
Sore hari ketika pulang ke kediaman sang opa, Pram mendapat sambutan tak mengenakkan. Beberapa pasang mata menatapnya penuh kekesalan.
Tanpa perduli Pram melangkah menuju kamar untuk merehatkan tubuhnya yang lelah duduk seharian.
“Pram, Ibu mau bicara.” Dari arah kamarnya, Usi berjalan menghampiri sang anak. Rasanya tidak mungkin ia menunggu Pram pulang dengan bergabung bersama keponakan dan iparnya. Sungguh memuakkan.
“Kami juga mau bicara.” Hawa serta Tante Siti bersuara membuat Pram hanya diam. Ia sudah tahu akan seperti apa respon para wanita ini ketika ia memutuskan mengurangi pengeluaran.
Pram memilih duduk di samping sang oma. Sementara Usi duduk satu kursi dengannya.
“Pram, untuk apa kamu memblokir kartu kredit Ibu? Apa ada masalah?” tanya Usi berusaha mencari tahu.
Sebab ia tahu bagaimana sang anak yang tidak pernah perhitungan pada siapa pun. Hawa pun menatap dalam sang adik.
“Sebaiknya kalian menggunakan uang seperlunya saja. Karena perusahaan sedang memburuk. Tender yang seharusnya saya menangkan di ambil alih perusahaan lain. Saya kala beberapa tender di perusahaan.” terang Pram sontak membuat kening sang opa mengernyit heran.
Sebab tidak biasanya cucunya itu hilang kemampuan bersaing. Pram selalu mampu menaklukkan lawan.
“Ada apa ini?” Suara menggema Paman Riyo membuat semua mata tertuju padanya. Kecuali sang istri yang memilih acuh. Suara sang suami tentu ia sangat menghapalnya.
Namun, kepulangan suaminya bukanlah hal yang berarti bagi Siti. Ia lebih antusias dengan jawaban yang Pram berikan.
“Kebetulan, Paman datang. Saya rasa sejak saat ini tanggung jawab Tante Siti akan jauh lebih tepat jika Paman yang mengaturnya. Sebab saya sudah tidak sanggup jika harus mengurus semua wanita di rumah ini.” Ketus Pram berucap membuat manik mata Siti membulat sempurna.
“Apa maksudnya ini, Pram? Kamu hitung-hitungan sama Tante? Apa karena Tante ini bukan keluarga kamu? Hanya suami Tante yang kamu anggap begitu?” Kesal rasanya mendengar Pram ingin menghentikan jalur akses untuk dirinya.
Tentu jika sang suami yang bertanggung jawab penuh atasnya, Siti sangat tahu sesulit apa ia memenuhi kebutuhan hidupnya yang tinggi. Tidak, ini tidak bisa di biarkan. Pikirnya.
__ADS_1
“Opa rasa itu bukan keputusan yang buruk. Sudah semestinya seorang suami bertanggung jawab penuh atas istri dan keluarganya. Pram sudah dewasa saatnya ia memikirkan kehidupannya sendiri. Dan kamu Hawa, itu tidak baik bergantung pada adikmu seterusnya. Segeralah memikirkan hidupnya dan mencari pendamping.” Akhirnya sang opa bicara dan semua pun tak ada yang berani bersuara.
Hanya rasa kesal yang berusaha mereka tahan saat ini.
“Terimakasih, Opa.” Sahut Pram senang mendapatkan suara kali ini.
“Mulai sekarang rubahlah gaya hidupmu itu, Mah. Papah tidak akan sanggup seperti Pram. Gaji Papah jauh dari biaya senang-senang mamah.” Paman Riko bersuara yang membuat Tante Siti mendelikkan matanya kesal.
Kini Opa menatap sang cucu. “Pram, mengapa dengan perusahaan? Apa ini semua ada sangkut pautnya dengan Bulan?”
Samar Pram mengangguk lirih. “Iya, Opa. Aku belum bisa melupakan istriku. Bulan adalah wanita yang begitu aku cintai. Bagaimana bisa dia melakukan hal itu padaku.” Pram tertunduk. Tanpa ia sadari rasa cintanya yang begitu besar seolah membuat logika pria itu sulit untuk bekerja.
Ia benar-benar seperti pria bodoh yang tidak bisa berpikir jernih. Kecemburuan bahkan membuatnya harus menyiksa diri merelakan perpisahannya dengan sang istri.
