Dia Adalah Benihmu

Dia Adalah Benihmu
Tidak Boleh Luluh


__ADS_3

Rasa lelah bekerja sejak pagi nyatanya bukan terlihat dari sosok wanita yang tengah berbadan dua. Melainkan pria yang berbadan tegap. Pram baru kali ini merasakan tubuhnya sakit di setiap sendi.


Berjalan kaki menuju jalan besar hanya keheningan yang tercipta. Netra hitam milik pria tampan yang tengah meminta ampun kini menatap punggung sang istri. Janganlah lelah, berjalan kaki pun saat ini Bulan begiti cepat.


“Bulan, sayang!” Panggilnya tak sekuat biasanya.


“Mas, ayo cepat sudah lambat. Pasti warung makannya kerepotan piring kotornya banyak.” celetuk Bulan tanpa perduli jika sang suami berjalan lebih jauh darinya di belakang.


Tangan kekar milik Pram di gunakan mengusap peluh kening hingga lehernya.


“Bulan, Bulan, dengarkan Mas dulu.” tuturnya sembari menggenggam tangan sang istri erat. Bulan tak bisa melanjutkan langkah kali ini.


“Mas, ada apa lagi? Kalau mau pulang, pulanglah. Aku harus menyelesaikan pekerjaan secepatnya.” Genggaman tangan sang suami ia hempas secepat mungkin dan kembali berjalan.


Mau tidak mau Pram terpaksa harus mengikuti lagi dan setibanya di warung tersebut mereka masuk ke bagian belakang.


Tanpa perduli jika beberapa pasang mata menatap dirinya, justru Pram terpesona dengan banyaknya tumpukan piring yang kotor dan menjijikkan menurutnya.


“Bulan, ini…” tunjuknya tidak percaya jika pekerjaan sang istri ternyata justru semakin berat di sini.


“Iya, makanya kalau Mas mau bikin pekerjaan aku semakin lambat. Semakin malam juga aku pulang. Mending Mas pergi saja.” Secara halus Bulan mengusir sang suami.


Di lihatnya Pram tampak berdiri memperhatikan sekitar. Piring, gelas, sendok dan masih banyak lagi yang kotor.

__ADS_1


Tanpa ia tahu di dalam hati kecilnya Bulan justru tidak ingin sang suami kelelahan.


“Mas Pram pasti kelelahan. Pergilah Mas, pekerjaan ini lebih berat dari sebelumnya dan aku tidak tega kalau Mas yang mencuci piring kotor ini. Mas pasti tidak biasa.” ucapnya dalam hati.


Alasan ia ketus dan mengusir sang suami ternyata karena perasaan tidak tega. Meski marah dan ingin memberikan pelajaran, seorang istri tetaplah mencintai suaminya lebih dari apa pun. Bahkan rasa kecewa nyatanya tak mampu membuat perasaan cinta itu menghilang.


“Minggir, Bulan. Biarkan Mas yang melakukan ini semua.” ujar Pram meminta sang istri segera menyingkir.


Ia meneliti keadaan sekitar, dan menemukan sebuah kursi usang. Di gendongnya dan di letakkan di dekat ia berdiri saat ini.


“Ayo duduk di sini. Biarkan Mas yang mencuci ini semua.”


“Tapi,…”


“Rupanya kuat juga wajahku ini berakting. Perlakuan Mas Pram bikin pengen senyum-senyum…tapi, tahan Bulan. Ini baru sehari. Jangan sampai kamu luluh cepat. Bisa gawat ini.” tururnya membatin melihat sang suami mengerjakan dengan sangat hati-hati.


Satu persatu piring ia basuh lebih dulu. Memberi sabun dan menata pelan-pelan. Sungguh Bulan melihat sang suami berbeda sekali dengan pekerjaan yang satu ini.


Pelan pelan, beberapa detik, menit hingga hampir setengah jam memperhatikan kepiawaian tangan sang suami tanpa sadar Bulan mengembangkan senyumnya. Tatapan matanya begitu fokus memperhatikan satu demi satu barang itu bersih dan tersusun rapi.


“Bulan, Sayang! Hei!”


Saat itu juga Bulan tersentak kaget. Ia menghilangkan senyuman itu dan menatap wajah sang suami yang rupanya sudah menatap ke arahnya.

__ADS_1


“Hah? Ada apa, Mas? Capek? Sini biar aku…”


“No, tolong kamu usap keringat di atas mata Mas. Mas minta tolong, mau kan?” Patuh Bulan akhirnya mengusap keringat sang suami.


Singkat cerita malam pun tiba, dimana artinya Bulan sudah saatnya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Berjalan kembali pulang ke rumah tentu di temani sang suami.


“Kita pulang ke rumah yah? Kamu tidak lelah seperti ini terus?” bujuk Pram menggandeng tangan sang istri saat memasuki gang rumah Bu Rini.


Secepat kilat Bulan melepaskan tangan suaminya. “Maaf, Mas. Tolong beri aku waktu. Bahkan dengan siapa pun saat ini aku belum bisa percaya, entah belum atau tidak akan bisa percaya lagi. Satu-satunya orang yang aku percaya akan menjadi pelindung dan garda terdepan untukku justru menjadi satu-satunya orang yang membuat aku benar-benar terluka. Tentu tidak akan mudah mengembalikan semuanya, Mas.”


Wajah lelah Pram sungguh sangat menyedihkan di mata Bulan. Wajah yang biasa terlihat segar, rapi, wangi, dan putih hari ini Bulan merubah semua itu. Merah, keringat, rambut yang sedikit acak-acakan.


Tidak, Bulan tidak boleh sampai luluh sebelum waktunya.


“Bulan, Mas khawatir denganmu. Khawatir dengan benih Mas yang ada di rahim kamu. Dia sedang masa pertumbuhan, Bulan. Dia butuh keadaan yang baik-baik. Ayolah, kali ini Mas mohon. Setelah lahiran, kamu boleh menghukum Mas lagi seperti ini.”


Merasa tak sanggup, Bulan pun memilih meninggalkan sang suami dan menutup pintu rumahnya segera. Meninggalkan Pram yang menatap rumah itu dengan tatapan tak berdaya.


Matanya menatap sekeliling dan tampak bingung.


“Aku tidak bisa pulang dengan Bulan yang masih di sini. Iya, aku harus tetap di sini.” tururnya setelah itu melihat pakaian yang ia pakai sudah berkeringat sejak pagi. Rasanya sungguh tidak nyaman, mandi dengan air seadanya dan sabun seadanya.


Bulan benar-benar sukses membuat sang suami menderita kali ini.

__ADS_1


__ADS_2