Detektif Ngegas

Detektif Ngegas
Zombie itu nyata?


__ADS_3

Dimas menenangkan siswi yang tadi tengah berlari. Ia lalu menahannya dan melihat nama di seragamnya. Priska, itu yang ia lihat.


"Priska, nama kamu Priska -.-?"ujar Dimas mencoba mengambil perhatian siswi itu yang masih terlihat tegang.


Priska mengangguk. Nafasnya masih sulit untuk diatur.


"Oke Priska, aku Dimas, fokus padaku0.0,"ujar Dimas memperkenalkan dirinya agar Priska lebih fokus padanya. "Tarik nafas perlahan, buang dengan tenang lalu ceritakan apa yang terjadi 0-0."


Priska melakukan apa yang disuruh Dimas. Beberapa murid yang penasaran mulai diamankan oleh Bunga dan Rifki yang faham dengan tindakan Dimas. Mereka berdua harus fokus untuk bisa mendapatkan informasi lengkap. Itu juga untuk memudahkan Bunga dalam memecahkan kasus.


"Tadi, aku sedang membersihkan koridor, suruhan ketua kelas. Ketika aku menyapu di depan gudang hantu, aku mendengar sesuatu yang jatuh. Aku awalnya hendak pergi, tapi ada suara yang membuatku semakin penasaran. Aku mengintip dari jendela dan melihat seorang siswa tengah tertimbun oleh kardus kosong. Aku hendak masuk dan menolongnya, tapi tiba-tiba dia bergerak. Ia zombie. Ia bangun dengan tatapan mata sayu, leher yang berdarah-darah, celana sobek di bagian lutut, dan.. dan..o~o"


"Dan apa0o0?"


"Dan...x~x"


"JAWABO!!"teriak Bunga dari belakang mereka. Hal itu cukup membuat rasa gugup Priska tersentak.


"Dan dia makan gagak hidup>o


Semua murid yang ada di sana terpaku. Mereka tidak bergerak sedikit pun. Teriakan Priska cukup membuat mereka terkejut. Pernyataan yang sangat mengerikan. Semua membayangkan sosok yang menyeramkan itu.


Tidak ada yang berani melapor, ataupun kabur. Mereka semakin menempelkan punggung ke teman di belakangnya. Sedikit demi sedikit kaki mereka melangkah, mendekati mading yang ada di ujung koridor itu. Satu-satunya hal yang membuat mereka menyudutkan diri ke mading adalah, kedatangan zombie menjijikan itu.


Selena semakin erat memegang kaca pembesarnya. Ia terlihat sangat ketakutan mengingat posisinya yang berada paling depan bersama Bunga dan Rifki. Ia terlihat paling tegang di antara yang lain. Dan yang mengejutkan, Selena langsung mengambil hp-nya.


Selena berusaha menelpon seorang guru, namun handphonenya sulit dikendalikan. Ia terus menekan layar hp. Karena tangannya gemetar, ia sulit menekan tombol telepon. Dan tiba-tiba wajahnya terlihat pucat ketika seekor burung gagak yang penuh darah dilempar ke hp-nya.


Zombie itu sudah ada di hadapan mereka. Dia terlihat mengerikan, apalagi dengan darah gagak yang menetes ke lantai. Mereka kira dia hanya membawa satu gagak, yang baru saja dilemparkan ke hp Selena. Tapi ternyata, masih ada dua gagak hidup lainnya yang dipegang di tangan kiri.


Dimas segera menarik tangan Priska perlahan, memasukkannya pada barisan. Sulit jika mereka berlari saat ini karena siswa yang lain sudah masuk ke kelas mereka dan menguncinya ketika zombie itu melewati koridor. Setelah memastikan Priska masuk kumpulan, dengan secepat kilat Dimas berdiri di hadapan Bunga. Dia menghalangkan tangannya pada tubuh Bunga. Dimas melindungi Bunga.


Bunga terkejut. Namun, bukan saatnya untuk marah sekarang.


Selena yang sejak tadi diam, hampir berteriak. Gagak hidup itu masih menggeliat tepat di hadapannya, di samping handphone-nya yang tergeletak. Ia menutup mulutnya kuat-kuat. Air mata mulai mengalir.


"Jangan ada yang membuat pergerakan besar atau kalian akan jadi titik fokusnya q_q,"ujar Dimas.


Namum terlambat.


Selena tiba-tiba berteriak dan berlari keluar dari kumpulan. Ia berlari sambil berteriak.


"SELENA APA-APAAN KAU O?!"teriak Bunga. Ia berusaha menghentikan Selena namun Dimas segera menggenggamnya erat.


Zombie itu langsung melirik Selena. Ia berlari mengejar Selena.


BUAKKK!!!!


