Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Markas!


__ADS_3

23 Februari, 11.00 WIB


Cuaca kali ini untung tidak terlalu terik. Empat anak yang masih bersama-sama itu memilih untuk berjalan kaki menuju tempat di mana perhiasan yang mahal ada. Untunglah mereka ada di kota sehingga toko-toko yang mereka tuju tidak terlalu jauh.


Seperti biasa mereka tak banyak bicara. Mereka lebih memilih untuk berbicara dengan pikiran mereka sendiri. Hingga sebuah suara terdengar dari saku celana Bunga.


Bunga mengambil handphone miliknya. Ternyata ada sebuah pesan! Dari Pak Burhan pula. Tanpa ragu, ia pun langsung membukanya.


*From : Bapake Burhan


Bunga, kasih tau saja daerahnya di mana. Saya akan meminta teman saya untuk memeriksa ke sana. Direktur itu masih bersikeras*.


Bunga menghembuskan nafasnya. Ia baru merasakan bagaimana sulitnya bekerja tanpa perintah. Selama ini ia lupa akan detektif-detektif hebat yang masih amatir. Dia lupa, dia dulu berada di atas.


Bunga lalu mengetikkan daerah yang diberitahukan wanita dari toko kosmetik itu. Setelahnya, ia kembali fokus pada jalan.


Sebuah toko yang cukup luas, di bangun dari kayu-kayu yang bersinar nampak berdiri di hadapan mereka. Walaupun terlihat sederhana, akan tetapi menyimpan begitu banyak barang berharga.


Toko ini merupakan toko perhiasan tertua di kota. Pemiliknya sudah sangat profesional. Tak sedikit yang mempercayai toko itu sebagai salah satu tempat dilakukannya transaksi.


"Cukup besar. Tapi untunglah sepi -.-,"ujar Dimas. Ketiga temannya mengangguk.


"Ayo -.-,"lanjut Dimas. Ia pun mulai menyentuh pegangan pintu dan menariknya, membuat dia bisa terlindung dari panasnya sinar matahari.


Tumben sekali tempat ini sepi. Selain itu, pegawai juga hanya ada satu orang. Hal itu sungguh janggal. Tidak seperti biasanya.


Seorang pria yang terlihat berumur menampakkan senyumannya yang tulus. Ia pun menyapa Dimas dan ketiga orang yang berada di belakangnya.


"Selamat datang, ada yang mau dibeli? Silahkan dipilih dulu ^-^,"ujarnya dengan sangat ramah.


Pria itu, pria tua itu sudah dikenal banyak orang. Matanya hebat. Ia sangat mudah dalam membedakan emas, perak, dan sebagainya. Banyak cabang toko emasnya yang laku. Walaupun begitu, dia tidak ada sombong-sombongnya dan masih berperilaku sopan.


Ini bukanlah waktunya terharu. Dimas lalu menutup mulutnya dan berdeham. Ia memang paling berwibawa dari pada tiga temannya. Hal itu membuat Dimas harus menjadi jubir setiap kali mencari info. Kalau Bunga, bisa repot nanti.


"Tumben sekali, mengapa tokonya sepi ^-^?"tanya Dimas. Ia membuat prolog.


"Iya. Soalnya hari ini kami tutup lebih awal ^-^,"balas pria itu. Dimas pun mengangguk faham.


"Pak, mohon maaf, kami dari detektif tanpa perintah ingin menanyakan beberapa hal pada bapak. Apa bapak ada waktu ^.^?"tanya Dimas. Ia pun menampilkan senyuman bisnis, sama seperti wanita tadi.


Pria itu kembali tersenyum.


"Silahkan, saya punya banyak waktu luang ^-^,"balas pria itu. Ia membukakan pintu yang menuju ke bagian belakang meja berisi perhiasan mahal itu.


Dimas membalikkan wajahnya. Ia menatap Bunga, Hari, dan Hira sambil mengangkat jempol. Dan ketiga temannya ikut balas mengangkat jempol.


Sepatu mereka kini mulai menginjak lantai yang bercorak beda. Ternyata, bagian belakang dari meja-meja itu sungguh mewah dan bersih. Tak heran jika pegawai di sini merasa nyaman bekerja.


