Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Beraksi di Luar Perintah. Semangat!


__ADS_3

Sudah satu minggu telah Bunga lewati dengan begitu tenang. Ia terus bersenang-senang selama itu. Dan kali ini ia semakim senang karena nilai rapotnya meningkat.


"Terakhir ibu ke sekolah kapan, ya^-^?" tanya ibu Bunga ketika mereka berjalan keluar dari gerbang.


"Sudah sangat lama, bu. Aku juga sampai lupa ^-^,"balas Bunga.


Mereka lalu berjalan menuju halte. Tidak ada kendaraan pribadi yang dibawa karena memang sudah menjadi kebiasaan bagi mereka berdua untuk menggunakan kendaraan umum.


TUK!


Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menyentuh punggung Bunga dan ibunya. Mereka langsung membalikkan tubuh mereka untuk melihat siapa yang baru saja menyentuh punggung mereka.


"Hai calon mertua dan my bride. Pulang bareng kuy^-^,"ujar Dimas nampak sangat rapi.


"Heh, kamu gak sopan sama orang tua bilang kuy kuy -.-,"ujar seorang wanita cantik yang tengah menepuk tangan Dimas dengan lembut.


Dimas mengaduh kesakitan sedangkan Bunga tertawa dengan bahagia.


PLAKK!!!


"Kamu juga gak sopan, Bunga, ngetawain dia. Dia kan calon mantu ibu^-^,"ujar ibu Bunga ikut menjahili Bunga.


Bunga keki. Ia lalu memasang wajah cemberutnya.


Dimas dan ibu Bunga tertawa bersama membiarkan Bunga memerah dan ibu Dimas termenung.


"Ini, Bunga o.o?"tanya ibu Dimas membuat Dimas dan ibu Bunga berhenti tertawa.


Bunga memandang ibu Dimas. Ia baru sadar kalau ternyata memang mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Bunga pun langsung mengubah ekspresinya. Ia tersenyum pada ibu Dimas.


"Iya, bu. Saya Bunga ^-^,"ujar Bunga.


"Aduh, pantes Dimas suka sama kamu. Kamu cantik sama sopan, ya. Kalau gak sopan sama Dimas gak apa-apa, dia emang nyebelin anaknya ^-^,"


Kali ini Bunga dan ibu Bunga yang tertawa membiarkan Dimas cemberut.


"Ibu ketawa terus -.-."ujar Dimas protes pada ibu Bunga. Dan beliau hanya bisa tersenyum kecil.


Setelah menghabiskan percakapan itu, mereka mulai melangkah menjauhi sekolah. Dimas membiarkan ibunya mengobrol bersama ibu Bunga karena dia ingin kembali bersama Bunga.


Ibu Bunga dan ibu Dimas nampak sangat nyaman ketika bercakap-cakapm Tidak terlihat ada rasa canggung maupun hal lainnya. Mereka malah terlihat seperti dua orang sahabat yang baru dipertemukan setelah sekian lama terpisah.


Dimas dan Bunga berjalan di belakang ibu mereka. Kedua orang itu banyak membahas topik yang mereka pendam selama di perusahaan. Dan itu sangat menyenangkan.


GREPP!!!


Tiba-tiba saja terasa ada orang yang menaiki punggung mereka. Masing-masing. Berarti ada dua orang jahil yang kini tengah berada di punggung mereka.


Bunga langsung memalingkan wajahnya. Ia melihat satu orang yang mulai menyebalkan.


"Hari ~o~,"teriak Bunga.


"Lho, itu Hari? Bukannya makhluk yang nempel di punggung aku ini Hari -.-?"tanya Dimas.


"Enggak, ini Hari-.-!"ujar Bunga.


Kedua orang yang belum mau lepas dari punggung Bunga maupun Dimas itu langsung tertawa lepas. Mereka yang bermata sipit itu semakin menyembunyikan matanya ketika tertawa membuat Bunga dan Dimas mau tak mau ikut tertawa.


"Aku yang ada di punggung Dimas Hari, yang ada di punggung Bunga itu Hira ^-^,"ujar Hari.


"Apa bedanya kalian -.-?"tanya Dimas. Ia mulai berjalan menggusur tubuh Hari.


"Kalau aku hidungnya mancung, kalau Hira mancung ke dalam^.^."ujar Hari. Ia lalu tertawa lepas tanpa melepaskan genggamannya pada pundak Dimas.