Tiba-tiba saja zombie itu berhenti. Dia terjatuh, melepaskan gagak-gagaknya, dan bangun dengan terhuyung-huyung. Semua langsung memandangan Bunga yang masih terengah-engah, mengumpulkan tenaganya yang terkuras karena harus melempar sepatunya tadi. Beberapa murid langsung bertepuk tangan, lupa kalau zombie itu masih sanggup hidup.


"Apa-apaan kamu ini Bella0?"ujar Rifki dan Dimas bersamaan.

__ADS_1


"Apaan sih lo ngikutin orang lain aja//_- ?"ujar Dimas. Rifki pun membalasnya dengan dengusan nafas.


"Berantem terosss~O~!"teriak Bunga dengan kakinya yang tidak disepatu.


"Euu, Bel פ×,"ujar salah satu teman yang berada tepat di belakangnya.


"Apaan, sih, ah ~o~?!"balas Bunga.


Teman Bunga itu mengangkat telunjuknya. Dengan mata yang mendelik, Bunga memutar badannya dengan malas. Ya, amarahnya masih tersimpan.


Zombie itu, ada tepat di hadapan Bunga saat ini. 0~0


Bunga membuka matanya lebar-lebar. Jantungnya sempat terkejut sehingga nafasnya tersengal. Namun hanya beberapa saat. Wajah yang penuh bagian busuk, darah menempel di sana, serta mata sayu membuat Bunga sulit menggerakkan tubuhnya. Makhluk apa ini?


"BUNGA >c


DAAAASSHHHH!!!!!^O^


Dimas meloncat dengan tinggi. Kakinya berhasil menjatuhkan zombie itu dengan satu gerakan. Bunga terkejut. Ia lalu memandang Dimas yang masih terengah-engah. Dan tanpa harus menunggu lama, Dimas langsung berhadapan dengan Bunga. Ia menatap Bunga dari atas sampai.


"Kamu gak apa-apa, Bel >~"ujar Dimas nampak khawatir. Bunga hanya memandang zombie itu, yang masih belum mau mati.


Zombie itu kembali bangkit. Dia tidak berteriak atau pun mengaum, namun sudah nampak mengerikan. Zombie itu berusaha mengangkat tubuhnya. Berbeda dengan sebelumnya, zombie itu langsung mengangkat tangannya. Ia siap menerkam.


Dimas memeluk Bunga, melindunginya dari zombie itu. SREET!! Bahu Dimas menjadi korban. Beberapa orang menutup mulut mereka, terkejut. Bunga hanya bisa menatap Dimas dengan khawatir. Dimas membalasnya dengan senyuman.


Ketika zombie itu hendak mencabik Dimas untuk yang kedua kalinya, Bunga segera bertindak. Giginya bergesekan. Mungkin sifat mudah marahnya kembali hadir.


"Ahh, repotin aja. Baru hari pertama ujian iniiiii, ahhh. Dasar orang gabut ~¤~!!!"teriak Bunga pada zombie itu. Ia lalu mencengkeram rahang zombie itu. Ia lalu tersenyum sinis.


Zombie itu ditimpuk oleh tas Bunga. Ia lalu mengambil sebuah botol dari dalam tasnya. Botok berisi susu murni yang selalu Jutong masukkan pada tasnya secara diam-diam. Ia lalu membuka tutupnya, memasukkan air susu murni itu pada mulut zombie, dan pergi menjauh.


Zombie itu terdiam, tidak bergerak. Semua nampak kebingungan. Apa yang terjadi?


"Semua masuk ke kelas kalian, cepat 0o0!"ujar Bunga.


"Tapi, Bel ¤~¤,"


"Turutin aja napa?! Kalau kalian kena nanti repot yang lain, ah! Masuk ke kelas atau aku bangunin tuh zombie 0?"


Karena takut Bunga akan lebih marah, semua murid langsung kembali ke kelas mereka, dipandu oleh Rifki.


Beberapa guru dan satpam sekolah baru saja datang setelah zombie itu berhasil di taklukan. Mereka terkejut setelah melihat zombie itu tergeletak.


"Bella, Dimas>~


"Panggil kepolisian, semoga Pak Burhan dan kawan-kawan dapat menyelesaikan ini dengan cepat ¤~¤."


Dimas dan Bunga berpandangan.


"Pak, kami permisi sebentar,"

__ADS_1


***


"Aduh lama bener -_-."ujar Dimas.


Bisa ditebak kini mereka tengah mengganti kostum. Dimas dan Bunga yang memang belum diketahui identitas aslinya sebagai detektif, harus kerepotan setiap kali kasus tiba-tiba datang seperti ini. Tak masalah bagi Dimas, karena dengan mengganti gaya rambut saja dia sudah sulit dikenali. Namun Bunga, selain mengganti bajunya, ia juga harus menguraikan rambutnya, dan mengingat sebagian agar agak pendek.


