Dewi Cinta Takut Jatuh Cinta

Dewi Cinta Takut Jatuh Cinta
Seperti mimpi


__ADS_3

flashback off


" begitulah yang sebenarnya sudah terjadi... " tukas mahardika menutup ceritanya... vania dan ibunya berlinangan air mata mendengar bagaimana mereka menyiksa mahardika...


" suamiku... maafkan aku, aku sudah salah menilai mu... aku hanya berfikir buruk saat kau meninggal kan ku... aku tak mau mendengar nasehat papa yang mencoba menjelaskan keadaanmu saat itu... aku terbawa emosi karena melihat berita perginya kamu dengan seorang wanita... " tukas cerita yang masih berlinangan air mata...


" sudahlah... yang sudah berlalu biarlah berlalu... itu bukan salahmu ataupun salahku, itu salah keadaan waktu itu... sekarang yang terpenting keluarga kita telah berkumpul kembali... " tukas mahardika menenangkan istrinya


" bagaimana ayah bisa bertahan di siksa seperti itu? "tanya vania sedih


" itu pasti berkat do'a anak anak ayah... setiap ayah ingin menyerah, ayah selalu mengingat kalian... di setiap ayah tidur ayah selalu bermimpi kalian datang ke ayah, memberi kekuatan pada ayah... " jawabnya dengan tersenyum


"ayah... " tukas vania....


" maaf kalau boleh tahu, sebenarnya bukti seperti apa yang sudah anda dapatkan? " tanya rey


" oh iya... ini... " mahardika menyerahkan barang barang yang selama ini telah ia sembunyikan, rey yang duduk di samping evan segera mengambil barang barang itu...


" pak Ba... tolong ambil laptop ku... " suruh rey


" baik tuan.... " pak bara pun segera mengambilnya...


setelah itu rey mencoba membuka file yang diberikan ayah mertuanya dengan laptop itu...


" apa ini? hah... " rey mendesah lalu diambil alih oleh evan...


" bagaimana ayah bisa mendapatkan ini? " tanya evan terkejut


" seperti itulah kemampuan ayahmu dulu... " tukas mahardika


" pantas saja mereka terus menerus berusaha membuat ayah membuka mulut... mereka tak membiarkan ayah mati tanpa terlebih dahulu menemukan bukti ini... " tukas evan yang masih tak percaya dengan barang bukti yang di dapat oleh ayahnya itu...


"apa saja yang sudah dilakukan ayah sampai bisa mendapatkan bukti bukti ini... " tukas evan dalam hati kagum...


" baiklah... biar kami sekarang yang menerus kan ini... percayalah pada kami.... " tukas evan...


" ya... tentu, ayah percaya padamu... Berhati-hatilah mereka bukan orang sembarangan... "


" ya baik... " tukas evan beranjak pergi di ikuti rey... tapi sebelum rey pergi ia berpamit pada vania


" aku pergi dulu... kamu segera istirahatlah... " tukas rey


" iya kak... kakak juga jaga diri baik baik... "vania khawatir


" ya... tentu... " tukas rey tersenyum... vania segera meraih tangan suaminya dan mencium tangannya...


" aku pergi... assalamu'alaikum... " tukas rey pergi


" wa'alaikumsalam... " tukas vania


lalu menghampiri ayah dan ibunya...

__ADS_1


" ayah senang kamu mendapatkan laki laki yang baik, dan bisa menjagamu dengan baik... " tukas mahardika sambil merangkul istrinya


" iya yah... " tukas vania tersipu


" sudah, sekarang kamu istirahat dulu... kamu baru dari rumah sakit kan... " tukas ibu vania mengantarkan vania ke kamarnya


" sekarang istirahatlah... ibu keluar dulu temani ayahmu... " tukas ferlita sambil mengelus putrinya...


" iya... bu... " tukas vania...


lalu ferlita pun keluar dari kamar vania, untuk menemani suaminya yang berada di bawah sedang bersantai...


" ya Allah Terima kasih... engkau telah mengabulkan do'a hamba mu ini... " tukas vania sambil meneteskan air mata


" apa ini benar benar kenyataan?? atau aku hanya sedang bermimpi??? " tukas vania masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi


" jika ini mimpi bolehkah aku untuk tidak terbangun... " tukasnya lagi...


Disisi lain...


" ada apa??? " tanya remon dan kenzo yang baru datang karena di hubungi evan untuk berkumpul di markas...


" tunggu tian sama leon dulu... " tukas evan...


"okey... " jawab mereka berdua...


lalu mereka berbincang bincang sampai tian dan leon datang, tak lama mereka berbincang leon dan tian pun akhirnya datang...


" gue lagi ada rapat tadi... " tukas tian


" gue masih di kampus lagi sidang... " tukas leon...


