Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Hasil dari Aksi Heroik


__ADS_3

Dimas membuka matanya. Di atas tangannya terbaring Bunga yang masih tak sadarkan diri. Kepala Dimas sakit, sangat sakit. Badannya seperti tengah dipukuli oleh massa. Pandangan matanya masih belum jelas, pikirannya kabur. Dan kakinya, mati rasa. Seperti ada bagian yang patah atau sebagainya. Lututnya sangat sakit jika digerakkan. Benar, dengkulnya sedikit bergeser ternyata.


Beberapa menit kemudian Dimas sadar total. Ia baru menyadari kalau Bunga yang ada di pangkuannya saat ini tengah terluka.


Dimas nampak menepuk-nepuk wajah Bunga yang kotor dengan tanah. Bibirnya pucat, luka di mana-mana. Matanya tertutup dan sulit untuk membangunkannya.


Sudah hampir satu jam Dimas melakukan hal itu namun tak ada respon. Detak jantung Bunga tak begitu jelas terasa. Ujung jarinya dingin. Badannya sudah sangat lemas. Hal itu wajar untuk orang yang baru saja terbentur kepalanya karena terlempar ribuan meter.


Dimas berhenti menggerakkan tubuh Bunga. Ia menatap Bunga. Wajah seorang pemberani, yang tak ingin melihat keluarganya pergi, kini terbaring lemah di hadapan Dimas. Di atas tangan lembut Dimas.


Terlihat tetesan air mata melintasi pipi Dimas. Ia menundukkan kepalanya tepat di samping Bunga. Ia sesekali berteriak, melepas amarah.


"AKU PAYAH!!! AKU PAYAH >0


Sebelum Bunga terlempar.


Bunga mendorong Dimas untuk masuk ke dalam kepala kereta sebelum kereta menabrak kerikil. Bunga memberikan senyuman terindahnya saat itu, sebagai ucapan selamat tinggal. Ketika kereta menabrak kerikil, ia terpental. Kesadarannya sudah hilang karena beberapa kerikil nampak mengenai kepalanya.


Ketika Bunga hampir saja terpental karena tak sadarkan diri, Dimas langsung bergerak cepat. Ia melompat dari dalam kereta agar dirinya bisa mengambil Bunga. Dan HAP! Tubuh Bunga ada dalam pelukan Dimas saat itu. Sesaat Dimas menatap ke arah Bunga, melihat wajah manis yang penuh luka, lalu menenggelamkan wajahnya di bahu Bunga.


Beberapa kilometer lagi mereka baru akan mendarat. Dimas sudah bersiap-siap. Ia menekuk tubuh Bunga, menyembunyikan kepala, leher, dan tulang punggungnya di balik tubuhnya. Setelah memastikan Bunga aman, Dimas lalu menutup matanya. Ia memeluk Bunga erat-erat. Kemudian, DAG! Tubuhnya mendarat terlebih dahulu. Punggungnya yang sudah dipersiapkan menjadi sasaran pasir kering itu.


Mereka berguling-guling di atas pasir. Rambut Dimas sudah penuh dengan pasir. Ia belum berani menelentangkan tubuhnya karena ia tahu tubuh mereka masih akan berputar beberapa meter lagi. Posisi roll adalah yang paling tepat dilakukan. Dimas mempertahankan posisinya agar Bunga tidak terluka banyak.


Barulah ketika mereka hendak berhenti, Dimas membuka tangan kanannya. Ia memegang sebuah batu lalu menancapkan batu itu pada pasir. Mereka berhenti, dengan sedikit seretan. Keduanya penuh dengan luka dan pasir. Bunga memang sudah tidak sadarkan diri. Namun ternyata Dimas mengikuti apa yang terjadi pada Bunga.


Setelah hampir lima belas menit berlalu semenjak Dimas menangis.


Dimas mengadukan keningnya dengan kening Bunga. Ia nampak menutup mata dan mulutnya rapat-rapat untuk menahan rasa sakit di hatinya. Tangan kirinya yang menahan kepala Bunga masih setia di sana. Tangan kanannya langsung menyergap pipi Bunga yang nampaknya terluka cukup parah.


Dimas berkali-kali membisikkan nama Bunga. Namun sepertinya, Bunga tak bisa mendengarkan panggilan Dimas. Keadaannya makin memburuk. Hal itu dapat Dimas ketahui ketika ia menggenggam pergelangan tangan Bunga. Di sana tak ada lagi detakan, tak ada lagi tangan yang lembut dan hangat, tak ada lagi harapan.


Dimas semakin banyak mengeluarkan air matanya. Ia memang alay tapi ini adalah air mata yang benar dihasilkan dari rasa sakit hati. Pita suaranya bergetar, menghasilkan teriakan yang sangat kencang.


Apa yang harus Dimas lakukan? Tidak ada. Kakinya tak mampu menopang tubuhnya. Teriakannya akan percuma karena tak ada orang di sana. Mereka mendarat di dekat rel yang sudah jarang digunakan. Apalagi sekarang sudah hampir maghrib, di mana orang-orang jarang yang keluar.