"Udah udah ini. Gak sabaran U~U."balas Bunga. Mereka pun berlari ke tempat kejadian.


Pak Burhan dan kawan-kawan sudah datang sepuluh menit yang lalu. Mereka menyuruh semua murid pulang dan membatalkan pelaksanaan ujian. Zombie gak ada kerjaan. Aku susah-susah ngapalin malah gak jadi. Itulah yang dikatakan Bunga setiap saat.


Garis kuning sudah terpasang di mana-mana. Sekolah sudah hampir kosong dan sepi. Hal itu memudahkan Bunga dan Dimas untuk melaksanakan tugas mereka.


Setelah berbasa-basi dengan kepala sekolah, Dimas dan Bunga langsung mengambil alih kasus walaupun sebelumnya bertengkar dengan Pak Burhan.


"Aku sudah tahu apa yang terjadi o_o,"ujar Bunga. Dimas mengangkat kepalanya. "Awalnya memang aku sangka dia zombie. Tapi setelah melihat tatapan matanya aku tahu dia bukan zombie. Pupil matanya masih bergerak, maksudku membesar atau mengecil. Gerakan lambannya, aku yakin karena pengaruh obat. Aku belum pastik itu obat narkotik atau psikotropik, yang pasti ia mengonsumsinya berlebihan. Dan ada pengaruh di alam bawah sadarnya untuk membalas apa yang menyakitinya. Sehingga aku segera memberinya susu murni untuk menetralkan obat yang masih tersisa di lambung. Yang masih belum aku tahu adalah, bagaimana ini terjadi ~_~."


Dimas termenung. Ia mencerna perkataan Bunga dengan baik. Karena penasaran, ia pun langsung mendekati zombie itu. Dilihatnya baik-baik wajah yang menyedihkan itu.


Tak butuh waktu lebih dari satu menit, Dimas langsung menyadari sesuatu. Dia tersentak, lalu memandang Bunga.


"Minta Micellar water ke Bu Rika. Beliau masih di sini, kano_o?"


"Dim, ini bukan waktunya dandan 9.9."


"Aku minta tolong, sayang. Kamu gak butuh sepuluh langkah buat sampai sana, kan? Dia lagi di liatin kita, kan, honey ^3^?"


Bunga memutar bola matanya. Ia memutar tubuhnya. Dirinya tidak menampakkan senyuman sama sekali pada guru-gurunya. Memang, mereka tidak tahu kalau dibalik mantel itu adalah sosok Bella yang baik dan jujur. Tapi tetap saja, Bunga merasa kurang enak walaupun sifat ngegass-nya harus ia tonjolkan sebagai Detektif Bunga Aditya.


Awalnya Bunga menanyakan siapa guru yang suka bersolek. Bu Rika langsung mengacungkan tangannya. Bunga meminta kapas dengan micellar water untuk menggantinya dengan tanda tangan. Setelah mendapatkan apa yang dipesan Dimas, ia kembali ke tempat zombie itu berada.


"Ini u-u,"ujar Bunga. Ia lalu memberikan kapas dan botol itu pada Dimas. Dimas mengambilnya dengan menggenggam tangan Bunga lebih lama. Dan hal itu dilihat oleh Pak Burhan.


"Fokus, guys 0>0!"teriaknya yang berhasil mengundang tawa Bunga.


Dimas mengambil kapas. Ia lalu menumpahkan air pembersih dari botol ke kapas tersebut. Dengan hati-hati, Dimas mengusapkannya pada wajah zombie. Dan hal mengejutkan terjadi.


"Just, make up ☆0☆???"ujar Bunga. Dimas mengangguk.


"Aku yakin ketika kamu bilang ini bukan zombie. Memang make up yang rapi. Tapi, dia lupa kalau gak semua alat dandan itu anti air. Buktinya pewarna yang buat mukanya kayak bonyok ini, luntur dan kena ke tanganku yang berkeringat^-^."


Bunga memejamkan matanya. Ia menimang-nimang suatu hal.


"Berarti dugaanku benar _-,"ujarnya. Dimas mengangkat sebelah alisnya sebagai isyarat bertanya. "Darah di lehernya itu terlalu kering untuk luka terbuka. Prediksiku, itu adalah darah dari gagak, dan sebagian rekayasa pewarna. Bener-bener mirip luka robek. Dan lagi 0>0...."


"Apa ^o^??"


"Gagak itu lebih mirip sengaja di sayat sayapnya dari pada dimakan. Dan aku yakin, ada suatu barang yang menarik di gudang hantu itu _-."


"Pengalihan titik fokus ^0^??"


Bunga mengangguk. Ada pencuri ternyata.

__ADS_1


__ADS_2