
vania menunggu di meja makan...
"kenapa aku jadi malu banget gini sih ketemu dia" tukas vania dalam hati, ia benar benar resah, jika harus berhadapan dengan suaminya...
tak berapa lama rey pun tiba di ruang makan bersama evan...
" kakak..." tukas vania kaget sekaligus senang melihat kakaknya datang... ia segera berlari dan memeluk kakaknya itu...
" kangen ya.." tukas evan, vania mengangguk...
"udah... udah... ayo sarapan dulu, lihat suamimu itu... udah kelaparan kayaknya" tukas evan
saat vania ingin mengambilkan makanan untuk evan, evan melarangnya
"dahuluin suami lah" tegur evan
" i...iya..." tukas vania lalu mengambilkan makanan untuk rey dengan gugup, wajahnya memerah ketika ia tak sengaja memandang suaminya yang kala itu juga sedang memandanginya, vania pun semakin salah tingkah, sedang rey sedikit menyunggingkan senyum...
"hemmm... kayaknya udah ada apa apa ni mereka???" tukas evan curiga dalam hati melihat tingkah mereka berdua
dengan suasana entah bagaimana ini mereka akhirnya menikmati makanannya... setelah selesai makan mereka berpindah ke taman samping... disana ada beberapa tempat duduk yang di tengah2nya ada air mancur... tempat tempat duduk itu beratapkan pohon pohon rindang... tempat itu bersih dan rapi karena setiap pagi dan sore para pelayan di haruskan merapikan dan membersihkan tempat itu...
saat mereka menikmati pemandangan itu, vania di bantu pelayan membawa cake yang dibuatnya tadi dan tak lupa teh juga...
" waaah.... red velvet, kesukaan mu kan rey?? " tukas evan, vania gugup mendengar perkataan kakaknya
"hem... tentu... bukankah dia selalu ingat apa yang ku suka" jawab rey membuat pipi vania memerah lagi
" ya... walau dulu kalian selalu bertengkar tiap ketemu..." sindir evan
" aku ke dalam dulu" tukas vania tak mau lagi mendengar pembicaraan itu lebih lama, karena ia tahu pasti hanya akan di goda jika tetap di sana
"mau ke mana?" tanya evan...
"mau ambil handphone di kamar... " vania memberi alasan... lalu segera pergi
setelah vania pergi...
"dia terlihat berbeda, padahal baru beberapa hari..." tukas evan
"hem..." tukas rey sambil meminum teh nya
"sepertinya, kau menjaganya dengan sangat baik..." evan mengomentari
"bukan sepertinya, tapi sudah pasti..." tukas rey
"okey...okey... oh ya, kalian udah ya?" evan yang tak bisa menahan penasarannya
"gak ada pertanyaan lain?" rey faham dengan pertanyaan itu
"ya habis gue liat dari baru datang tadi kalian berdua udah bersikap aneh" tukas evan lalu memakan kuenya...
" kalau pun udah emang kenapa?" tukas rey santai
"ya gak kenapa napa juga... itu udah hak lo, emang sich kemarin gue pernah buat perjanjian sama mama lo... gue yakin lo pasti udah denger tentang perjanjian itu, sebenarnya gue buat itu agar lo gak nikahin vania dulu"
"lo gak setuju...."
"setuju aja sebenarnya, tapi gue maunya vania nyelesaiin sekolahnya dulu... tapi ternyata mama lo seperti yang lo ceritain"
"ya memang gak ada yang bisa menolak keinginannya..."tukas rey
"trus gimana? berarti kalian beneran udah ya??!"
"huh... jomblo kayak lo sebaiknya gak nanya hal kayak gitu, gak baik buat kesehatan hati dan mental lo" tukas rey dengan santai sambil minum teh nya...
__ADS_1
" sialan lo, mentang mentang udah punya gandengan... adek gue tu" tukas evan kesal
"ya adek lo, tapi punya gue..." tukas rey lagi...
"woi...woi... kakak ipar sama adek ipar akur amat..." tukas kenzo yang baru datang dengan leon, tian dan remon...
mereka pun bergabung berbincang bersama, pak ba pun bersama para pelayan menyajikan teh dan kue yang dibuat vania tadi...
" waaahhhh kuenya kayaknya enak banget ni..." tukas leon
"iya, tuan ini buatan nona muda... nona muda sudah menyiapkannya dari pagi tadi" tukas pak ba...
"vania bisa buat kue juga ya?" tukas tian
"klo masakan dia, emang enak banget... tapi gue baru tahu dia juga bisa buat kue..." imbuh tian lagi yang memang sudah sering ke rumah evan, sambil memakan kuenya...
