
Hari ini Bulan sudah bersiap untuk pulang. Di temani sang suami pagi-pagi semua sudah Pram bereskan. Mereka akan langsung menuju ke rumah.
“Mas, ini sudah siang banget. Aku nggak papa kok pulang naik taksi. Mas kerja saja.” ujar Bulan melihat sang suami yang begitu repot pagi itu.
Mengingat semua keluarga sudah pulang dan hanya mereka berdua saja di sini. Namun, Pram hanya tersenyum mendengar ucapan sang istri.
“Sudah jangan banyak protes. Di luar sana banyak loh istri yang cari suami siaga. Jadi kalau sudah dapat suami siaga jangan di larang-larang yah?” Sapuan lembut di ujung hidung Bulan membuat wanita itu tersipu malu.
Di pikir-pikir apa yang Pram katakan memang benar. Dirinya saat ini sedang menjalani status suami siaga.
“Iya sudah. Aku diam aja deh. Makasih yah, Mas.” Tersenyum Bulan memperhatikan sang suami.
Tetap pada pukul sembilan keduanya tiba di rumah. Kedatangan Bulan yang ia pikir akan sepi melihat rumah ternyata tak seperti bayangannya.
“Oma, Opa, Ibu, kalian di sini?” Bulan sangat senang kepulangannya di sambut para keluarga. Apalagi sang mertua yang sudah begitu menerima dirinya.
__ADS_1
“Bulan, ayo kita sarapan bareng. Kamu nggak pusing kan?” tanya Usi mendekati sang menantu dan memapah Bulan berjalan menuju kursi meja makan.
Semua duduk dengan tenang melihat hidangan lezat di meja makan itu.
“Sudah duduk saja. Biar Ibu yang sendokin.” Usi menyendokkan makanan ke piring sang menantu.
Pergerakan wanita paruh baya itu tak luput dari tatapan semua yang ada di ruangan itu.
“Ada yang lupa sama anak sendiri nih?” celetuk Pram menyindir sang ibu yang justru sibuk mengurusi sang menantu tanpa bertanya sedikit pun padanya.
“Astaga, kamu ini Pram. Ada-ada saja. Sebentar dong sabar gantian. Ibu kan utamakan Bulan biar segera istirahat nanti keburu drop loh. Mana enak makan di kasur sendirian. Iya kan, Nak?” tanyanya terdengar begitu lembut.
Bulan yang mendengar tanpa sadar matanya menatap dengan penuh haru. Ia memiliki mertua yang begitu baik saat ini. Sungguh tak pernah terbayangkan olehnya.
“Sini kamu biar Oma saja yang sendokin, Pram.” Oma Wulan pun mengambil alih piring sang cucu.
__ADS_1
Wanita lanjut usia itu menyendok beberapa menu yang memang Pram sukai sejak dulu. Tentu saja semua itu tak pernah mereka lupakan.
“Mas, semua ada di sini loh temani aku. Apa nggak sebaiknya Mas kerja? Mas akhir-akhir ini sering nggak kerja loh.” Bulan tak ingin nama sang suami buruk di mata karyawannya.
Terlebih semenjak masalah mereka ada entah bagaimana kerjaan Pram. Bagaimana pun Pram memiliki posisi penting sebagai pengendali di perusahaan.
“Istrimu benar, Pram. Sebaiknya turunlah bekerja. Kamu akan di sini menemani Bulan. Atau kalau perlu kita tinggal saja di rumah utama. Rasanya akan sangat menyenangkan kita ramai-ramai tinggal di sana.” Kini Opa Rasja yang bersuara.
Mendengar hal itu Pram lantas bersuara. “Tidak, Opa. Kami akan tetap tinggal di sini. Jika kalian kesepian mainlah kemari tapi kami tidak akan pindah dari rumah ini. Aku ingin memiliki rumah tangga yang berdiri atas prinsip rumah tangga kami sendiri. Kami ingin mandiri.” Tegas Pram menolak ajakan sang opa.
Sudah cukup kejadian masa lalu menimpa rumah tangganya bersama Bulan. Ia tak ingin lagi bergantung pada keluarga besarnya. Sekali pun dulu mereka juga sudah tinggal terpisah.
Ada rasa lega yang Bulan rasakan saat mendengar keputusan sang suami. Meski di dalam lubuk hatinya ia merasa sedih dan kasihan dengan kakek dan nenek mertuanya yang tentu sangat kesepian di rumah.
Tak ada lagi cucu mereka serta paman Pram yang turut meninggali rumah utama. Pasti rasa kehilangan jelas terasa bagi Oma dan Opa.
__ADS_1