Seorang wanita yang merupakan pegawai lalu merapikan lima kursi. Ia tersenyum manis, kemudian kembali meninggalkan mereka, menyambut seorang pengunjung yang tiba-tiba datang.


Pemilik toko langsung mempersilahkan keempat detektif itu untuk duduk. Ia pun mengikuti mereka untuk menempatkan dirinya dalam kursi yang nyaman.


"Langsung saja, sebelumnya saya Dimas, ini Bunga, dan anak kembar itu Hari dan Hira. Kami detektif yang bekerja di luar perintah. Kami mendapatkan sebuah kasus yang berhubungan dengan perhiasan. Maka dari itu kami memerlukan info dari bapak -.-,"


Pria itu tersenyum.


"Saya Dias. Saya turut sedih karena Dimas dan Bunga dikeluarkan -.-," balas Pak Dias. Sepertinya berita itu memang sudah tersebar luas. "Jadi, apa yang bisa saya bantu ^.^?"tanya pria itu.


Bunga, Hari, dan Hira membiarkan Dimas yang beraksi kali ini. Mereka takut salah bicara dan malah membuat keadaan jadi canggung.


"Begini, pak. Kami dengar-dengar ada cincin berlian yang unik. Dalam berlian itu nampak gambar headset. Kira-kira seperti ini. Apa bapak tahu mengenai hal ini -.-?"


Dimas lalu memperlihatkan layar handphonenya. Di sana nampak sebuah sketsa cincin berlian yang sama seperti apa yang dideskripsikan Dimas.


Pria itu menatap layar hp Dimas dengan menyipitkan matanya.


"Oh, iya. Saya sempat lihat pelanggan saya pakai cincin ini ^.^,"

__ADS_1


Dimas sempat membalikkan kepalanya untuk sekadar melihat teman-temannya bersyukur.


"Lalu, bisakah bapak memberitahu kami siapa saja orangnya -.-?"


"Sebenernya banyak. Tapi hanya ada tiga orang yang saya ingat. Nona Biya, Nyonya Okta, dan Nona Mesi. Mereka orang yang kaya jadi seringlah saya lihat mereka belanja ^-^,"


Dimas menganggukkan kepalanya. Ia nampak memahami sesuatu.


"Apakah kami boleh mendapatkan alamat lengkap mereka? Atau nomer telepon mungkin-.-?"


"Tentu saja. Apapun demi kesejahteraan kita semua ^-^." Pemilik toko lalu beranjak dari tempat duduknya.


Pak Dias sempat memanggil pegawainya. Sambil mengambil pulpen, Pak Dias menerima sebuah buku dari pegawainya. Ia lalu mencatat beberapa kalimat di sana. Setelah dirasa lengkap dan selesai, beliau mencabut kertas yang berisi coretan itu, dan kembali duduk di kursinya yang sempat kosong.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun, hanya diiringi dengan senyuman, Pak Dias langsung memberikan kertas yang ia genggam pada tangan Dimas. Dengan senang hati Dimas pun mengambil kertas itu. Ia mencium tangan Pak Dias sebagai ucapan terimakasih.


"Terimakasih banyak, pak ^-^,"ujar mereka bersamaan.


Rumah Nona Biya, Jl. SukaA, 11.16 WIB.


Enam belas menit yang cukup melelahkan. Memang benar, rumah Nona Biya ini adalah yang paling dekat dengan toko. Namun , perjalanan dekat itu membutuhkan banyak tenaga ternyata. Di sepanjang jalan, trotoar banyak yang rusak. Tak sedikit air menggenang di sana dan membuat keempat anak itu kesulitan berjalan.


Akan tetapi, rasa lelah itu seketika menjadi hilang ketika mereka melihat rumah Nona Biya yang sangat menakjubkan.


Di balik pagar carang yang bersih itu nampak air mancur. Rumah yang putih bersih juga ikut menghiasi. Beberapa ikan dalam kolam seolah menatap dan berteriak pada keempat detektif itu, "Ayo sini! Kita main".