Hira lalu turun dari punggng Bunga. Ia mulai berjalan sambil memegang pundak Bunga.


"Dasar kembaran sipit -.-!"ujar Hira.


"Kamu sipit-.-!"


"Apa kamu pesek-.-!"


"Diam kamu pendek-.-!"


"TUNGGU~O~!"teriak Bunga. Anak kembar itu langsung diam. "Kalian ini, kenapa ngejek diri sendiri^.^?"


Bunga dan Dimas tertawa lepas. Mereka pun berhasil membuat dua anak kembar itu bungkam.

__ADS_1


"Aduh-o-!!!"teriak Hari dan Hira bersamaan.


Bunga dan Dimas terkejut lantas membalikkan tubuh mereka untuk melihat kedua saudara itu. Tunggu, ini lebih lucu lagi! Seorang wanita yang terlihat masih muda tengah menjewer telingan Hari dan Hira. Wanita itu tampangnya ramah tapi tangannya garang. Dimas dan Bunga pum segera menggigit bibir mereka agar tawa tak keluar.


"Jangan saling hina, kan, kata mama~.~,"ujar wanita itu.


"Iya, ma, ampunT.T,"balas Hari dan Hira bersamaan. Wanita itu pun segera melepaskan cengkeraman tangannya dan mengusap telinga anak tersayangnya.


Wanita itu lalu memandang Bunga dan Dimas yang tiba-tiba berekspresi sangat manis. Tentu saja dengan tampang seperti itu, mama Hari dan Hira langsung menghampiri mereka.


"Aduh, maaf, ya. Tadi anak saya aneh-aneh kelakuannya. Kalian temannya Hari atau Hira^-^?"tanya wanita itu.


"Ah, kebetulan kami kenak dua-duanya, ma. Tapi kami agak sulit membedakan sih, ma ^-^."ujar Bunga mulai mengakrabkan dirinya walau sebenarnya jantungnya berdegup kencang karena SKSD (Sok Kenal Sok Dekat).


Dimas lalu menyikut lengan Bunga dengan pelan.


"Kamu apa-apaan sih? Kenapa manggil dia mama? Kamu mau nikah sama anaknya? Gimana sama aku? Kan, aku udah ngatri duluan buat nikahin kamu -.-,"bisik Dimas.


"Ya, gak lah! Kita kan bakal banyak deket sama Hari. Masa sama ibunya gak akan manggil mama? Masa mau manggil paman -.-?"ujar Bunga. "Lagian, aku gak cinta sama anak kembar itu -.-."


Dimas pun tersenyum lebar.


"Kalian mau tahu gimana cara bedain mereka ^-^?"tanya mama Hari dan Hira. Bunga dan Dimas pun mengangguk dengan kuat. "Pokoknya yang ada tahilalat di dagu berarti Hira. Kalau Hari tahilalatnya di deket alis ^-^."


Dimas dan Bunga pun tersenyum. Mereka lalu menatap ke arah Hari dan Hira yang masih mengusap telinga mereka.


"Kalau begitu, ma, ibu kami sedang mengobrol di depan sana. Kalau tidak keberatan mama ikut ngobrol sama mereka, ya ^-^."pinta Dimas. Ia menunjuk dua orang wanita yang tidak terlalu jauh dari hadapan mereka.


"Oh, tentu boleh ^-^,"balas mama Hari dan Hira begitu menawan.


"BUU!!! INI MAMANYA TEMEN AKU ^0^!" teriak Dimas dan Bunga bersamaan.


Dua wanita itu langsung membalikkan tubuh mereka. Mereka tersenyum pada mama si kembar yang melambaikan tangan. Dua wanita itu lalu mengibaskan tangan mereka sebagai tanda mengajak mama si kembar untuk menghampiri. Mama Hari dan Hira lalu menepuk pundak Bunga dan Dimas. Ia tersenyum. Sebelum kembali berjalan, beliau menatap kedua anaknya dan melambaikan tangan. Setelah itu ia menghampiri ibu Bunga dan ibu Dimas.


Hari dan Hira menghampiri kedua sahabat baru mereka.


"Bunga, Dimas, tentang Hira, sebenarnya dia juga tahu kalian detektif. Tapi bukan aku yang memberitahunya. Malah aku dan Hira sudah sadar ketika kalian mewawancarai kami ^-^."ujat Hari.


