Dewi Cinta Takut Jatuh Cinta

Dewi Cinta Takut Jatuh Cinta
Melepas Sahabat


__ADS_3

Setelah beberapa hari kemudian, Vania dan Salsa pun mengantarkan Dinda ke Bandara.


"Din, Kamu hati hati ya di sana. Jangan kolot lagi, biar dapat temen. " Tukas Salsa.


"Lagi nangis ni, Sa. Tega banget masih ngatain. " tukas Dinda dengan Masih memeluk Vania dan Salsa.


"Kami pasti kangen banget sama Kamu, jangan lupa kasih kabar ya. " tukas Vania.


"Aku juga pasti bakal kangen banget sama kalian, kalian juga jangan lupa kasih kabar. " tukas Dinda.


"Udah udah, nanti bisa di tinggal tu sama pesawatnya. " tukas Bunda dari Dinda dengan tersenyum.


"Iya... " jawab mereka bersama.


"Kami berangkat dulu ya... " pamit Bunda Dinda.


" Iya Tante, Tante sama Dinda hati hati di jalan ya... "tukas Salsa dan Vania bersamaan.


Setelah melepas kepergian Sahabat terbaik mereka untuk meraih cita citanya, mereka berdua berhenti di sebuah cafe yang tak jauh dari Bandara itu.


" Kamu jadi kapan berangkat? " tanya Salsa lalu meminum minumannya yang sudah si pesannya.


" InsyaAllah dua hari lagi kalau gak ada kendala. " jawab Vania.


"Kamu sendiri gimana? Tante bener bener sulit di bujuk ya?! " tanya Vania balik.


"Udah dapet izin kok... " tukas Salsa dengan lesu.


"Udah dapet izin kok malah sedih gitu? " tanya Vania ingin tahu kenapa Sahabatnya itu malah kelihatan lesu.


"Aku gak sedih sih, cuma agak kecewa aja. Kenapa sih Mama masih selalu nganggep Aku kayak anak kecil terus. " tukas Salsa


" Maksud Kamu gimana? " tanya Vania lagi.


" Aku udah boleh kuliah di sana, tapi Mama harus ikut. " tukas Salsa sambil menjatuhkan kepalanya ke meja dengan frustasi.


"Itukan karena Tante sayang banget sama Kamu. " tukas Vania.


"Sayang sih sayang tapi gak belenggu anaknya kayak gini dong, gimana Aku mau berkembang. " tukas Salsa.


"Kamu itu, Kamu tahu kan Negara yang Kamu pilih untuk mencapai cita cita Kamu itu di Negara kita cukup di kenal dengan anak anak mudanya yang bebas. Menurutku sangat wajar bagi Mama kamu berlaku seperti itu, itu adalah wujud perlindungan seorang ibu pada putri satu satunya. " tukas Vania menasehati.


"Iya sih Van, Kamu bener. " tukas Salsa.


"Kamu juga harus bersyukur dan ingat gak semua anak bisa merasakan di sayang oleh mamanya sendiri dengan kasih sayang yang begitu besar. " tukas Vania lagi.


"Iya sayangku... Hah... Bakalan kangen deh, kamu nasehatin gini... " tukas Salsa melihat Vania dengan tersenyum.


"Ya udah, mau kemana lagi ni kita? " tanya Salsa.

__ADS_1


"Maaf ya, kayaknya aku udah harus pulang deh. " tukas Vania melihat jam di pergelangan tangannya.


" Hah... Gini nih, kalau keluar sama istri orang. " tukas Salsa sambil pura pura kesal.


"Iiiiih... Mulai deh. " tukas Vania.


"Haaaaahaaaaahaaaa..... " mereka pun tertawa bersama sebentar lalu tiba tiba berubah sendu.


"Kayaknya ini terakhir kali ya, sebelum kita bertemu lagi saat nanti kita sudah berubah. " tukas Salsa.


"Jangan di dramatis kan dong, Aku minta maaf gak bisa antar Kamu berangkat nanti. " tukas Vania.


"Iya, sama aku juga. " tukas Salsa.


Lalu mereka diam sejenak di tempat mereka, tanpa saling memandang dan hanyut dalam pikiran masing masing.


Tak lama kemudian mereka saling memeluk dan mengeluarkan air mata masing masing, setelah itu mereka pun benar benar berpisah.


Berpisah bukan karena tak akan bertemu lagi, tapi berpisah karena harus mencapai apa yang mereka masing masing inginkan.


