
Rumah Makan Seafoodku, 14.31 WIB.
Kesimpulan.
Semua tersangka sudah berjajar rapi di hadapan kasir. Bunga yang menyuruhnya. Mereka berdiri dengan berbagai macam ekspresi, seolah-olah sedang memesan makanan pada pemilik rumah makan. Ditambah pemilik rumah makan yang sedang berdiri di belakang meja kasir membuat suasana tidak tegang sama sekali.
Pak Burhan dan Dimas berdiri di dekat pintu. Mereka berperan sebagai saksi atas apa yang hendak Bunga putuskan saat ini.
“Aku kayaknya gak bisa nentuin siapa pencurinya sekarang. Jadi, kita main dulu, yuk’_’!”ujar Bunga masih dengan tampang datarnya.
Orang-orang yang berada di dalam rumah makan itu saling berpandangan. Mereka terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Bunga.
“Bunga, serius dulu\=_\=!”bentak Pak Burhan yang mulai kehabisan kesabaran karena tingkah laku Bunga.
“Yee, bapak. Kalau aku gak rileks, gimana aku bisa menyelesaikan kasusnya~0~?”balas Bunga tidak mau kalah.
“Tapi, ini bukan saatnya bermain-main\=_\=!”
“Tapi kalau kita bermain sebentar, kita gak bakal setegang ini~0~!”
“Gak bisa begitu*0*!”
“Bisa~O~!”
“Gak\=O\=!”
Dan sudah dapat ditebak, perdebatan itu terus berlangsung. Mereka terus beradu argumen di depan Dimas dan para tersangka. Bahkan, beberapa polisi yang berjaga di luar pintu pun sesekali melirik ke dalam karena suara Bunga dan Pak Burhan yang melengking.
Keempat tersangka dan Enokuia tidak berani melerai. Selain mereka terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, mereka juga takut untuk menjadi penengah di antara Pak Burhan da Bunga. Pak Burhan adalah seorang polisi yang siap siaga menembakkan pistol kapan pun, walau pun dia tidak akan pernah melakukannya. Dan Bunga, ia adalah seorang remaja pemarah. Siapa yang berani menghentikan mereka coba?
Berbeda dengan mereka, Dimas hanya menampakkan senyuman tipisnya dan menyipitkan matanya. Seharusnya ia tahu, jika ada Pak Burhan dan Bunga dalam satu tempat, pastilah tempat itu terasa panas, seperti baru saja di bom atom. Ia juga seharusnya membawa penutup mata dan telinga untuk melindungi dirinya.
Awalnya Dimas berniat untuk membiarkan Pak Burhan dan Bunga untuk bertengkar hingga akhirnya mereka kelelahan. Akan tetapi, sepertinya itu tidak akan terjadi. Jika dilihat dari lekukan alis Pak Burhan, ia tidak akan menyerah begitu saja. Apalagi Bunga. Urat nadinya terlihat begitu menonjol di leher bersihnya dengan begitu jelas. Dapat dipastikan kalau mereka baru kelelahan dalam satu jam ke depan.
Ketika Pak Burhan dan Bunga masih asyik dengan perdebatan mereka, tiba-tiba seseorang datang membuat fokus mereka buyar. Orang itu mencubit punduk Pak Burhan dan Bunga.
“Aww! Sakit sakit sakit>.<,”keluh Bunga.
“Gak sopan kamu sama orang tua ini! Aduh aduhh! Jakunku bisa-bisa ketarik ke belakang ini>0<.”timpal Pak Burhan.
“Ayo, bertengkar lagi, ayo!-_-”ujar Dimas masih dengan senyuman tipis dan matanya yang disipitkan.
Mereka berdua langsung memohon, meminta ampun agar dilepaskan dari cubitan yang menyakitkan itu. Semua orang yang ada di dalam mengeluarkan tawa kecil mereka. Bahkan, para polisi yang sedang berjaga pun sampai melirik ke dalam rumah makan karena saking kencang jeritan Pak Burhan dan Bunga.
