian berlian di SMA 1, aku masih lindungi kalian. Namun, kali ini saat DJ lolos karena prediksimu salah, sudah tidak bisa aku tutup-tutupi lagi. Kalau negara memberikan kalian satu kesempatan lagi, aku yakin kalian tidak akan pernah bisa menggunakan dengan sebaik-baiknya~o~!"


"P..prediksi s..saya-.-?"


"Ya! Prediksi kamu tentang DJ yang akan mencuri di tanggal 12. Ternyata kapan? Tadi! Kalian memang terlalu bocah untuk melakukan hal berat ini~.~!"


"Tapi kasus-kasus sebelumnya tidak pernah kami gagalkan. Lagi pula itu kasus yang masih hangat! Dan satu lagi yang membuat saya bertanya-tanya mengenai bapak, sebenarnya rencana itu >.<..."


"Pak Dir~o~!"teriak Dimas memotong ucapan Bunga.


Bunga sempat marah karena Dimas memotong ucapannya. Namun Dimas kembali bertelepati dengan Bunga. Ia menatap Bunga dengan senyuman. Senyuman yang membuat Bunga ambigu. Namun akhirnya, Bunga faham akan maksud Dimas. Hatinya pun tenang dan senyumannya memancar.


"Kalau Bunga dipecat, saya akan ikut keluar dari perusahaan ini~o~!"teriak Dimas sambil berdiri dan sempat menggebrak meja.


Bunga membuka matanya lebar-lebar. Dia lalu menepuk keningnya dan saling berpandangan dengan Pak Direktur.


"Kamu juga kan ikut dipecat, Dim//_-,"ujar Direktur dan Bunga bersamaan.


Dimas mengerutkan alisnya. Ia kembali duduk dengan perlahan, dan berpikir keras.


"Kalian. Itu berarti lebih dari satu. Berarti kamu juga ikut. Kita berarti.... tunggu o.o,"ujar Bunga. Ia lalu memandang Dimas.


"KITAAA BEBASSSSS^0^!!!!!"teriak Dimas dan Bunga bersamaan.


Direktur terkejut. Ia tak pernah menyangka akan mendapatkan balasan seperti ini. Dia sangat mengharapkan kalau Dimas dan Bunga akan memohon-mohon padanya, meminta tolong agar tidak dikeluarkan. Tapi, apa ini? Kenapa mereka senang?


"Terimakasih BAPAK! Kami jadi bebas. Tak perlu bolos sekolah karena beresin kasus, tak perlu pusing karena anda cerewet, dan tak perlu mendengar Ara yang banyak bicara. Anda, Pak Direktur yang terhormat dihormati dan tak pernah menghormati, anda bisa menyimpan anak anda di rayon saya! SILAHKAN, DENGAN SENANG HATI^0^!"ujar Bunga tepat ke arah wajah direktur.


Direktur terkejut bukan main. Ia tiba-tiba sangat kesal dengan dua orang yang ada di hadapannya saat ini.


"Bagaimana kamu tahu kalau Ara adalah anakku o.o?"tanya direktur. Ia mulai gugup.


"Dia tidak tahu sama sekali. Hanya saja barusan bapak beri tahu, jadi kami tahu^.^,"balas Dimas. Ia nampak sangat puas saat ini.


Pria itu mulai kesal. Ia tidak terima jika ia kalah. Anak-anak kecil itu memang menjengkelkan.


"KELUAR DARI RUANGAN SAYA~O~!!"teriak direktur.


Bunga dan Dimas sempat terkejut. Namun, ya, karena mereka menjengkelkan, mereka langsung mencari kejengkelan lagi.


"Oke, siap, pak. Kami akan keluar. Semoga bersenang-senang setelah tidak ada kami ^-^,"balas Bunga. Ia menyilangkan telunjuk dan jempolnya sehingga membentuk cinta. K-pop pasti tahu.


"Saya punya pantun perpisahan buat bapak. Ekhem. Halo peri yang di awan, siapkan bukti dan papan dada, Halo bapak yang menawan, siapkan hati dan pikiran anda. Senang bertemu dengan anda, lantai ruang VIP^-^!"teriak Dimas lalu mengusap lantai dan pergi keluar ruangan sambil menggandeng tangan Bunga.


BLAMM!!


Pintu ditutup dengan begitu keras. Direktur itu langsung mengangkat tubuhnya dan melemparkan semua barang yang ada di mejanya. Ia menggeram seperti seekor harimau.

__ADS_1


"Bocah nakal! Lihat saja ~o~!"teriaknya dari balik meja.


Sedangkan dari balik pintu VIP itu, terlihat Bunga dan Dimas yang tengah berjalan dengan riang menuju ruang pusat di mana informasi dan orang-orang berkumpul di sana. Mereka tertawa, mengusap kartu kredit mereka yang penuh akan angka, dan sesekali menyapa orang-oranh dengan berlebihan.