Bagaimana nasib mereka?

__ADS_1


Langit mendung ini, mengapa datang mengiringi? Mereka belum bisa mati. Walaupun suara guntur datang dan kembali, tak ada yang tak pasti. Dimas melepaskan tangan kiri. Ia membuka mantelnya, mulai melindungi. Bunga sekarang tengah diselimuti, mencoba untuk bertahan berdiri bersama ibu pertiwi. (Mencoba puitis :v)


18.00 WIB, Statsiun Kereta Api Halloween.


"Gak bisa! Gue harus cari mereka! Bunga ada di sana, sama Dimas! Terserah kalau lo semua gak mau bantu, tapi gue gak bakal tinggal diam ~0~!"teriak Jutong lalu berlari melewati garis kuning.


"Tunggu, Jutong~o~!"teriak Pak Burhan. Ia terlihat mengantongi beberapa barang yang mungkin diperlukan."Saya ikut~.~,"ujarnya lalu mendapat anggukan kepala dari Jutong.


18.15 WIB, Kepala Kereta.


Jutong nampak mengusap kaca kereta yang tertutupi oleh tetesan air hujan. Ia lalu menghampiri tumpukan kerikil itu. Ia mengangguk. Ia berjalan menjauh, setelah itu berbalik untuk melihat posisi kereta. Ia menganggukkan kepalanya dan menghampiri Pak Burhan yang masih terdiam, berteduh di dalam kereta.


"Perkiraanku, kalau kecepatan mereka hampir 90 bahkan 100 km/jam, dan bertubrukan dengan kerikil-kerikil ini dengan serempak, mereka pasti terpental sekitar satu atau kurang dari dua kilometer. Baru perkiraan. Dan aku perkirakan mereka akan terpental ke arah sana~o~!"teriak Jutong sambil menunjuk ke arah rel mati itu berada. Ya, ia wajib berteriak karena derasnya hujan membuat suaranya tak terdengar.


"Kalau begitu, ayo kita ke sana, nak~o~!"ujar Pak Burhan. Jutong pun mengangguk.


"Tunggu~o~!"ujarnya.


Ia lalu memasuki kereta. Di sana ia berjongkok di tempat kendali kereta. Ia mengambil sesuatu dan memperlihatkannya pada Pak Burhan.


"Kita baca surat aneh itu nanti~o~!"ujar Pak Burhan. Jutong kembali mengangguk dan mereka pun pergi ke arah sebuah mobil polisi. Mereka memasukinya, Pak Burhan lalu menyerahkan kunci dan mobil melesat menembus malam.


"Aku gak bakal biarin kamu kehujanan♡_♡!"bisik Jutong di dalam hati.


18.18 WIB, di Tengah Pasir.


Dimas masih kuat menahan mantelnya yang berat karena basah. Ia harus melindungi Bunga yang kini keadannya lebih parah darinya. Ia sempat mengambil senter dari mantelnya sehingga ia tidak usah ketakutan akan kegelapan. Handphone? Tak usah ditanya. Mereka sudah menjadi beberapa bagian. Baterainya saja sudah hilang.


Dimas yang pucat, menatap Bunga. Bunga memang cantik dan kuat. Dia adalah seorang detektif perempuan termuda, mengalahkan detektif sebelumnya yaitu Jutong dan Ara. Dia hebat. Itulah mengapa Dimas sangat mencintainya. Ditambah mereka memang pernah satu SMP sebelumnya.


Sudah lama mereka bertahan. Tangan Bunga semakin dingin saja. Dimas hanya bisa tersenyum, menutupi kepedihan di hatinya. Ia sudah berpikir positif tentang ajal mereka. Apalagi, Bunga sepertinya sudah sangat kritis saat ini. Ia tidak tahu apakah detak jantung Bunga masih ada atau tidak.


Beberapa kali Dimas membuka mantelnya untuk menukar karbondioksida dengan oksigen segar yang ada di luar. Namun, kali ini ia sulit melakukan hal itu. Ia semakin lemah. Selain ia hanya makan bakso saja, ia juga sangat kedinginan. Pikirannya sudah acak-acakan.


Dimas hanya bisa membayangkan hal yang ingin ia capai sebelum meninggal. Mendapatkan persetujuan untuk berpacaran dari Jutong. Setelah itu dia dan Bunga akan menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Karena Bunga mulai mencintainya, mereka pun menikah. Dua anak, kembar, adalah harapannya. Setelah itu, mereka akan bertamasya dengan mobil yang Dimas miliki. Mobil yang menderu-deru diiringi suara sirene. Tunggu sirene?


Dimas mulai tersadar. Suara itu bukan dari bayangannya. Ia bisa membedakan mana yang khayalan dan mana yang bukan. Ia lalu membuka mantelnya. Di sana nampak dua buah cahaya menerpa wajah Dimas, menyilaukan matanya. Ia sadar, itu adalah pertolongan. Tak peduli mereka orang baik atau orang jahat, yang terpenting adalah Bunga harus mendapatkan sedikit saja kehangatan.