Barulah setelah mereka berjanji untuk tidak bertengkar, Dimas melepaskan cubitannya. Dengan tanpa rasa bersalah, ia mengusap tempat ia mencubit tadi lalu pergi ke tempatnya semula. Pak Burhan mengusap punduknya dengan mengucap istighfar. Sedangkan Bunga mengusap punduknya sambil mencubit punduk Pak Burhan.
“Heh, ini gimana urusannya : (?”ucap Pak Burhan.
Bunga tersenyum kecut.
__ADS_1
“Baik, lupakan kejadian tadi^.^,”ujar Bunga mulai terlihat segar. “Ikuti apa yang saya katakan^_^,”
“Jangan ikuti apa yang saya lakukan
: D,”
“Bukan game itu kali, ah. Nimbrung aja kerjaannya //_-.”
Dimas pun terdiam. Ia kembali menampakkan senyumannya pada Bunga yang terlihat kesal.
“Oke. Jadi, begini permainannya. Kalian semua cium lutut kalian dalam posisi berdiri. Jangan sampai tekuk lutut kalian. Setelah itu fokuskan telinga kalian pada apa pun yang mengeluarkan suara dari depan^_^.”
Semuanya nampak bingung. Namun mau bagaimana lagi? Dari pada mendapatkan amarah dari Bunga, lebih baik mereka bersikap seperti orang idiot. Mereka langsung mengikuti apa yang Bunga katakan. Masih belum ada yang membuat mereka faham akan maksud Bunga. Mereka masih fokus dan fokus untuk mencapai lutut masing-masing. Hingga akhirnya sesuatu terjadi.
Terdengar suara cincin bergemerincing. Yang membuatnya merinding, suara itu berasal dari depan, tempat yang dimaksud Bunga. Semuanya langsung gaduh. Mereka mengangkat tubuh mereka dan mencari asal suara. Beberapa orang langsung berjongkok untuk mencari cincin yang kemungkinan besar jatuh ke lantai.
Pria brewok jongkok. Ia berjalan sambil jongkok. Matanya yang jeli terus memantau seluruh penjuru lantai. Hingga sesuatu yang berbentuk lingkaran menyilaukan matanya. Itu cincin Enokuia! Ia tidak berani mengambilnya karena takut disangka sebagai pencuri. Tiba-tiba sebuah tangan mengambil cincin itu.
Menakutkan! Bulu kuduk pria brewok itu langsung bergidik. Ia terkejut. Karena ketakutan, dia pun berdiri dari posisinya.
Pemilik rumah makan berdiri bersamaan dengan pria brewok itu. Seketika pria brewok itu, siapa pelakunya.
“Pak, pemilik rumah makan! Dia mengambil cincin Enokuia~o~!”teriak pria brewok.
Semua orang terkejut. Mereka langsung memandang pemilik rumah makan yang terlihat santai.
“Maling kok teriak maling-_-?”balas pemilik rumah makan.
Bunga mendekati pria brewok dan pemilik rumah makan. Dengan segera, dia mengubah ekspresinya. Ia berhadapan dengan pria brewok itu. Cucuran keringat terlihat begitu jelas di leher pria brewok. Dan Bunga menampakkan senyuman kecutnya. Ia mengangkat tangannya, mengambil tangan yang berada di samping pria brewok dan mengangkatnya ke atas.
Semuanya terkejut. Enokuia bahkan hendak pingsan karenanya.
“Itu cincinku T0T!”ujar Enokuia. Ia lalu mendekati Bunga yang masih menatap tajam pria brewok itu dan mengambil cincin emas dari tangan pemilik rumah makan yang sedang diangkat oleh Bunga.
“Ternyata pemilik rumah makan yang mencuri, ya 7o7?”ujar wanita dengan baju pink.
Bunga tertawa kecil. Ia lalu menurunkan tangan pemilik rumah makan.
“Aku tidak, bukan aku ~n~.” bela pemilik rumah makan.