"beruntung banget lo rey, dapet istri seperti vania... udah cantik, pinter dalam banyak hal" tukas kenzo...
"ya, mau gimana? jodoh tu cerminan diri" tukas rey menohok...
"ya...ya..." tukas mereka tak mau berdebat lagi, karena mereka tahu rey ini seperti mamanya... gak bakal ada yang bisa ngalahin perdebatan dengannya...
di tempat lain, vania mendapat telfon dari salsa klo mereka sudah sampai... vania pun menyuruh mereka masuk membawa mobil mereka ke dalam... dan vania menunggu mereka di halaman depan...
"assalamu'alaikum..." tukas salsa dan dinda
"wa'alaikum salam..."
"ni beneran rumah ya???" tanya salsa dan dinda terkagum kagum
"ya iyalah... klo bukan rumah terus apa?"
"kayak resort pribadi aja... gila keren banget, gak memberi kesan super mewah tapi elegan banget.." tukas salsa
"iya , dari mulai masuk gerbang aja udah di suguhi pemandangan keren banget..." dinda menyetujui
rumah mereka dari depan dan belakang
rumah belakang yang di huni para pelayan...
taman samping...
tempat mereka mengadakan barbeqiuan... tak jauh dari rumah belakang
jalan setapak ke kebun bunga
kebun bunga
__ADS_1
"iya...iya... ayo masuk dulu apa langsung ke taman aja?"
"ke taman donk... "
akhirnya mereka berkumpul di taman samping...
"assalamu'alaikum kakak kakak cakep..." salsa memberi salam, dinda dan vania menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu
"wa'alaikum salam" jawab mereka
"cowok cowok cakep klo kumpul gini bikin silau ya..." tukas salsa... membuat mereka tertawa...
"ni anak bisa juga gombalnya" tukas remon...
"kalian ikut kumpul sini..." tukas kenzo mempersilahkan...
mereka pun ikut duduk disana, karena tadi vania ragu jadi ia tak bisa memilih tempat... hanya tersisa tempat duduk di samping rey...
"ayo dek, duduk... ngapain kamu bengong disitu?"tukas evan, rey pun jadi menoleh ke vania
"iii..iya kak..." vania akhirnya pun duduk disamping rey,..
"kalian sudah kelas tiga kan?" tanya tian
"iya, kak..." jawab salsa dan dinda
"udah mulai nyari universitas?"
"belum sich kak, kakak kakak ada rekom gak ni buat kami?"
"memang kalian pingin ngambil jurusan apa ni?"
Disaat yang lain sibuk berbincang, tanpa mengubah posisi maupun ekspresi tangan rey meraih dan menggenggam tangan vania tanpa ada yang mengetahui...
vania terkaget karena tangannya di genggam oleh rey... jantung vania tiba tiba berdetak lebih kencang... wajahnya memerah seketika...
mereka berdua sibuk dengan dunia mereka sendiri, tak mendengar apa yang sedang di obrolkan teman teman mereka...
"van, vania..." panggil salsa...
"ah...i..iya... kenapa?" vania salah tingkah...
"lagi ngelamunin apa sich? di tanya tu sama kak tian dari tadi gak jawab..." tukas salsa
"maaf maaf... aku kedalem bentar ya..." tukas vania yang terlepas dari genggaman rey...
"ha... kamu gak papa kan?"
"gak kok gak papa, cuma tadi ada yang kelupaan, kalian di sini aja dulu... aku cuma bentar kok..." tukas vania
"oh... ya udah..."
vania pun pergi ke dalam rumah, rey tak melepas pandangannya dari vania sampai ia hilang ke dalam...
kenzo tersenyum senyum melihat semua adegan itu, kenzo adalah orang yang paling jeli melihat keadaan...
"kenapa kak senyum senyum ndiri?" tanya dinda...
"orang klo lagi kasmaran tu, dunia serasa milik berdua aja ya ternyata..." tukasnya
"ha... maksudnya?" dinda tak faham
ya hanya teman temannya saja yang faham akan perkataannya itu karena mereka sudah terbiasa berbincang seperti itu untuk mengelabui musuh musuhnya...
"ah... lupain aja, cuma asal ngomong kok..."
__ADS_1
"gak jelas banget sich kak..." tukas salsa
sedang evan, tian, remon dan leon setelah mendengar perkataan kenzo langsung memandang rey... sedang rey sendiri acuh tak acuh dengan tingkah teman teman nya itu...