" udah... udah... sini... " tukas evan...


lalu evan pun menunjukkan rekaman yang di dapatkannya dari ayahnya.... mereka melihatnya dengan serius sampai selesai


"dapat dari mana nie?? " tanya remon


" ayah gue... " tukas evan


" ayah lo bener bener keren gila parah... gimana bisa dapat bukti kayak gini... " tukas leon


" jadi ini yang ngebuat ayah lo di tangkap dan di siksa parah... " tukas remon, evan mengangguk


" kejahatan mereka terekam di sini, wajah mereka juga sangat jelas... mereka sudah tidak bisa menghindar dari hukum... " tukas tian


" tentu... tapi juga tak mudah menjebloskan mereka hanya dengan menyerahkan ini pada pihak kepolisian... dan gue punya cara lebih pasti... " tukas kenzo


lalu kenzo mengcopy bukti itu... dalam waktu sepuluh menit bukti itu kini telah tersebar di seluruh dunia, setelah menyebarkan itu, bukti itu di kirimkan ke pihak kepolisian...


tapi sepertinya musuh mencoba menghapusnya, tapi kenzo mengekspos bukti itu lagi... dan membuat negara itu gempar kini...

__ADS_1


banyak orang berdemo agar para penjahat itu segera di ringkus, dan akhirnya para penjahat negara itu di tangkap... polisi kini menyelidiki apakah masih banyak para pejabat yang ikut terlibat dalam masalah pembunuhan dan penjualan barang haram itu...


di rumah vania...


" anak muda zaman sekarang cepat sekali bertindak... tapi masalah itu tidak akan berakhir dengan seperti ini... " tukas mahardika melihat berita di tv


" ayah tenang saja, itu hanya umpan untuk penjahat utama... " tukas evan yang baru saja tiba...


" apa maksudmu?? " tukas mahardika


" kami punya cara sendiri untuk menangkap dan menghakimi mereka... " tukas evan


" kami tahu yang tertangkap kini hanya antek antek mereka... " tukas evan lagi


" baiklah... ayah percaya padamu, tapi berhati hatilah, jangan terlalu gegabah membuat keputusan... " tukas mahardika


" tentu... " tukas evan tersenyum


" apa vania masih istirahat?? " tanya evan


" dia sudah bangun, dia sedang menyiapkan makan malam dengan ibumu... " tukas mahardika


" dia pasti tidak mau tidur diam saja..." tukas evan hafal karakter adiknya


" iya, padahal ayah dan ibu mu sudah memintanya untuk istirahat saja... tapi dia bilang dia tidak mau melewatkan sedetikpun bersama kami... " tukas ayahnya sambil menangis


" pasti sangat berat untuk kalian selama ini... " tukas mahardika lagi, evan mendekat pada ayahnya


" kemungkinan ayah masih hidup itulah yang jadi semangat kami... kami sangat bahagia ayah kembali... " tukas evan


" Terima kasih sudah menjaga mereka dan dirimu dengan baik... " tukas mahardika sambil memeluk evan...


setelah cukup lama mereka berpelukan...


" ohya... di mana menantuku yang dingin itu?? " tukas mahardika


" haha... dia memang cukup dingin, hari ini dia tidak bisa pulang... dia yang akan menyelesaikan masalah itu... " tukas evan


" apa tidak akan kenapa napa? " tanya mahardika


" ayah tenang saja, dia ahlinya dalam hal ini... " tukas evan lagi...


" kakak sudah pulang?? " tukas vania sambil melihat ke kanan kiri mencari seseorang


" rey tidak bisa pulang malam ini, ada hal yang perlu di urus... sebagai gantinya malam ini kakak ayah dan ibu akan menemanimu disini... " tukas evan...


" baiklah... ayo kita makan... " ajak vania yang sedikit kecewa karena suaminya tidak bisa pulang tapi ia juga bahagia bisa berkumpul dengan keluarganya seperti ini...


𝖒𝖆𝖆𝖋 π–‰π–Šπ–œπ–Ž π–ˆπ–Žπ–“π–™π–† π–™π–†π–π–šπ–™ π–π–†π–™π–šπ– π–ˆπ–Žπ–“π–™π–† 𝖑𝖆𝖒𝖆 π–™π–Žπ–‰π–†π– π–šπ–•π–‰π–†π–™π–Š, π–˜π–Šπ–™π–Šπ–‘π–†π– π–Žπ–“π–Ž π–Žπ–“π–˜π–žπ–†π–†π–‘π–‘π–†π– 𝖆𝖐𝖆𝖓 π–šπ–•π–‰π–†π–™π–Š π–π–Šπ–’π–‡π–†π–‘π–Ž π–‰π–Šπ–“π–Œπ–†π–“ π–‘π–Šπ–‡π–Žπ– π–—π–šπ–™π–Žπ–“... π•Ώπ–Šπ–—π–Žπ–’π–† π–π–†π–˜π–Žπ– π–˜π–šπ–‰π–†π– π–’π–†π–š π–’π–Šπ–’π–‡π–†π–ˆπ–† π–“π–”π–›π–Šπ–‘ π–•π–Šπ–—π–™π–†π–’π–† π–˜π–†π–žπ–† π–Žπ–“π–Ž... πŸ’•πŸ’•πŸ’•


π–π–†π–“π–Œπ–†π–“ π–‘π–šπ–•π–† π–Žπ–π–šπ–™π–Ž π–™π–Šπ–—π–šπ–˜ π–π–Šπ–‘π–†π–“π–π–šπ–™π–†π–“π–“π–žπ–† πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2