“Mengaku saja, pak ; )!”ujar Bunga.
“Sejak awal Dimas melaporkan kasus ini, saya sudah tahu kalau bapaklah yang mencurinya. Ditambah lagi pernyataan dari Enokuia yang mengatakan bahwa cincin emas berisi berlian itu belum diresmikan. Kalau begitu, tidak ada yang tahu kalau cincin emas itu berisi berlian, kecuali suaminya dan pencuri yang sudah menjadikan cincin itu sebagai target.
“Dari keterangan tiga orang tersangka, apalagi wanita itu, mereka tidak menunjukkan ketertarikan akan cincin emas yang terlihat biasa itu. Kenapa? Karena mereka tidak tahu kalau ada berlian di dalamnya. Dan bapak? Bapak sangat ceroboh. Selain melaporkan bahwa Enokuia kehilangan cincin ‘berlian’, bapak juga memakai pakaian yang ketat sehingga cincin yang ada di saku bapak sangat jelas terlihat. Untuk mengambilnya, saya akui sulit. Sehingga hanya permainan tidak jelas itu yang bisa mengungkapkan pelakunya tanpa harus saya beritahu.
“Dan cara mengambilnya? Tentu ketika Enokuia memesan di hadapan bapak dan menyimpan tangannya di atas meja. Bapak memang sudah jeli, bapak tahu kalau Enokuia mudah fokus pada satu titik sehingga membuatnya fokus pada makanan lalu mengambil cincin longgar itu dengan begitu mudah. Bahkan langsung dari jari tangannya. Sudah jelas, Pak Pemilik Rumah Makan ^_^?”
Tiga orang tersangka yang ini bebas dari tuntutan itu menggelengkan kepala mereka. Sedangkan Dimas dan Pak Burhan mengacungkan jempol ke arah Bunga yang menatap tajam pemilik rumah makan. Enokuia yang masih tidak percaya terus mengeluarkan air matanya. Ia langsung memasukkan cincin itu ke dalam tasnya, dan memeluknya erat.
__ADS_1
“Kasus sudah selesai. Aku mau pulang, besok ujian dan aku belum ngapalin bener-bener-_-.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Bunga pun berjalan keluar. Dimas yang membukakan pintu itu untuknya. Sebelum menaiki mobil kantor yang menunggu mereka, Dimas dan Bunga melaporkan hasil kasus mereka pada para polisi yang sedang bertugas. Penyelesainnya? Itu urusan mereka. Yang pasti, Bunga kembali menyelesaikan kasus itu dalam waktu kurang dari dua jam.
Ketika Bunga mulai melangkahkan kakinya, Dimas tiba-tiba menggangdengan tangan Bunga. Bunga pun berbalik dan mendapati ketampanan Dimas yang menatapnya dengan senyuman.
“Kerja bagus, sayang ^v^.”ujar Dimas terlihat menggemaskan bak anggota boyband Korea. Ya, kulitnya memang putih, mulus, dan tampan.
“Sayang? Siapa yang kamu panggil sayang? Dasar artis Korea! Romantisnya mulai keluar -_-.”balas Bunga acuh tak acuh.
Mereka pun melanjutkan langkah mereka. Dan yang mengherankan, Dimas masih menggenggam tangan Bunga.
“Romantis \=.\=?”balas Dimas. Bunga mengangguk dengan manis.
“Romantis? Jangan salah sangka! Aku bukan tipe orang yang romantis. Aku hanyalah orang yang tak suka melihatmu menangis*v*,”
Bunga menatapnya tanpa ekspresi. Ia bertahan dalam keadaan itu hanya dalam beberapa detik saja. Setelahnya, ia kembali fokus pada langkahnya.
“Walau pun gak nyambung, tapi aku tahu apa yang kamu maksud. Ingin merayuku? Membuatku tertarik? Maaf, tapi aku belum sanggup seperti itu. Dengan sosokmu yang terlalu terkenal membuatku berpikir, bisakah aku yang biasa ini berdampingan denganmu yang luar biasa itu¤U¤?”balas Bunga.