Vania pun segera kembali ke kediamannya, di sana terlihat mobil suaminya sudah terparkir rapi.


" Apa Kak Rey sudah kembali? " tanya Vania pada penjaga yang mengikutinya. (Sebelumnya Rey memang pergi keluar kota selama beberapa hari setelah acara perpisahan Vania di sekolahnya kemarin lusa).


"Iya nona, sepertinya Tuan Muda memang sudah kembali. " tukasnya.


"Tuan muda menunggu Anda di ruang baca Nona. " tukas Pak Ba pada Vania setelah Vania datang dan seperti mencari seseorang.


"Iya, Terima kasih Pak Ba. " tukas Vania lalu segera pergi ke ruang baca yang terletak di samping kamar utama mereka.


"Assalamu'alaikum, Kak Rey. " sapa Vania saat masuk ruang kerja melihat suaminya itu sedang membaca sebuah buku.


" Wa'alaikumsalam... Kemari lah, " tukas Rey menepuk tempat duduk di sebelahnya, Vania pun menurut dan segera duduk di sebelah suaminya itu.


Saat Vania duduk di sebelahnya, Rey pun segera memeluknya erat.


"Kak... " respon Vania kaget saat Rey tiba tiba memeluknya.


"Hah... Aku benar benar merindukanmu beberapa hari ini." tukas Rey tak ingin melepaskan pelukannya.


"A... Aku juga... " tukas Vania dengan malu. Rey tersenyum senang mendengar penuturan Istrinya itu.


"Apa masalah kantor sudah selesai? " tanya Vania.


"Mungkin memang belum sepenuhnya, tapi sudah lumayan terkendali. " tukas Rey.


"Alhamdulillah kalau begitu... " tukas Vania senang mendengar penuturan Rey.


"Oh ya, karena dua hari lagi Aku berangkat. Ayah sama ibu mau Aku tinggal bersama mereka. " tukas Vania.

__ADS_1


"Tapi Aku tak bisa ikut bersamamu untuk tinggal di sana, karena masih ada beberapa pekerjaan." tukas Rey membuat Vania sedikit kecewa.


"Jadi?? " tanya Vania memastikan.


" Iya, Kamu boleh tinggal di sana untuk sementara sebelum berangkat. Biar nanti Pak Ba yang urus semuanya. " tukas Rey.


"Kak Rey mau pergi lagi? " tanya Vania.


"Ya, Aku harus pergi dengan Ken dan Leon. " tukas Rey.


"Kakak pasti lelah banget ya?! " tukas Vania.


"Ya tadinya memang cukup lelah tapi setelah lihat Kamu semua lelah ku sudah hilang begitu saja. " tukas Rey.


"Apa ini sebuah gombalan? " tanya Vania.


"Hahaha... Kamu ini... " tukas Rey gemas lalu mencium pipi Vania.


"Tapi nanti Kakak akan anterin aku berangkat kan? " tanya Vania.


"Ya tentu saja, Aku akan temani Kamu beberapa hari di sana. " tukas Rey membuat Vania lega dan senang.


"Kenapa? Kepingin banget ya deket deket terus? " goda Rey.


"Udah ah, ayo ke bawah. " ajak Vania yang sudah benar benar tak kuat di goda oleh Rey lagi.


"Jangan dulu, Aku kan baru melihatmu. " tukas Rey tak rela melepas Vania.


"Gak boleh gitu, Kak Rey kan harus makan. Pak Ba udah bilang tadi kalau Kakak belum makan. " tukas Vania.


" Aku bisa kenyang dengan memelukmu saja. " tukas Rey.


"Udah gak ada alasan lagi, ayo makan dulu. " pinta Vania.


"Kalau Aku mau makan, Aku akan dapat apa? " tanya Rey dengan serius.


" Kayak anak kecil ah Kak. Baiklah... Baiklah... hemmm... Aku akan kabulin satu permintaan Kakak deh" tukas Vania.


"Baiklah... " tukas Rey senang.


Lalu Rey pun segera makan setelah Vania mengambilkan makanan untuknya.


Setelah selesai makan...


Rey mengajak Vania untuk solat jamaah di kamar, selesainya solat...


"Kamu janji mau kabulin permintaanku kan? " tanya Rey.


"Ba... baiklah apa itu? " tanya Vania gugup karena Rey mendekat kan wajahnya padanya.

__ADS_1


__ADS_2