Sang Opa tampak menghela napasnya kasar. Tangannya pun turut memijat pelipisnya. “Opa rasa ada satu jalan yang akan membantumu. Opa berharap kau pun tidak akan menolak ini, Pram. Semua demi keberlangsungan nasib perusahaan. Dan kedepannya juga untukmu.”
“Ceraikan Bulan secepatnya dan menikahlah dengan Agustina.” Semua pasang mata membola penuh mendengar ucapan sang opa. Begitu pun Pram yang meneguk kasar salivahnya.
Bukan ia tak mengenal siapa Agustina itu, wanita yang selalu mendekati keluarga Pram sebelum ia menikah dengan Bulan. Bahkan sampai saat ini pun Agustina sering kali datang mengunjungi sang opa dan oma.
Sejenak Pram menunduk ingin menolak, namun mendengar penuturan sang opa yang tak ingin mendengar penolakan, dengan pasrah Pram mengangguk.
Langkah pertama yang ia lakukan menikahi Bulan dan menentang semua keluarga membuatnya merasa durhaka dan saat ini terkena sialnya. Kini Pram tak mau lagi membantah keluarganya. Ia berpikir dengan mengikuti sang opa, Pram sudah membuat mereka tak mengutuknya sebagai cucu durhaka.
“Baiklah, Opa.” ujar Pram patuh.
Oma dan Opa tampak menghela napas mereka dan tersenyum samar. Berbeda dengan Pram yang tak menunjukkan reaksi apa pun. Sementara Paman Riyo menggelengkan kepala tak habis pikir.
__ADS_1
“Pram, apa kamu yakin dengan keputusan kamu itu?” tanya Paman Riyo penasaran.
Mungkin saja Pram sedang lupa ingatan saat ini. Pikirnya.
Tak ada ucapan yang Pram keluarkan, hingga akhirnya pria itu memilih pergi dari ruang keluarga dan menuju kamar. Semenjak ia berpisah dari Bulan, Pram selalu pulang ke kediaman sang opa. Kenangannya yang manis bersama sang istri tak ingin membuat Pram terus terbayang kala memasuki rumah mereka.
Di sinilah Pram berada, di kamar yang luas dengan duduk menatap langit senja kala itu. Perawakan yang biasa selalu terlihat tenang kini benar-benar terlihat kosong.
Jiwanya telah pergi, rasanya untuk menjalani kehidupan ke depannya pun ia bahkan tak sanggup lagi.
“Apa benar keputusan yang kau ambil, Pram?” Pertanyaan dari arah pintu membuat Pram menoleh pada sumber suara.
Matanya melihat sosok sang paman yang berjalan ke arahnya. Paman Riyo satu-satunya orang yang merasa keputusan Pram tidaklah tepat.
Satu tangan ia daratkan pada bahu sang keponakan. Sementara satu tangannya lagi ia letakkan di saku celana miliknya.
“Paman,” sapa Pram yang menoleh ke depan kembali.
“Jangan mengambil keputusan di saat kau sedang tak berdaya. Jangan mengambil keputusan saat kau merasa itu bukan jalan melainkan sebuah pilihan yang terpaksa kau ambil. Mereka tidak akan merasakan apa pun yang kau rasakan ketika suatu saat keputusan ini ternyata salah. Mereka hanya bisa berkata sabar saat kau jatuh dengan keputusan yang mereka pilihkan untukmu.”
Pram terdiam mendengar kata-kata sang paman yang memang benar adanya. Orang lain hanya bisa memberikan pilihan tanpa mau tahu bagaimana rasanya jika keputusan itu tak berjalan semestinya.
Pelan Pram pun akhirnya mengangguk.
“Tentukan pilihan mu dengan keyakinan yang kau miliki. Jangan menentukan dengan perasaan terpaksa. Kau berhak menata hidupmu sendiri, Pram.” Tepukan pelan di bahu Pram membuat pria itu tersenyum pada sang paman.
Pram senang mendengar nasihan bijak sang paman. “Terimakasih, Paman. Paman seperti Ayah yang sangat bijak memberi nasihat. Terimakasih, Paman.” mantap Pram pun mengurungkan keputusannya untuk memilih menikah.
__ADS_1
Dalam lubuk hati yang terdalam ia benar-benar menolak pernikahan itu dengan Agustina. Bahkan Pram sudah memiliki bayangan jika sampai ia menikah dengan wanita itu. Tentu akan ada masalah yang baru lagi ia hadapi, memaksa kehidupan baik-baik saja meski tak ada cinta antara mereka.