Dimas membuka mulutnya. Ia terkejut ketika mendengar balasan Bunga yang seolah-olah menginginkan dirinya menjadi pacar. Ia langsung berbunga-bunga. Bahagia sekali akhirnya Bunga faham akan perasaannya. Ia sangat mengharapkan hal ini. Menjadi pasangan hidup Bunga adalah cita-citanya sejak lama.
“Jadi, intinya kamu mau jadi pacarku*v*?”
“Gak juga, sih. Aku inget kalimat itu waktu baca buku dari Mas Jutong. Lagi pula aku gak maksud balas ucapan kamu, kok : >.”
Dimas pun merasa kesal. Ia terus menerus mengucapkan sumpah serapah dan rayuan kepada Bunga. Akan tetapi Bunga tidak menanggapinya. Ia terus berjalan sampai akhirnya mereka masuk ke dalam mobil hitam itu. Barulah ketika berada di dalam mobil, dia tersenyum kecil. Lalu memandang Dimas yang cemberut di joknya.
***
Sebuah gedung tempat pelaporan kasus-kasus yang terjadi di Indonesia itu tengah berdiri tegap. Melindungi orang-orang yang berada di dalamnya termasuk Bunga.
Sebuah ruang kantor milik Bunga di desain sedemikian rupa agar nyaman dan mirip dengan kamar di rumahnya. Di dalamnya, terlihat Bunga yang sedang mengerjakan soal-soal, ditemani dengan Dimas dan kacamatanya.
“Aahhh! Beres juga +3+.”ujar Bunga. Ia merebahkan dirinya di atas karpet yang tebal dan hangat. “Kamu kok gak ngapalin sih, Dim? Dapet nilai kecil baru tahu -_-!”
Dimas tertawa kecil. Teman satu sekolahnya itu masih terlihat santai walau ujian sudah di depan matanya. Mungkin karena ia masih kelas dua SMA sehingga merasa ‘bodo amat’ akan hidupnya.
“Cie, perhatiannya sama oppa *v*.”balas Dimas. Bunga hanya membalasnya dengan dengusan.
Keheningan tiba-tiba mengisi ruang kantor Bunga. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Dimas sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Bunga sibuk dengan lamunannya. Ia terlihat memikirkan sesuatu. Tentu bukan pelajaran. Sesuatu yang membuatnya berhasil melepas kacamatanya.
“Dim,”ujarnya yang dibalas dehaman dari Dimas. “Aku capek, tahu gak! Aku tuh capek kalau terus-terusan kayak gini, ah! Aku gak suka, gak suka, gak suka! Gak ada yang kenal aku, Bellania Putri Bunga. Yang mereka tahu cuma Bunga anaknya Aditya! Kenapa sih aku harus melaksanakan kasus itu di usiaku yang masih muda, hah! Kadang-kadang aku pengen berenti, ah! Aku capek! Tapi aku butuh duit ~O~!!!”teriak Bunga.
Dimas langsung menutup mulut Bunga yang terbuka lebar itu. Bunga lalu duduk dan meronta-ronta.
“Aku hadir di sini. Siap membantu kamu. Apa pun akan aku kerahkan, akan aku ikhlaskan asalkan kamu bahagia. Aku janji, akan membuat rasa capek kamu hilang. Selamat ujian, sampai ketemu besok di sekolah ^U^!”balas Dimas. Ia kemudian mengacak rambut Bunga yang mendatangkan amarahnya.
Punggung Dimas mulai menjauh ketika pintu itu ditutup. Meninggalkan bekas rindu di hati Bunga.
__ADS_1
“Kenapa tiba-tiba aku pingin cepet-cepet besok, ya -_-?”ujar Bunga. Jantungnya berdegup kencang tanpa ia sadari. “Jangan-jangan…. Jangan-jangan…. Jangan-jangan aku suka…. Gak mungkin. Apa aku suka ujian~0~?”ujarnya.