Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Tak Akan Menceraikan Sampai Kapan Pun


__ADS_3

Suara menggelegar terdengar begitu mengejutkan tubuh Hawa kala bersamaan dengan sebuah foto yang Pram lempar di atas meja kerjanya. Matanya begitu menatap nyalang pada wanita yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tangganya. Hawa membelalakkan matanya melihat bagaimana Pram sangat murka kali ini. Satu tegukan kasar salivah Hawa lakukan demi mengumpulkan kata yang harus siap ia ucapkan dengan baik saat ini.


"Em...Pram apa ini?" gugup Hawa menedekati meja dan melihat beberapa lembar yang tercecer di atas meja itu.


Seketika bibirnya terbuka lebar dan di detik berikutnya Hawa segera menenangkan diri. Matanya menatap sang adik lalu mengatakan, "Pram, itu mengapa ada wajahku di sana? Lalu apa hubungannya dengan Bulan? Ada apa ini, Pram?" tanya Hawa berakting sangat mantap.


Tak tahu saja jika ia telah menampilkan kebodohan sesungguhnya pada sang adik. Pram mencebikkan bibir mendengar ucapan sang kaka.


"Cih...akting yang sangat buruk. Aku tahu jika kau baru saja membuat Bulan dan anaknya menderita. Aku peringatkan untuk pertama dan terakhir kalinya. Jangan pernah mendekati atau mengganggu Bulan lagi. Aku tidak akan mentoleransi hal itu jika kau masih melakukan." tutur Pram menekankan setiap kata serta mata yang menatap penuh amarah.


Hawa menggelengkan kepalanya pelan. "Pram, ini pasti fitnah. Bulan pasti mengatakan yang tidak-tidak padamu, kan? Pram wanita itu berusaha mengadu domba kita. Bisa-bisanya kau percaya dengan wanita yang sudah menyakiti kamu. Sadarlah Pram aku dan kamu adik kakak. Kita tidak boleh bertengkar seperti ini. Selama ini aku selalu diam melihat kau di sakiti Bulan. Sampai saat ini pun aku masih diam..."


Plak!!


Hawa tak mampu lagi melanjutkan ucapannya kala tamparan keras mendarat di wajahnya saat itu. Matanya memerah menahan sakit bahkan pipinya terasa begitu kebas saat ini.


"Berhenti memfitnah orang. Sekali pun kau kakak ku aku tidak akan perduli jika kau telah melakukan kesalahan, Kak. Aku peringatkan padamu, meski aku telah berpisah dengan Bulan secara tempat tinggal. Tapi aku tidak akan menceraikannya sampai kapan pun. Karena aku masih sangat mencintainya. Dan anak itu akan aku lakukan tes DNA suatu saat nanti. Jadi berhenti mengusik kehidupan Bulan!"


Makin terkejut saja wajah Hawa mendengar setiap ucapan sang adik yang tak pernah ia duga. Hingga tanpa mengatakan apa pun lagi Hawa sudah berlalu keluar. Tatapan matanya menatap kesal pada banyak orang yang berdiri di area depan ruangan itu. Tentu Hawa tahu jika mereka baru saja menguping kejadian di ruangan yang tak sengaja tak tertutup rapat pintunya.


"Sialan siapa yang sudah mengadukan ini pada, Pram? Aku akan benar-benar memberinya hukuman tanpa ampun." geram Hawa melajukan mobil dengan sangat kencang.


Beberapa kali wanita itu tampak mengusap pipinya yang masih terasa panas.


Sementara di ruangan kini Pram tampak menatap lembaran foto yang baru saja ia dapatkan dari orang suruhannya. Diam-diam Pram tengah meminta orangnya untuk mencari keberadaan sang istri sejak kemarin. Dan hari ini mereka menemukan wajah yang mereka yakini adalah istri sang tuan. Dan mereka pun memberikan laporan terakhir pada Pram tanpa bisa melakukan pertolongan.

__ADS_1


Sebab Pram telah memberikan peringatan jangan pernah menampakkan diri mereka di depan sang istri. Dan beruntung pergerakan banyak pelanggan membuat mereka tak susah payah untuk menolong Bulan tadi pagi.


Hingga Hawa mengemudikan mobil dalamĀ  perjalanan yang memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit itu telah sampai di kediaman megah sang oma. Matanya seketika menjatuhkan air mata di sana.