Semua besi berbentuk bulat dipasang di tengah-tengah ruang pusat. Di sana terdapat mic dan beberapa speaker. Itu mirip panggung kecil di mana orang-orang yang akan memberikan informasi berada. Biasanya, sebelum naik ke panggung itu, seseorang harus ijin ke bagian informasi baru bisa mic bisa menyala. Tapi dua anak nakal ini tak perlu hal itu. Suara mereka sudah nyaring, kok, untuk sekedar memberikan informasi tak penting mereka.


Bunga dan Dimas meloncat ke atas besi itu sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Langsung saja, semua orang memusatkan perhatian mereka ke sana. Bahkan, orang yang tengah sibuk pun menyempatkan diri untuk melihat apa yang terjadi.


"Aduh, dua sejoli itu lagi//_-,"ujar seorang pria berumur yang juga seorang detektif di rayon lain.


"MOHON MAAF KARENA KAMI LANCANG^0^!"teriak Bunga.


"SUDAH BIASAA-0-!"teriak hampir semua orang yang ada di sana.


Bunga sedikit malu. Ia tertawa kecil untuk menutupi rasa malunya.


"KAMI HANYA INGIN MENGUCAPKAN SALAM PERPISAHAN! KAMI TIDAK AKAN BERADA DI SINI LAGI! SUDAH ADA SURAT KEPUTUSAN DARI PAK DIREKTUR DAN MUNGKIN BESOK AKAN DIPAJANG DI PAPAN PENGUMUMAN! TERIMAKASIH ATAS SEMUA KERJA SAMA KALIAN! KAMI TIDAK BISA SEPERTI INI TANPA KALIAN^O^!"teriak Bunga. Entah mengapa energinya banyak sekali sehingga bisa mengucapkan seluruh kalimat itu dengan suara lantang.


"Tapi kenapa bisa?! Kalian kan hebat! Paling hebat di perusahaan ini^0^!"teriak seorang wanita yang sempat mengacungkan tangannya terlebih dahulu.


Seketika suasana langsung riuh. Banyak yang berbincang dengan temannya mengenai pemecatan Bunga dan Dimas.


"Kami tidak becus katanya! Saat penangkapan DJ, kami belum bisa maksimal^0^!"ujar Dimas. Karena suasana mulai hening, ia tidak perlu berteriak seperti Bunga tadi.


"Tapi, kan, orang itu memang sulit ditemukan! Bahkan, kalian tidak ada yang membantu. Jadi wajar saja menurutku! Dua orang anak remaja menyelesaikan kasus-kasus sulit itu luar biasa^0^."ujar pria tua yang tadi bergumam.


Bunga dan Dimas hanya mengangkat bahu mereka. Mereka saling memandang ketika orang-orang kembali riuh.


"Kalau kalian tidak ada, siapa yang bisa kami tanyai^0^?"teriak seorang pria dewasa, sekitar 25 tahunan, berkacamata dan memegang sebuah kopi.


Dimas tersenyum.


"Kami tidak hebat. Untuk apa kami dibutuhkan di sini^-^?"


Tiba-tiba saja, pak tua yang tadi bergumam bertepuk tangan.


"Kami bangga pada kalian^0^!"teriaknya. Ucapannya itu berhasil merayu orang lain untuk mengikuti.


Semua bersorak pada Dimas dan Bunga. Bahkan mereka sambil bertepuk tangan. Dimas dan Bunga hanya bisa saling berpandangan dan tersenyum. Mereka sangat bahagia memiliki orang-orang yang selalu mendukung mereka.


Setelah beberapa menit berlalu, Bunga pun kembali mempersiapkan dirinya untuk mengucapkan kata.


"Mungkin kami masih belum layak di perusahaan besar ini. Terimakasih atas semua kerja sama kalian. Terimakasih telah mendukung kami sampai di sini. Teruslah berjuang! Jangan kalah dengan penjahat! Gunakan taktik yang sesulit mungkin! Ayo kita jauhkan negara ini dari kejahatan! Selain itu aku juga ingin mengucapkan selamat untuk Reisa Rasyinta karena telah diangkat untuk menggantikan tugasku. Selamat bertarung, Ara. Aku hanya ingin memberitahumu kalau di bagianku kebanyakan kasus-kasus pembunuhan dan penculikan. Jangan jadi anak manja, ya. Karena kamu harus berhadapan dengan darah nantinya^-^." ujar Bunga sambil tersenyum manis pada seorang wanita yang berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya.


Orang-orang kembali riuh. Mereka berdiskusi mengenai tugas Bunga.


"Kemarin aja mereka harus berhadapan sama zombie>~<,"ujar seorang wanita.


"Kamu tahu, awal dia masuk aja udah langsung kasus pembunuhan. Apalagi dia pernah beberapa kali kecoret cutter atau golok, ya? Ah pokoknya itu>~<,"lanjut seorang pria.


"Tahu gak kamu? Paling parah sih waktu dia harus bawa mayat anak kecil yang ternyata dibunuh bapaknya? Kasus lama itu>~<,"


Begitulah ungkapan orang-orang yang membuat bulu kuduk Ara berdiri.


