
pelayan itu berjalan ke sana kemari mencari jalan keluar yang aman dari para penjaga... setelah berhasil menemukan jalan keluar yang bisa di lalui untuk kabur ia pun segera pergi ke kamarnya...
Di kamar ia merenungkan diri, sebenarnya otak dan hatinya tidak sinkron... akal sehatnya menyuruhnya untuk tetap diam dan mematuhi semua perintah tuan mudanya... tetapi hatinya menyuruhnya membantu nona muda yang sedang di sekap oleh tuan mudanya itu karena ia tahu semua ini salah dan bisa menjadi penyesalan tuan mudanya nantinya...
tetapi setelah agak lama berfikir akhirnya ia dengan sangat yakin memutuskan akan tetap membantu nona muda itu untuk kabur dari tempat ini walaupun resiko yang akan ia tanggung cukup berat bahkan mungkin nyawanya lah yang akan jadi taruhannya, tapi ia yakin tak akan menyesalinya...
setelah beberapa saat, ia di panggil untuk membantu vania bersiap karena penghulunya akan segera tiba... ia pun dengan segera masuk ke kamar dimana vania di sekap tadi dan memberi tahu kan bahwa penghulu akan segera tiba dan ia sudah mendapat jalan untuk bisa kabur dari tempat ini...
dengan segera vania dan pelayan itu pergi ke arah yang aman dari para penjaga yang sudah di amatinya tadi, vania percaya jika pelayan itu benar benar membantu nya karena sangat terlihat jelas ketulusan nya...
Di sisi lain...
rey mencengkeram erat kemudi nya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi... ia melajukan nya ke arah yang di tujukan oleh alat yang sudah di hubungkan dengan kalung yang di pakai oleh vania, alat itu selain mampu mengetahui dimana keberadaan vania selama vania memakainya juga mampu untuk mendengarkan percakapan yang terjadi di sana...
rey semakin cepat melajukan mobilnya ketika mendengar suara seperti pukulan dan terdengar juga rintihan yang tertahan... rey terlihat berkali kali lipat lebih menakutkan karena kemarahannya...
di sisi lain...
vania dan pelayan itu mengendap-endap keluar dari villa yang dijaga cukup ketat itu... mereka cukup lancar keluar dari villa itu walaupun penjagaan nya cukup ketat karena memang sebelumnya pelayan itu sudah lebih dulu mencari tahu jalan mana saja yang cukup aman...
akan tetapi saat mereka sudah sampai halaman belakang, mereka tertangkap dan di seret ke ruang tengah di dalam villa...
radit marah besar karena vania mencoba untuk kabur dan yang membantunya adalah orang yang sangat ia percayai...
"berani sekali kalian... " tugas radit marah
"tak ku sangka bibi yang ku percayai selama ini telah berani menusukku dari belakang... " tugas radit memarahi pelayan itu
"maaf tuan... saya cuma tidak mau tuan melakukan sebuah kesalahan besar yang akan membuat tuan nanti menyesal" tukas pelayan itu membela diri
"apa??? kesalahan??? hahaha" radit tertawa cukup mengerikan...
"berani sekali kau bilang ini sebuah kesalahan... sepertinya ini karena kau yang terlalu ku manjakan... " tukas radit sambil mencengkram erat rahang pelayan itu dan melemparnya dengan sangat kuat membuat tubuh pelayan tua itu terhempas agak jauh...
"aaaa... jangan.... " teriak vania melihat itu saat ia akan berlari ke arah pelayan itu, ia lebih dulu di tahan oleh tangan kuat radit...
__ADS_1
" kau tahu, kau sudah membuat kesalahan yang sangat besar... " tukas radit, terlihat vania terisak karena melihat pelayan tua itu merintih menahan sakit...
" pukuli dia... " perintah radit ke anak buahnya untuk memukuli pelayan tua itu
" jangan kumohon... jangan... jangan berbuat seperti ini... " vania menjerit sambil menangis
" hahaha... sudahlah, jangan kau pikirkan dia" tukas radit menarik paksa vania kearah sofa yang sudah di duduki oleh seorang penghulu...
penghulu itu bergidik melihat kejadian itu, seorang wanita tua yang dipukuli dan gadis muda yang menangis dan meronta ronta di paksa untuk menikah...
" mimpi apa aku semalam harus menikahkan mempelai dengan kejadian yang seperti ini... " tukas penghulu itu miris dalam hati...
saat radit duduk di depan penghulu itu, penghulu itu mengatakan sesuatu...
