Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Istri Yang Tidak Penurut


__ADS_3

Wajah pria paruh baya pemilik rumah tempat Bulan bekerja saat ini sangat kaget melihat sosok Pram berdiri di dalam rumahnya.


"Tuan, Pram?" sapa pria yang membuat Pram juga turut kaget.


"Pak Broto?" sapa Pram dengan wajah syok. Bagaimana bisa ia masuk ke dalam rumah rekan bisnisnya tanpa ia tahu siapa pemilik rumah ini.


"Ah mari silahkan duduk, Tuan. Kita duduk bersama, Mah suruh bibi buatkan minuman untuk Tuan Pram." pintah Prak Broto tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Sang istri yang melihat suaminya memerintah, membuatnya bingung harus menjelaskan apa. Seperti yang bisa ia lihat jika Pram datang bersama Bulan, apakah artinya mereka memiliki hubungan yang dekat? Tentu saja sungkan bagi wanita itu untuk memerintah Bulan.


Dan Pram pun tahu maksud kebingungan wanita itu. "Bu, biarkan saja. Dia istri saya dan biarkan dia bekerja semestinya. Sebab saya akan terkena masalah jika membuat pekerjaannya terganggu." ujar Pram yang menjawab rasa bingung bu Broto.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Pak Broto tampak mengernyitkan keningnya heran. "Istri? Maksudnya bagaimana Tuan Pram?" tanya Pak Broto penasaran.


Pram tersenyum sebentar dan menjawab kemudian. "Bulan, pembantu yang bekerja paruh waktu itu adalah istri saya, Pak. Ijinkan saya menjelaskan nanti dan biarkan saat ini saya membantunya bekerja. Istri saya sedang hamil saat ini." Pak Broto dan sang istri tampak menelan salivahnya susah payah.


Sungguh malang nasib mereka menerima wanita bekerja di rumahnya yang ternyata bukanlah istri orang sembaragan. Suami istri di depan Pram tampak saling menatap bingung. Ingin menghentikan pekerjaan Bulan, takut dengan Pram yang meminta membiarkan istrinya bekerja seperti biasa. Namun, membiarkan Bulan bekerja otomatis akan membiarkan Pram juga bekerja. Bagaimana mereka bisa membiarkan Pram mencuci pakaian kotor mereka? Sungguh ini tidak mungkin membuat mereka tenang.


"Em...Tuan sebaiknya di sini saja. Biarkan istri anda kami panggil dan duduk bersama kami." ujar Pak Broto berusaha mencari jalan keluar.


Pak Broto tampak menepuk jidatnya pusing. "Haduh bagaimana ini, Mah? Tuan Pram masa mencuci baju kotor kita? Mana ada dalaman lagi." pusing rasanya sepasang suami istri itu memikirkan keadaan rumah mereka yang kedatangan orang penting.


"Pah, kita intip yuk." ajak sang istri dan Pak Broto hanya bisa menurut saja.

__ADS_1


Keduanya berjalan mengendap-endap mengintip sepasang suami istri yang tengah sibuk memilah baju kotor berdasarkan warna dan kotornya.


"Biarkan Mas yang masukkan. Kamu cukup bantu pilih saja." titah Pram dan Bulan menurut saja. Pekerjaannya hari ini terasa cukup ringan rasanya dan Bulan sangat semangat mendapat bantuan sang suami.


"Bulan, habis selesai di rumah ini segera pulang yah? Tubuh kamu butuh istirahat, Sayang." ujar Pram perhatian. Tanpa keduanya ketahui jika sepasang suami istri yang mengintip tampak cekikikan mendengar percakapan mereka.


"Masih ada pekerjaan di warung makan dekat gang rumah, Mas. Aku sudah terlanjur mengambil kerjaan itu. Mana mungkin tidak datang. Lagi pula aku tidak merasa lelah sama sekali. Justru jika aku hanya di rumah tubuhnya sakit semua." jawab Bulan apa adanya.


Memang benar, semenjak hamil Bulan ingin selalu bekerja bahkan tidur hanya cukup di malam hari saja tidak harus ada drama tidur siang.


Pram terdiam mendengar ucapan sang istri. Bulan saat ini benar-benar sangat tidak patuh padanya. Namun, tiap kali Pram ingin tegas ia kembali mengingat kesalahan yang ia perbuat hingga menyebabkan sang istri seperti saat ini. Kalau saja dirinya percaya dan tidak menyakiti Bulan, mungkin wanita yang ia cintai tetaplah menjadi wanita yang terus patuh dan tunduk padanya.

__ADS_1


__ADS_2