Bunga dan Dimas tersenyum. Mereka lalu melanjutkan jalan mereka.


"Gak apa-apa. Lagian kami udah tahu kok. Kalau satu tahu, dua-duanya tahu ^-^."ujar Bunga. Hari dan Hira pun tertawa.


Saat ini, mereka sudah menaiki bus menuju rumah mereka. Ketiga ibu-ibu itu masih mengobrol dengan seru. Selain anak-anak mereka dekat, rumah mereka juga berada dalam satu komplek yang sama. Karenanya tak heran jika banyak hal yang bisa dibahas.


Sedangkan empat orang anak yang kini berada di jok dekat jendela tengah asyik bermain. Entah permainan apa yang sedang mereka lakukan, yang pasti Hari selalu kalah.


Tak butuh waktu lama, bis pun sudah tiba di halte yang letaknya tak jauh dari Jalan Karpet. Mereka pun turun dari bis dan mulai berjalan menuju rumah mereka masing-masing. Namun, mereka masih tetap bersama kok.


Ketika mereka sudah mulai memasuki gerbang utama komplek itu, terlihat kepulan asap tengah menutupi sebuah rumah. Sirene damkar terdengar jelas dari dalam komplek. Sepertinya terjadi kebakaran. Dan tidak jauh dari gerbang.


Ibu Dimas berjalan menuju satpam yang selalu berjaga di sana. Ia mulai penasaran dengan yang terjadi.


"Ada apa, pak -.-?"tanya ibu Dimas.


"Ada yang bunuh diri. Bakar rumahnya sendiri, neng. Dia sempet teriak-teriak dari jendela mau bunuh diri katanya. Terus tiba-tiba kebakaran aja ^.^."ujar satpam itu.


Ketiga wanita it terkejut bukan main. Mereka lalu memandang anak mereka masing-masing. Apalagi ibu Dimas. Dia langsung saja berjalan menghampiri anaknya.


"Nak, kamu mau tangani ini >~"bisiknya.


Dimas memandang ke arah Bunga. Ia lalu memandang Hari dan Hira. Setelah melihat ketiga orang itu mengangguk, Dimas melihat wajah khawatir sang ibu.


"Maaf, bu. Sepertinya iya -_-."ujar Dimas membuat ibunya langsung memeluknya.


"Kamu yakin T.T?"


"Iya. Kami yakin^-^,"balas Dimas sambil mengangguk.


Ibu Dimas memberi isyarat pada ibu Bunga. Dan ibu Bunga langsung menatap anaknya untuk memberi semangat. Ia memeluk Bunga untuk sekejap.


Berbeda dengan ibu Bunga dan ibu Dimas, mama si kembar memandang anak-anaknya dengan garang.


"Kalian mau ikut campur masalah lagi ~.~?"ujarnya.


"Ma, tolong! Kami, kan, bersama orang ahli sekarang >.<,"ujar Hari.


"Iya, ma. Lagi pula, kami akan baik-baik saja kali ini ^-^."balas Hira.

__ADS_1


Ibu si kembar sempat menatap kedua anaknya dengan garang. Namun, ia akhirnya menghembuskan nafasnya pasrah. Ia pun memeluk kedua anaknya.


"Hati-hati ^-^."ujarnya. Hari dan Hira pun tersenyum.


Tanpa aba-aba, keempat anak itu langsung berlari menuju rumah mereka masing-masing untuk mengambil penyamaran.


"Kalian suka menangani kasus ^0^?"tanya Bunga pada si kembar.


"Sempat beberapa kali. Tapi bukan kasus yang besar. Cuma pencurian saja ^-^."ujar Hira.


"Iya, kami bahkan punya mantel dan kaca mata juga tahilalat tempelan ^-^."ujar Hari.


Bunga dan Dimas saling berpandangan. Sepertinya liburan akan semakin seru.


***


Empat orang yang kini berpenampilan berbeda sudah ada di TKP. Di sana sudah ada polisi yang langsung memasang garis kuning. Dimas dan Bunga langsung mengenali seseorang. Pak Burhan! Dia berada di sana.


Dimas dan Bunga langsung menghampiri Pak Burhan yang terlihat berdiri seorang diri, memperhatikan Ara yang tengah menyelidiki.


"Pak Burhan^0^!"teriak Dimas dan Bunga.