Tanpa mau berleha di luar gerbang, Hari dan Hira segera menghampiri bel. Mereka menekan bel tak karuan. Betapa bahagianya mereka hingga mata mereka seperti bersinar. Dan selain itu, mereka juga tidak sadar telah membangunkan satpam yang tengah tertidur pulas.


"BERISIK WOY ~O~!"teriak satpam itu.


"VAMPIR ~0~!"teriak anak kembar itu. Mereka meloncat dan langsung memeluk pagar.


Dimas dan Bunga merasa sangat malu. Ingin sekali mereka masuk ke dalam tanah dan menutup wajah mereka dalam-dalam. Mengapa mereka malu? Karena kelakuan anak kembar ini sungguh di luar dugaan. Selain sikap mereka yang ricuh tak karuan, mereka juga malah memeluk pagar seperti dua ekor cicak kembar.


"Kalian mau ngapain?! Kalau main jangan di sini! Ini bukan taman bermain ~.~!"ujar satpam yang tak nampak ramah itu.


"Maaf, ya, pak. Anak ini sedang senang. Mohon maaf pak ^.^,"ujar Dimas mewakili anak jahil itu.


"Jagain dong anak-anaknya, pak -.-,"balas satpam itu. "Anak jaman sekarang wajahnya kayak seumuran sama orang tua sendiri. Boros -.-," bisiknya.


Dimas menahan tawanya. Bunga juga. Mereka sedikit bahagia ketika mendengar temannya mendapatkan sedikit cemoohan. Dan anak kembar itu, mereka hanya bisa mendengus.


"Makanya, jangan suka kayak anak kecil : P,"ujar Bunga.


"Bukan kita yang kayak anak kecil, tapi si bapak yang galak-_-." bela Hari. Seperti biasa, Hira hanya mengangguk setuju.


Dimas lalu menggelengkan kepalanya.


Setelah meredakan anak kembar yang tengah naik pitam itu, Dimas kembali beraksi. Ya, dalam wawancara Dimas lebih bisa diandalkan dibandingkan Bunga. Dia mudah mengontrol emosi jika narasumber terlihat berbohong atau berbelit-belit, dari pada Bunga. Bukannya berkata jujur, narasumber malah gemetar dan gugup jika Bunga yang bertanya.


Dimas pun menyerahkan si kembar pada Bunga. Dengan senang hati, Bunga menerima perintah dan langsung menunjukkan wajah garangnya. Dimas kembali tersenyum. Ia pun langsung mendekati satpam itu.


"Maaf, pak. Saya Dimas, teman mereka dari detektif yang bekerja tanpa perintah. Kami di sini mau bertemu dengan Nona Biya untuk menanyakan beberapa hal mengenai kasus yang bersangkutan dengannya. Boleh kami masuk ^.^?"ujar Dimas ramah.


Karena ucapan Dimas cukup mempan untuk membuat satpam itu merasa dihargai, ia segera menyambut Dimas. Bahkan, wajah galaknya ketika menghadapi Hari dan Hira langsung berubah drastis.


"Iyah, silahkan. Mohon maaf, saya kira kalian orang tuanya. Selain itu, saya turut bersedih karena Nak Dimas dikeluarkan perusahaan. Mereka memang butuhnya uang aja. Semangat ya, nak ^-^,"balas satpam itu. Dimas kembali merasa terharu.


Setelah mendapatkan ijin pak satpam, mereka bertiga mengikuti langkah Dimas masuk ke dalam rumah besar itu.


Di sepanjang jalan menuju pintu, mereka tak henti-hentinya merasa kagum. Rumah ini lebih mirip dijadikan taman kota dari pada tempat tinggal.


Seorang wanita tengah duduk di kursi sambil menggenggam handphone. Ia nampak modis dan cantil. Di jari manisnya nampak sebuah cincin. Ya, cincin mahal dari DJ.


Satpam itu sempat memanggil Nona Biya. Setelah memperkenalkan keempat detektif, ia lalu kembali berjaga di depan gerbang.


"Silahkan duduk ^-^,"ujar Nona Biya. Sungguh suatu kehormatan bisa duduk di kursi taman yang sangat nyaman ini.

__ADS_1


"Ada apa^-^?"


"Kami ingin meminta informasi dari Nona. Bisa ^.^?"