***


Ibu, ayah, kakak, dan adik Bunga membantu mengemasi barang-barang Bunga. Mereka nampak bahagia sekaligus sedih. Mereka bahagia kalau anaknya bisa bebas. Tapi mereka sedih karena walaupun Bunga senang, tapi dia tetap menginginkan pekerjaan itu.


"Kamu baik-baik aja, nak^-^?"tanya ibu Bunga ketika melihat sesuatu menetes dari mata Bunga.


"Ah, aku cuma kelilipan, bu^.^,"

__ADS_1


"Ibi gak nanya kamu nangis atau enggak lho ^.^."ujar ibu Bunga.


Bunga langsung menunduk. Ia menatap tangannya yang tengah berada di atas koper. Melihat anaknya sedih, ibu Bunga langsung memeluknya. Air mata Bunga tumpah di sana. Ia merasa gagal menjadi anak kepercayaan keluarga.


"Gak apa-apa. Kamu lihat aja sisi baiknya^-^,"ujar ibu Bunga. Bunga pun mengangguk dan kembali membereskan barang-barangnya.


"Kakak, kakak bakal bareng sama kita lagi, ya^0^?"ujar adik Bunga yang begitu lucu. Bunga pun mengangguk dan mengusap adiknya yang langsung kelihatan bahagia.


"Syukurlah. Kamu jadi bisa sama kita lagi, dek. Biar kakak aja yang kerja^0^!"teriak kakak Bunga. Bunga tertawa kecil.


"Anakku sudah besar^-^,"lanjut ayah Bunga yang mengusap kepala Bunga. Mereka pun tertawa bersama.


TOK! TOK! TOK!


Terdengar pintu kamar Bunga diketuk bertepatan dengan semua kopernya selesai. Tinggal berangkat dan beres, semua masalah selesai. Namun, karena ada yang mengetuk pintu, Bunga harus menyambut tamunya dulu.


Pintu terbuka. Di sana berdiri empat orang yang tengah membawa kantong mereka masing-masing. Siapa lagi kalau bukan Dimas dan keluarganya.


"Hai. Aku mau tanya kamu mau kemana^-^,"ujar Dimas. Ia sepertinya sempat menangis juga tadi.


"Aku mau beli rumah kecil di dekat bibiku. Baru saja aku dapat uang ganti kamar. Cukuplah untuk satu rumah kecil ^-^,"balas Bunga.


"Aku harap rumah yang mau kamu beli dekat dengan rumahku^-^,"balas Dimas.


Bunga mengangguk kecil.


"Boleh^-^,"ujarnya manis.


Setelah bercakap-cakap sedikit dengan keluarga Dimas, mereka semua keluar dari kamar Bunga.


Bunga lalu mengunci kamarnya. Ia menatap pintu yang selama ini menemaninya. Pintu yang telah melindungi dirinya dari hiruk pikuk perusahaan. Pintu dengan banyaknya kenangan. Pintu yang membuat tabungannya mengembung. Dia memang masih belum bisa melepas kasus DJ begitu saja. Namun setelah melihat pintu ini, ia sadar. Ia haru menyegarkan otaknya sesaat.


"Selamat tinggal, aku akan merindukanmu^-^,"bisik Bunga lalu hendak mengikuti keluarganya yang sudah jauh melangkah.


"BUNGAAAAAAAAAA^0^!!!!!!"


Terdengar seseorang berteriak dengan begitu kencang. Teriakannya membuat Bunga berhenti dan membalikkan tubuhnya.


GREPP!!!


Seorang pria memeluk Bunga begitu saja. Bunga sudah langsung faham siapa dia. Ya, Si Jutong Jotung Dika. Anak itu penuh dengan kejutan.


"Jangan pergi. Aku bakal kesepian T.T,"ujarnya di balik kepala Bunga.


Bunga tersenyum lalu mengusap punggung Juragan Sotong, Si Jutong itu.


"Gak usah kayak gitu, Tong. Kamu masih harus ada di sini. Gak usah pikirin aku maupun Dimas. Kamu bisa, kamu kan cerdas ^-^."ujar Bunga.


Tangis Jutong pun pecah.


Bunga hanya bisa tertawa melihat kelakuan orang menjengkelkan itu.


"Tapi ini bukan yang aku harapkanT.T,"lanjutnya. Bunga hanya bisa tersenyum.


***


Di depan pintu besar perusahaan itu berdiri banyak orang yang hendak mengantar Bunga dan Dimas untuk meninggalkan mereka. Beberapa rekan yang cukup dekat dengan mereka langsung menangis. Pak Burhan dan Jutong pun demikian. Mereka yang berada di barisan paling depan hanya bisa memberikan amanat-amanat mereka.


"Jangan lupa makan ya, nak. Bu, dia anaknya bandel makan T.T."ujar Pak Burhan. Ibu Bunga mengangguk.


"Aku pergi, ya. Selamat tinggal^-^,"ujar Bunga sambil melambaikan tangannya. Semuanya langsung mengucapkan salam perpisahan.

__ADS_1


Apakah ini akhir dari Bunga sang detektif?


__ADS_2