Pak Burhan terkejut. Ia lalu memalingkan kepalanya ke arah belakang. Betapa terkejutnya ia ketika melihat dua mantan anak buahnya. Ia begitu senang saat ini. Tanpa sadar ia memeluk dua orang itu.


"Aduh, kenapa kalian ada di sini ToT?"tanya Pak Burhan.


"Rumah kami di sekitar sini sekarang^-^ ,"ujar Dimas.


Pak Burhan pun mengusap kepala Dimas.


"Kamk sangat kangen kalian. Kalian tahu, semenjak Ara mengambil alih tugas kalian yang sulit, tak ada satu pun yang berhasil di tangani. Sudah ada sekitat lima ajuan kasus tapi tak ada yang berhasil ditangani. Bahkan, kasus DJ semakin bermasalah. Dia merajalela. Sekarang di kantor sudah ada dua surat petunjuk tapi belum ada yang ditemukan. Sekarang ada kasus lagi. Kami pusing T.T."ujar Pak Burhan.


Ia banyak mengeluarkan kalimat ketika bertemu dengan Dimas dan Bunga. Mungkin kalau dijadikan sebuah novel bisa mengambil judul 'Curhatan Seorang Burhan'.


Dimas memandang Bunga dari balik punggung Pak Burhan.


"Pak ^-^,"ujar Bunga mulai melepas pelukan. "Bagaimana kalau kali ini kami yang memecahkan kasus. Tapi tolong, jangan ketahuan perusahaan ^-^."


Pak Burhan langsunh berseri-seri. Ia mengangguk dengan sangat bahagia.


"Tentu boleh ^0^!"ujar Pak Burhan. "Tapi siapa yanh ada di belakang kalian itu ^0^?"


"Mereka teman detektif baru. Hari dan Hira ^-^,"ujar Dimas.


Si kembar lalu mendekati Pak Burhan. Ia langsung tersenyum dan menyapanya.


"Saya sudah tahu anak kembar ini. Mereka itu memang detektif kecil tapi masih wilayah dan kasus-kasus kecil. Kami sering bertemu. Dan, saya sangat setuju kalau kalian bergabung ^-^."


"Yang benar, pak ^0^?"tanya si kembar.


"Iya. Saya percaya pada ketelitian kalian. Jika dikombinasikan dengan dua anak bandel itu akan sempurna. Mungkin kasus berat kayak gini bisa selesai dalam waktu sehari ^-^."ujar Pak Burhan. "Perusahaan akan sangat menyesal karena telah mengeluarkan kalian, Bunga dan Dimas. Tunjukkan pada mereka kalian tidak perlu biaya dari direktur tamak itu! Semangat ^-^!"


Keempat orang itu tertawa bersama.


Mereka sebenarnya sudah ingin mengambil alih kasus. Namun, kelihatannya Ara masih asyik meneliti beberapa hal. Ia terlihat marah-marah pada asistennya dan beberapa kali memukul tembok. Itu cukup menghibur lima orang yang tengah memperhatikannya.


"Ngomong-ngomong, kenapa Jutong gak ikut -.-?"tanya Dimas.


"Iya, dia masih gak mau gerak karena merasa risik sama Ara. Apalagi dia harus bekerja sama Ara, kan. Dan yang membuatnya tak suka adalah Ara yang centil. Dia suka sama Jutong ^0^,"ujar Pak Burhan.


Bunga dan Dimas tertawa. Namun, tawa Dimas adalah yang paling kencang. Sepertinya ia tidak perlu takut dengan Jutong yang suka pada Bunga.


Dari kejauhan nampak Ara berjalan menuju Pak Burhan sambil berkaca-kaca. Ia menatap Pak Burhan dan beberapa orang yang tengah berkumpul di sana.


"Tunda kasusnya sampai besok. Ada yang harus aku teliti -.-."ujar Ara.


Semua yang ada di sana hanya bisa mengeluh.


"Tunda teross sampai mampos -o-!"teriak seseorang yang berada di dekat Dimas dan cukup menutupi keempat detektif.


Ara menghampiri orang itu. Ia melihat nama pria itu dan menatapnya dengan licik.


"Kamu dipecat ~o~!"teriaknya.


Pria itu nampak marah pada Ara.


"TUNDA TERUS ~O~!"teriak pria itu.

__ADS_1


"Gak akan ditunda -.-!"teriak Bunga. Ara terkejut. "Kami ambil kasusnya, anak direktur^0^!"


__ADS_2