Nona Biya mengangguk.


"Apa saja demi detektif favoritku ^-^,"balasnya. Dimas lalu tersenyum.


"Ini perihal cincin yang kau gunakan. Dimana Nona mendapatkannya -.-?"


"Aku dapat ini dari jual beli perhiasan di internet. Aku sempat simpan link-nya tapi entah kenapa tiba-tiba hilang. Memangnya kenapa ^-^?"


"Cincin ini memiliki tanda dari pencuri yang kita incar. Kalau boleh tahu, apa ketika membelinya Nona bertatapan langsung -.-?"


Nona Biya mengangguk.


"Iya, hanya saja aku tidak langsung ke tokonya. Aku hanya ketemuan di Restaurant Suka A. Lagi pula aku beli ini karena lihat temen-temenku beli ^-^,"


Keempat detektif itu langsung melek. Mereka seolah mendapatkan cahaya dari tangan Nona Biya.


"Kalau boleh tahu, siapa teman-teman Nona -.-?"


"Oh, mereka Okta sama Mesi. Kalau Okta sebenernya udah agak tua tapi tetap aja teman aku ^-^,"


"Bisa kami bicara dengan mereka -.-?"


Nyonya Okta*.*


-.- : Halo, selamat siang. Ini dengan saya Dimas dari detektif yang bekerja tanpa perintah. Apa benar ini dengan Nyonya Okta?


*.* : Ye, gue kira Biya. Kenapa emangnya?


-.- : Kami ingin bertanya mengenai cincin berlian yang anda dan Nona Biya gunakan. Dari mana anda mendapatkannya?


*.* : Kenapa lo tanya-tanya?


-.- : Mohon maaf tapi hal itu karena ada kasus yang berhubungan dengan cincin anda. Jika mungkin anda menyembunyikan sesuatu maka kami tak ragu akan menegakkan hukum.


*.* : Oke, gue kasih tahu. Gua dapet ini dari internet. Link-nya dah gak ada, ilang. Gue belinya udah lama sekitar satu atau dua bulan.


-.- : Apa anda melakukan transaksi secara langsung?


*.* : Bukan. COD sih, di deket Cafe KucinB. Mereka gak bolehin gue masuk langsung ke tokonya.


-.- : Jika begitu, kami sangat berterimakasih. Informasinya sangat membantu kami.


Bunga pun langsung mencatat semua hal yang dianggap penting. Dimas mematikan telepon, menyerahkannya pada Nona Biya, dan memintanya untuk menghubungi Nona Mesi.


Nona Mesi UwU


UwU : Paan, Bi?


-.- : Mohon maaf, ini dengan saya Dimas dari detektif yang bekerja tanpa perintah. Kami tengah mengatasi kasus yang berhubungan dengan cincin yang anda dan Nona Biya gunakan. Boleh kami bertanya?


UwU : OK,gak apa-apa. Gue lagi sans juga.


-.- : Terimakasih kalau begitu. Saya ingin menanyakan satu pertanyaan yang mengandung semua hal mengenai cincin itu. Saya minta anda menjelaskannya dengan detail. Bagaimana anda bisa punya benda itu?


UwU : Oh, cincin headset? Waktu itu ada link jual beli perhiasan. Gue buka dan ada berlian unik. Gue pesen, COD di RM HajiC, dapet deh. Asalnya gue mau ke tokonya cuman merekanya pingin COD di RM.


-.- : Sepertinya semua yang saya butuhkan sudah dijawab. Terimakasih banyak, Nona Mesi.


***


Rumah nyaman itu telah lama mereka tinggalkan. Kali ini, mereka tengah berada ruang tamu di rumah Dimas.


Sebuah peta dengan penuh bulatan nampak mengejutkan ketiga detektif itu. Mereka saling memandang dan terkejut.

__ADS_1


Hay, semua! Untuk pembaca setiaku mohon maaf aku udah lama gak update hiks. Ada kendala dari kesehatan aku. Aku lagi kurang sehat. Semoga kedepannya aku bisa punya banyak waktu luang dan ngetik banyak eps. Makasih.. Share ceritaku yaaa


__ADS_2