" tuan sepertinya saya tidak bisa menikahkan anda... " tukas penghulu itu sedikit takut
" kenapa??? "tanya radit marah
" i... ini sepertinya me... melanggar hukum... " tukas penghulu itu...
"aku tak perduli mau melanggar hukum, atau apapun itu... cepat kau lakukan saja tugasmu, atau kau ingin juga merasakan hal yang sama dengan yang kau lihat itu" bentak radit sambil menunjuk pelayan tua yang pingsan bersimbah darah karena di pukuli
"cepat... " bentak radit lagi
"ba... baik... baik... " tukas penghulu itu lalu membuka tas dan mempersiapkan dokumen pernikahannya...
"tuan di mana saksinya? " tanya penghulu itu
"Hai kau... kemari" menunjuk kedua anak buahnya untuk menjadi saksi
vania sendiri masih menangis karena melihat pelayan tua yang menyelamat kan nya harus mengalami hal seperti itu...
"kak... rey... kak rey... kak rey tolong..." panggil vania terus menerus sambil menangis
dengan marah radit menyentak kan tangannya hingga membuat vania terjatuh...
__ADS_1
"berani sekali kau menyebut nama laki laki lain di depanku... " bentak radit marah besar sambil menampar vania dengan sangat keras yang membuat bibirnya keluar darah kembali dan kini lebih buruk karena mendengar vania meneriakkan nama laki laki lain di dekatnya...
"bruaaaakkkk.... " suara pintu hancur...
dan semua pun menoleh ke arah pintu... terlihat seorang pria dengan aura yang sangat menakutkan berdiri di sana...
para anak buah dari ayah radit semua mundur perlahan... mereka mengenali aura menakutkan itu, itu adalah aura dari seorang mavia misterius yang di kenal sangat kejam di dunia mavia... tak ada yang berani mencari masalah dengan orang itu...
"kak rey... " ucap vania melihat yang datang adalah suaminya...
"rey??? jadi dia yang berani merebut mu dariku!!! " tukas radit
"kenapa kalian mundur? cepat serang orang itu... dia hanya sendiri kenapa kalian takut" suruh radit
"jangan... " pekik vania yang lemas tak bisa berdiri
yang berani maju menyerang hanya anak buah dari radit sendiri yang berjumlah sekitar 30 an orang sedang anak buah dari ayahnya sudah pergi entah kemana...
anak buah radit yang menyerang rey tak ada yang mampu memukul rey bahkan menyentuhnya saja tak bisa, satu kali hempasan tangan, pukulan ataupun tendangan sudah membuat mereka terkapar tak sadarkan diri...
yang melihat itu pun bergidik ngeri... rey berjalan maju mendekati vania... dan dihadang oleh radit, walau sebenar nya tubuhnya dipaksa nya untuk menghadang karena egonya... saat di dekat rey tubuhnya dengan sendirinya menggigil merasakan aura kuat yang begitu menakutkan...
rey yang melihat istrinya cukup mengenaskan ia tak mampu menahan amarahnya lagi, ia pun menarik kerah baju radit dan meninju wajahnya berulang kali sampai terlihat wajahnya berlumuran darah... radit meronta mencoba melepaskan diri tapi ia kalah kuat di banding dengan rey...
vania yang melihat suaminya membabi buta menghajar radit, ia pun memaksakan dirinya untuk bergerak ke arah suaminya , begitu pun pelayan tua yang kini sudah sadarkan diri...
"tuan... saya mohon... ampuni tuan muda saya... " pinta pelayan tua itu sambil memelas
"kak... tolong sudah... jang... an diteruskan... " pinta vania yang sudah sampai mendekat ke suaminya, ia pun memegang kaki suaminya... yang akhirnya membuat rey sadar dan melempar tubuh radit yang sudah pingsan menjauh...
"tuan... muda" teriak pelayan wanita itu sambil menghampiri tubuh tuannya yang tergeletak tak jauh darinya...
rey tak berkata apa apa, ia langsung membopong tubuh vania dan menciuminya tak sadar ia mengeluarkan air matanya, yang akhirnya di hapus oleh istrinya itu..
"aku tidak apa apa... " hanya itu yang ter ucap dari bibir mungil vania yang kini terlihat terluka, ia tahu suaminya sangat mengkhawatirkan nya... rey tersenyum mendengarnya dan ia pun memeluknya erat dan membawanya pergi dari tempat itu...
__ADS_1
sebelum pergi, ia menyuruh penghulu yang tengah terduduk lemas melihat semua adegan ini untuk menelfon ambulan...
setelah itu rey pun membawa vania pergi ke rumah sakit yang terletak di tengah kota...