__ADS_1


Dimas mengangkat tubuhnya. Ia meletakkan kepala Bunga dengan sangat hati-hati sebelum ia memberikan isyarat pada mobil itu. Ketika Dimas mengangkat tubuhnya, terasa sedikit ngilu di bagian lututnya. Namun ia tak perduli, ia tetap berusaha agar semakin terlihat oleh mobil itu. Senter yang ia pegang digerakkan ke kanan dan ke kiri.


Dari balik kemudinya, Jutong nampak melihat sinar yang cukup terang. Di sanalah Dimas dan Bunga berada! Tanpa ragu, Jutong langsung menancapkan kakinya di gas mobil sehingga mereka melaju dengan begitu kencang.


Sebuah mobil berhenti tepat di samping Bunga. Dimas menghembuskan nafas lega. Akhirnya ada orang yang membantu mereka.


Seseorang keluar dari mobil, mulai menghampiri Dimas dan Bunga yang terlihat lemah. Wajah mereka tertutupi oleh gelapnya malam. Dimas tidak dapat mengenali orang itu. Yang bisa Dimas lihat hanya pakaian mereka yang aneh. Menggunakan celana selutut, baju berkilap, dan tunggu, apakah itu headset?


Tiba-tiba tiga orang lainnya muncul dari dalam mobil. Mereka langsung menarik lengan Dimas dan menggusur Bunga. Bukan, mereka memang bukan org baik. Lihat saja perlakuan mereka pada Bunga. Entah apa maksud mereka yang pasti Dimas sudah faham satu hal, mereka komplotan DJ.


Energi Dimas serasa bangkit kembali. Ia lalu memberontak. Pikirannya mengenai, "siapa saja yang penting Bunga bisa mendapatkan kehangatan" langsung hilang. Ia meronta-ronta, berusaha untuk tidak merasakan sakit di lututnya.


CIIAATTT!!!


Ia tendang pria dengan kacamata hitam itu hingga ia kehilangan fokus. Ia langsung mengambil Bunga dari tangan pria yang satunya, mengambil senter dan mantelnya lalu berusaha kabur.


Bunga yang kini berada di punggung Dimas hanya bisa diam karena kondisinya yang semakin lama semakin memburuk. Ditambah hujan yang membasahinya membuat Bunga semakin kedinginan. Dimas tak perduli akan kondisinya. Ia lalu berlari walau salah satu kakinya harus pincang.


Komplotan DJ itu memang mencari Bunga. Mereka lalu mengejar Dimas walaupun mereka harus basah kuyup. Sesuatu yang berat dilemparkan pada kaki Dimas. BRAAKKK!!!! Tubuh Dimas dan Bunga terjatuh. Dimas langsung menyiapkan tangannya untuk kepala Bunga. Mereka kembali ke tanah.


Komplotan DJ itu langsung bergerak. Namun tiba-tiba, suara sirene yang tadi, menjadi semakin mendekat. Suara itu cukup untuk membuat orang-orang itu kabur. Dan lagi-lagi, mereka tidak mengeluarkan suara mereka.


Mobil itu berhenti di depan Dimas. Jutong dan Pak Burhan keluar dari sana. Mereka tidak menanyakan keadaan Dimas dan Bunga karena pastilah mereka sedang tidak baik-baik saja.


Pak Burhan langsung memangku Bunga yang, ah, sudah seperti orang tak bernyawa. Jutong, tidak seperti biasanya, langsung membantu Dimas untuk bangun. Mereka berdua dinaikkan ke jok belakang. Beberapa pasir mulai hilang ketika hujan berhasil mengguyur mereka.


Dimas duduk dengan kedinginan. Bunga lalu disandarkan di bahu Dimas. Pak Burhan mengambil beberapa helai kain dari bagasi dan memberikannya pada Dimas. Tanpa perlu komando, Dimas menyelimuti Bunga dengan kain itu. Karena baju Bunga tidak terkena air hujan, hanya mantelnya saja, Dimas jadi tidak sulit untuk menghangatkannya. Ia melepas mantel Bunga dengan hati-hati lalu menutupi tubuh Bunga dengan kain.


Setelah memastikan semua aman, mereka lalu menutup pintu. Suara sirene sebagai tanda, kembali di nyalakan. Semua kaca ditutup rapat karena mobil langsung melaju dengan cepat.


Dimas yang masih membenahi dirinya terlihat tak berekspresi. Tak ada yang berani mengeluarkan satu kata pun saat itu. Mereka hanya berbicara pada pikiran mereka masing-masing.


Dimas membungkus dirinya dengan kain-kain itu. Itu sebenarnya bukan kain tipis biasa. Kain itu adalah calon handuk. Maka tak heran jika Dimas yang awalnya menggigil langsung bernafas lancar.


Ia melihat ke arah Bunga. Wajahnya masih pucat. Detak jantungnya belum terasa. Tangannya masih dingin. Dimas memejamkan matanya.


Jangan dulu pergi, aku masih belum bisa miliki kamu. Bisik Dimas.

__ADS_1


Dan setelah itu semua pandangan Dimas menjadi gelap.


__ADS_2