
Seminggu berlalu dengan sangat cepat. Tak terasa hari-hari berat Bulan lalui bersama sang calon bayi yang masih di dalam perutnya. Sungguh ia begitu bersyukur selama masa kehamilan seakan anaknya mengerti akan kondisi. Sehingga sama sekali tak membuat sang ibu kesulitan.
“Sayang, kita periksa ke dokter yah? Kamu sehat terus sampai ketemu Bunda yah?” Bulan tersenyum mengelus perutnya.
Bukan di rumah sakit, ia kali ini justru memilih dokter yang membuka klinik di luar rumah sakit. Menyadari jika tak memiliki uang yang cukup banyak, tentu membuat Bulan harus memikirkan segalanya ke depan.
“Nyonya Bulan Ambarwati.” Panggilan terdengar memenuhi indera pendengaran Bulan kala itu. Ia pun menoleh menatap suster yang memanggil namanya sesuai dengan nomor pendaftaran.
Ia melangkah masuk bersama suster dan mulai duduk di hadapan dokter.
“Ibu Bulan, datang sendiri?” Pertanyaan dokter pertama kali membuat Bulan mengangguk canggung. Namun, ia harus mulai terbiasa dengan hal ini. Sebab saat persalinan nanti keberadaan sang suami pasti akan di pertanyakan lagi oleh dokter.
“Iya, Dokter.” jawab Bulan seadanya.
“Baiklah, kita periksa sekarang yah, Ibu?”
__ADS_1
Menjalani pemeriksaan di usia jalan dua bulan dan semuanya berjalan baik. Bulan senang mendengar ucapan sang dokter yang mengatakan semuanya baik-baik saja. Hanya ia sepertinya harus banyak mengkonsumsi vitamin alami seperti buah dan sayuran.
Tidak banyak yang harus ia bayarkan. Hanya dua ratus lima puluh ribu, Bulan sudah bisa memeriksakan sang anak. Namun, bukan dengan uangnya. Melainkan dengan kartu milik sang suami.
“Mas, aku pakai kartu ini lagi. Aku anggap kamu tetap menafkahi aku dan anak kita. Aku masih belum bisa menerima perpisahan ini, Mas. Jujur aku kecewa sama kamu.” Bulan meneteskan air mata saat berada di depan meja kasir.
Saat menyadari keadaan yang tidak tepat, ia pun segera mengusap air matanya. Hingga akhirnya Bulan pulang ke rumah Bu Rini.
Sesuai perintah sang dokter, wanita hamil itu singgah di pasar untuk membeli beberapa buah dan sayur. Bukan untuknya saja, melainkan untuk orang di rumah juga.
***
“Hawa!” Teriak Usi mencari sang anak.
Sebab mulai pagi gadis usia matang itu tak juga menampakkan wajah bahkan saat di meja makan pagi tadi.
__ADS_1
Beberapa kali berteriak, nyatanya Usi masih saja tak mendapati sang anak. Seluruh sudut ruangan kamar Hawa ia periksa tetap saja hasilnya nihil.
Matanya mengedar memperhatikan keadaan sekitar. “Ya ampun kamar anak gadis kok seperti ini?” tanyanya pada diri sendiri kala melihat seluruh bantal selimut serta baju kotor berantakan di atas kasur.
Risih melihat, Usi berinisiatif untuk mengumpulkan barang kotor itu menjadi satu agar sang pelayan mudah membersihkannya.
“Ya Tuhan…anakku satu-satunya perempuan kenapa justru seperti ini yah? Salah apa aku di masa lalu?” ujarnya tak mengerti.
Sarung bantal guling, selimut, baju kotor serta dalaman sudah berhasil Usi jadikan satu di lantai. Hingga yang terakhir ia mengambil bantal yang sudah miring-miring sarung bantalnya.
“Apa ini?” ucapnya saat melihat ada putih-putih di bawah bantal sang anak.
“Nyonya, permisi. Anda memanggil saya?” Suara pelayan tiba-tiba mengejutkan Usi saat ingin meraih kertas di bawah bantal.
“Oh itu, Bi. Tolong di gantikan semuanya yah. Sudah kotor, sebentar saya ambilkan yang ini sekalian.” Saat kedua tangan Usi menarik semacam kertas di bawag bantal, matanya membola lantaran syok.
__ADS_1
“Astagfirullah…” pekiknya sangat terkejut.