Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Kecemasan Seorang Ibu


__ADS_3

Tak ingin mendengar apa pun lagi, Pram seketika mengurung Bulan di kamar. Tentu bersamanya. Bahkan tak perduli jika ia belum mencuci wajahnya.


Bulan bingung apa yang harus ia lakukan saat ini. Melawan rasanya tidak mungkin, kabur tentu lebih tidak mungkin. Bukan hanya Pram saja yang menginginkan hal lebih. Jujur Bulan sang merindukan sang suami.


Pelukan hangat yang Pram berikan secara tiba-tiba sontak membuat Bulan tersadar dari lamunannya.


“Mas,”


“Jangan melepaskannya Bulan. Mas sangat merindukan kamu.”


Hening tanpa sadar tangan Pram yang besar mulai bergerak kesana kemari. Sentuhan lembut nan memabukkan tentu saja tanpa bisa Bulan kendalikan lagi, kedua matanya mulai sendu menikmati belaian sang suami.


Setelah sekain lama berpisah, tak mampu Bulan mengelak. Tubuhnya begitu merespon saat sang suami menawarkan kenikmatan.


Penyatuan yang sangat lama mereka inginkan akhirnya terpenuhi saat ini. Bahkan tak ada lagi kemarahan dan kekecewaan di mata Bulan saat Pram melihatnya.

__ADS_1


“Terimakasih, Sayang.” ujar Pram mengecup kening sang istri saat keduanya usai melepaskan rindu yang terbendung selama ini.


Pelan, tubuh Pram ia rebahkan di sisi sang istri. Keringat yang berjatuhan tak ia hiraukan lagi. Menatap kedua manik mata Bulan adalah hal yang paling candu baginya. Jemari itu bergerak menelusuri lekuk wajah, bibir, hidung sang istri.


“Jangan memaafkan Mas jika kamu masih terluka. Tapi, tolong ijinkan Mas menunjukkan penyesalan Mas, Bulan. Mas akan melakukan apa pun yang membuat kamu bahagia.” ujarnya dengan sungguh-sungguh.


Bulan pun diam, hanya menikmati rasa lelah yang menyerang tubuhnya saat ini. Pelukan hangat kembali ia dapatkan, hingga Pram tanpa sadar memejamkan mata menikmati tidur untuk pertama kali memeluk Bulan setelah sekian lama.


“Aku mencintaimu, Mas.” tutur Bulan lirih namun sukses membuat kedua mata Pram yang tertutup kembali terbuka.


Senyuman hangat Pram lihatkan pada Bulan. “Mas lebih dari cinta sama kamu, Bulan. Jangan pernah pergi lagi. Mas tahu Mas lah yang mengusirmu saat itu. Tapi Mas janji itu pertama dan terakhir kali.”


Kecemasan Usi kala mendengar Hawa yang sakit di luar negeri membuatnya bingung.


“Pi, Mi, Hawa sakit. Ijinkan aku menyusulnya bersama Pram. Aku tidak pernah pergi sendirian, aku takut.” Opa dan Oma melihat wajah Usi yang sangat cemas.

__ADS_1


Namun, keduanya nampak enggan memberi ijin.


“Pergilah sendiri jika kau ingin pergi. Ingat, Hawa itu anak yang tidak normal. Bagaimana mungkin kamu membawa Pram pergi bersamamu?” celetuk Oma Wulan pedas.


“Mami, apa yang Mami katakan? Hawa tetaplah cucu kita.” tegur Opa Rasja yang mendengar ucapan sang istri sudah sangat keterlaluan.


Meski Hawa berperilaku sangat buruk. Tetap saja semua ada dalam kendali mereka. Dan mereka tentu turut andil dalam perilaku Hawa saat ini.


“Mami sadar tidak? Hawa sampai sejauh ini tentu di sebabkan oleh Mami yang terlalu memanjakan Hawa selama ini. Bahkan Mami turut mendukung perilaku Hawa yang menghancurkan rumah tangga Pram dan juga Bulan!” Sentah Opa Rasja seketika membuat Oma Wulan bungkam.


Bagaimana bisa ia melupakan satu hal yang selalu ada dalam kendalinya? Bahkan baru beberapa waktu ia mengakui kesalahannya pada keluarga dan suami, kini ia justru kembali menghujat perilaku sang cucu yang menyimpang sekali menurutnya.


“Mi, Pi, sudahlah jangan berdebat. Aku bingung jika tidak membawa Pram. Harus membawa siapa? Mungkin lebih baik membawa Pram dan Bulan sekalian. Dengan begitu Hawa tidak akan bisa melakukan apa pun pada adiknya. Setiba di sana, aku akan tinggal bersama Hawa dan Pram biarkan membawa Bulan liburan.” Panjang lebar Usi menjelaskan niatnya dan semua rencana yang ia pikirkan.


Hingga akhirnya Opa Rasja menganggukkan kepala setuju.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu pilihan kamu. Pergilah, dengan Bulan. Pastikan Hawa baik-baik saja di sana, Usi.” ujar Opa Rasja.


Bagaimana pun ia paham Usi adalah seorang Ibu yang tidak akan tega membiarkan sang anak sakit menderita seorang diri. Meski Hawa saat ini masih dalam tahap mendapatkan pelajaran dengan hidup seorang diri, bukan berarti mereka benar-benar lepas tangan tentunya.


__ADS_2