"Hawa dari mana kamu?" pertanyaan Usi di abaikan oleh Hawa kala itu.


Ia lebih memilih untuk melewati sang ibu dan meneruskan langkah menuju kamar sang oma. Usi tampak menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang anak yang begitu tak sopan padanya. Dalam hati yang terdalam ia benar-benar sedih bagaimana bisa Hawa satu-satunya anaknya perempuan justru begitu asing rasanya.


"Omanya terlalu memanjakan sampai membuat anakku sendiri tak menghormati aku sebagai ibunya." gumam Usi memilih masuk ke dalam kamar.


Tok tok tok


Tiga kali suara ketukan pintu di kamar utama rumah megah itu membuat sepasang suami istri yang tengah duduk di balkon kamar menoleh ke arah pintu.


"Siapa yah, Pi?" tanya wanita tua itu.


"Hawa? Ada apa?" tanya sang oma yang bernama Wulan menatap kaget sang cucu.


"Opa, Hawa mau bicara dengan Oma dulu yah?" tuturnya menatap sang Opa yang hanya mengedikkan bahu.


Akhirnya dua wanita itu menuju kasur yang berjarak lumayah cukup untuk bicara privasi dari arah balkon.


Hawa seketika mengadukan semuanya pada sang oma. Tentu dengan isakan tangis yang ia keluarkan agar mendapatkan dukungan lebih dari sang oma.


Merasa kesal mendengar sang cucu bertengkar, Oma Wulan menggeram kesal. "Berani-beraninya Pram melakukan itu padamu? Dan apa katanya tidak akan menceraikan Bulan? Tidak. Ini tidak benar, sampai kapan pun mereka tidak akan boleh bersatu lagi."

__ADS_1


Senyuman licik Hawa perlihatkan di wajahnya kala mendengar ucapan sang oma yang memuaskan baginya.


"Sudah kamu ke kamar istirahat, Sayang. Oma akan perintahkan orang untuk menjalankan semuanya. Kamu tidak perlu lagi campur tangan. Oma yakin Pram tidak akan membiarkan wanita itu di luar sana begitu saja tanpa pengawasannya. Pasti Pram meminta seseorang untuk memata-matai Bulan. Oma harus melakukan sesuatu secepatnya." Hawa pun menurut. Ia memilih keluar kamar sang oma dan tersenyum puas.


Rasa sakit di pipinya dan malu hari ini di perusahaan tak mengapa baginya. Yang terpenting ucapan sang oma sudah cukup untuk membalas semuanya.


***


Sementara di ruangan rawat salah satu rumah sakit tampak Bu Rini begitu bahagia mendengar ucapan sang dokter barusan sebelum keluar jika esok sang anak sudah bisa pulang ke rumah.


"Mba Lesti istirahat yang banyak dan makan yang banyak. Besok kan sudah mau pulang." ujar Bulan tersenyum menatap wajah sang teman yang ia rasa seperti keluarga.


Lesi adalah anak Bu Rini yang beberapa hari ini di rawat di rumah sakit. "Iya aku akan makan kok. Tapi nanti sebentar lagi." jawab Lesti.


"Kata Bulan benar, Nak. Kamu harus makan. Lihat ini sudah jam berapa? makanan yang ibu bawa sudah dingin loh." tutur Bu Rini perhatian.


Ketiga wanita itu saling menatap dengan tatapan yang tak terbaca. Bahkan beberapa detik ruangan mendadak hening. Dan terbuyarkan oleh suara ketukan di pintu ruangan itu.


Tok tok tok


Semua mata memandang serentak ke arah pintu ruangan itu. Tak lama kemudian muncullah sosok pria berwajah manis yang tersenyum dan menganggukan kepalanya samar.


"Assalamualaikum..." sapanya sembari berjalan mendekat.


Di sana wajah Lesti tersenyum lebar melihat seorang pria yang datang padanya dengan tangan yang membasa satu kotak makanan. Namun, Bulan yang tak sengaja mendapat tatapan dari pria itu segera menundukkan kepalanya tak nyaman.

__ADS_1


"Kak Fahmi kenapa? Kenal sama Mba Bulan?" tanya Lesti segera tanpa berniat memendam rasa penasarannya saat melihat mata sang kekasih menatap tak beralih pada wanita cantik yang menunduk di kursi ruangan itu.


__ADS_2